WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#19
#19
“Tidak. Sebelum Mamak merestui kami.” Firza tetap bersikukuh dengan keinginannya.
Hembusan nafas Mamak Karmila terdengar bergetar, ibu mana yang tega mengucapkan kalimat begitu kasar pada anaknya sendiri. Sesakit apapun hatinya, ia berusaha tidak berdoa yang buruk untuk anaknya. Adapun yang telah terucap hanyalah ancaman belaka, berharap Firza mau menurut padanya.
Tapi ternyata, keegoisan Firza mengalahkan segalanya, termasuk ucapan mamaknya sendiri. Tak ada pilihan, Mamak Karmila mendorong tubuh Firza hingga ia bisa melepaskan diri dari pelukan pria itu.
“M-M-Maak—” isak Firza dengan wajah bersimbah air mata.
“Sampai air susu Mamak yang yang mengalir di tubuhmu hingga meresap di tulang sumsum mu mengering, sampai saat itu pula lah Mamak tidak akan pernah merestui hubunganmu dengan wanita ini!”
Air mata Firza mengalir semakin deras, air susu ibu adalah sesuatu yang tak bisa ditukar dan digantikan dengan apapun. Keberadaan cairan ajaib itu bukan hanya mampu menjadi sumber nutrisi luar biasa bagi seorang manusia. Tapi juga mampu mengubah dua jiwa berbeda menjadi saudara.
Itu bermakna bahwa hingga akhir usia, restu Mamak Karmila tak akan pernah terucap untuknya.
Di sisi Firza, Resha yang tak henti mengusap air mata buayanya. “Mak, besok pagi, Resha akan bersyahadat. Dan setelah perceraianku dan Ersha diresmikan pengadilan. Kami baru menikah. Itulah yang ingin ku sampaikan,” ucap Firza pasrah, berharap semoga Allah mengampuninya.
Mamak Karmila tersenyum sinis, wanita itu berdecak tak sudi. “Pergilah! Tak ada guna kau mengabari Mamak, jika yang kau ucapkan hanya itu.”
Tak perlu menunggu Firza pergi, Mamak Karmila kembali melangkah masuk ke dalam kamarnya.
“Mak— Mak—” panggil Firza meski sudah hampir menyerah. Namun, sia-sia belaka, karena tak sedikitpun Mamak Karmila tergerak hatinya.
“Firza— Mamak— Mamak— biarkan aku menyusul beliau,” isak Resha sambil melangkah mengikuti arah kamar Mamak Karmila, wajahnya terlihat sendu, padahal dalam hatinya ia berpesta pora.
Firza menahan tubuh Resha, dia tahu benar bagaimana watak ibu kandungnya itu, sangat tegas, terutama soal prinsip dan keyakinan. Itu suatu hal yang mutlak, karena itulah dulu Firza dan Biru tak pernah berani bolos mengaji, karena ngeri, meski hanya membayangkan amukan Mamak Karmila.
Di sudut lain, Mamah Ayu dan Pink hanya terdiam, tak berani berkomentar. Wanita itu hanya mengangguk pelan ketika Firza pamit padanya. Dalam hatinya ia pun menyesalkan sikap Firza, entah Firza pernah menelaah atau tidak pengalaman masa lalu rumah tangganya atau tidak. Bila sudah menelaah, tentulah ia tak akan salah mengambil keputusan.
Dua orang itu pun melangkah keluar, karena sudah tak diterima lagi di rumah itu. Tapi, kejutan lain menanti.
Sebuah taksi berhenti di depan gerbang, Ersha dan Abizar keluar dari dalamnya. Wanita itu tetap berpenampilan rapi, bersahaja, meski rasa kecewa tengah merundung hatinya.
Meski terkejut dengan keberadaan Firza, dan untuk pertama kalinya bertatap muka dengan wanita yang merajai hati suaminya. Tapi Ersha tetap tenang, seolah tak terpengaruh apapun jua. “Yayah—”
Rengekan Abizar, membuat pertahanan Firza buyar, bocah kecil itu melorot dari gendongan Ersha, lalu berlari menghampiri sang ayah yang telah lebih dari seminggu tak ia jumpai.
Ersha mendongak ke udara, menahan air mata kesedihan ketika melihat pemandangan tersebut. Abizar selalu lengket dengan ayahnya, terutama sekali selepas Firza pulang kerja. Tapi belakangan ini, anaknya tak pernah merasakan di peluk manja oleh ayah kandungnya.
Firza pun merasakan hal serupa, terlihat sekali pria itu bersimpuh sambil memeluk erat tubuh mungil yang sebagian merupakan bagian dari dirinya. “Yayah puyang,” katanya.
“Iya, Nak. Ini Ayah, maafkan Ayah, ya?” bisik Firza tak henti mencium seluruh bagian wajah Abizar. Saat ini ia merasa menjadi ayah yang jahat bagi anaknya sendiri, karena sudah beberapa hari ia sengaja tak datang menemui Abizar, padahal Abizar tak salah, dan gak tahu apa-apa.
Resha begitu muak melihat pemandangan itu, benar-benar tidak bisa dibiarkan. Masa ia harus menyerah kalah pada bocah berusia satu tahun. Inilah saatnya, kembali memainkan peran.
“Aduh, kepalaku,” keluh Resha sambil memijit pelipisnya, seolah sedang merasa pusing.
Firza segera berdiri, menggendong Abizar serta mendekati Resha yang sedang mengeluh sakit. Di sisi lain, hati Ersha kembali di buat hancur melihat pemandangan tersebut.
Melihat Firza yang begitu mengkhawatirkan Resha wanita yang nyata-nyata diakui sebagai cinta pertama. Sekaligus membuat Ersha menjadi pemain cadangan dalam kisah cinta mereka.
“Berikan padaku.” Resha mendekat, bermaksud mengambil alih Abizar dari gendongan ayahnya. Tapi—
“Ndak, Yayah— mau ama Yayah,” isaknya polos, benar-benar ungkapan cinta dan rindu yang tulus tanpa polesan.
“Iya, lain kali Abi pergi sama Ayah, ya?” bujuk Firza, yang sebenarnya masih ingin berlama-lama. Tapi Resha sedang mengeluh sakit, dan Firza tak mau terjadi apa-apa dengan kekasihnya itu.
Semetara Resha pun semakin memperkuat sandiwaranya, karena saingan sesungguhnya saat ini bukanlah Ersha, melainkan Abizar. “Hoek— aduh, kok tiba-tiba mual.”
“Hah, mual? Apakah efek obat kemoterapi?”
“Sepertinya begitu, aku lupa membawa obat penawarnya,” keluh Resha sekali lagi.
“Yayah! Yayah!” Tangis Abizar semakin keras, semakin erat juga memeluk leher ayahnya, kala ayahnya mencoba melepaskan pelukan tangan mungilnya.
Ersha tak bisa berbuat apa-apa, sementara Resha terus membuat dirinya semakin menyedihkan agar Firza semakin iba padanya.
Brug!
Tubuh Resha ambruk di tanah berumput, “Resha!” jerit Firza, pria itu kembali berlutut memeriksa kondisi Resha. Kekhawatiran tergambar jelas di kedua matanya.
“Ayo, sama Om saja.” Entah kapan ia datang, tiba-tiba saja Biru sudah mengambil alih Abizar dari pelukan Firza. Di depan Firza ia sengaja berkata dengan suara keras. “Mulai sekarang, Om adalah Ayahmu, panggil Ayah, ya?”
Biru tak menoleh lagi, ia membawa Abizar masuk ke dalam rumah dengan diikuti Ersha, wanita itu pun tak sudi lagi menoleh ke belakang. Firza benar-benar sudah berubah, pria itu lebih mementingkan kekasihnya ketimbang anaknya yang meraung penuh rindu.
Sedangkan Firza buru-buru menggendong Resha dan mendudukkannya di dalam mobil, setelah itu tancap gas menuju rumah sakit.
###
kalau ada nama tertukar, segera komen ya.
maklum, jempol sudah oleng nulis 3000 kata 🥴🥴
percayalah, gaes. othor berurai air mata pas nulis episode ini 😭😭😭😭
toh sama" single