Sebuah salah paham di malam khitbah menyatukan Farhan, seorang ustadz muda yang tenang, dengan Alika—mekanik jalanan yang liar dan pemberontak. Alika yang terbiasa hidup dengan debu aspal dan kunci pas harus beradaptasi menjadi istri dalam keluarga religius yang selama ini memandangnya sebelah mata. Di tengah ancaman masa lalu dan fitnah yang kejam, Farhan tidak mengubah Alika, melainkan membantunya "merestorasi" jati diri. Inilah kisah tentang pembuktian bahwa tangan yang hitam karena oli tetap bisa menggenggam surga dengan mulia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penebusan di kursi roda
Pagi itu, sebuah mobil MPV putih berhenti di depan bengkel Farhan. Bukan lagi preman atau penagih utang yang turun, melainkan Ibu Alika yang membantu menurunkan kursi roda dari bagasi. Ayah Alika duduk di sana dengan wajah yang jauh lebih tirus, kulitnya pucat, dan napasnya masih dibantu oleh tabung oksigen kecil yang diletakkan di samping kakinya.
Alika yang sedang membersihkan tumpahan oli di lantai bengkel langsung mematung. Ia meletakkan kain pelnya dan menatap Farhan yang baru saja keluar dari ruang kantor.
"Ayah mau bicara, Alika," kata Ibu dengan suara yang tidak lagi melengking. Ada nada kelelahan dan penyesalan yang dalam di sana.
Farhan segera mendekat dan membantu mendorong kursi roda Ayah masuk ke area yang lebih bersih dan teduh. Ia menyiapkan kursi untuk Ibu dan Alika agar mereka bisa duduk melingkar. Suasana bengkel yang biasanya bising dengan suara mesin, mendadak hening karena para mekanik sengaja menjauh untuk memberi ruang privasi bagi keluarga bos mereka.
Ayah Alika terbatuk kecil sebelum mulai bicara. Ia menatap sekeliling bengkel—melihat motor Ducati milik Pak Wijaya yang masih terparkir gagah di sana, lalu menatap tangan Alika yang masih menyisakan noda hitam di sela kuku.
"Ayah lihat berita di grup pengusaha kemarin. Pak Wijaya memuji kamu habis-habisan, Alika," suara Ayah terdengar serak dan lemah. "Dia bilang, dia tidak pernah melihat mekanik sefokus dan seberani kamu. Dia juga bilang... Farhan sangat beruntung punya istri seperti kamu."
Alika hanya diam, menunduk menatap sepatunya. Ia belum tahu harus merespons apa setelah semua makian yang ia terima selama bertahun-tahun.
"Selama ini Ayah salah," lanjut Ayah, matanya mulai berkaca-kaca. "Ayah terlalu terobsesi dengan kesempurnaan Alya sampai Ayah buta bahwa kamu punya kekuatan yang berbeda. Ayah menganggap keahlianmu ini sampah, padahal justru keahlian inilah yang menyelamatkan muka Ayah di depan Pak Wijaya dan Pak Broto."
Ayah meraba saku jaketnya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat yang tersegel rapi dan meletakkannya di atas meja kerja yang penuh kunci pas.
"Ini surat kuasa dan pengalihan sisa aset perusahaan Ayah yang masih ada. Ada satu gudang di pelabuhan dan beberapa unit kendaraan operasional. Ayah ingin Farhan yang mengelola atau menjualnya untuk melunasi hutang lima ratus juta di lembaga pembiayaan itu. Ayah tahu Farhan menggadaikan sertifikat bengkel ini demi Ayah."
Farhan tertegun. Ia melihat ke arah Alika sejenak sebelum menjawab. "Ayah, saya melakukannya ikhlas sebagai menantu. Ayah tidak perlu memberikan aset ini."
"Ambil, Farhan. Ini bukan cuma soal uang," potong Ayah dengan tegas namun lembut. "Ini soal harga diri Ayah. Ayah tidak mau mati dalam keadaan berhutang pada menantu yang pernah Ayah injak-injak harga dirinya. Dan Alika... Ayah minta maaf. Maafkan Ayah karena selalu membandingkanmu. Maafkan Ayah karena hampir menjual kakakmu."
Alika akhirnya mengangkat wajahnya. Ia melihat air mata jatuh ke pangkuan Ayahnya. Rasa benci yang selama ini ia pelihara sebagai tameng pelindung diri, perlahan-lahan runtuh. Ia menyadari bahwa pria di depannya ini hanyalah manusia biasa yang rapuh dan penuh salah.
"Alika sudah maafkan, Yah," jawab Alika pendek namun tulus. "Alika cuma ingin kita tenang. Alika ingin Alya bisa kuliah lagi dan Ibu tidak perlu menangis setiap hari."
Ibu Alika langsung memeluk putrinya itu sambil terisak. Rekonsiliasi itu terasa begitu nyata di tengah aroma bensin dan besi bengkel. Namun, di tengah momen haru itu, ponsel Farhan bergetar hebat. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang tidak dikenal.
"Jangan senang dulu, Farhan. Uang memang sudah kembali, tapi rasa malu saya tidak bisa dibayar dengan sertifikat tanah. Kalau kamu sayang nyawamu, jangan lewat jalan pintas hutan jati malam ini saat pulang dari bengkel."
Farhan segera mematikan layar ponselnya agar Alika tidak melihat. Ia tahu Pak Broto sudah kehilangan akal sehatnya. Setelah kalah secara finansial dan sosial karena pembelaan Pak Wijaya, pria tua itu kini memilih jalan kekerasan.
"Ada apa, Mas?" tanya Alika, menyadari perubahan raut wajah Farhan.
"Tidak ada apa-apa. Cuma pesan dari pelanggan," bohong Farhan. Ia tersenyum, mencoba menenangkan istrinya. "Ayo, kita antar Ayah dan Ibu pulang dulu. Hari ini bengkel kita tutup lebih awal untuk merayakan kembalinya keluarga kita."
Sore itu, setelah mengantar orang tuanya, Farhan bersiap-siap. Ia tidak berencana menghindari jalan pintas itu. Ia tahu jika ia lari, Pak Broto akan terus meneror mereka. Ia harus menyelesaikan ini secara jantan. Namun, tanpa sepengetahuan Farhan, Alika melihat pesan itu saat Farhan sedang mandi.
Alika tidak panik. Ia tidak menangis. Ia justru masuk ke gudang, mengambil jaket kulit lamanya, dan memakai helm full face hitamnya. Ia tahu Farhan akan berangkat dengan mobil, dan itu adalah sasaran empuk untuk dicegat. Alika memutuskan untuk mengikuti Farhan dengan motor sport-nya, berjaga-jaga dari belakang dengan keahlian berkendaranya yang legendaris.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...