Ellen disuruh menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam oleh pamannya sendiri namun ellen baru menyadari bahwa pria yang diluarnya dingin didalamnya sangat hangat apalagi perilakunya kepada dirinya membuatnya semakin penasaran siapa sebernarnya pria ini?
Arkana, tuan muda yang tidak pernah berdekatan dengan wanita manapun tiba tiba menikah dengan seorang gadis yang menjadi korban dari utang pria paruh baya yang tidak tau diri itu. Namun siapa sangka bahwa yang akan menjadi istrinya di masa depan adalah gadis yang selama ini ia cari, yaitu cinta pertamanya.
Bagaimana kisah pernikahan mereka disaat ellen tau bahwa suaminya adalah teman sekaligus cinta pertamanya selain mantannya? Dan Arkan tau bahwa istrinya adalah gadis yang ia tunggu selama ini? Bagaimana kisahnya, silahkan ikuti lanjut.
Season2 Kisah Cerita anak anaknya yaa.. Lanjut kok, ditunggu aja..
Beri jejak untuk ceritaku ya.. Terima Kasih..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora Veganadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
|Chapter 17 Manja|
❤️Happy Reading❤️
Ellen menatap takjub Arkan yang sedang mondar-mandir didalam kamar tidur. Mata wanita itu melebar dan mulutnya sedikit terbuka melihat Arkan yang hanya menggunakan boxer, dan laki-laki itu sama sekali tidak merasa risih. Ellen menunduk dan melihat tubuhnya yang hanya ditutupi selimut tebal, ia melihat banyak jejak kepemilikkan yang dilakukan Arkan terlihat jelas ditubuhnya, bercak-bercak merah tersebar didadanya, perutnya, dan juga ************ pahanya.
"Oh? Kamu sudah bangun? Apa nyenyak tidurmu?" tanya Arkan yang sudah sadar istrinya bangun, Ellen mengangguk, "kamu apakan tubuhku saat diriku tertidur?"
"Aku hanya sedikit memberi tanda."
"Sedikit? Ini banyak tau!" ujarnya dengan kesal, Arkan meringis pelan, "iya, maaf itu banyak. Tapi mau bagaimana lagi tubuhmu sangat menggoda."
"Lalu sedang apa kamu berkeliling tanpa memakai baju atasan?"
"Ah, aku hanya ingin saja."
"Pakailah bajumu, aku takut kamu sakit." khawatir Ellen, Arkan berjalan mendekati Ellen dan dikecup lembut bibir istrinya, "oke, mama." Ellen terkekeh kecil mendengar jawaban suaminya yang memanggil dirinya 'mama'.
Arkan berjalan kearah lemari dan mengambil kaos dan celana trainingnya. Setelah itu ia membuka pintu sebelahnya yang berisi pakaian istrinya, diambilnya pakaian untuk istrinya lalu berjalan ke dalam kamar mandi lalu balik lagi keluar melihat sang istri yang sedang menatapnya bingung.
"Kamu nga-huwa!"
Ucapan Ellen terpotong karena Arkan tiba tiba mengangkatnya lalu melangkah kekamar mandi, "kamu baru bangun, harus segera mandi karena kita akan sarapan bersama dengan ayah dan abangmu."
"Oh iya, aku lupa kalau mereka menginap."
"Iya, maka dari itu segeralah ya bumil."ucap Arkan lalu mengecup kening istrinya dan berdiri melangkah keluar kamar mandi, Ellen yang diperlakukan seperti itu semakin cinta terhadap suaminya.
"Selamat pagi ayah, abang.." sapa Ellen yang sudah berjalan dengan Arkan yang menuntunnya disamping. Bukan apa apa, Arkan hanya takut dan berjaga-jaga agar istrinya tidak kepeleset atau terjatuh.
"Pagi juga sayang, sini mari duduk disamping ayah." ujar Mika dengan ramah, membuat Ellen duduk manis disamping itu Arkan menyiapkan sarapan untuk istrinya. Baru saja ingin menyendokkan sarapan bubur seafood kedalam mangkuk istrinya, Arkan mendadak ingin memuntahkan sesuatu, tingkah Arkan membuat semua khawatir begitupun dengan Ellen yang langsung berjalan pelan menyusul suaminya yang sudah memuntahkan isi perut didalam kloset.
Ditepuk dan dipijat pelan punggung Arkan dengan jemari lentiknya, "apa kamu baik baik saja sayang? Apa ada yang sakit?"
Arkan menggelengkan kepala, "tidak tau saat aku menyium aroma seafood rasanya aku ingin muntah."
"Mungkin tuan, mengalami morning sickness gejala saat nona sedang hamil." celetuk bi Ari yang sudah siap dengan minyak kayu putih untuk diberikan kepada Ellen. "Mungkin bisa jadi seperti itu, kamu menggantikanku untuk tidak mengalami muntah-muntah seperti ini."
"Kita kekamar aja yuk, sayang, kayaknya kamu semakin lemes." ujar Ellen sembari membantu suaminya untuk berdiri, lalu ia menatap bi Ari yang masih berada disampingnya, "bi, tolong bawain bubur sama susu buat aku dan roti sama teh hanget, bawa kekamar ya bi."
"Oke non."
Sampai dikamar, Ellen dibantu oleh abangnya untuk menggotong tubuh suaminya yang lemas setelah mengeluarkan cairan didalam perutnya sedangkan ayah sedang memanggil dokter untuk memeriksa putranya yang siapa tau sedang terkena demam atau masuk angin.
Ellen segera membuka baju suaminya yang sudah berbaring dikasur lalu ia menyeka tubuh suaminya dengan air dingin untuk badannya, setelah itu ia memakaikan kaos baju yang sudah ia siapkan sedari tadi. Tak lama bi Ari datang dengan membawa nampan lebar berisi sarapan untuknya dan teh hangat untuk suaminya, "ini kamu minum dulu teh hangatnya lalu makan roti sedikit dikit untuk perutmu biar tidak terlalu kosong." Arkan menurut saja saat disuruh makan lalu ia menahan tangan istrinya yang ingin menyuapinya.
"Kenapa?"
"Aku aja, kamu isi dulu perut kamu." ujar Arkan mengingatkan istrinya yang tadi belum sarapan sama sekali, Fahri, abang Ellen yang sedang bersedekap didepan pintu berjalan mengambil bubur untuk adiknya, "udah kamu suapi saja suami kamu, biar abang yang menyuapimu. Abang gak mau keponakan abang sakit."
Ellen tersenyum, lalu melanjutkan untuk menyuapi suaminya dengan bergantian ia menoleh kearah suaminya untuk disuapi dan dia menatap abangnya yang sedang menyuapi untuknya.
Ayah Mika, baru datang dengan mengernyitkan keningnya melihat tiga anaknya yang sedang saling suap suappan. "Dokter sudah datang."
Seorang dokter wanita dan pria masuk kamar bersamaan, Fahri yang sudah menyuapi suapan terakhir adiknya langsung menyingkir dan menaruh mangkuk keatas nampan, kemudian tangannya beralih mengambil susu untuk adiknya.
"Dokter Wendy, akan merawat Ellen, sedangkan dokter Alvin akan mengecek kondisi Arkan. Dok, jadi putra saya sakit masuk angin atau karena istrinya yang sedang hamil?" tanya ayah kepada dokter Alvin, setelah mengecek nadi dipergelangan tangan Arkan dan tersenyum, "ya, tuan, putra anda normal tidak sakit apapun kemungkinan bisa karena istrinya hamil dan putra anda mengalami morning sickness yang kebiasaan wanita hamil terjadi."
Dokter Wendy yang sedang mengecek suhu tubuh Ellen, "putri anda juga sehat tidak ada yang salah, detak jantung janinnya sangat kuat dan sangat sehat, untuk ibunya tolong dijaga makan dan minumnya ya, jangan lupa untuk vitamin." ujar dokter Wendy dengan senyuman tanpa diketahui oleh siapapun seorang pria hanya bisa menatap dokter wanita itu dengan dalam, walaupun dokter Wendy memang merasakan diperhatikan namun ia tidak mencarinya.
Ayah, bernafas lega, ternyata putranya seperti ini karena gejala saat Ellen sedang hamil saja, "biasanya gejala seperti itu berakhirnya sampai kapan?"
"Mungkin sampai sebulan dua bulan, mohon bersabar saja ya tuan Arkan." ujar dokter Alvin. Arkan yang diucapkan seperti hanya mengangguk lalu tersenyum, "terima kasih dok."
Alvin mengangguk, "sama sama tuan, akan saya buat resep obat dan vitamin untuk anda tuan. Tapi jika sudah tidak merasakan mual hentikan meminum obat cukup minum vitamin ini saja."
Lalu dokter Alvin dan Werlyn pamit pulang, karena masih banyak pekerjaan yang menunggunya. Ditinggallah, Ellen dan Arkan yang sudah slaing pelukkan diatas kasur, sebenarnya kemauan Arkan yang ingin tidur dipeluk oleh istri dan anaknya. Sedangkan Fahri yang masih didepan pintu kamar hanya bisa menggelengkan ayah dari keponakannya itu, "manja sekali." gumam Fahri lalu menutup pintu kamar adiknya pelan.
Kemudian ia melangkah turun menyusul Ayah mertua adiknya yang saat ini sedang duduk santai diruang tamu dan sedang berbicara dengan seorang wanita yang tidak ia kenal, karena ia tidak peduli hanya melewati kedua orang itu. Ayah yang merasakan Fahri datang namun hanya melewatinya langsung memanggilnya untuk berhenti sebentar, "Fahri, tunggu sebentar kamu ingin kemana?" tanya Ayah, membuat Fahri menatap Mika.
"Hanya ingin kesupermarket, membeli sesuatu untuk keponakanku. Ada apa?"
"Ah tidak apa apa, kau pulang kemari kan?" Fahri mengangguk lalu ia berlalu begitu saja dan menaiki mobil miliknya, sedangkan didalam rumah, Ayah Mika sedang berbicara dengan anak sahabatnya yang bernama Cecillya, yang dipanggil Ilya, putri sahabatnya ini awalnya mau dijodohkan kepada putranya Arkan namun ternyata putranya sudah memiliki calon istri namun sahabatnya ini benar benar kekeh untuk menyatukan keluarga Kennedrik dengan keluarga Asrandi.
"Jadi apa kabar Ayahmu itu, Ilya?"
Wanita yang dipanggil Ilya, tersenyum ramah, "baik, alhamdulillah om. Tapi ngomong- ngomong pria tadi siapa? Sepertinya bukan putra om, kan?"
"Oh tentu saja bukan, dia adalah abang dari istri Arkan. Fahri namanya."
"Ah, lalu dimana Arkan om?"
"Arkan sedang bermanja-manja dengan istrinya yang saat ini sedang hamil."
"Wah, selamat om, om sebentar lagi menjadi grandpa untuk cucu om." ujar Ilya dengan binar mata, Mika memang tau bahwa Ilya sangat menyukai anak kecil, adiknya saja yang sudah berumur 18 tahun masih dianggap anak kecil olehnya. "Lalu bagaimana kabar adikmu yang masih SMA bukan?" Ilya mengangguk, "iya, dia sudah kelas tiga, kabarnya baik namun ia pernah bercerita kepadaku bahwa ia menyukai seorang pria yang usianya diatasnya sepuluh tahun."
"Wah, seumuran Arkan? Tidak apa apa, jika mencintai pria yang umurnya diatas sepuluh atau delapan tahun dari kalian yang masih umur 20 atau 18 tahun, Ellen saja menikah dengan Arkan saat umur 21 tahun, sedangkan Arkan sudah umur 28 tahun."
"Oh? Berarti Ellen umurnya dibawah aku dua tahun ya om? Aku umurnya 23 tahun saat ini."
Mika mengangguk, "ah iya, kamu umurnya 23 ya, kukira umurmu sama dengan putriku." Ilya menggeleng, mereka masih asik berbicara tentang Ayah Mika yang senang mendapatkan cucu dan Ilya yang bebas dari perjodohan. Setelah merasa waktu berjalan cepat Ilya pamit pulang karena sudah berjanji kepada sang adik untuk jalan-jalan di sebuah Mall.
❤️Bersambung...❤️
padahal itu mulesnya udah kurang dari 5 menit sekali .... uuuhhhggg rasanya udah ga bisa mikirin lapar.... yang ada pinggang panas perut mules keringet banjir tak tertahankan