Cerita tentang perjuangan gadis yang bernama Arini seorang Guru paud di ibu kota jauh dari keluarga dikampung.
Tapi kehidupannya seketika berubah ketika Umi Salamah memintanya untuk menikah dengan putranya yang bernama Muhammad Rifa'i. Tapi laki - laki itu masih menanti kekasihnya yang mengejar mimpinya dan telah 5 tahun meninggalkan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri sulis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Nasehat mbak Amira
" Arini....." Suara lantang tiap memanggil mananya itu, sudah sangat familiar ditelinga Arini. Yaa itu suara sicempreng Sabina.
"Sabina, Mbak Amira" ucap Arini yang kaget melihat kedua saudara iparnya datang ke apartemenya. Dan kebetulan mereka berpapasan diloby karena Arini hendak pergi ke supermaket yang tidak jauh dari sana.
" Apa kabar kamu Rin, " tanya mbak Amira seraya bergantian dengan Sabina memeluk dan cipika - cipiki dengan Arini
"Alhamdulilah baik mbak. mbak Amira sendiri"
"Alhamdulillah mbak juga baik"
" Ehhh, ada keponakan tante yang paling cantik " Sapa Arini pada Sarah lalu menggendong dan mencium pipi tembem gadis kacil itu.
" Rin, kamu tadi mau kemana?" tanya Sabina yang menenteng 2 buah kantong plastik lumayan berat itu.
" Mau belanja kesupermarket, "
" Nanti aja Rin balanjanya, mending kita bikin kue yuuk, kagen nii sama klapertart dan brownies buatan kamu. Kita juga udah beli bahan - bahannya." kata Sabina semangat menunjukan barang bawaanya. Arini pun setuju, masa iya mau nolak.
Akhirnya mereka pun menuju apartemen Arini dilantai 12. Menaiki lift kira - kira 5 menit mereka sampai disana. Dengan semangat mereka membuat klapertart dan brownies yang menjadi kue favorite keluarga. Mereka begitu menikmati setiap proses membuatnya, hingga akhirnya matang dan selesai semua.
" Alhamdulillah, akhirnya beres juga." kata mbak Amira setelah membereskan dapur sambil menunggu kue brownies terakhir matang.
" Waah, bisa gendut nii kalau gini. " celetuk Sabina yang tengah asik menikmati kue - kue itu bersama Sarah yang memakan Klapertart yang telah dingin.
" Mbak boleh bicara sebentar Arini?" kata mbak Amira yang melihat Arini memasukan kue - kue itu dalam kardus diatas meja makan.
" Ooo, boleh mbak. ada apa mbak Amira?"
Sabina yang mengerti situasi dan hal yang akan dibicarakan kedua kakak iparnya itu, memilih pergi keruang Tv bersama Sarah dengan membawa beberapa kue itu.
" Rin, mbak sudah tau semua permasalahan kamu dengan Fa'i dan Diana" kata Amira yang duduk didepan Arini. Arini lantas meletakan tangannya diatas meja makan.Tanda siap untuk segala hal yang akan disampaikan mbak Amira.
" Apa kamu yakin dan rela melihat Fa'i menikah lagi dengan Diana, kamu sanggup untuk madu Arini?"
Arini pun menghela nafas pelan.
" Tidak tau mbak. Tapi, mungkin inilah cara terbaik untuk membuat dia bahagia. Aku tidak mau mas Fa'i semakin terjerumus dalam situasi yang salah ini. Aku hanya tidak ingin dia lebih berdosa lagi mbak. Aku tidak ingin dia semakin terjerumus bujuk rayu setan yang menyesatkan mbak." jawanb Arini dengan suara bergetar menahan tangis yang hampir pecah. Tapi, tanpa disadari air matanya telah jatuh membasahi pipinya.
" Memang benar kata Sabina dulu, waktu menceritakan tentang dirimu. Kamu memang istimewa Arini" batin Amira yang merasa bangga mempunyai saudari ipar seperti Arini.
" Arini, menyelesaikan masalah ini tidak semudah itu sayang. Akan banyak orang yang kecewa jika Fa'i benar - benar menikahi Diana. Bagaiman perasaan kami, perasaan Abi dan Umi. Juga perasaan ibu dan mbak Ani, pasti mereka semua akan kecewa dan menentangnya. Lalu bagaimana dengan perasaanmu sendiri sanggupkah kamu jika dimadu, Fa'i akan lebih tidak peduli padamu lagi Rin." Tutur mbak Amira yang membuat Arini semakin tak bisa menahan air matanya.
" Rin, sebaiknya kalian bicara baik - baik. Bicara dari hati ke hati. Katakan perasaanmu sebenarnya. Buat Fa'i kembali kejalan yang benar katakan padanya bahwa, semua sikap dan perilakunya selama ini salah. Katakan perasaanya pada Diana itu tidak seharusnya menggoyahkan imannya. Buatlah dia jatuh cinta padamu, mbak yakin kamu bisa. Dan jangan selalu menghindar, perjuangkan apa yang telah menjadi milikmu. Setelah itu tinggal kamu berdoa, biarkan Allah yang membantu mu, yaa Arini.!" Kata- kata mbak Amira pun membuat Arini menyadari, tindakanya yang salah dan membohongi hati nuraninya sendiri.
Bersambung,
Terima kasih,