NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Bayangan panjang membentang di lantai kayu mahoni ruang kerja Roy. Udara di dalam ruangan itu serasa membeku saat mata Alvan yang memerah bertemu dengan tatapan bening Andira yang berdiri cemas di ambang pintu.

Andira memegangi dadanya yang berombak pelan. Langkah kakinya gontai, sisa-sisa lemas dari demam tinggi semalam masih merayapi tubuhnya.

Namun, kepanikan karena kehilangan flashdisk berharga di dalam perbannya telah mendorong wanita itu untuk menyusuri lorong hingga menemukan pintu ruang terlarang ini dalam keadaan terbuka.

Mata Andira turun, terpaku pada buku harian bersampul kulit cokelat tua yang tergenggam di tangan Alvan, serta flashdisk titanium berinisial 'R' yang tergeletak di atas meja.

"Pak... Alvan..." suara Andira bergetar, parau dan hampir tenggelam dalam desir angin di luar jendela. "Benda itu..."

Alvan tidak membentak. Tidak ada amarah yang biasanya membakar matanya setiap kali ia melihat Andira. Sebaliknya, pria itu perlahan berdiri dari kursi putar Roy. Tatapannya sarat akan kombinasi emosi yang begitu berat, penderitaan, kehancuran rasa percaya diri, dan penyesalan yang teramat pekat.

"Ini milik Roy," ujar Alvan pelan, suaranya dalam dan bergetar. "Kamu menyembunyikannya di balik balutan lukamu... selama ini."

Andira menundukkan kepalanya, menyilangkan kedua tangannya di depan dada secara defensif. Air mata hangat menetes di pipinya yang masih pucat.

"Saya tidak membunuhnya, Pak Alvan..." bisik Andira penuh keputusasaan yang tertahan. "Saya tidak pernah menyentuh Roy atau mengambil uang apa pun. Saya menyembunyikan flashdisk itu karena... karena itu satu-satunya bukti yang ditinggalkan Roy untuk saya. Saya tahu di dalamnya ada jawaban atas siapa yang sebenarnya menghancurkan hidup kami."

Alvan memejamkan matanya rapat-rapat. Setiap kata yang keluar dari mulut Andira menghantam dadanya bagaikan godam besi. Ia melangkah mendekati Andira, berhenti tepat satu langkah di depan wanita itu.

"Aku tahu," kata Alvan, suaranya nyaris berbisik namun berbobot begitu berat. "Aku tahu kamu tidak membunuhnya, Andira."

Andira tersentak. Kepalanya terangkat cepat, matanya membelalak lebar menatap Alvan dengan ketidakpercayaan yang mendalam. Selama sembilan bulan ia hidup dalam neraka tuduhan pria ini, dan kini, kata-kata "aku tahu kamu tidak membunuhnya" meluncur dari bibir sang algojo dengan nada kebenaran yang mutlak.

Alvan membalikkan badannya kembali ke meja kerja, memutus kontak mata sejenak karena tak sanggup menatap kepedihan di mata Andira. Pria itu membuka lembaran-lembaran terakhir buku harian Roy yang belum sempat ia baca secara tuntas.

Jemarinya berhenti di halaman bertanggal 14 November, hari naas saat nyawa Roy direnggut secara tragis.

Coretan tangan Roy di halaman itu tampak terburu-buru, penuh dengan tekanan garis pen yang tajam dan tak beraturan, mencerminkan kepanikan dan ketegangan luar biasa yang dirasakan sang adik di jam-jam terakhir hidupnya.

14 November - Pukul 19.30 WIB. "Dia mendesakku lagi. Katanya ini kesempatan terakhirku untuk menandatangani surat perjanjian pengalihan aset sebelum dia membocorkan dokumen rekayasa tentang Andira ke publik."

14 November - Pukul 21.15 WIB. "Aku tidak punya pilihan. Aku sudah menyembunyikan flashdisk kunci enkripsi ini tanpa sepengetahuan siapa pun untuk mengamankan data audit rahasia. Malam ini, pukul 22.30 WIB, aku menyetujui pertemuan rahasia di villa belakang dengan 'E'. Aku harus mengakhiri pemerasan ini, apa pun risikonya."

Alvan menahan napasnya. Matanya mengunci huruf tunggal bertanda petik yang ditulis Roy dengan tinta tebal. 'E'.

Bukan A. Bukan Andira.

Roy tidak pernah menjadwalkan pertemuan dengan Andira di villa belakang pada malam berdarah itu! Roy dijebak dalam pertemuan mematikan dengan seorang wanita berinisial "E" inisial yang selama ini tersembunyi di balik senyuman penuh simpati dan derai air mata buaya di pemakaman.

Elena.

Seketika itu juga, potongan-potongan fakta yang terkumpul selama ini menyatu dengan kecepatan kilat di dalam benak Alvan, membentuk konstruksi kejahatan yang sempurna.

- Struk pembayaran L Eoile Fine Dining atas nama Elena pada malam 14 November yang sempat dipertanyakan namun diabaikan Alvan karena manipulasi emosional Elena.

- Laporan forensik digital independen dari Bima yang membuktikan bahwa seluruh dokumen transaksi keuangan rahasia atas nama Andira yang diserahkan Elena adalah rekayasa palsu bertingkat tinggi.

- Buku harian fisik Roy yang mengonfirmasi adanya ancaman, pemerasan, serta janji pertemuan rahasia antara Roy dan "E" di malam kematiannya.

"Elena..." bisik Alvan, nama itu keluar dari tenggorokannya seperti racun yang membakar. "Selama ini dia yang membunuh Roy... dan dia memanfaatkanku untuk menghancurkanmu agar kejahatannya tertutup rapat."

Napas Alvan memburu parah. Seluruh persendian tubuhnya terasa gemetar hebat.

Kebenaran ini tidak hanya membongkar pembunuh adiknya, tetapi juga menelanjangi betapa monster dirinya selama ini.

Selama berbulan-bulan, ia merasa berdiri di pihak keadilan. Ia merasa menjadi kakak yang berbakti dengan menyiksa Andira, mengurungnya, menghilangkannya dari dunia luar, menatapnya dengan kebencian tak bertepi, dan membiarkan wanita ini terluka secara fisik dan mental.

Padahal kenyataannya... ia hanyalah seekor pion bodoh yang dimanipulasi oleh Elena untuk menyiksa seorang korban tak berdosa.

Alvan menatap tangan kanannya sendiri. Tangan yang pernah mencengkeram bahu Andira dengan kasar, tangan yang pernah menandatangani perintah pengurungan, dan tangan yang terlambat menyelamatkan Andira dari serangan penyusup.

Rasa bersalah yang teramat dalam dan menghancurkan datang seperti gelombang tsunami yang melumat habis seluruh harga diri dan gengsi Alvan.

"Apa yang sudah kubuat...?" penderitaan dalam suara Alvan begitu pekat hingga ruangan itu terasa makin sempit.

Andira yang berdiri di dekat pintu menatap perubahan pada Alvan dengan dada yang berdebar keras. Ia melihat pria tegap yang selalu tampak tak tersentuh itu kini gemetar, wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, dan air mata yang tak pernah terlihat di mata dingin itu kini berkaca-kaca menahan kepedihan yang luar biasa.

"Pak Alvan..." panggil Andira pelan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Alvan membawa buku harian Roy dan flashdisk tersebut di tangannya. Pria itu melangkah keluar dari ruang kerja Roy, berjalan menelusuri lorong dengan langkah terseok-seok seolah-olah seluruh kekuatannya telah dicabut dari tubuhnya.

~

Alvan berjalan lurus menuju kamar tidur Andira di ujung lorong, kamar yang sederhana, tempat wanita itu dikurung dan diasingkan dari dunia.

Andira mengikuti langkah Alvan dari belakang dengan bingung dan cemas.

Alvan mendorong pintu kamar Andira hingga terbuka lebar. Pria itu masuk ke dalam ruangan dingin itu, memandangi sekeliling kamar yang minim fasilitas, sebuah bukti nyata bagaimana ia telah memperlakukan wanita ini seperti seorang tahanan perang.

Andira melangkah masuk ke kamarnya, menatap punggung Alvan dengan raut wajah penuh tanda tanya. "Pak Alvan, ada apa sebenarnya? Kenapa Kau..."

Kalimat Andira terhenti seketika di tenggorokan.

Alvan membalikkan badannya. Wajah pria gagah itu kini sangat pucat. Matanya yang biasanya memancarkan kilat kepemimpinan yang dingin kini penuh dengan kebasahan air mata dan kelemahan yang tak tertutupi.

Di depan mata Andira yang terbelalak shock, Alvan, pemilik Samudra Group, pria paling berpengaruh yang tak pernah tunduk pada siapa pun, perlahan menjatuhkan kedua lututnya ke atas lantai marmer yang dingin.

BRUK.

Alvan berlutut tepat di hadapan Andira.

"Pak Alvan!" jerit Andira tertahan, refleks mundur satu langkah karena terperanjat hebat. "Apa yang Kau lakukan?! Berdirilah, Pak!"

Alvan tidak berdiri. Kepala pria tegap itu menunduk dalam-dalam di depan Andira.

Dengan gerakan jemari yang gemetar hebat dan penuh keputusasaan, Alvan mengulurkan kedua tangannya, meraih jemari tangan Andira yang dingin, lalu menggenggamnya erat di depan dadanya sendiri.

"Maafkan aku..." suara Alvan pecah, sebuah isakan kecil dan parau lolos dari tenggorokannya yang tersekat. "Maafkan aku, Andira..."

Andira membeku total. Tangannya yang berada dalam cengkeraman halus Alvan dapat merasakan getaran hebat dari tubuh pria itu, serta tetesan air mata hangat yang mulai jatuh membasahi punggung tangannya.

Alvan mengadahkan wajahnya, menatap lurus ke dalam mata bening Andira dengan pandangan yang hancur berkeping-keping oleh penyesalan.

"Aku telah menjadi monster untukmu..." bisik Alvan dengan napas memburu. "Aku membencimu, menyiksamu, dan menghancurkan hidupmu atas kebohongan yang diciptakan orang lain. Demi Tuhan, Andira... maafkan aku..."

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!