Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.
Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 — Bayang-bayang Masa Lalu
Malam itu, Kinara tiba di rumah setelah menutup toko. Ia baru saja meletakkan tasnya ketika ponselnya berdering. Nama Galendra muncul di layar.
“Halo, Kak? Kenapa?” tanya Kinara begitu panggilan mereka tersambung.
“Sudah sampai rumah? Aku sedang menuju ke sana. Sagara juga akan datang setelah selesai praktik.” Suara Galendra di seberang terdengar terburu-buru.
Kinara mengerutkan kening. “Ada apa, Kak? Apakah terjadi sesuatu?”
“Ada beberapa hal yang perlu kita bicarakan. Aku sudah memeriksa sebagian dokumen yang kau kirim.” Nada suara Galendra terdengar serius.
Kinara segera duduk di sofa. “Apakah Kakak menemukan sesuatu?”
“Ada beberapa transaksi yang perlu ditelusuri lebih lanjut. Tapi aku tidak ingin menyimpulkan apa pun sebelum mendapatkan dokumen pendukungnya. Siapkan semua berkas yang masih kau simpan. Kita periksa bersama.”
Kinara mengangguk meski kakaknya tidak bisa melihat.
“Aku mengerti, Kak. Akan kusiapkan semua berkasnya.”
Kinara menatap ponselnya sejenak sebelum meletakkannya di meja. Ia kemudian mengambil laptop dan membuka kembali folder lama yang tadi sempat diperiksanya di toko.
Ada perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Sebagian dari dirinya masih merasa sedih karena harus kembali berurusan dengan pria yang pernah menjadi pusat kehidupannya. Namun, di sisi lain, ia juga tahu bahwa dirinya tidak bisa terus menghindari kenyataan.
Jika memang ada sesuatu yang salah dalam bisnis Rashid, ia ingin mengetahuinya. Bukan untuk menciptakan tuduhan, bukan pula untuk membalas dengan kebohongan. Ia hanya ingin memastikan bahwa kebenaran tidak terus-menerus disembunyikan.
Tak lama kemudian, suara ketukan terdengar dari pintu. Kinara segera bangkit dan membukanya. Ia melihat Galendra sudah berdiri di sana dengan sebuah map tebal di tangannya.
Galendra langsung berjalan masuk dan meletakkan map tersebut di atas meja. Beberapa saat kemudian, Sagara menyusul. Ketiganya duduk mengelilingi meja ruang keluarga, sementara dokumen-dokumen lama mulai dikeluarkan satu per satu.
“Baiklah,” ujar Galendra sambil membuka halaman pertama. “Kita mulai dari transaksi yang menurutmu janggal.”
Kinara mendekat dan menunjuk sebuah bagian dalam laporan. “Yang ini. Aku ingat pernah mempertanyakannya kepada Rashid, tetapi dia mengatakan bahwa semuanya sudah ditangani oleh bagian keuangan.”
Sagara memeriksa angka-angka tersebut dengan saksama. “Kalau begitu, kita perlu melihat dokumen pendukungnya.”
Galendra mengangguk. “Besok aku akan meminta tim hukum memeriksa hal-hal yang memang bisa ditinjau secara resmi. Kita tidak akan menyentuh dokumen yang bukan hak kita, dan tidak akan membuat tuduhan sebelum ada bukti.”
Kinara menatap kedua kakaknya. “Terima kasih sudah membantuku, Kak.”
Sagara tersenyum tipis. “Kau tidak perlu berterima kasih untuk hal seperti ini.”
Galendra kembali memusatkan perhatian pada berkas di hadapannya. “Sekarang, mari kita lihat apa yang sebenarnya terjadi.”
Kinara menarik napas panjang, lalu mulai menjelaskan satu demi satu hal yang masih diingatnya.
Malam semakin larut, tetapi mereka belum berniat menghentikan pemeriksaan. Setiap dokumen membawa mereka pada pertanyaan baru, dan setiap jawaban harus dipastikan kebenarannya.
“Bagaimana dengan Shena? Dia sudah melakukan tugasnya, kan?” tanya Galendra pada Sagara.
Sagara menutup laptopnya lalu menoleh, “Sudah. Dia bilang akan memberitahu hasilnya besok.”
“Bagus, kabari kami secepatnya.”
Sagara mengangguk paham, lalu tatapannya berganti pada Kinara yang sejak beberapa menit yang lalu terlihat murung. Sementara Galendra masih sibuk dengan urusannya, Sagara mendekati Kinara dan menepuk pundaknya pelan.
“Ada apa? Kau terlihat murung. Apa kau masih tidak terima jika kita menghancurkan Rashid?” tanyanya setengah berbisik.
Kinara menoleh dan langsung menggeleng cepat. “Tidak! Kenapa Kak Saga berpikir seperti itu? Jangankan bersedih untuknya, aku bahkan tidak sudi lagi menyebut namanya,” jawab Kinara tegas.
“Lalu kenapa kau murung? Jangan kira aku tidak memperhatikanmu, Ra.” Sagara masih penasaran.
Kinara mengubah posisi duduknya jadi menghadap ke arah Sagara, lalu menatapnya dengan sayu. “Aku merindukan ayah dan ibu,” katanya jujur.
Sagara mengulas senyum tipis. “Bersabarlah sedikit lagi, kau pasti akan bisa menemui mereka nanti.”
Kinara turut tersenyum tipis, ia bisa saja menemui kedua orang tuanya sekarang. Tetapi, rasa bersalahnya menghalangi langkahnya.
Tak lama kemudian, Galendra bangkit dari duduknya. “Ini sudah larut malam. Saga, ayo kita pulang. Kau istirahatlah, Ra. Jangan terlalu memikirkannya,” katanya lalu berjalan keluar dari rumah begitu saja.
Kinara menatap punggung kakak tertuanya yang perlahan menghilang dari balik pintu. Setelahnya, Sagara juga ikut bangkit dan menyusul langkah Galendra.
“Tidurlah yang nyenyak, kita akan bahas lagi semuanya besok,” ucap Sagara sebelum akhirnya benar-benar pergi.
Selepas kepergian dua pria itu, Kinara tetap duduk di sana sambil menatap langit-langit rumah selama beberapa saat. Mengingat kembali momen menyakitkan dalam hidupnya sebelum akhirnya bangkit berdiri dan beranjak ke kamar tidurnya.
Sementara itu, Rashid masih duduk di ruang kerjanya dengan laporan pengeluaran di hadapan. Ia sama sekali belum mengetahui bahwa Kinara dan keluarganya sedang menelusuri kembali sejumlah transaksi lama. Ia juga belum menyadari bahwa keputusan-keputusan yang dahulu dianggapnya sebagai urusan internal perusahaan kini mulai diperiksa dengan lebih saksama.
Untuk saat ini, Rashid masih berusaha mengendalikan masalah yang muncul di hadapannya. Namun, tanpa ia sadari, masa lalu yang selama ini diabaikannya perlahan mulai mengetuk pintu.