Kisah ini tentang seorang gadis polos bernama Aluna George yang terjebak dalam pernikahan bersama seorang mafia berdarah dingin. Alexandre Graham seorang pria tampan yang tidak pernaheduli soal cinta, baginya wanita mainan.
Harta, tahta dan kekuasaan membuatnya mampu memilih wanita manapun yang ia inginkan. namun semuanya berubah saat ia bertemu dengan gadis manis dari acara lelang.
Hubungan yang awalnya baik, akhirnya rusak karena sebuah kesalahan. kesalahan yang membuat keduanya harus terikat, kesalahan apakah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhy7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik terendah
Pagi menyapa, matahari sudah mulai terbit meski masih terlihat malu-malu. Aluna yang terkena cahaya matahari perlahan menggerakkan matanya, wanita itu mengedipkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk.
Di liriknya jam yang menempel mania di dinding, ternyata sudah jam sembilan. Aluna kembali mengeratkan selimut miliknya, namun sesaat kemudian ia terkejut lalu dengan cepat bangun dari tempat tidur.
"Aw!..." jeritan Aluna pelan saat merasa bagian bawahnya terasa sakit.
Tiba-tiba sebuah ingatan terlintas di dalam fikirannya, tubuh wanita itu tiba-tiba menegang. "Tidak... tidak mungkin."
Aluna menggelengkan kepalanya pelan, tubuhnya ia dudukan di bibir kasur. Wanita itu terus mengulang dua kata tadi, tidak tidak mungkin dia melakukan hal seperti itu dengan Alex.
Pintu terbuka memperlihatkan wanita paruh baya dengan nampan berisi bubur dan juga air putih, Aluna menatap bibi sendu.
"kamu sudah bangun?" sapa bibi saat melihat Aluna sedang duduk di pinggir tempat tidur.
Wanita paruh baya itu mendekati Aluna, ia meletakkan nampan tadi di balas lalu ikut duduk di samping Aluna.
"Bibi," lirih wanita itu, ia tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya.
"stt..." bisik bibi sambil mengusap punggung Aluna.
Wanita itu langsung memeluk bibi dengan erat, membiarkan rasa sesak di dadanya keluar. Ia kecewa pada dirinya sendiri yang tidak mampu menjaga harta yang paling berharga, sekarang ia sudah tidak punya apa-apa lagi.
"Maafin Aluna bu," ucap wanita itu memeluk bibi, ia tau pasti bibi sudah mengetahui apa yang terjadi.
"Kamu tidak salah Aluna, hal ini adalah takdir," jelas bibi namun wanita didalam pelukannya itu malah menggeleng.
"Tidak! ini salah Aluna," lagi-lagi wanita itu menyalahkan dirinya sendiri, air matanya terus mengalir bahkan ia sudah terdengar segukan.
"stt... sudahlah Aluna, ini bukan salahmu," tenang bibi sambil terus mengusap bahu wanita yang masih saja menangis di dalam pelukannya.
Setelah Aluna sudah merasa senang tenang, bibi mengambil bubur tadi.
"Sekarang kamu makan yah, kamu harus tetap kuat," ucap bibi tapi sayangnya wanita itu malah menggeleng.
"Aku tidak lapar Bu," tolak Aluna tapi tidak di gubris oleh wanita paruh baya itu
bibi menyendok bubur tersebut lalu menyodorkannya kepada Aluna, wanita itu menatap bibi sayu.
"a..." ucap bibi memancing Aluna membuka mulutnya, hingga akhirnya mau tidak mau gadis itu harus memakan bubur itu.
Suap demi suap masuk ke dalam mulut Aluna, hingga akhirnya bubur itu tinggal setengah.
"Cukup bu, Aluna kenyang," tolak Aluna, bibi yang merasa bahwa setengah dari mangkuk itu sudah cukup maka mengangguk setuju.
"Sekarang istirahatlah," ucap bibi sambil merapikan bekas makanan Aluna.
"Tapi bagaimana dengan Elena?" tanya Aluna membuat bibi jadi semakin yakin jika yang di katakan oleh Alex itu benar, Aluna adalah gadis baik-baik. Bahkan di saat seperti ini ia masih memikirkan orang lain!
"Tenang saja bibi sudah membantunya makan dan membantunya mandi," jelas wanita paruh baya itu, membuat Aluna mengangguk.
Setelah bibi keluar Aluna terdiam cukup lama, sekarang ia merasa sendiri lagi. Lagi-lagi airmatanya mengalir, nyatanya berputar bahwa ia baik-baik saja bukanlah hal yang mudah.
Di saat seperti ini ia jadi merindukan mamanya, ingin rasanya ia mengeluhkan semua hal yang baru saja ia alami ke mamanya.
Aluna menangis cukup lama, hingga akhirnya ia kembali tertidur dengan mata yang sembab. Wanita malang itu benar-benar merasa kehilangan semangat hidupnya, kecelakaan itu benar-benar membuatnya terluka.
....
Jam makan siang kantor telah tiba, Alex yang memang sedari tadi tidak bisa konsentrasi memutuskan untuk pulang ke rumah.
Pria itu ingin melihat keadaan Aluna, tadi pagi saat ia akan berangkat ke kantor wanita itu masih tidur.
"Bagas, aku akan pulang," ucap Alex, Bagas yang sedang membereskan pekerjaannya karena akan makan siang menoleh.
"Apa kau meminta izin pulang kepada bawahanmu?" tanya Bagas membuat ia mendapatkan lemparan polpen, untung saja pria itu dengan cepat menghindar.
"Kau yah," kesal Alex, lalu segera bangkit dari tempat duduk miliknya.
Setibanya di rumah pria itu langsung menuju kamarnya untuk membersihkan diri sekaligus berganti baju, meski hanya bekerja setengah hari tapi tetap saja tubuhnya terasa gerah.
Setelah selesai, pria itu keluar dari kamarnya dengan pakaian rumah santai yang membuatnya terlihat lebih tampan.
"Bi, Apakah Aluna sudah bangun?" tanya pria itu saat bertemu dengan bibi depan pintu Aluna.
"Iya tuan, tapi ia tidak mau makan siang. Katanya ia masih kenyang," ucap bibi membuat Alex mengangguk, lalu berjalan masuk ke dalam kamar Aluna.
Pria itu masuk, ia melihat Aluna sedang duduk di atas tempat tidur dengan mata sembab. Wanita itu mmemeluk kedua lututnya dengan tatapan mata kosong, pemandangan yang membuat Alex menjadi merasa bersalah.
"Aluna?" sapa Alex, namun reaksi Aluna membuatnya terkejutnya.
Saat melihat Alex Wanita itu beringsut mundur, bahkan dari tatapannya ia terlihat sangat takut dengan Alex.
"jangan mendekat tuan!" tegas Aluna membuat Alex menghentikan langkahnya, ia tidak mau wanita itu semakin takut padanya.
"Aku kesini ingin minta maaf, tapi sungguh apa yang terjadi semalam itu di luar kendaliku," jelas Alex membuat Aluna malah menggeleng keras.
"Tidak jangan bahas apapun soal malam itu, aku tidak mau mendengarnya," ucap Aluna sambil menutup kedua kupingnya, sepertinya gadis itu sudah mulai mengalami depresi.
"Baiklah, aku tidak akan membahas apapun. tapi tolong jangan jadikan itu sebagai alasan untuk menyakiti dirimu," jelas Alex.
Mendengar penjelasan dari Alex, Aluna menatap pria itu sendu. Ia tidak bisa, wanita itu sudah merasa tubuhnya tidak berguna lagi. Harta berharga di tubuhnya sudah hilang, lalu untuk apa ia memperhatikan tubuhnya.
"Kau mengatakan itu karena tidak kehilangan apapun, aku kehilangan harga diriku Alex," jelas Aluna lagi-lagi ia manangis bahkan kali ini tangisannya semakin keras.
Wanita itu ingin membenci, tapi tidak tau harus membenci siapa. Ia juga merasa bersalah pada mama dan papanya karena tidak mampu menjaga dirinya, sekarang ia sudah kehilangan hal itu lalu untuk apa lagi ia bertahan di dunia.
Alex yang melihat Aluna menangis perlahan mendekat ke arah wanita itu, Di peluknya tubuh rapuh milik Aluna.
"Tenang Aluna, aku akan bertanggungjawab, aku akan menikahimu," bisik Alex membuat wanita bernama Aluna itu terdiam meski suara segukan dari mulutnya masih terdengar.
Entah apa yang ia rasakan saat ini, haruskah ia senang karena nyatanya Alex akan bertanggung jawab. Tapi ia juga tidak mau jika Menikah dengan pria yang tidak mencintai dirinya, ia yakin Alex mengatakan itu karena rasa tanggungjawab.
Wanita itu melepaskan pelukan Alex, di tatapnya wajah pria itu mencari ketulusan di sana. Dan sepertinya pria itu memang tulus ingin bertanggung jawab, tapi kenapa ia merasa tidak bahagia? apakah karena pernikahan yang di janjikan Alex hanya karena pria itu merasa bersalah.
Lagi-lagi Aluna menunduk, jika ia menerima Alex maka itu pasti tidak adil untuk pria itu. Biar bagaimanapun pria itu hanya berusaha menyelamatkan dirinya, bukan memaksa atau melakukannya dengan sengaja.
Apakah ia harus membiarkan hal ini berlaku begitu saja, ini kecelakaan tidak akan adil bagi Alex jika pria itu harus mengorbankan dirinya.
TBC
jangan lupa untuk meninggalkan jejak.....