Pernikahan Keyla dan Edwin yang didasari oleh perjodohan terasa dingin sejak awal. Namun, waktu telah perlahan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Edwin. Tepat saat Keyla merasa pernikahan mereka mulai membaik, badai datang dari masa lalu.
Seorang wanita dari masa lalu Edwin, cinta pertamanya, kembali muncul. Kehadirannya yang tak terduga seketika menggoyahkan hati Edwin yang tadinya sudah mulai mencintai Keyla. Edwin, yang masih menyimpan sisa-sisa perasaan, mulai bimbang antara janji pernikahan dan nostalgia.
Di sisi lain, Keyla tengah berjuang meraih impiannya di dunia modeling, sebuah profesi yang tidak disukai dan dianggap tabu oleh Edwin. Keputusan Keyla untuk tetap mengejar karier ini semakin memperkeruh rumah tangga mereka, membuat Edwin merasa tidak dihargai.
Keyla kini berada di ujung tanduk. Ia harus berjuang mempertahankan suaminya dari bayangan masa lalu yang memikat, sambil berusaha membuktikan bahwa pilihannya sebagai seorang model tidak akan menghancurkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon StarMaker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab19
Keyla menelan salivanya susah payah melihat Edwin yang baru saja keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk sebatas pinggangnya. Menampilkan badan atletis dengan perut six pack, rambut yang basah menambah kesan ketampanannya menjadi dua kali lipat.
Edwin yang merasa di tatap Keyla langsung menatapnya balik, dengan cepat Keyla mengalihkan pandangannya dan pura-pura fokus dengan hp di tangannya.
Keyla kembali mendongakkan kepalanya tidak lama kemudian dia membuang nafas lega, barusan Edwin kembali masuk kedalam kamar mandi.
Drtt drtttt
Keyla mengangkat tangannya yang memegang hp, melihat siapa yang menelfonnya.
"Hmmm ada apa?" tanya Keyla pada orang di seberang sana.
"Aku mau ngomong sesuatu tentang Reza?"
"Kenapa dia buat ulah lagi sama kamu Han?" tanya Keyla.
"Sekarang kamu lagi sama Edwin?" Hana balik bertanya.
"Iya," jawab Keyla sebab barusan Edwin sudah keluar lagi dari kamar mandi.
"Kamu bisa jauhan dikit nggak Key dari Edwin, aku mau ngomong penting," ucap Hana terdengar serius di telinga Keyla.
"Oke aku kebalkon," ucap Keyla turun dari ranjang dan berjalan kebalkon tapi sebelum itu Keyla melirik Edwin sebentar.
"Aku udah di balkon," ucap Keyla memberi tahu posisinya.
"Aku dapet kabar perusahaan Reza yang ada di Singapore menurun drastis dan itu karena suami kamu," tutur Hana membuat Keyla membelalakkan matanya.
"Apaa!!"
"Kamu tau kan suami kamu cukup berpengaruh di dunia bisnis jadi menurut aku mungkin-mungkin aja,"
"Eh bentar-bentar hubungan Edwin sama masalah ini apa?" Heran Keyla.
"Kamu nggak inget kejadian waktu kamu hampir disentuh sama Reza, dan aku rasa Edwin ngasih perhitungan sama Reza" ucap Hana menjelaskan. Sedikit masuk akal tapi Keyla masih ragu.
"Beneran Edwin yang lakuin itu?" tanya Keyla memastikan.
"Menurut aku iya,"
Keyla sedikit terkejut ketika seseorang tiba-tiba memeluk nya dari belakang.
"Han aku tutup dulu," ucap Keyla segera mengakhiri telephonnya.
"Siapa?" tanya Edwin masih setia melingkarkan tangannya di perut Keyla, entah kenapa Keyla sedikit gugup saat Edwin berada di dekatnya seperti ini.
"Hana," jawab Keyla sedikit menyembunyikan kegugupannya.
"Sepertinya kita harus memikirkan perkataan mama," ucap Edwin.
"Tentang?" tanya Keyla.
"Anak,"
Deg
Percayalah Keyla sekarang menelan salivanya susah payah, mendengar kata anak membuat seluruh tubuhnya berdesir hebat.
"A, aku belum siap," ucap Keyla terlampau kecil.
Edwin melepaskan pelukannya pada Keyla setelah itu dia membalikkan tubuh Keyla.
"Untuk?" tanya Edwin, Keyla menundukkan kepalanya.
"Semua," lirih Keyla, jujur dia sangat takut berkata seperti ini kepada Edwin. Takut jika Edwin marah karena menolaknya.
"Kamu belum siap untuk berhu.."
"Stop jangan bahas itu Ed aku malu," ucap Keyla menutup mulut Edwin dengan tangannya.
Edwin terkekeh saat melihat wajah Keyla sangat merah.
"Apa sih Key yang kamu maluin lagian aku juga suami kamu,"
"Edwin udah jangan di bahas," kesal Keyla seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya, Keyla sangat yakin jika sekarang wajahnya tengah memerah bak kepiting rebus.
Edwin melepas tangan yang ada di wajah Keyla. Matanya menatap Keyla lekat, posisi Edwin semakin mendekat ke wajah Keyla.
Edwin mencium bibir Keyla lama.
Keyla menutup matanya rapat tanpa sadar dia mengalungkan tangannya di leher Edwin. Keyla membalas ciuman Edwin, cukup lama keduanya berciuman hingga Keyla hampir kehabisan nafas. Edwin yang menyadari itu langsung melepaskan ciumannya.
"Aku nggak akan paksa kamu," ucap Edwin tersenyum tipis kepada Keyla sebelum kembali ke kamar.
Keyla menatap punggung Edwin yang hilang di balik pintu balkon, ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena belum bisa menuruti permintaan Edwin. Padahal dulu ia sangat menginginkan hal itu tapi entah kenapa sekarang ia jadi ragu untuk melakukannya.
"maaf aku beneran belum siap," ucap Keyla seraya menghela nafas panjang.
•••
Pagi-pagi sekali Keyla terbangun dari tidurnya, semalam dia tidak bisa tidur karena masih merasa bersalah dengan Edwin. Keyla melirik ke samping tempat tidurnya, tapi Edwin sudah tidak ada di tempat tidur.
Keyla menyibak selimut dan berjalan ke kamar mandi, disana juga tidak ada Edwin. Keyla memilih masuk ke kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi setelah itu Keyla berjalan keluar kamarnya, mungkin Edwin ada di bawah pikirnya.
Saat menuruni tangga rasa bersalah Keyla semakin bertambah saja karena melihat Edwin sibuk dengan peralatan dapur.
Keyla menghampiri Edwin.
"Edwin kenapa kamu yang masak, sini biar aku aja," ucap Keyla menggeser posisi Edwin yang sedang memotong sayuran.
"Kamu duduk aja biar aku yang masak," ujar Edwin menatap Keyla tidak lupa dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.
"Nggak kamu aja yang duduk aku yang masak," tolak Keyla.
"Nggak akan selesai kalau kita debat Key, sekarang kita masaknya berdua," kata Edwin menengahi.
Keyla menghembuskan nafasnya lalu tersenyum.
"Okee,"
°°°
Tidak butuh waktu lama keduanya menyelesaikan masakannya dan sekarang semua makanan sudah tertata rapi di meja.
"Kamu ada waktu nggak setelah ini?" tanya Keyla.
"Sekarang hari libur jadi aku free," ucap Edwin membuat Keyla tersenyum lebar.
"Kalau gitu anterin aku belanja," ujar Keyla antusias.
"Iya gampang, sekarang makan dulu gih,"
Keyla mengangguk dan segera menyiapkan piring untuknya dan juga Edwin.
"Segini cukup?" tanya Keyla setelah mengambil nasi dan lauk pauk untuk Edwin.
"Iya," jawab Edwin.
Setelah itu Keyla mengambil makanan untuknya lantas Keyla langsung memulai makannya begitu juga dengan Edwin.
Keyla tersedak makanan ia batuk-batuk.
"Hati-hati Key" ucap Edwin mengambilkan segelas air putih untuk Keyla. Keyla dengan cepat meneguk air yang diberikan Edwin sampai tidak tersisa sedikitpun.
"Aku udah dulu makannya," ucap Keyla.
"Nggak di habisin?" tanya Edwin.
Keyla mengangguk dan segera membersihkan bekas piringnya.
"Kamu taruh aja biar aku yang cuci," ucap Edwin kebetulan sudah selesai dengan makanannya.
"Enggak Ed, kamu mandi aja biar aku yang beresin,"
Edwin mengangguk paham, dari pada harus berdebat seperti tadi dengan Keyla lebih baik dia mengalah.
"Yaudah aku ke atas dulu," ucap Edwin seraya mencium puncak kepala Keyla.
Keyla hanya menanggapinya dengan senyuman dan tentu pipinya sudah kembali merona. Akhir-akhir ini ia sering di buat merona oleh Edwin. Keyla tahu Edwin bersikap seperti itu sekarang agar Keyla nyaman berada di dekatnya. Tapi perubahan Edwin terlalu drastis dan membuat Keyla ragu untuk menjadi istri seutuhnya.
Selesai beberes Keyla kembali ke kamarnya. Keyla melirik kamar mandi yang masih tertutup dan terdengar suara gemercik air. Keyla membuka lemari berniat menyiapkan baju yang akan di pakai Edwin setelah itu Keyla meletakkan baju Edwin di tempat tidur.
Cklek
Pintu kamar mandi terbuka Keyla menoleh menatap Edwin.
"Udah pakek baju?" tanya Keyla. Edwin menghentikan kegiatannya mengusap rambutnya yang basah dan menatap Keyla dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Maksut aku, tadi aku nyiapin kamu baju," koreksi Keyla dengan cepat, sepertinya Edwin berpikiran aneh tentang pertanyaan Keyla yang terlihat ambigu mendadak Keyla menjadi malu dengan perkataannya.
"Kamu nggak bilang, tau gitu aku tadi pakek baju yang kamu pilih," sesal Edwin.
"Gak papah, aku mau mandi dulu," ucap Keyla melewati Edwin dan segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya.
Edwin menatap pintu kamar mandi yang baru saja tertutup tidak lama kemudian senyum tipis terbit di bibirnya.