HIATUS
"Kamu siapa? Mengapa kamu tiba-tiba ada di kamarku?"
"Ssstttt ... Jangan keras-keras. Nanti akan aku beritahu siapa aku asalkan kamu mengizinkanku untuk tinggal di sini untuk sementara waktu."
***
Hari-hari Lea berubah drastis setelah kedatangan seorang lelaki yang tiba-tiba ada di dalam kamarnya. Lelaki asing yang sama sekali tidak ia kenal yang ternyata ikut menyeretnya ke dalam pusaran cerita hidup yang tersimpan.
Siapakah sosok lelaki asing itu? Bagaimanakah Lea menjalani hari-harinya bersama si lelaki asing hingga membuatnya terpikat pada ketampanan yang dimilikinya? Dan apa yang akan dilakukan oleh Lea saat menerima kenyataan bahwa lelaki yang ia sembunyikan di dalam loteng kamar merupakan seorang buronan polisi yang sudah lama dicari?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fumiko Sora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Buronan 19. Ketahuan
Kokok suara ayam jantan terdengar bersahutan, menyambut datangnya mentari yang mulai merangkak naik ke singgasana. Semburat sinar keemasan mulai terlukis di ufuk timur sebagai pertanda jika rembulan sudah berganti dengan terang sinar matahari.
Mia celingak-celinguk ke lantai dua. "Aneh, biasanya jam segini non Lea kan sudah bangun. Tapi pagi ini aku sama sekali belum melihatnya. Apa mungkin non Lea belum bangun ya?"
Mia menaiki anak tangga untuk bisa menjangkau kamar Lea. Sejenak, ia berdiri di depan pintu kamar dan nampak hanyut dalam pikirannya sendiri.
"Aduh, dibangunin tidak ya? Sepertinya non Lea benar-benar belum bangun. Aku khawatir jika non Lea sampai kesiangan berangkat kerja."
Tangan Mia terulur untuk memegang tuas pintu. Ia putar knop pintu dan seketika membuatnya terhenyak. Sungguh di luar dugaan, pintu sang majikan tidak dikunci dari dalam seperti biasanya.
"Eh, tidak dikunci!"
Dengan perlahan, Mia membuka pintu kamar Lea. Dari tempatnya berdiri, nampak sang majikan masih bergelung di bawah selimut tebal. Ia pun mendekat ke arah ranjang.
"Non, non Lea! Bangun Non. Sudah jam enam pagi!"
Nihil, tidak ada respon tubuh ataupun sahutan dari si pemilik kamar. Bahkan majikannya ini nampak semakin nyenyak berada di bawah selimutnya.
"Aduh ... Kok gak bangun-bangun sih? Ini sepertinya harus pakai jurus goyang biar cepat bangun!"
Mia semakin merapatkan tubuhnya ke arah Lea. Ia duduk di tepian ranjang dan mulai mengguncang tubuh Lea dengan kencang.
"Non, bangun! Sudah siang. Nanti non Lea telat masuk kerja!"
Hening, masih tak ada respon sama sekali.
"Non Lea, bangun!"
Kini, Mia mengguncang tubuh Lea dengan tenaga ekstra. Benar saja, sang majikan yang menenggelamkan tubuhnya di bawah selimut tebal ini mulai sedikit mengerikan respon. Tubuhnya bergeliat dan...
Ba!!!!!!
"Aaaaaaaaa ....!!!"
"Aaaaaaaaa.....!!!"
Tubuh Mia berjingkat seketika saat melihat sosok lelaki yang tiba-tiba muncul dari balik selimut. Mia beringsut mundur. Mencoba menjauh dari tubuh Sean.
Sean juga sama dibuat terkejut setengah mati saat melihat di depan matanya bukanlah Lea, melainkan Mia sang asisten rumah tangga. Pemuda itu seketika turun dari ranjang dan berdiri di samping nakas.
"Kamu siapa? Mengapa kamu bisa tidur di kamar non Lea? Kamu maling ya?" pekik Mia sembari mencoba menebak siapa sosok lelaki asing yang berada di kamar majikannya ini.
"Pssstttt ... Mbak Mia, tenang. Jangan berisik. Nanti Lea bangun!" larang Sean sembari meletakkan telunjuknya di bibir. Sean kembali mendekat ke arah ranjang dan ia daratkan bokongnya di sana. "Aku Sean, Mbak. Kamu pasti mbak Mia kan?"
Mia terhenyak karena lelaki bernama Sean ini mengetahui namanya. Namun mendadak hatinya serasa berbunga-bunga. Ia merasa seperti menjadi artis terkenal karena ada orang asing yang mengenal namanya.
"Siapa kamu? Kok kamu bisa tahu namaku? Dan mengapa kamu bisa berada di kamar non Lea?"
"Aku sengaja datang ke sini untuk mencari tempat tinggal Mbak. Sudah lama aku luntang-lantung di jalan."
"Apa? Mencari tempat tinggal? Memang ada masalah apa kamu sampai luntang-lantung di jalan?" ucap Mia dengan rentetan pertanyaannya. Namun tiba-tiba kedua bola matanya membulat sempurna. "Hah, jangan-jangan...."
Mia melangkah, mendekat ke arah Sean. Ia tatap lekat wajah lelaki asing yang tiba-tiba ada di kamar sang majikan. Mencoba memastikan apa yang menjadi kecurigaannya.
"Jangan-jangan apa Mbak?" tanya balik Sean yang semakin penasaran.
Semakin lama, Mia semakin lekat menatap wajah Sean dan bibirnya pun menganga lebar saat memorinya tertuju pada berita pembunuhan dan mutilasi yang sempat ia lihat beberapa hari yang lalu.
"Kamu .... Kamu buronan itu kan? Buronan polisi yang terlibat dalam kasus pembunuhan di hotel Petir Menggelegar. Iya, aku yakin buronan itu kamu. Meski polisi merilis wajah pelaku tidak terlalu jelas, namun aku yakin buronan itu kamu."
Kini giliran Sean yang terperangah. Tidak menyangka jika Mia mengenalinya sebagai seorang buronan. Lelaki itupun hanya bisa membuang napas kasar. Rasanya sungguh tidak ada artinya jika ia menyanggah perkataan Mia.
"Iya Mbak, aku buronan itu. Tapi aku mohon sama mbak Mia. Jangan kasih tahu tentang hal ini ke Lea ya Mbak. Sampai saat ini Lea belum tahu siapa aku."
Meskipun sedikit terkejut dengan kenyataan ini namun rasa kagum akan ketampanan sosok buronan yang pernah ia lihat di layar kaca seakan membuat Mia setuju-setuju saja dengan permintaan Sean.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?"
"Aku minta mbak Mia tetap menjaga rahasia ini. Jika nanti Lea mengetahui siapa aku sebenarnya, aku pasti akan segera keluar dari persembunyian ini."
Mia nampak berpikir sejenak, hingga akhirnya ia pun menganggukkan kepala. "Baiklah, aku akan tetap menjaga rahasia ini. Tapi yang masih menjadi pertanyaan, mengapa kamu tega membunuh dan memutilasi korban? Bahkan sampai menjadi sebelas bagian lagi."
Sean terhenyak. "Apa? Memutilasi menjadi sebelas bagian?"
Mia mengangguk. "Iya, memutilasi. Berita yang beredar kamu ini mem...."
"Loh mbak Mia?!!!" pekik Lea sembari menuruni tangga loteng. Wajah Lea sedikit terkejut ketika melihat Mia berbincang dengan Sean.
Astaga, ini bagaimana ceritanya mbak Mia bisa tahu keberadaan Sean? Itu artinya mbak Mia sudah tahu kalau aku menyembunyikan lelaki di dalam kamar? Ya ampun, ini bagaimana bisa jadi seperti ini? Itu juga kenapa Sean bisa sampai ketahuan?
Ucapan Mia terpangkas ketika sang majikan mulai menghampirinya. Mia berupaya setenang mungkin, seolah-olah saat ini ia sedang bersama orang biasa. Bukan seorang buronan polisi.
"Hahahaha, ternyata ini yang membuat tingkah non Lea sedikit berbeda akhir-akhir ini? Meminta saya masak dalam porsi yang banyak, melarang saya beres-beres kamar, dan selalu makan dalam porsi yang banyak di malam hari?" tanya Mia dengan gelak tawanya.
Lea menatap penuh tanya ke arah Sean. "Jadi, ini maksudnya?"
Sean mengangguk pelan. "Iya Le. Mbak Mia sudah mengetahui keberadaanku. Jadi, saat ini kamu sudah tidak perlu lagi menutup-nutupi."
Lea kembali menatap sang asisten rumah tangganya. "Mbak, tolong jaga rahasia ini untuk sementara ya. Sampai Sean keluar dari rumah ini yang entah kapan. Niatku hanya menolongnya, tidak lebih dari itu."
"Non Lea tenang saja. Saya akan menjaga rahasia ini. Saya pastikan keberadaan mas Sean tidak ada yang mengetahui selain kita."
***
Sean berdiri termenung di depan jendela sembari melihat hembusan angin yang menerpa dedaunan. Daun-daun itu seakan mengeratkan pelukannya di dahan. Namun ada pula sebagian yang memilih untuk melepaskan pelukannya. Jatuh ke bumi dan ada pula yang terbang bersama dengan angin.
Sejak mendengar perkataan yang di sampaikan oleh Mia, lelaki itu seakan dibuat tidak tenang. Ada satu ketakutan dan kekalutan yang terasa mengungkung jiwanya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dalam peristiwa itu setelah aku keluar dari hotel? Mengapa berita yang berkembang juga ada sebuah narasi kasus mutilasi?"
Sean semakin larut dalam pikirannya sendiri. Ia seakan dibuat pusing sendiri dengan kasus yang ia hadapi. Ia merasa, ada satu kejanggalan dalam kasus yang menjeratnya ini.
"Sepertinya aku harus minta tolong seseorang untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun kepada siapa aku harus meminta pertolongan?"
.
.
.
LANJUTT SAMPEK HABIS YAA THORR
moga cepat terungkap kasusnya dan sean bisa bebas dan bersatu dengan lea..
dan buat lea jauh² deh sama kevin yg sok perfect itu