NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Boss CEO Karena Skandal

Terpaksa Menikahi Boss CEO Karena Skandal

Status: tamat
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Perjodohan / Tamat
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Aura, seorang sekretaris teladan, dan Arkan, CEO dingin yang perfeksionis, terpaksa menikah setelah dijebak dalam sebuah skandal memalukan saat perjalanan bisnis di Bali. Pernikahan paksa ini memaksa mereka menjalani peran sebagai atasan-bawahan di kantor sekaligus suami-istri di rumah. Di balik kerumitan perasaan yang mulai tumbuh, keduanya harus bersatu memburu dalang konspirasi yang sengaja menjebak mereka sebelum karier dan nyawa mereka menjadi taruhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Makan Malam Formal Pertama

Setelah drama kecemburuan di rumah dan kemenangan telak Arkan di rapat pemegang saham yang berhasil mendepak Danu dari posisinya, sebuah tantangan baru muncul di depan mata. Bukan lagi soal angka atau pengkhianatan digital, melainkan soal pengakuan sosial. Malam ini, Arkan harus menghadiri Charity Gala tahunan yang diselenggarakan oleh yayasan keluarga konglomerat di Jakarta. Dan untuk pertama kalinya, Aura tidak akan berdiri dua langkah di belakang Arkan dengan buku catatan, melainkan berjalan di sampingnya dengan gaun malam.

"Ingat, Aura," Arkan berbisik saat mobil Rolls-Royce mereka memasuki pelataran hotel bintang lima tempat acara berlangsung. "Mereka akan mencoba mengulitimu dengan kata-kata. Jangan beri mereka celah. Kamu adalah Nyonya Mahendra sekarang. Bersikaplah seolah kamu memiliki ruangan itu."

Aura menarik napas panjang. Ia mengenakan gaun velvet berwarna hijau zamrud tua yang membalut tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan elegan namun misterius. Berlian yang melingkar di lehernya terasa berat, sebuah pengingat fisik akan beban status yang kini ia sandang.

"Saya tahu, Pak. Saya sudah menghafal silsilah keluarga setiap tamu undangan penting," jawab Aura, kembali ke mode sekretarisnya yang efisien meski hatinya berdegup kencang.

Saat pintu mobil dibuka, kilatan lampu kamera wartawan langsung menyambut mereka. Arkan keluar lebih dulu, lalu dengan gerakan yang kini terasa lebih alami, ia mengulurkan tangannya untuk membantu Aura keluar. Di bawah sorotan lampu, mereka tampak seperti pasangan paling berkuasa di Jakarta.

Begitu memasuki aula besar, suasana mewah langsung menyergap. Aroma parfum mahal dan denting gelas sampanye memenuhi udara. Namun, yang lebih tajam dari aroma itu adalah tatapan mata para sosialita yang berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil.

"Lihat itu," bisik seorang wanita paruh baya dengan kalung mutiara yang berlebihan. "Si sekretaris yang beruntung. Luar biasa bagaimana skandal bisa berubah jadi pernikahan dalam semalam."

Aura mendengar bisikan itu, namun ia tetap menegakkan punggungnya. Ia berjalan di samping Arkan, menyapa beberapa kolega bisnis dengan senyum yang telah ia latih di depan cermin. Arkan sesekali meletakkan tangannya di pinggang Aura, sebuah gestur yang kini tidak hanya terasa protektif, tapi juga penuh dengan rasa bangga yang tak terucapkan.

Namun, ketenangan itu terusik saat sosok yang paling mereka hindari muncul dari kerumunan. Lydia, mengenakan gaun merah menyala yang sangat provokatif, melangkah mendekat dengan segelas sampanye di tangannya. Di sampingnya adalah ibunya, seorang wanita yang dikenal sebagai ratu sosialita dengan lidah yang lebih tajam dari pisau bedah.

"Arkan, sayang!" Lydia menyapa dengan nada yang dibuat-buat ceria, mengabaikan Aura sepenuhnya. "Selamat atas kemenanganmu di rapat kemarin. Kasihan sekali Danu, tapi kurasa bisnis memang kejam, bukan?"

"Terima kasih, Lydia," jawab Arkan pendek, suaranya sedingin es.

Ibu Lydia, Nyonya Hendrawan, kini beralih menatap Aura. Ia memindai Aura dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. "Dan ini... istri barumu? Luar biasa. Dari mengurus jadwal rapat sekarang mengurus rumah tangga Mahendra. Transisi yang sangat cepat, bukan begitu, Aura? Atau haruskah saya memanggilmu 'Nyonya' sekarang?"

Aura tersenyum tenang, sebuah senyum yang sering ia gunakan saat menghadapi klien yang sulit. "Panggil saya Aura saja, Tante. Karena gelar tidak mengubah siapa saya, tapi saya harap pengalaman saya mengurus jadwal Bapak Arkan membantu saya mengurus hal-hal yang jauh lebih rumit... seperti menjaga integritas keluarga di tengah gosip yang tidak perlu."

Nyonya Hendrawan sedikit tersentak. Ia tidak menyangka sekretaris ini akan berani membalas.

Lydia tertawa tipis, tawanya terdengar seperti gesekan kaca. "Integritas? Lucu sekali mendengarnya dari seseorang yang memulai pernikahannya di sebuah kamar hotel di Bali. Arkan, kamu tahu kan apa yang orang-orang bicarakan di belakangmu? Mereka bilang kamu hanya sedang melakukan damage control."

Arkan hendak bicara, namun Aura lebih cepat. Ia melangkah sedikit ke depan, menatap Lydia tepat di matanya.

"Lydia, jika orang-orang membicarakan kami, itu karena kami menarik. Tapi jika mereka membicarakan pernikahan ini sebagai damage control, mungkin mereka lupa siapa yang sebenarnya mencoba membuat 'kerusakan' itu sejak awal," Aura merendahkan suaranya, hanya cukup didengar oleh mereka berempat. "Saya tahu soal pertemuanmu dengan Danu di Singapura minggu lalu. Saya punya rincian tiket dan reservasi hotelnya. Apakah kamu ingin saya membagikan 'integrasi' itu kepada media di sini?"

Wajah Lydia mendadak pucat. Ia tidak menyangka Aura telah menggali sejauh itu.

"Kamu..." Lydia tergagap.

"Mari kita nikmati makan malamnya, Lydia," ucap Aura dengan nada manis yang mematikan. "Gaunmu indah sekali, tapi merah mungkin warna yang terlalu berani untuk seseorang yang sedang mencoba bersembunyi di balik nama besar keluarganya."

Aura kembali bergelayut di lengan Arkan, memberikan isyarat bahwa mereka harus pindah ke kelompok tamu lain. Arkan mengikuti langkah Aura dengan rasa takjub yang luar biasa. Saat mereka sudah cukup jauh, Arkan membungkuk ke arah telinga Aura.

"Sejak kapan kamu tahu soal Singapura?" bisik Arkan.

"Saya tidak tahu pastinya, Pak. Saya hanya menebak berdasarkan beberapa pengeluaran aneh di kartu kredit Danu yang saya periksa kemarin. Ternyata tebakan saya tepat melihat reaksinya tadi," jawab Aura sambil mengedipkan sebelah matanya.

Arkan tertawa rendah, sebuah tawa yang tulus dan penuh kekaguman. "Kamu benar-benar berbahaya, Aura Diratama. Saya hampir merasa kasihan pada Lydia."

Makan malam dimulai, dan Aura diposisikan di meja utama bersama Arkan dan beberapa menteri serta pengusaha papan atas. Di sinilah ujian sesungguhnya. Aura tidak hanya harus tampil cantik, ia harus mampu terlibat dalam pembicaraan tentang kebijakan fiskal, investasi asing, dan filantropi.

Sepanjang makan malam, Lydia terus mencoba menjatuhkan Aura dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjebak mengenai etika sosial dan sejarah seni, bidang yang ia asumsikan tidak dikuasai oleh seorang gadis dari latar belakang biasa seperti Aura. Namun, Aura menjawab setiap pertanyaan dengan kecerdasan dan kerendahan hati yang justru membuat para tamu lain terkesan.

"Seni bukan hanya soal harga di rumah lelang, Lydia," jawab Aura menanggapi komentar Lydia soal lukisan abstrak di dinding aula. "Tapi soal bagaimana sebuah karya bisa menyentuh sisi kemanusiaan kita. Seperti pernikahan—bukan soal seberapa megah pestanya, tapi soal janji yang ada di baliknya."

Seorang menteri senior di meja itu mengangguk setuju. "Luar biasa, Arkan. Istrimu bukan hanya cantik, tapi memiliki kedalaman pemikiran. Kamu sangat beruntung."

Arkan menatap Aura dengan binar yang belum pernah dilihat Aura sebelumnya. Bukan lagi tatapan bos kepada bawahan, melainkan tatapan seorang pria yang menyadari bahwa ia baru saja menemukan harta karun yang paling berharga.

Saat acara berakhir dan mereka berjalan kembali ke mobil, Aura merasa seluruh energinya telah terkuras. Ia menyandarkan kepalanya di jok kulit mobil yang empuk.

"Saya melakukan kesalahan?" tanya Aura pelan.

"Kesalahan?" Arkan meraih tangan Aura dan mengecup punggung tangannya dengan lembut—kali ini tanpa perintah, tanpa sandiwara. "Malam ini, kamu baru saja memenangkan perang yang tidak bisa saya menangkan sendirian. Kamu membuat Lydia dan ibunya terlihat seperti amatir."

Aura tersenyum lelah. "Saya hanya tidak ingin mereka meremehkan kita, Pak."

"Jangan panggil saya 'Pak' saat kita sedang berdua seperti ini, Aura," bisik Arkan, suaranya berat dan penuh makna. "Malam ini, di depan semua orang, kamu membuktikan bahwa kamu lebih dari sekadar sekretaris atau istri kontrak. Kamu adalah partner saya."

Di bawah lampu jalanan Jakarta yang temaram, Aura menyadari bahwa makan malam formal pertamanya telah mengubah statusnya secara permanen. Ia bukan lagi pelengkap dalam hidup Arkan; ia adalah kekuatannya. Dan saat Arkan tidak melepaskan genggaman tangannya sepanjang perjalanan pulang, Aura tahu bahwa aturan "tidak ada perasaan" dalam kontrak mereka kini tinggal sejarah yang siap untuk dilanggar sepenuhnya.

1
liyute_281
yg mahendra itu arkhan ato aura sih... bukannya aura si sekertaris?
liyute_281
kenapa jadi aura mahendra?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!