Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 19
Setelah segala pujukan Wira, akhirnya Nina mau menemani Raynar untuk mencari sesuatu di salah satu pusat perbelanjaan di solo.
Raynar sedikit gugup, namun itu semua ia tutup dengan bersikap dingin pada Nina, yang sedari tadi terlihat cemberut.
" Kamu enggak ikhlas nemenin saya?" tany Raynar yang mencoba membuka obrolan.
Nina yang mendengar itu,langsung menggelengkan kepalanya "Ikhlas sih ikhlas pak, tapi agak jengkel aja dikit " ujar Nina.
" Kan bukan saya yang maksa kamu" sahut Raynar.
" Ya... saya juga bukan jengkel ke bapak ,tapi ke Kak Wira" sahut Nina.
" Yuk turun" ujar Raynar kala ia telah memarkirkan mobilnya.
Nina dan Raynar kemudian turun dari mobil dan berjalan menyusuri setiap sudut Mall, mencari barang yang sedang di cari oleh Raynar.
Tak terasa sudah tiga jam setengah mereka mengintari Mall tersebut, masuk keluar semua toko yang ada di Mall, namun barang yang Raynar belum juga ia dapatkan.
" Bapak sebenernya cari apa sih pak? udah satu setengah jam loh kita muter, bapak juga udah masukin semua toko" gerutu Raynar.
" Saya cari sesuatu, tapi sepertinya di sini enggak ada" jawab Raynar santai.
Jawaban Raynar membuat Nina kesal, pasalnya ia tadi sedang bersantai, tiba'- tiba di minta untuk menemani bos nya mencari sesuatu yang bahkan dirinya saja tidak tahu bos nya mencari apa.
Mungkin saja juga Raynar juga belum tahu mencari apa, karena itu cuma alasan dia agar bisa lebih dekat dengan Nina.
" Iya pak sesuatunya tuh apa? bilang sama saya, biar saya bantu carikan" ujar Nina yang sudah cukup lelah.
" Saya mau cari perlengkapan gunung,lusa kan saya juga mau ikut tapi saya belum punya baju, sepatu dan yang lainnya" jawab Raynar asal.
" Aduh bilang kek pak, kalau mau cari baju perlengkapan gunung mah, di tokonya aja ada,tapi jam segini pasti udah tutup, lagian beli sepatu dan jaket aja pak, yang lainnya Kak Wira sudah punya, lagian kita tek tok,enggak ngecamp" sahut Nina.
Yahh lusa mereka berniat untuk ke bukit mongkrang,karena akhir taun Zeyya ingin ikut Wira dan Nina ke gunung Merbabu,tapi dia mau coba dulu yang pendek, seperti bukit mongkrang.
"Oh.. ya sudah besok saja, sekarang kita makan saja yukk saya lapar" ujar Raynar menggandeng tangan Nina.
Nina yang terkejut karena tangnya tiba- tiba di tarik, hanya mengikuti Raynar, hingga akhirnya di lobby seseorang menarik kerudung Nina.
" Aduh sakitt" pekik Nina.
Raynar pun berhenti dan menoleh ke belakang, mendapati seorang pria menarik kerudung Nina dan di sampingnya ada seorang cewek yang meminta sang cowok agar melepaskan tangannya dari kerudung Nina.
" Yank, lepasin kasian itu Nina" ujar si cewek.
Cowok tersebut melepaskan tangannya, Nina kemudian menoleh ke belakang, dan Nina memukul badan cowok tersebut tanpa henti.
"puk.. puk..." Suara pukulan tersebut menggebu.
" Terus Na, lanjut Na" ujar cewek yang bersama dengan cowok tersebut.
" Mereka teman Nina, tapi bukannya Nina enggak mau bersentuhan sama lawan jenis ya?" tanya Raynar dalam hatinya.
" Cukup Na, cukup... aku minta maaf" mohon cowok tersebut.
Nina mengakhiri pukulannya , karena tangannya sudah di tahan oleh Raynar, yang masih di sebelahnya.
" Pak lepasin pak, saya belum selesai kasih pelajaran sama orang ini" berantakan Nina.
Cowok tersebut mendekati Nina dan merangkul Nina, Raynar yang melihat itu ada sedikit perasaan cemburu.
" Kenapa Cewek itu diam saja, saat cowoknya ngerangkul Nina" gumam Raynar kembali.
" Yakin mau kasih pelajaran, nanti engga aku kenalin sama cowok ganteng lagi loh" bisik Cowok tersebut pada Nina, namun masih bisa do dengar oleh Raynar.
" berisik aku udah gak butuh teman kamu" jawab Nina menepis tangan cowok tersebut.
Lalu Nina malah memeluk cewek yang berada di samping cowok yang merangkul Nina, Raynar bingung siapa cowok itu?dan apa hubungannya dengan Nina.
" Prim, kangen tau... kok mau sih balikan sama cowok modelan kayak gini" ujar Nina pada cewek tersebut yang bernama Prima.
" Heh emang aku kenapa? kamu tuh move on makanya, ehh tapi kayaknya adik kecil kita ini udah move on sayang" jawab Cowok tersebut dan melirik ke arah Raynar.
" Ehh bukan ya... ini bos aku, juga temannya Bang Haris, namanya pak Raynar" jawab Nina dengan cepat, membantah ucapan sepupunya.
Cowok tersebut adalah sepupu Nina yang seumuran dengan Nina, Nina kemudian mengenalkan sepupunya pada Bos nya.
"Oh yaa pak Ini sepupu saya namanya Arlo dan ini pacarnya namanya Prima " ucap Nina memperkenalkan Sepupunya pada Raynar.
"Arlo"
" Raynar"
" Prima"
" Raynar"
"Maaf yaa pak, kalau ini anak ngerepotin, sampai harus nganter ke sini lagi" ujar Arlo pada Raynar.
" Saya kesini memang ada kerjaan di rumah Nina, untuk mengganti segala furniture nya,.jadi tidak merepotkan" sahut Raynar.
"Asal aja kalau ngomong, makanya tuh dengerin, udah ah aku capek, tapi habis dari tempatnya bulek" sahut Nina.
" ngapain?" tanya Arlo.
" Yeblak lah... sama bikin suprise " jawab Nina.
" Suprise siapa? orang ibu sana bapak kamu lagi haji" tanya Arlo.
" Nah makanya itu aku kasih suprise yang lain, tau lah gara- gara apa, udah ah aku mau nemenin bos aku cari makan, bye... mbak prim jangan mau kalau di suruh bayar, Ayo pak" ujar Nina kemudian menggandeng tangan Raynar.
" apa sih, tuh anak emang kalau ngomong suka enggak jelas" ujar Arlo melihat kepergian adik sepupunya.
...****************...
Di dalam mobil Nina dan Raynar sedang mencari makan, dimana sekarang sudah pukul sembilan lebih.
" Pak mau nyari apa sih pak?" tanya Nina, karena sedari tadi Raynar hanya berkeliling.
" Apa aja kek asal kenyang, kamu ada rekomendasi gak?" jawab Raynar.
" Ya...saya kan enggak tau makanan kesukaan bapak,jadi saya takut buat kasih rekomendasi " ucap Nina yang sebenarnya sudah lelah.
"Saya makan apa saja" ujar Raynar.
" penyetan bapak suka?" tanya Nina.
" suka "
" okey kita ke penyetan saja dekat alun - alun lorr, nanti di situ ada penyetan enak" sahut Nina.
" Okey kamu tunjukan jalannya" jawab Raynar.
Setelah makan mereka kembali ke rumah Wira dan juga Malihah, Wira, Chessy dan juga kenzie juga sudah pulang.
Raynar dan Nina pulang pukul sepuluh malam, dimana sebagian orang sudah tertidur, kecuali Haris.
" Baru pulang?" tanya Haris yang sedang menikmati kopi dan juga pisang goreng di teras rumah.
" Iya, aku ke atas dulu mau mandi" ujar Nina.
" pak makasih traktirannya ya.., saya ke atas dulu" pamit Nina pada Raynar dan langsung masuk ke rumah dan menuju ke lantai dua.
Di lantai dua, Nina melihat sang keponakan Kenzie tertidur di depan tv, ia kemudian membersihkan badan dan melaksanakan sholat Isya, setelah itu menyusul Kenzie yang sudah tertidur sedari tadi.
Sedangkan di bawah, Raynar masih mengobrol dengan Haris di teras depan rumah Wira.
" Gimana Pdkt nya Ray?" tanya Haris to the point .
" Pdkt apaan sih bang, orang tadi cuma cari baju sama sepatu doang buat Lusa" jelas Raynar.
" enggak usah ngibul loe, keliatan banget kalau lagi pdkt nya, gue dukung asal loe bener- bener serius, kalau loe main- main loe hadapan sama gue" ujar Haris.
" Kak Wira kasih tau loe?" tanya Raynar.
" enggak keliatan aja, dari gerak gerik loe, semoga berhasil bro" jawab Haris.
" Maksudnya ?"