Sana hanya ingin menjadi istri yang baik bagi suaminya sekaligus ibu yang baik baik anak tirinya.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pernikahan itu akan mempertemukannya kembali dengan seseorang dari masa lalunya.
Seseorang yang ternyata belum benar-benar melupakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gue harus manggil apa?
...•••...
“Soal Jay—”
“Gapapa sayang. Sekarang kita istirahat dulu, ya,” sahut Bari sembari mengecup puncak kepala istrinya dan meremas lembut pundaknya.
Ia sedikit menunduk untuk menatap wajah perempuannya, lalu tersenyum tulus. “Besok aja, ya, ceritanya. Kita tidur.”
Perempuan itu hanya mengangguk. Meski berusaha menurut, raut wajahnya masih menunjukkan rasa tidak enak.
Perlahan, keduanya pun berbaring. Bari menarik selimut hingga menutupi dada istrinya, kemudian merapikannya sebelum memosisikan diri di sampingnya.
“Maaf, ya—”
“Iya, sayang. Sekarang tidur.”
Bari mengecup kening istrinya cukup lama sebelum akhirnya memejamkan mata. Tak butuh waktu lama hingga napasnya teratur, menandakan pria itu sudah terlelap.
Beberapa menit pun berlalu. Perempuan itu sama sekali tidak bisa tidur. Ia benar-benar merasa bersalah pada pria yang kini menyandang sebagai suaminya.
Perempuan itu memiringkan tubuhnya untuk menatap wajah suaminya. Selama beberapa saat, ia hanya memperhatikan wajah pria itu yang masih menyisakan raut lelah meski sedang tidur.
Perlahan, tangannya terangkat untuk mengelus rambut suaminya sebelum turun menyentuh pipinya. Ia membiarkan jemarinya menyusuri wajah pria dewasa itu, menikmati keheningan malam di samping suaminya.
Setelah beberapa saat, perempuan itu akhirnya bangkit dari tempat tidur. Dengan hati-hati, ia melangkah menuju pintu dan membukanya perlahan agar tidak membangunkan suaminya.
Suasana rumah di luar kamar begitu sunyi. Lampu-lampu yang menyala memancarkan cahaya kekuningan, menerangi ruangan dengan remang-remang.
Rupanya, suaminya menyukai pencahayaan seperti ini. Berbeda dengannya yang lebih menyukai ruangan terang benderang.
Ia menuruni anak tangga untuk menuju dapur, berniat mengambil air minum dari lemari pendingin. Setelah mengambil sebotol air mineral, ia beranjak ke pantry dan duduk di salah satu kursinya.
Perempuan itu membuka tutup botol, lalu meneguk air dingin itu beberapa kali sebelum kembali menutupnya.
Pikirannya kembali berkelana. Semakin ia memikirkan kejadian di pernikahannya, semakin ia merasa bodoh.
Seharusnya ia mencari tahu lebih banyak tentang putra yang akan menjadi anak tirinya. Mungkin kejadian seperti ini tidak akan terjadi? Ya setidaknya jika ia tahu lebih awal, mungkin saja ia akan mengambil keputusan yang berbeda, keputusan yang mungkin tidak akan membuat semuanya menjadi rumit.
Ia menunduk, memainkan jemarinya sendiri yang berada di atas meja, hingga tiba-tiba sepasang lengan melingkar di pinggangnya dari belakang, membuatnya sontak terkejut.
Perempuan itu terdiam sesaat. Aroma parfum yang familier segera tercium oleh indera penciumannya. Ia mengenali aroma itu, bahkan tanpa perlu menoleh untuk memastikan siapa yang kini berdiri di belakangnya.
“Gue nggak pernah nyangka bakal tinggal serumah sama lo, Kak,” kata orang itu. Dagunya kini bertumpu di pundak perempuan itu.
Perempuan itu tidak menjawab. Ia hanya diam membiarkan pemuda itu memeluknya semakin erat.
“Ada CCTV,” tegurnya pelan.
Pemuda itu tidak langsung menjawab. Alih-alih melepaskan pelukannya, ia justru menyusupkan wajahnya ke leher perempuan itu, mengendus-ngendus aroma yang sudah begitu dikenalnya.
“Gue lebih tahu denah rumah gue, Kak.”
Perempuan itu segera mendorong kepalanya menjauh. “Jay!”
“Iya, iya.” Jay terkekeh kecil, sama sekali tidak terlihat merasa bersalah.
Perempuan itu memutar kursinya hingga kini berhadapan langsung dengannya.
Jay tersenyum lebar begitu wajah perempuan itu berada tepat di hadapannya. “Cantik banget,” gumamnya.
Meskipun hanya diterangi lampu yang remang, wajah perempuan itu masih terlihat jelas di matanya.
Perlahan, Jay mengangkat tangannya ke kepala perempuan itu. Jemarinya menyusup di antara rambut panjangnya, lalu bergerak turun sambil memilin-milin beberapa helai rambut yang jatuh di sela-sela jarinya.
“Pangling banget gue lihat lo, Kak,” katanya sambil sedikit membungkuk, menatap wajah perempuan di hadapannya.
“Nama lo cantik. Sana. Sama-sama cantik kayak orangnya. Tapi kenapa lo nggak ngenalin gue sama nama itu?”
Perempuan itu tidak segera menanggapi. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap. Jay memandangnya begitu lekat, seolah-olah tatapannya mampu menelanjangi setiap sisi perempuan yang duduk di hadapannya.
Perlahan, Jay menurunkan tubuhnya hingga berlutut di hadapan perempuan itu. Tangannya meraih tangan perempuan itu, lalu menggenggamnya.
“Gue…” Ia berhenti sejenak, kemudian terkekeh sendiri. “Maksudnya, aku?”
Jay sedikit mendongak untuk menatap wajahnya. Senyum geli masih menghiasi bibirnya.
“Harus manggil… kamu?” Ia menggeleng kecil, seolah geli sendiri mendengar kata-kata itu keluar dari mulutnya. “Ih anjir. Kok geli, ya?”
“Gapapa, lah, ya sekarang masih manggil lo-gue?”
“Jay…” panggil perempuan itu akhirnya.
Senyum di bibir Jay tak juga hilang. Ia mengusap punggung tangan perempuan itu dengan ibu jarinya sebelum kembali menatap wajahnya.
“Gue harus manggil lo apa, Kak?” tanyanya. “Ibu? Mama? Bunda? Atau Mommy?”
...[...]...
#•• masa lalu
••• masa sekarang
SAY HI, DONGGG