Di mata tiga alam, kaum Dewa adalah simbol kesucian dan Iblis adalah perlambang petaka. Namun, kebenaran tertutup oleh kabut keserakahan. Demi mencapai keabadian mutlak, Dewa Tinggi Ling Cang berniat mengorbankan Dewi Shen Liya—pemilik Wadah Ilahi dengan energi suci termurni. Menolak menjadi tumbal, Shen Liya melarikan diri ke dunia fana dalam kondisi terluka parah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jee44, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Perlindungan sang "Tabib" di Tengah Hutan
Hawa dingin yang mendadak membekukan seluruh lereng bukit itu terasa begitu absolut. Tiga kultivator manusia yang tersisa dari Sekte Sembilan Pedang dan Sekte Lembah Racun membeku di tempat, tangan mereka yang memegang jimat teleportasi gemetar kaku di udara. Tekanan atmosfer di sekeliling mereka mendadak turun drastis, seolah-olah seluruh pasokan udara di dalam hutan bambu telah disedot habis oleh entitas yang tidak terlihat.
Gu Yu kecil menurunkan pedang kayunya sedikit. Sepasang mata sehitam tintanya melebar sekilas saat menoleh ke belakang.
Sesosok pria jangkung dengan jubah rami abu-abu kasar melangkah keluar dari balik kabut bambu yang tebal. Langkah kakinya sangat lambat, namun setiap kali sepatunya menyentuh permukaan daun kering di tanah, tidak ada suara sedikit pun yang tercipta. Di tangan kirinya, pria itu memegang sebuah keranjang anyaman bambu kecil yang berisi potongan akar obat, sementara tangan kanannya tersimpan santai di balik lipatan jubah raminya.
Dia adalah Gu Jue.
Wajah tampannya yang beralur dingin tampak begitu tenang, sedatar permukaan danau es abadi. Namun, bagi para kultivator manusia yang sedang mengepung tempat itu, kehadiran pria berbaju rami ini terasa jauh lebih mengerikan daripada binatang buas purba yang bangun dari tidurnya.
"Sudah kubilang bertahun-tahun, Hutan Gunung Han ini adalah tempatku mencari nafkah sebagai tabib," suara Gu Jue terdengar sangat rendah, dalam, dan bergaung pekat di antara batang bambu. "Dan aku paling tidak suka jika ada hama dari luar yang mengotori tanah tempat tanaman obatku tumbuh."
"S-Siapa kau?! Apakah kau kultivator yang menyembunyikan buruan langit?!" teriak salah satu master zirah perak Sekte Sembilan Pedang, mencoba menguatkan hatinya meski lututnya gemetar hebat menahan tekanan mental yang memancar dari tubuh Gu Jue.
Gu Jue tidak menjawab pertanyaan tersebut. Ia hanya melirik sekilas ke arah Gu Yu kecil yang berdiri siaga di dekatnya. Tatapannya melembut selama sepersekian detik saat melihat putranya tidak terluka, sebelum akhirnya kembali berubah menjadi sedingin es abadi saat menatap lima pemburu manusia di depannya.
Kalian berani menghunus pedang pada putraku demi keserakahan menjadi dewa? batin Mo Jue, hawa membunuh yang teramat pekat bergolak halus di dalam dadanya.
Raja Iblis itu memilih untuk tidak melepaskan energi kegelapan luar miliknya. Ia tahu, jika ia menggunakan sihir hitam Alam Kegelapan, riak energinya yang besar akan merusak sandiwara "Ah Jue sang tabib fana" di depan mata cerdas Gu Yu, sekaligus berisiko memicu alarm radar Cermin Pemindai Delapan Arah milik Ling Cang yang sedang menyisir atmosfer atas.
Maka, ia akan menghabisi mereka semua murni menggunakan identitasnya sebagai seorang master tabib fana.
"Yu'er, perhatikan baik-baik," ujar Gu Jue datar, memanggil nama kecil anaknya untuk pertama kali. "Seorang tabib tidak hanya dituntut untuk tahu bagaimana cara menyambung nyawa seseorang, tetapi juga harus paham di mana celah terkecil untuk mencabut nyawa tersebut dalam sekejap mata."
Belum sempat Gu Yu kecil mencerna arti kalimat tersebut, tubuh tegap Gu Jue mendadak lenyap dari pandangan mata semua orang.
Sret!
Gerakan fisiknya begitu mengerikan, melesat maju melewati batas kecepatan yang bisa ditangkap oleh mata fana manusia. Dalam waktu kurang dari satu kedipan mata, Gu Jue sudah berdiri tepat di depan dua kultivator Sekte Lembah Racun.
"A-Apa—"
Sebelum kultivator berjubah hijau itu sempat berteriak, tangan kanan Gu Jue telah bergerak secepat kilat. Dua jari jemarinya yang panjang dan kokoh mencengkeram jepitan jarum perak akupunktur tipis yang telah dilumuri oleh ekstrak racun Akar Jiwa Mati—sejenis tanaman herbal fana yang mematikan yang ia petik dari lereng gunung.
Tusuk! Tusuk!
Dengan akurasi yang teramat presisi, jarum perak di tangan Gu Jue menusuk telak ke titik meridian Tian-Tu di pangkal tenggorokan kedua kultivator tersebut. Gerakannya begitu halus, seolah ia hanya sedang menancapkan jarum pada boneka latihan obat.
Kedua kultivator Sekte Lembah Racun itu seketika membelalakkan mata mereka seolah ingin melompat keluar. Seluruh pembuluh darah di leher dan wajah mereka berubah menjadi warna hitam pekat dalam hitungan detik.
Efek racun herbal fana yang dikombinasikan dengan tusukan meridian murni dari Gu Jue langsung mengunci aliran udara dan melumpuhkan jantung mereka seketika. Tanpa sempat mengeluarkan suara lenguhan sedikit pun, kedua tubuh berbaju hijau itu ambruk ke tanah, tewas dalam kondisi kaku.
"M-Monster! Dia bukan tabib biasa!" Dua sisa prajurit zirah perak Sekte Sembilan Pedang berteriak histeris, seluruh keberanian mereka runtuh seutuhnya menyaksikan dua rekan mereka mati dalam hitungan detik tanpa sempat melawan.
Mereka berbalik dengan panik, mencoba melompat turun dari lereng bukit untuk melarikan diri menuju pasukan utama di bawah gunung.
"Aku tidak mengizinkan hama yang sudah melihat wajahku untuk melangkah pergi dari sini," desis Gu Jue dingin.
Ia mengibaskan tangan kanannya ke udara. Tiga bilah jarum perak akupunktur beracun melesat membelah udara pagi dengan suara siulan yang teramat tipis.
Jleb! Jleb! Jleb!
Ketiga jarum perak tersebut menancap akurat di titik meridian Feng-Chi di bagian belakang leher ketiga prajurit Sekte Sembilan Pedang yang sedang melompat terbang. Seketika itu juga, seluruh sistem syaraf penggerak di tubuh mereka lumpuh total di udara. Ketiga tubuh berselimut zirah perak itu jatuh berdebam keras menghantam tanah seperti karung batu, sebelum akhirnya racun herbal di jarum tersebut menghentikan detak jantung mereka dalam keheningan yang absolut.
Lima kultivator manusia dewasa tingkat tinggi dari dua sekte besar mati mengenaskan dalam waktu kurang dari setengah menit, murni karena kecepatan fisik murni dan teknik anatomi medis yang mematikan dari seorang pria yang mengenakan jubah rami abu-abu kasar.
Suasana lereng bukit kembali sunyi, hanya menyisakan deru angin pagi yang berembus pelan di antara batang bambu.
Gu Yu kecil berdiri mematung dengan pedang kayu yang masih dipegangnya. Sepasang mata sehitam tintanya menatap lekat-lekat pada lima mayat yang kini terbujur kaku di atas tanah, lalu beralih menatap punggung tegap Gu Jue yang sedang berjalan santai memunguti kembali beberapa jarum peraknya yang terjatuh di atas rumput.
Bocah cerdas itu terkesiap hebat di dalam hatinya. Rasa takjub, kagum, dan sekerat kebanggaan yang luar biasa besar mendadak membuncah di dalam dada sang pangeran cilik Alam Kegelapan. Di dalam benak polosnya, ia mengira "Ayah Tabib" yang diceritakan ibunya selama ini adalah seorang master kungfu manusia fana tersembunyi yang sangat hebat, seorang ahli bela diri akupunktur legendaris yang menyamar sebagai tabib gubuk miskin.
"Kau... kau membunuh mereka semua hanya dengan jarum obat?" tanya Gu Yu kecil, suaranya terdengar sedikit bergetar, bukan karena takut, melainkan karena rasa kagum yang teramat pekat.
Gu Jue menyimpan kembali jarum peraknya ke dalam kantung kulit di pinggangnya, lalu berbalik menatap putranya dengan pandangan yang datar dan acuh tak acuh.
"Sudah kubilang, seorang tabib harus tahu di mana letak celah kematian," ujar Gu Jue, berjalan mendekati Gu Yu lalu mengambil keranjang anyaman bambu kecil dari punggung bocah itu untuk memeriksa hasil buruan obatnya. "Pilihan tanaman obatmu hari ini cukup bagus. Akar penenang ini akan sangat membantu meredakan sesak di dada ibumu."
Gu Yu kecil buru-buru menyarungkan kembali pedang kayunya ke punggung jubah raminya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata hitam Gu Jue dengan tatapan kaku khas anak kecil yang gengsi namun tidak bisa menyembunyikan binar matanya yang berkilau penuh rasa hormat.
"Pria dingin... ajarkan aku teknik bergerak seperti tadi fajar besok," pinta Gu Yu kecil dengan nada tegas, memanggil ayahnya dengan sebutan barunya. "Aku ingin bisa melumpuhkan musuh secepat itu agar Ibu tidak perlu merasa cemas lagi di dalam kamar."
Mendengar permintaan dari putranya, seulas senyuman tipis yang sangat tersembunyi kembali terukir di bibir tegap Gu Jue. Ia mengulurkan tangan kanannya, menepuk bahu kecil Gu Yu dengan tepukan yang kokoh.
"Bersihkan sisa daun kering di pakaianmu dan mari kita pulang ke pondok. Ibumu pasti sudah terbangun dan menanti sarapan paginya," kata Gu Jue, berbalik memimpin jalan kembali menyusuri setapak hutan bambu.
Gu Yu kecil melangkah mengekor di belakang punggung tegap ayahnya, melompat-lompat kecil dengan hati yang dipenuhi rasa aman yang teramat pekat. Sandiwara sebagai ayah tabib yang merupakan "master kungfu manusia tersembunyi" berjalan dengan sangat sukses, mengunci rasa hormat absolut dari sang putra kandung, tanpa pernah disadari oleh bocah cerdas itu bahwa bahaya yang lebih besar berupa kepungan ratusan ular api dari tiga sekte besar manusia saat ini sedang merayap kian dekat menuju arah pondok kayu mereka di bawah perlindungan malam esok hari.