Aaliyah, takdir mempertemukannya dengan Hadi, disaat Hadi telah memiliki Clarissa dan sudah siap untuk menikahi Clarissa.
Namun kekuatan takdir telah mengubah arah hati Hadi, pada akhirnya ia memilih Aaliyah menjadi istrinya.
Tetapi Clarissa, perempuan yang memiliki pengaruh yang kuat, perempuan yang membuat percaya diri Aaliyah jatuh pada titik nol, selalu membayangi kisah cinta mereka.
Kisah mereka diuji dengan kesetiaan, kesabaran, dan perjuangan cinta. Akankah mereka lulus dari ujian itu?
Clarissakah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Aaliyah?
atau Aaliyah yang menjadi ujian cinta Hadi dan Clarissa?
Jawabannya adalah siapa yang terakhir hidup bersama Hadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ina As, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19. Antara Sayang dan Rindu
HADI
Tidak mudah berenang sambil memegang orang yang terus meronta ingin mati. Aku berusaha bertahan agar tetap bisa dipermukaan meskipun terbawa arus. Beberapa kali aku mencoba melawan arus dan berenang ke pinggir, namun karena gadis ini sering meronta akhirnya kami terbawa arus kembali. Beberapa kali kami dihempas arus di pohon hanyut atau di batuan besar. Di hilir aku lihat ada reruntuhan beton jembatan lama, aku harus bisa menjangkaunya. Kami semakin dekat dengan reruntuhan beton itu, dan berhasil, aku bisa menjangkaunya dan berpegangan pada potongan besinya. Aku berusaha menaikkan gadis ini ke bongkahan beton. Sepertinya tenaganya sudah melemah dan tidak melawan lagi. Setelah gadis itu sudah di atas beton, aku juga memanjat naik. Sesampainya di atas bongkahan beton, ku gendong gadis itu berjalan meniti bongkahan yang lain untuk sampai di pinggir sungai. Namun tebing sungai yang tinggi menyulitkan aku untuk naik ke atas.
"Dengar, aku sudah mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkanmu, jangan bertindak bodoh lagi. Jangan berpikir setelah bunuh diri kamu masuk di syurga, tidak, Tuhan akan membakarmu di Neraka," kataku pada gadis itu.
Aku berusaha menariknya naik ke atas tebing. Setelah bersusah payah akhirnya kami sampai di atas. Aku kemudian menjatuhkan badanku tidur di alang-alang sambil tetap memegang lengan gadis itu khawatir ia masih nekat bunuh diri. Kepalaku pening karena banyaknya air yang masuk lewat hidung. Beberapa bagian tubuhku sakit akibat benturan dengan benda-benda yang ada di sungai. Goresan di sana sini akibat banyak cabang-cabang kayu yang hanyut di sungai. Aku merasa kelelahan yang luar biasa. Aku tidak tahu berapa lama kami hanyut terbawa arus, tapi aku merasa amat lama.
Aku hampir tertidur saat orang-orang dan tim penyelamat menemukan kami. Kami dinaikkan ke atas tandu kemudian dibawa ambulance ke rumah sakit. Sesampai di Rumah Sakit kami dimasukkan ke ruang instalasi gawat darurat dan mendapat beberapa penanganan awal.
Tidak lama berselang keluargaku mulai datang. Ibu menangis memeluk aku, menyesali apa yang barusan aku lakukan. Hanya Ayah tersenyum bangga kepadaku, meskipun ikut meneteskan air mata. Yang lain menganggap apa yang aku lakukan adalah sebuah kebodohan.
Angga dan adel juga sudah ada di dekatku. Rupanya bunda Rini juga ikut ke RS, dia ikut memeluk aku. Saat aku dipeluk Bunda Rini aku melihat gadis itu, Aaliyah, berdiri saja dipojok ruangan. Ia hanya menatapku tapi tidak bergerak mendekatiku. Ia diam saja. Tapi aku melihat air matanya terus jatuh dan sekali-kali ia sesenggukan. Ya Tuhan apakah ia menangis karena aku. Mungkin apa yang kulakukan tadi sudah membuatnya cemas. rasanya aku ingin memeluk dan menciumnya. Baru saja aku hendak memanggil namanya tiba-tiba Clarissa datang dan memeluk aku. Dalam pelukan Clarissa aku melihat ia berjalan meninggalkan ruangan perawatanku. Mungkin ia tidak ingin melihat aku dan Clarissa. Sama seperti tadi pagi ketika sikapnya tiba-tiba berubah mendengar dari Angga aku sering telponan sampai pagi.
Aaliyah-aaliyah, aku ingin memanggilnya, tapi situasi tidak memungkinkan. Clarissa menempel terus padaku. Sebenarnya aku risih dengan sikap Clarissa pada bunda Rini. Sampai Bunda berpamitan pulang karena hari sudah malam, Aaliyah tak pernah muncul lagi di ruangan perawatanku.
Aku tidak leluasa untuk menelponnya, Clarissa tidak pernah beranjak dari dekatku.
Aku meminta pulang ke rumah malam ini. Pihak Rumah Sakit belum mengizinkan, namun aku rasa aku lebih nyaman istirahat di rumah, toh tidak ada luka serius, hanya lebam-lebam dan beberapa goresan di kulit sehingga aku terpaksa menandatangani surat pernyataan.
Sesampai di rumah waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam sehingga aku tidak menelpon Aaliyah lagi, khawatir ia sudah beristirahat.
Pukul 3 dini hari aku terbangun, badanku mulai terasa ngilu. Luka-luka kecil terasa perih. Ternyata efek kejadian kemarin baru terasa hari ini. Namun sebenarnya aku tidak begitu mempedulikan rasa sakit pada tubuhku. Aku hanya ingat Aaliyah. Ya, di pojok ruangan perawatan kemarin aku melihatnya menangis. Mungkin aku kegeeran, tapi aku yakin ia menangis karenaku.
Aaliyah, kok aku dilanda rindu sama kamu. Tak dapat menahan rindu, akupun mengirim pesan WA kepadanya.
HADI:
Aaliyah
Aku cuma menyebut namanya di pesan WA, dan ternyata dia juga tidak tidur.
AALIYAH:
Mas Hadi??? bagaimana kondisinya?
HADI:
Kurang baik. Kok belum tidur?
AALIYAH:
Apa yang Mas Hadi rasakan? lukanya sakit ya? atau Mas Hadi sesak karena banyak air yang masuk? . Aaliyah mau makan sahur Mas.
Rupanya Aaliyah hendak berpuasa sunat.
HADI:
Aku kurang baik bukan karena kejadian yang di sungai kemarin.
AALIYAH:
Trus kenapa Mas?
HADI:
Karena ada yang menghindariku, mulai pulang dari puncak, sampai di Rumah Sakitpun tidak ingin menemuiku.
AALIYAH:
Siapa?
Astaga Aaliyah, kamu bertanya lagi siapa. Aku yakin ia mengerti maksudku siapa. Aku tidak membalas lagi WA nya untuk menunjukkan ketidaksenanganku.
AALIYAH:
Mas Hadi marah ya? Mas Hadi sudah janji kemarin di puncak gak marah-marah sama Aaliyah. Lupa ya?
Oh Aaliyah.
Kondisiku tidak akan bisa menghalangi aku. Aku ke rumahmu besok demi rindu.
HADI:
Mas Hadi nggak marah Al, Aaliyah makan sahur aja dulu.
AALIYAH:
Iya Mas, Aaliyah makan dulu ya.
Rasa kangen sedikit terobati setelah chat dengan Aaliyah. Sebenarnya aku nungguin ia selesai maka sahur terus aku telpon, tapi ternyata aku sudah tertidur duluan. Aku terbangun pukul 9 pagi, Clarissa sudah ada di kamarku. Rissa sudah menyiapkan obat untuk lukaku.
"Sudah bangun sayang?, kamu mandi dulu ya baru sarapan. Sebentar aku mau obatin lukamu" kata Clarissa sambil mencium pipiku.
Aku berusaha bangkit dari tempat tidur. Badan terasa remuk setelah hampir 1 jam terseret arus sungai untuk menyelamatkan gadis yang ingin bunuh diri.
"Sini aku bantu," Rissa melihatku kepayahan.
"Nggak usah, aku bisa kok."
Aku kemudian menuju kamar mandi.
Setelah mandi badanku sudah lumayan segar. Aku sudah bisa mengendarai mobil menuju rumah Aaliyah. Namun Clarissa menungguiku sepanjang hari. Bahkan untuk menelpon Aaliyahpun tidak ada ruang waktu.
Aku sadar aku lelaki yang bejat. Sudah ada Clarissa yang setia menunggui dan merawatku aku masih memikirkan perempuan lain. Aku tidak pernah punya niat untuk menyakiti Clarissa lagi. Namun aku sedang bertemu dengan orang lain yang mampu menarik hatiku. Meskipun aku sadar nanti akan menjadi buah simalakama bagi diriku.
Hari sudah malam. Aku makan malam berdua dengan Clarissa di kamar. Surti mengantarkan makanan untuk kami berdua di kamar.
Belum habis makanan kami surti kembali datang ke kamar dan berkata
"Maaf, ada Ibu Rini dan Non Aaliyah di bawah mau jenguk Mas Hadi"
Gawat, mengapa Aaliyah datang di saat yang tidak tepat. Aku berpikir sejenak, kalau aku turun ke bawah nanti mereka pikir aku ngapa-ngapain sama Clarissa di kamar. Mending aku terima di sini, mereka pasti pikir kondisiku masih kurang baik sehingga Clarissa ada di kamar.
"Saya terima di kamar saja, katakan aku masih kurang sehat untuk turun ke bawah" kataku pada Surti.
Tidak lama kemudian Bunda Rini mengucapkan salam dan kujawab salamnya. Ternyata Bunda Rini hanya sendiri masuk ke kamarku. "Aaliyah mana bund?" tanyaku padanya.
"Aaliyah ngobrol di bawah sama Angga, ibu dan Ayah. Eh ada dokter Clarissa, apa kabar nak," jawab Bunda sambil menyapa Clarissa. Mereka saling berbasa-basi.
Aku yakin Aaliyah tidak ingin menemuiku karena ada Clarissa di sini. Mau turun ke bawah sudah terlanjur berbohong masih kurang sehat. Sungguh, aku rindu melihat wajah anak itu. Aku yakin selama ada Clarissa di sini dia tidak akan menemuiku.
*********
AALIYAH
Rupanya di kamar Mas Hadi ada Clarissa sehingga aku membatalkan niat menemuinya. Mungkin karena kejadian kemarin, aku sudah menguasai diriku untuk tetap santai meskipun cemburu. Toh kemarin aku hampir putus asa menunggu kabar Mas Hadi, dan di dalam doaku dengan siapapun dia pada akhirnya menikah yang penting Mas Hadi selamat.
Dengan kejadian kemarin, aku baru menyadari bahwa aku sangat sayang pada Mas Hadi. Dan atas dasar sayang itu aku sudah rela kalau pada akhirnya ia harus bersama perempuan lain. Melihatnya bersama perempuan lain masih jauh lebih baik daripada tidak melihatnya sama sekali.
Kemarin setelah mendengar kabar bahwa Mas Hadi sudah ditemukan selamat, aku langsung sujud syukur di atas tanggul sungai. Sebenarnya aku sudah putus asa mereka bisa selamat setelah terseret arus selama hampir satu jam. Rasa syukur dan bahagia karena selamatnya Mas Hadi mengalahkan cemburuku pada Clarissa.
Di ruang tamu ada tamu yang hendak membesuk Mas Hadi diterima oleh Bude Laela. Usianya 50 an, sangat elegan dan berkelas, menjinjing tas hermes birkin berwarna cokelat muda.
Ah aku ingat perempuan itu, ia hadir di pesta Angga. Ketika ia menyapa Mas Hadi tampaknya Clarissa kurang menyenanginya dan meninggalkan mereka.
Ia kemudian masuk ke ruang keluarga. Angga memperkenalkan aku padanya.
"Fitri"
Oh ternyata ibu ini yang bernama fitri, yang membantu modal minimarket Mas Hadi dan yang mempunyai villa dan resort di puncak.
"Aaliyah"
"Oh jadi kamu Aaliyah yah?" katanya sambil senyum.
"Kamu cantik Aaliyah." Sepertinya ia mengenalku.
Mungkin Mas Hadi pernah bercerita tentang aku, duh geernya aku.
"Iya terimakasih tante."
Angga hendak mengantar tante fitri naik ke atas ke kamar Mas Hadi, tapi Tante Fitri bertanya pada Angga "Siapa saja yang ada di kamar Hadi?".
Angga menjawab ada Clarissa dan Bude Rini. Sepertinya Tante Fitri ragu untuk kamar Mas Hadi. Mungkin karena ada Clarissa di sana. Tante Fitri kemudian mengajak aku ke kamar Mas Hadi. Aku langsung mengangguk setuju karena penyakit kepo ku kumat, ingin tahu apa yang terjadi bila tante fitri bertemu Clarissa.
Di tangga kami berpapasan dengan bunda yang sudah keluar dari kamar Mas Hadi. Berarti di dalam mereka tinggal berduaan. Baiklah kita lihat apa yang terjadi.....
2. e
3. d
4. a
5. b
tnngung jwb ktnya mlh kaya gini setan emng hadi🤣🤣
jadi clarisa juga sakit, apa lgi nanti yg jg nanti di poligami si akiya dan brengseknya lgi punya ank pula sakit g berdarah nembus sampai yg baca sakit bnget