NovelToon NovelToon
Dilema Cinta Kedua

Dilema Cinta Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Single Mom / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: Larasa

Nayra Lovarisa, 32 tahun, seorang influencer sukses dengan kehidupan yang sudah sempurna, karier mapan, bisnis berkembang, dan memiliki putra yang menjadi dunianya.
Selama empat tahun, hanya mereka berdua. Tanpa kekurangan, sampai sosok Om Rara muncul menjadi penolong baik hingga tanpa sadar membuat anaknya menyukainya.
Awalnya Nayra tidak terganggu malah terbantu dengan sang tetangga sampai kemudian anaknya punya harapan lebih, ingin menjadikan pria itu sebagai ayah sambungnya.

Bagaimana kisah ini selanjutnya? Nayra yang punya banyak pertimbangan, Rayyan yang tidak menyerah menjodohkan sang Mama dan Om Rara yang menyadari perasaannya apa mampu meluluhkan hati janda satu anak itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19. Masa lalu

Nayra buru-buru menghapus air matanya, mengingat anaknya yang malang tak memiliki orang tua lengkap seperti orang lain diam-diam membuatnya terluka juga.

Selama ini Rayyan gampang dekat dengan laki-laki dewasa karna ingin mencari seorang figur ayah yang tak di milikinya sejak usia sembilan tahun. Bahkan Nayra tak yakin anak itu masih mengingat wajah Papanya karna dulu mereka meninggalkan rumah sang mertua dengan keadaan marah hingga tak sempat mengambil satupun foto Yudha.

Di tambah lagi kehidupan mereka setelah itu benar-benar susah, lebih susah dari pertama kali mereka memutuskan menikah setelah mengetahui kehamilannya yang tak bisa di terima oleh satu pun anggota keluarga.

Tapi lima bulan setelahnya, tepat saat kandungan Nayra berusia tujuh bulan, mertuanya datang membujuk mereka pulang dengan sangat baik tak peduli berapa kali pun suaminya mengusir ibu kandungnya.

Sejak awal mereka sudah bermasalah sampai di tahap Yudha kehilangan kepercayaan, tapi mertuanya tidak menyerah, terus datang sambil mengulurkan bantuan selalu di terima Nayra diam-diam, mereka juga meminta Nayra membantu mengajak putranya pulang.

Nayra tak begitu mengerti masalah mereka karna suaminya selalu mengedepankan masa depan dan enggan membahas masa lalu terlalu jauh.

Nayra hanya tahu suaminya di besarkan oleh neneknya lalu ketika berusia tiga belas tahun, ia tinggal dengan kedua orang tuanya. Di situ Yudha cerita kehidupannya benar-benar bebas tanpa terkekang oleh aturan yang sebenarnya menyenangkan, tapi Yudha merasa kosong.

Hubungannya dengan Papa Mama yang sibuk dengan dunia mereka semakin jauh hingga suatu hari Yudha mengetahui kebiasaan buruk serta alasan mereka menitipkannya pada nenek membuat Yudha meninggalkan kemewahannya.

"Tapi sekarang kami baik-baik saja," tambah Gatra memutuskan rasa tidak nyamannya karna Nayra diam saja mungkin berpikir kalau dirinya sudah melanggar perjanjian. "Rayyan anak yang baik dan ngerti situasi, katanya dia yang salah karna tahu saya sedang emosi, tapi masih ngeyel."

"Tapi pengertian apapun anak itu... dia tetap anak yang akan terluka bila di sakiti." Kata Nayra membuat Gatra di hantam rasa bersalah. "Saya ngga akan nyalahin kalau Mas melakukan itu karna dia punya salah yang enggak di maafkan, tapi yang saya dengar Mas Gatra sering marah bahkan sampai dorong keponakan Mas sendiri dan tak mungkin menutup kemungkinan akan melakukan hal yang sama pada anak saya. Jujur, saya ngga nyaman. Pengen dengar semua ceritanya."

Gatra tak tersinggung karna sudah sangat memahami kesalahannya sampai meninggalkan cerita yang sedikit di lebihkan pada orang lain. Beberapa kali Haviza ikut Hakim ke rumahnya untuk memberikan barang yang Gatra atau Hakim butuhkan membuat wanita itu sering melihatnya memarahi dan mendorong keponakannya yang mengekorinya menjauh karna membuatnya risih.

Hakim sering menasehatinya, mereka anak kecil yang masih merindukan Omnya yang bekerja berbulan-bulan makanya mereka tak membiarkannya lepas sedetikpun yang di tanggapi dengan setengah hati olehnya.

Walaupun tidak mudah tapi sekarang Gatra menyadari kesalahannya dan ingin memperbaikinya pelan-pelan.

"Rayyan jatuhin semua koleksi komik saya," ungkap Gatra akhirnya sambil menatap lampu-lampu gedung di depannya. "Tapi yang membuat saya marah bukan masalah menjatuhkan semuanya sampai berantakan atau dia ngga sopan karna dari awal saya sudah bilang ke dia anggap aja rumah sendiri, tapi kenapa dia ngga minta tolong ambil ke saya? Saat itu saya sedang ambil obat sakit kepala di kamar dan tahu apa yang di lakukan reflek saya marah."

"Jadi gitu kejadian." Nayra mengangguk mengerti. "Rayyan ngga mau ngerepotin makanya ambil sendiri, tapi... gimanapun dia memang salah. Kalau boleh kasih saran... sebaliknya Mas Gatra jangan terlalu kayak gitu sama dia. Saya takut dia berharap lebih."

Gatra diam tak memberikan tanggapan karna menurutnya yang sekarang berubah itu jangan setengah-setengah, tapi masalah yang di sadari pria dewasa itu kalau Rayyan bahkan Nayra salah menanggapi kebaikannya.

"Saya baru ingat, tadi dia juga kirim pesan katanya berantem sama Mamanya, tapi saya ngga bales karna ngga mau tahu banyak dan secara ngga sadar malah masuk ke dalam kehidupan kalian lebih jauh lagi." Kata Gatra memutuskan untuk membongkar sekaligus memancing pemikirannya salah atau benar.

Tak ada jawaban yang kemungkinan Nayra satu pendapat dengannya atau wanita itu bingung cara menanggapinya, tapi karna sudah terlanjur Gatra kembali melanjutkannya dari pada menjadi beban. "Maaf terdengar lancang dan kepedean, tapi kayaknya saya juga salah... Rayyan menganggap saya seperti... ayahnya sendiri."

"Ternyata Mas Gatra peka juga, tapi... saya juga mau jujur sebenarnya keinginan terbesar Rayyan memang itu." Nayra mengakuinya bukan karna dirinya juga berharap yang sama, tapi agar kedepannya Gatra bisa menentukan sikapnya. "Jujur, saya belum siap kembali menikah."

Gatra yang semula cemas di balik dinding pembatas menghela nafas lega, ia sempat punya pikiran buruk tentang Nayra, tapi ternyata wanita tak seperti itu. "Saya juga, setidaknya sampai saya ngga perlu datang lagi ke psikolog."

Setelahnya mereka melanjutkan pembicaraan lebih santai tanpa adanya rasa canggung yang tanpa sadar tercipta karna saling menyimpan rasa curiga. Sering kali Nayra tertawa karna lelucon yang di lempar Gatra hingga membuatnya sedikit melupakan masalahnya.

Jam-jam sudah terlewati dengan pembicaraan tanpa ada putusnya. Di mulai dari Rayyan dengan segala tingkah ajaibnya sampai pada mereka membahas masa sekolah yang ternyata berasa di satu SMA yang sama.

"Nama Nayra Lovarisa nama asli kan? Tapi saya ngga pernah dengar." Gatra menyerah mengali ingat masa lalunya. "Kamu juga bersahabat dengan Haviza yang setahu saya dulu cukup pemilih. Saya yakin kamu bukan anak orang biasa."

"Saya orang biasa, Mas. Haviza sebenarnya enggak pernah pemilih teman, tapi karna dia orangnya blak-blakan membuat dia sadar ngga banyak yang suka sama dia. Oh saya ingat karna itu juga Haviza pernah di bully makanya bikin Haviza kayak terkesan pemilih."

"Saya tahu, kalau ngga salah karna ngga sengaja bandingin dirinya lebih baik dari pada pacar baru mantan pacarnya... saya lupa namanya, intinya semua itu karna di pancing sama teman sekelasnya, tapi ngga tahunya mereka ngomong langsung ke orangnya." Jelas Gatra sambil tertawa. "Kalau ingat masa SMA dengan sok dewasa menyelesaikan masalah sekarang malah jadi lucu. Padahal jalan keluarnya mudah, tapi karna dulu ngga bisa mengatur emosi dengan baik masalahnya jadi panjang."

"Salah satunya Mas Felix dan Mas Dirga pernah berantem karna satu cewek."

"Kamu tahu masalah itu?"

Nayra tanpa sadar mengangguk. "Dulu masalah itu gampar bangat sampai di telinga kelas sepuluh. Mereka juga penasaran siapa cewek beruntung itu."

"Ngga ada yang beruntung atau diuntungkan karna pada akhirnya cewek itu ngga jadian sama salah satu dari mereka." Jelasnya sambil tertawa. "Mereka dulu juga bodoh, suka sama orang yang sama, tapi ngga pernah tahu kalau si cewek punya pacar anak sekolah lain."

"Serius? Kok bisa mereka ngga tahu? Tapi lucu sih mereka merebutkan pacar orang," balas Nayra sambil tertawa kecil. "Tapi kayaknya persahabatan kalian baik-baik aja setelah kejadian itu ya? Maksudnya... biasanya kalau masalah cinta-cintaan di masa remaja sering bikin persahabatan retak."

"Sempat renggang, tapi Dirga orangnya cepat sadar kesalahannya dan Felix cukup pendiam ngga tahu caranya nyari teman lain jadi walaupun lagi marahan kami tetap ngumpul bareng. Terus ngga tahunya mereka berdua baikan lain," jelas Gatra. "Kalau kamu sendiri gimana?"

"Saya bukan anak yang populer, Mas."

Gatra sebagai senior yang masih ingin mengingat juniornya belum puas. Dulu ia cukup aktif di sekolah bahkan pernah jadi ketua osis yang pada masa pencalonannya pergi ke semua kelas di sekolah dan berkenalan dengan semua siswa.

Gatra memiliki ingatan yang bagus bahkan punya cita-cita menjadi dokter, tapi karna di semester akhir kelas dua belas keluarganya mendapatkan musibah, membuatnya harus mengubur cita-citanya lalu mendapatkan rekomendasi dari tetangganya untuk sekolah pelayaran yang biayanya tak begitu banyak, tapi gaji yang besar.

"Jujur saya ngga percaya, Nay." Bahkan dulu anak yang sering ada di perpustakaan dari pada bergaul dengan banyak orang masih di ingatnya walaupun tidak semuanya, Gatra bisa ingat nama tapi lupa wajah atau sebaliknya ingat wajah tapi lupa nama. Intinya Gatra tahu semua murid pada masa sekolah lebih tepatnya saat ia mencalon atau menjabat sebagai ketua asing yang tak sampai dua ratus orang.

"Mas Gatra emang ngga mudah di bohongi persis kayak dulu. Nayara Lova Zavendra, apa Mas belum ingat?".

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!