Kinanti Larasati, seorang ibu rumah tangga yang sudah memiliki 2 orang anak. Kesehariannya hanya mengurusi urusan rumah dan buah hatinya.
Sebagai seorang istri, Kinanti ingin diperlakukan manis oleh sang suami, tapi nyatanya, suaminya itu tidak peduli. Yang ada, suaminya itu selalu mengomel dan menuntut setiap apa yang dikerjakan oleh Kinanti.
Hingga suatu hari, Kinanti lelah dengan sikap suaminya yang tidak memperdulikannya dan juga kedua anaknya.
Follow Ig dan FB othor.
- Ig : Roliyah579
- FB : Roliyah Roliyah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roliyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Selama meninggalkan rumah, Kinanti dan kedua anaknya tinggal di sebuah kontrakan kecil berukuran 3 × 4 m. Dan selama tinggal di kontrakan, Kinanti terus berjualan kripik bayam.
Usahanya jualan kripik bayam membuahkan hasil dan hampir semua kripik bayam buatannya selalu habis setiap harinya. Dari hasil itulah Kinanti bisa bertahan hidup.
Amar dan Sasa tidak pernah mengeluh tinggal di kontrakan kecil. Baginya sama saja tinggal di rumahnya maupun di kontrakan. Yang penting mereka tetap terus bersama sang ibu.
Jika di bilang kangen dengan papanya, sudah pasti jawabannya iya. Amar dan Sasa sangat merindukan papanya, tapi mengingat papanya lebih memilih orang lain dibandingkan mereka, membuat kedua bocah itu sangat sedih dan kecewa.
Kinanti yang sudah berada di titik lelah, dengan sikap suaminya, memilih mengajak Amar dan Sasa pergi dari rumah. Kinanti tidak ingin hatinya terus disakiti, terutama kedua anaknya.
..........
Malam itu, Kinanti akan COD sama orang yang akan membeli kripik bayamnya. Orang itu memborong banyak kripik bayamnya.
Kinanti, Amar dan Sasa sudah sampai di tempat yang titik temu dengan pembelinya. Tidak lama si pembeli datang menghampiri Kinanti.
"Ini Mba Kinanti ya?" tanyanya.
"Iya, betul. Ini ibu yang mau beli kripik bayam saya?"
Pembeli itu mengangguk. Kinanti menyerahkan kantong plastik yang berisi kripik bayamnya dan sekaligus menerima uangnya.
"Saya suka kripik bayam buatan, Mba. Rasanya enak dan renyah. Makanya saya ingin memborong banyak kripik bayam buatan Mba."
"Terima kasih, Bu. Saya senang jika ibu puas dengan kripik bayam buatan saya," jawab Kinanti senang.
"Saya pasti akan terus berlangganan kripik bayamnya, mba."
Selesai bertransaksi, Kinanti ingin mengajak Amar dan Sasa makan di warung Padang yang berada di sebrang jalan.
"Ayo makan dulu, pasti Abang sama adek lapar," ujar Kinanti.
Saat sedang menyebrang jalan, sebuah sepeda motor melaju cukup kencang. Padahal Kinanti sudah mengangkat satu tangannya, sebagai tanda ia dan kedua anaknya mau menyebrang
Melihat kendaraan bermotor itu semakin dekat, dan Kinanti tak punya banyak waktu untuk berlari menghindari motor itu, Kinanti lebih memilih mendorong tubuh Amar dan Sasa ke pinggir jalan, dan dirinya lah yang akhirnya tertabrak.
Sebelum kesadarannya menghilang, sayup-sayup ia mendengar suara Yoga yang memanggilnya penuh kekhawatiran.
.....
Kinanti mengerjapkan matanya dan menatap sekeliling ruangan yang berwarna cat putih. Sudah bisa di tebak kalau saat ini dirinya pasti berada di rumah sakit.
Seketika ia teringat dengan Amar dan Sasa. Pasti Amar dan Sasa sangat mengkhawatirkannya, lalu sekarang dimana Amar dan Sasa. Siapa yang menjaga kedua anaknya?
Kinanti berusaha bangun dari tidurnya. Tidak peduli dengan kondisinya yang terluka. Ia tidak bisa berlama-lama berada di rumah sakit. Ia harus mencari dimana Amar dan Sasa berada.
"Sstt ...," desis Kinanti, memegangi kepalanya.
Kinanti menyibakkan selimut dan perlahan menurunkan kedua kaki yang terasa sakit.
Kinanti menarik napasnya dalam-dalam, lalu perlahan-lahan menurunkan kakinya ke lantai.
Baru saja menampakkan kakinya di lantai, tubuh Kinanti tiba-tiba limbung dan hampir saja Kinanti terjatuh, kalau saja tidak ada sepasang tangan menangkapnya.
"Kinanti, kenapa turun?" ucap Yoga.
Yoga yang baru keluar dari kamar mandi, terperanjat melihat Kinanti akan turun dari ranjang, dan secepat kilat Yoga menangkap tubuh sang istri.
"Mas Yoga ...." Kinanti terperangah melihat Yoga ada di rumah sakit.
"Kamu nggak boleh turun dari ranjang," ucap Yoga, sambil mengangkat tubuh Kinanti lalu direbahkan nya lagi di ranjang.
Kinanti melengos kan wajahnya ke arah lain. Kinanti masih sangat marah dengan sikap Yoga yang lebih memilih wanita lain dibandingkan Sasa, selain itu hatinya juga bertambah sakit atas perselingkuhan Yoga.
Yoga menghela napasnya, melihat sikap Kinanti berubah dingin. Wajarlah jika sikap Kinanti berubah terhadapnya, dan ia mencoba untuk mengerti.
"Kamu ngapain turun dari ranjang?"
"Aku mau cari Amar sama Sasa," jawab Kinanti dingin.
"Amar sama Sasa sudah sama ibu. Jadi kamu nggak perlu mencemaskan nya."
Mendengar Amar dan Sasa bersama ibu mertuanya, Kinanti bernapas lega.
Yoga menarik sebuah kursi dan duduk di dekat ranjang dan menatap wanita yang sudah bertahun-tahun menemaninya.
Yoga bernapas lega, karena kondisi Kinanti tidak begitu parah. Walau ada tulang kakinya yang patah. Setidaknya Kinanti selamat dari kecelakaan itu.
Kinanti mendengus melihat Yoga terus memandanginya. Kinanti risih melihat Yoga.
"Keluar. Aku mau istirahat." Usir Kinanti kepada Yoga.
Akan tetapi Yoga bergeming, ia tetap akan duduk menjaga Kinanti.
Kinanti yang tadinya enggan menatap Yoga, terpaksa harus menatapnya.
"Aku bilang keluar! Aku mau istirahat!" desis Kinanti kesal.
"Baiklah, aku keluar." Yoga memilih mengalah dan membiarkan Kinanti istirahat.
Sebelum keluar, Yoga mendekatkan wajahnya untuk mencium kening Kinanti. Akan tetapi, Kinanti melengos kan wajahnya. Menolak Yoga menciumnya.
Berkali-kali Yoga menghela napasnya. Penolakan Kinanti sudah sangat jelas kalau dirinya harus ekstra sabar meraih hati istrinya lagi.
"Aku keluar dulu. Jika kamu butuh sesuatu, panggil saja aku. Aku nggak akan pergi kemana-mana."
Kinanti tetap diam dan tidak mau menyahutinya. Kinanti masih menatap ke arah lain, ketika Yoga keluar dari ruang rawatnya.
Mendengar pintu di tutup, Kinanti bisa menghela napasnya.
"Jangan salahkan aku jika aku bersikap dingin sama kamu, mas," gumam Kinanti.
Yoga berdiri di balik jendela, ia terus menatap Kinanti yang tengah tertidur.
Yoga ingin terus menatap wajah Kinanti dan tak ingin sedetik pun meninggalkan Kinanti. Yoga ingin menebus semua rasa bersalahnya.
"Mas Yoga ...." Panggil orang yang ingin dia hindari. Siapa lagi kalau bukan Frida.
"Ngapain kamu di sini! Dan kamu tahu kalau aku ada di sini dari mana?" tanya Yoga.
"Kamu nggak perlu tahu aku tahu darimana," sahut Frida. "Kenapa kamu nggak pernah mengangkat telpon ku?"
"Karena kamu sudah nggak penting lagi di hidupku," jawab Yoga santai.
"Apa?" Frida tak menyangka kalau Yoga sudah membuangnya. "Jadi seperti ini balas kamu sama aku. Setelah apa yang sudah aku berikan sama kamu! Aku tuh sudah menyerahkan seluruh tubuhku sama kamu!"
Yoga yang kesal menarik lengan Frida dan mendorong tubuh Frida kasar ke dinding.
"Bukannya kamu sendiri yang menyerahkan diri kamu sendiri. Aku nggak akan terpancing jika kamu tidak menggoda ku lebih dulu. Jadi stop, jangan ganggu aku lagi !" Ucap Yoga penuh penekanan.
"Tega kamu membuang ku begitu saja! Aku nggak terima perlakuan kamu begitu saja sama aku!" sahut Frida marah.
"Aku nggak akan membiarkan kamu hidup bahagia," sambung Frida, lalu Frida mendorong tubuh Yoga dan pergi dari hadapan Yoga.
Yoga mengusap wajahnya kasar, dan menarik napasnya dalam-dalam.
"Nyesel aku mengenal wanita ular itu."