NovelToon NovelToon
TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

TAKDIR YANG MEMPERMAINKAN KITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:506
Nilai: 5
Nama Author: Lewier Lisye

Menikahi seorang duda beranak dua memaksa seorang wanita muda bergelut dalam dinginnya rumah tangga yang penuh penolakan. Di tengah perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai ibu tiri, sebuah rahasia terkuak dan menyadarkannya akan arti takdir yang sebenarnya. Sebuah drama pernikahan yang sarat air mata, sindiran kehidupan, dan ketulusan cinta yang akan mengaduk emosi pembaca wanita dewasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lewier Lisye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: GELAP SEBELUM FAJAR DAN BENTENG YANG RUNTUH

Dentum petir menyambar langit malam Jakarta, menggetarkan kaca-kaca jendela Kediaman Pratama yang megah namun dingin. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Di dalam kamar anak-anak yang diterangi lampu tidur remang-remang, Kirana berbaring di antara Leo dan Maya. Kedua anak itu telah tertidur lelap, tangan kecil Maya masih memegang ujung piyama Kirana, seolah takut sang ibu akan menghilang di tengah kegelapan malam.

Setiap detik terasa bagaikan siksaan lambat bagi Kirana. Matanya terpejam, namun pikirannya terus berkecamuk di dalam ruang kerja Aris yang gelap. Di atas meja mahoni itu, sebuah kotak kayu jati dan selembar surat putih sedang menunggu takdirnya. Apakah Aris akan datang dengan amarah yang membakar lalu memutar kunci perak itu? Ataukah pria itu akan memilih membiarkan rahasia itu tenggelam selamanya demi cinta yang baru saja mekar di antara mereka?

Denting halus roda mobil yang melintasi jalan setapak berkerikil di luar rumah memecah keheningan. Kirana tersentak pelan. Jantungnya berdebar keras, memukul rongga dadanya dengan begitu hebat hingga rasanya menyakitkan. Aris sudah pulang.

Derap langkah kaki yang berat dan agak tidak stabil terdengar menaiki tangga utama. Langkah itu tidak menuju ke kamar tidur utama, melainkan membelok lurus menuju lorong lantai dua—arah menuju ruang kerja pribadinya.

Kirana perlahan melepaskan pegangan jemari Maya, merapikan selimut kedua anak itu, lalu berdiri. Dengan telapak kaki tanpa alas yang dingin menyentuh lantai kayu, ia berjalan perlahan menyusuri lorong yang gelap. Hatinya bergetar hebat saat melihat celah di bawah pintu ruang kerja Aris memancarkan pendar cahaya kuning redup.

Pria itu ada di dalam.

Di dalam ruang kerja yang dingin dan sunyi, Aris Pratama berdiri membeku di depan meja kerjanya. Jas hitamnya sudah tanggal, meninggalkan kemeja putih yang lengannya tergulung tidak rapi dan kancing atasnya yang terbuka. Bau alkohol tipis menguar dari napasnya—ia telah menghabiskan berjam-jam sendirian di dalam mobilnya di pinggir jalan kota, bergelut dengan rasa sakit, pengkhianatan, dan prasangka yang membakar jiwanya.

Di hadapannya, tergeletak kotak kayu jati milik Shinta Wijaya. Dan di atasnya, selembar kertas putih bertuliskan tangan Kirana yang rapi.

Aris membaca surat itu berulang kali. Setiap kata yang dituliskan Kirana terasa bagaikan sembilu yang menyayat egonya.

"Jika kamu merasa rasa percayamu padaku telah hancur, kamu berhak membuka kotak ini... Tapi jika kamu masih percaya bahwa cinta yang kuberikan selama ini adalah murni tanpa syarat... biarkan kotak ini terkunci selamanya..."

Jemari Aris yang gemetar menjangkau kunci perak yang tergantung di gagang kotak. Logam dingin itu menyengat kulitnya. Seluruh intrik bisnis, intuisi tajam, dan harga dirinya sebagai pria menuntutnya untuk memutar kunci tersebut. Ia adalah Aris Pratama—pria yang tidak pernah membiarkan siapa pun membohonginya, pria yang selalu memegang kendali atas jalan hidupnya sendiri. Rahasia apa yang disembunyikan istrinya bersama keluarga musuh terbesarnya? Apakah ini tentang kebohongan status? Apakah ini tentang permufakatan jahat?

Ujung jarinya menekan kunci perak itu. Mekanisme besi di dalam gembok berdetik halus. Hanya satu putaran kecil, dan seluruh kebenaran akan terhampar di depan matanya.

Namun tepat saat Aris hendak memutar kunci itu, bayangan Kirana melintas di benaknya.

Bukan Kirana yang menangis ketakutan tadi siang, melainkan Kirana di hari pertama wanita itu melangkah ke rumah ini. Wanita muda berumur dua puluh empat tahun yang datang tanpa membawa apa-apa selain tatapan mata yang lugu dan ketulusan yang teraniaya. Aris mengingat betapa dinginnya ia memperlakukan Kirana, betapa kejamnya kalimat-kalimat penghinaan yang pernah ia lontarkan untuk membentengi hatinya yang terluka akibat Sheila.

Ia mengingat Kirana yang berlutut mengobati luka di kaki Maya, Kirana yang memeluk Leo di tengah gemuruh petir, dan Kirana yang berdiri pasang badan di RUPSLB kemarin sore—bukan demi merebut harta, melainkan demi melindungi kebahagiaan anak-anak dan kehormatan suaminya.

Apakah cinta sejati membutuhkan pembuktian dokumen? Atau apakah cinta adalah keberanian untuk percaya di tengah kegelapan?

Tangannya berhenti. Napas Aris memburu parau. Di dalam keheningan malam itu, sindiran takdir terasa begitu nyata di telinganya. Kehidupan telah memberinya sejuta alasan untuk menjadi pria yang penuh prasangka dan pendendam. Namun takdir juga telah mengirimkan seorang Kirana—seorang wanita yang mengajarinya bahwa kekuatan tertinggi seorang manusia bukanlah pada dominasi atau kemenangan, melainkan pada ketulusan untuk mengampuni dan mencintai.

"Mas Aris..."

Bisikan halus itu membuat Aris membeku. Pria itu menoleh lambat ke arah pintu yang terbuka sedikit.

Kirana berdiri di ambang pintu. Rambut panjangnya terurai berantakan, matanya sembap dan merah akibat tangis yang ditahannya seharian. Ia tampak begitu rapuh, namun tatapan matanya memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan.

Aris melepaskan tangannya dari kunci perak itu. Ia berdiri tegak, menatap istrinya dari seberang meja kayu jati yang membentang di antara mereka—sebuah batas antara prasangka masa lalu dan kepercayaan masa depan.

"Kenapa kamu tidak membukanya, Mas?" suara Kirana bergetar, memecah keheningan ruangan. Ia melangkah satu demi satu memasuki ruangan, tidak lagi takut, tidak lagi melangkah mundur. "Kuncinya ada di sana. Rahasia yang membuatmu meragukanku ada di dalam sana. Buka, Mas... dan selesaikan rasa penasaranmu."

Aris menatap wanita di hadapannya. Tenggorokannya terasa begitu tersekat hingga sulit untuk menelan saliva. "Jika aku membukanya, Kirana... apa yang akan terjadi pada kita?"

Kirana menghentikan langkahnya tepat di depan meja. Airmata bening kembali menetes menembus pipinya yang pucat, namun bibirnya tersenyum—sebuah senyuman yang sarat akan rasa sakit dan ketulusan yang murni.

"Jika kamu membukanya... kamu akan mendapatkan kebenaran yang kamu cari," bisik Kirana lirih. "Tapi kamu mungkin akan kehilangan kedamaian yang baru saja kita bangun. Kamu akan melihat bahwa dunia ini tidak sehitam-putih yang kamu bayangkan. Dan aku... aku akan tetap di sini, menerima apa pun keputusanmu, sebagai wanita yang telah memberikan seluruh cintanya untuk rumah ini."

Aris menatap mata Kirana yang bening dan jujur. Di dalam kedalaman manik mata istrinya, ia tidak melihat ada jejak kebohongan, manipulasi Sheila, atau ketamakan bisnis. Yang ada di sana hanyalah jiwa seorang ibu dan istri yang rela hancur demi melindungi orang-orang yang dicintainya.

Tiba-tiba, rasa malu dan penyesalan yang amat sangat membakar dada Aris.

Pria itu mengepalkan tangannya rapat-rapat. Dengan sebuah gerakan mendadak yang mengejutkan Kirana, Aris meraih kotak kayu jati tersebut. Bukan untuk memutar kuncinya, melainkan menarik kunci perak itu dengan paksa hingga terlepas dari gemboknya, lalu melemparkan kunci kecil itu ke luar jendela kaca yang terbuka sedikit—membiarkannya jatuh dan tenggelam di tengah kegelapan taman dan hujan deras di luar.

KLANG!

Suara kunci yang terlempar dan tenggelam di balik semak-semak bergema pelan di kejauhan.

Kirana menutup mulutnya dengan kedua tangan, terperanjat tak percaya atas apa yang baru saja dilakukan suaminya. "Mas Aris... apa yang kamu lakukan?"

Aris mengabaikan kotak kayu jati yang kini terkunci selamanya tanpa kunci di atas meja. Pria itu melangkah cepat mengitari meja kerja, menghapus jarak di antara mereka, lalu menarik Kirana ke dalam pelukannya dengan begitu erat dan posesif.

"Aku tidak butuh kebenaran masa lalu itu, Kirana!" bisik Aris parau di ceruk leher Kirana, jiwanya terguncang hebat oleh tangis yang akhirnya pecah dari mata pria tangguh itu. "Aku tidak peduli rahasia apa yang disimpan oleh Raymond Wijaya atau Shinta! Aku tidak peduli apa yang ada di dalam kotak itu! Yang kupedulikan hanyalah kamu... wanita yang berdiri di hadapanku malam ini!"

Kirana terpaku dalam dekapannya. Dada bidang Aris berguncang hebat oleh terisak parau—sebuah pemandangan yang belum pernah Kirana lihat sebelumnya dari seorang pengusaha dingin yang angkuh.

"Maafkan aku, Kirana... Maafkan aku," gumam Aris berulang kali, mengecup puncak kepala Kirana dengan rasa bersalah yang amat mendalam. "Aku hampir saja menghancurkan kebahagiaan kita lagi karena egoku yang buta. Aku hampir membunuh rasa percayamu padaku hanya karena prasangka lama yang meracuni otakku."

Airmata Kirana merembas basah membasahi kemeja putih Aris. Kedua tangannya yang tadinya kaku kini perlahan naik, melingkari pinggang tegap suaminya, meremas kain kemeja Aris dengan seluruh sisa kekuatannya.

"Mas..." bisik Kirana di tengah tangis bahagianya.

"Aku percaya padamu, Kirana," potong Aris tegas, menarik wajah Kirana agar menatap langsung ke dalam matanya yang basah oleh air mata ketulusan. "Aku percaya pada cintamu. Aku percaya pada ketulusanmu menjaga Leo dan Maya. Jika kamu memilih untuk menyimpan rahasia itu dari dunia, maka aku akan berdiri di sampingmu untuk menjaganya. Kamu tidak perlu memikul beban ini sendirian lagi. Biarkan aku yang menjadi bentengmu."

Di dalam ruangan yang remang itu, dinding prasangka yang telah berdiri kokoh bertahun-tahun di dalam hati Aris Pratama akhirnya runtuh berkeping-keping. Bukan karena kekerasan atau pembuktian fakta, melainkan karena kehangatan cinta yang tak bersyarat dari seorang wanita muda yang dulu pernah dipandangnya sebelah mata.

Takdir yang tadinya terasa begitu kejam dan menyindir perjalanan hidup mereka, kini menunjukkan wajah aslinya yang paling indah. Pernikahan paksa yang diawali oleh air mata penderitaan dan penolakan dingin, telah ditempa melewati kawah candradimuka prasangka hingga melahirkan emas murni berupa ketulusan cinta.

Keesokan paginya, matahari terbit menyapu bersih sisa-sisa awan mendung di atas kota Jakarta. Udara pagi terasa begitu segar dan bersih, membawa aroma tanah basah dan bunga melati yang bermekaran di taman belakang Kediaman Pratama.

Di ruang makan utama, suasana riuh dan hangat kembali tercipta. Maya duduk di kursinya seraya menunjuk-nunjuk piring pancake berhias sirup cokelat yang dibuatkan Kirana, sementara Leo tertawa geli melihat adiknya yang belepotan sirup di sekitar bibirnya.

Aris duduk di ujung meja, mengenakan kemeja santai berwarna biru muda. Tatapannya tidak lagi dingin atau berjarak. Setiap kali matanya bertemu dengan pandangan Kirana yang sedang memotongkan buah untuk anak-anak, pendar kasih sayang yang teramat dalam memancar dari iris mata cokelatnya.

Pak Wijaya melangkah masuk dengan senyuman hangat yang tak lagi tertahan. Pria tua itu meletakkan koran pagi dan sebuah dokumen resmi di samping piring Aris.

"Tuan Aris... Nyonya..." Pak Wijaya membungkuk hormat. "Berita resmi pagi ini mengonfirmasi bahwa konsorsium Wijaya Group telah membatalkan seluruh rencana pengambilalihan. Tuan Raymond Wijaya juga baru saja mengumumkan masa pensiun totalnya dari dunia bisnis dan menyerahkan seluruh operasional kepada kepengurusan profesional."

Aris mendengarkan berita itu dengan tenang. Ia tidak lagi merasa cemas, tidak lagi merasa terintimidasi oleh nama besar Raymond Wijaya. Pria itu meraih jemari Kirana di atas meja, menggenggamnya erat di depan anak-anak dan para pelayan.

"Biarkan dia menikmati masa tuanya," ujar Aris pelan namun penuh wibawa. "Pratama Corp akan tetap berdiri kokoh. Bukan karena dendam masa lalu... tapi karena masa depan yang akan kuberikan untuk Leo, Maya, dan ibunya."

Leo mendongak dari piringnya, matanya berbinar. "Ibu nggak jadi pergi, kan, Pa?"

Aris tersenyum lebar, sebuah senyuman lepas yang jarang sekali terlihat di wajah tegasnya. Pria itu membungkuk dan mengusap kepala putra sulungnya. "Ibu kalian tidak akan pernah pergi ke mana-mana, Leo. Ibu adalah jantung dari rumah ini. Dan Papa akan memastikan tidak ada satu orang pun yang bisa menyakiti Ibu kalian lagi."

Maya bertepuk tangan riang dengan tangan belepotan cokelat. "Horeee! Ibu di sini terus!"

Kirana tertawa pelan, matanya berkaca-kaca oleh rasa haru yang meluap-luap. Ia menyapu sudut matanya dengan serbet, lalu menatap suami dan kedua anak tirinya. Pernikahan ini mungkin tidak dimulai dengan dongeng yang indah. Jalan yang ditempuhnya penuh dengan luka, tusukan kata-kata beracun, dan beban rahasia yang teramat berat. Namun di atas semua perjuangan dan perlawanannya menembus benteng prasangka sebagai seorang ibu tiri, ia telah menemukan makna takdir yang sebenarnya.

Takdir tidak pernah mempermainkannya untuk menghancurkannya. Takdir hanya sedang membimbingnya menempuh jalan berliku, agar ia sadar bahwa cinta sejati bukanlah tentang melahirkan secara biologis, melainkan tentang jiwa yang rela mencintai, melindungi, dan bertahan di tengah badai terbesar sekalipun.

Setelah sarapan usai, Aris mengajak Kirana melangkah ke ruang kerjanya. Kotak kayu jati milik Shinta masih tergeletak di atas meja kerja mahoni.

Tanpa kunci perak yang telah tenggelam di dasar taman, kotak itu kini menjadi sebuah simbol—sebuah monument kedamaian yang terkunci rapat antara masa lalu dan masa depan.

Aris mengambil kotak kayu tanpa kunci itu dengan kedua tangannya. Pria itu menatap Kirana, memberikan isyarat dengan anggukan kepalanya. Bersama-sama, mereka melangkah menuju perpustakaan pribadi di sudut ruangan, memasukkan kotak kayu tersebut ke dalam sebuah lemari kaca paling atas, lalu menguncinya dari luar dan menyimpan kuncinya di tempat yang aman.

"Biarkan rahasia itu tertidur tenang di sana, Kirana," bisik Aris seraya merangkul pinggang istrinya dari samping, menarik tubuh Kirana rapat ke dadanya. "Masa lalu tidak lagi memiliki kuasa atas rumah tangga kita."

Kirana menyandarkan kepalanya di dada hangat Aris, mendengarkan detak jantung suaminya yang teratur dan menenangkan. Duka pernikahan telah berlalu, air mata penderitaan telah mengering berganti menjadi embun kebahagiaan.

Di atas takhta ketulusan ini, Kirana tahu ia telah menang. Bukan menang melawan musuh-musuh di luar sana, melainkan menang menaklukkan prasangka di dalam rumah tangganya sendiri. Dan bersama Aris, Leo, dan Maya, ia siap menyambut setiap lembaran baru kehidupan dengan mahkota tertinggi yang kini terpatri abadi di jiwanya: Mahkota Cinta Seorang Ibu.

Di bawah ketenangan Kediaman Pratama yang kini diliputi kebahagiaan murni, apakah rahasia medis Aris dan asal-usul biologis Leo-Maya benar-benar akan terlelap selamanya di dalam kotak jati itu? Ataukah di masa depan, saat Leo dan Maya tumbuh dewasa, takdir akan kembali menguji kekuatan cinta Kirana sebagai seorang ibu tiri?

#halo guys, jangan lupa like subscribe dan komen, ngasih gift juga dan bintang 5 yah, jadikan novel ini favoritmu, ada karya baruku juga yang ngga kalah seru juga loh, judulnya Aku tak salah, jangan lupa dibaca dan pantengin terus kelanjutan ceritanya yah 😘

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!