NovelToon NovelToon
A Saintess From The Flower Street

A Saintess From The Flower Street

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:199
Nilai: 5
Nama Author: flowy_

Dibesarkan di sebuah rumah bordil, ia tak pernah membayangkan dirinya akan terpilih sebagai Saintess yang ditakdirkan menyelamatkan dunia. Baginya, takdir itu terasa mustahil. Ia lahir sebagai rakyat jelata yang selalu dipandang rendah, tetapi setelah menjadi Saintess, orang-orang mulai memujanya tanpa benar-benar mengenalnya.

Di tengah kehidupan yang penuh pertentangan itu, ia bertemu seorang ksatria yang tidak menghakimi masa lalunya maupun memuja statusnya. Pria itu tidak pernah menjanjikan keselamatan, tetapi selalu berada di sisinya, menghadapi setiap cobaan bersama, bahkan rela mempertaruhkan nyawanya.

Di balik sikapnya yang dingin, tersembunyi ketulusan yang perlahan mengubah hidupnya. Bersama ksatria itu, ia belajar menerima dirinya sendiri dan menemukan harapan di dunia yang selama ini hanya memberinya penghinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon flowy_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kaum Vaelith

"Sebenarnya, aku sudah menulisnya, tapi... bagaimana jika aku masih salah menulis?"

Mendengar ucapan polos itu, Meirra tersenyum.

“Meski ada kesalahan, beliau pasti akan tetap senang menerimanya. Lagi pula, tidak ada yang lebih memikirkan Nona seperti Tuan. Beliau bahkan menghadiahkan mantel bulu untuk Nona.”

“Kurasa Marquis tidak memikirkanku seperti itu. Beliau mengirimku ke sini karena tidak ingin melihatku.”

Wajah Violet seketika muram.

“Bukan begitu,” sanggah Meirra cepat. “Sekarang, berikan suratnya kepadaku.”

Karena terus didesak, Violet akhirnya mengeluarkan surat yang sejak tadi disimpannya di balik pakaiannya.

“Bahkan disegel dengan cantik, ya?”

“Lilin penyegelnya panas sekali. Tanganku sampai terbakar.”

Violet mengeluh dengan nada manja, membuat Meirra tertawa. Tak lama kemudian, Meirra menaiki kudanya. Ia sudah membawa mantel berbulu untuk melindungi diri dari hawa dingin, tetapi Violet tetap merasa cemas.

“Aku akan segera kembali, Nona.”

“Tidak perlu terburu-buru. Temani Ayahmu dan kembalilah setelah itu.”

Berbeda dengan Seina, Meirra selalu bersikap seperti seorang kakak bagi Violet. Ia benar-benar merawat Violet dengan penuh perhatian, layaknya seorang kakak terhadap adiknya.

Violet pernah berpikir bahwa mungkin Meirra juga memandang rendah dirinya, sama seperti orang-orang lain. Namun, Meirra selalu memperlakukannya dengan cara yang sama.

Karena itu, Violet merasa kasihan membayangkan Meirra tidak dapat berada di sisi ayahnya yang sedang sakit. Sebenarnya, ia takut ditinggalkan sendirian di tempat yang tidak dikenalnya ini, tetapi ia menahannya dan membiarkan Meirra pergi. Bagaimanapun, dirinya bukan anak kecil lagi.

Setelah melihat Meirra pergi, Violet berpapasan dengan Dilan yang baru saja membawa kudanya. Namun, ia segera menghindari tatapan anak itu dan masuk ke dalam kamar.

Seorang pelayan baru datang untuk mengurus keperluannya, tetapi keduanya sama-sama merasa canggung.

Jika dipikir-pikir, Violet hanyalah gadis biasa yang cukup pemalu dan sulit bergaul dengan orang asing. Sementara itu, selain usia mereka yang kurang lebih sama, pelayan baru itu sama sekali tidak memiliki kesamaan dengan Meirra. Violet bahkan tidak tahu bagaimana harus mendekatinya.

Pelayan itu memang tampak tertarik pada Violet, tetapi ketertarikan itu muncul karena Violet adalah Saintess yang selama ini menjadi bahan pembicaraan. Violet yakin apa pun yang dilakukannya akan menjadi bahan bisik-bisik di antara para pelayan. Karena itu, ia memilih menjaga jarak.

Violet yang peka terhadap hal-hal negatif segera menyadari bahwa para pelayan mulai kurang memperhatikannya begitu Meirra pergi.

Namun, itu adalah sesuatu yang harus ia terima. Lagipula, meskipun para pelayan sesekali lupa mengurus keperluannya, Violet bukanlah orang bodoh yang tidak dapat melakukan apa pun tanpa bantuan mereka. Jadi, ia berusaha menjalani hari-harinya sendiri.

Selama beberapa hari berikutnya, Violet diam-diam menulis surat untuk Ledian.

Sebenarnya, ia lebih sering menghabiskan waktu dalam lamunannya. Satu-satunya hal yang dapat dilakukannya hanyalah membaca buku.

Buku-buku itu memang sulit dipahami, tetapi Violet terus membacanya berulang kali. Terutama , buku yang wajib dibaca oleh semua orang. Ia berkali-kali membaca halaman pertamanya, yang membahas tentang Asteria, Saintess pertama yang pernah mengalahkan Abyss.

Negeri ini lahir berkat seorang Saintess dan bertahan hingga kini karena keberadaan para Saintess. Saintess memiliki kedudukan yang setara dengan Raja dan Paus. Ia berdiri sebagai penguasa, tetapi tidak memerintah. Meski tidak memiliki tanah maupun pasukan, kehendak seorang Saintess dihormati lebih dari apa pun. Karena itu, ia selalu berada di bawah perlindungan Raja dan Paus, dan akan tetap demikian di masa mendatang. Kerajaan Suci berdiri berdasarkan hukum tersebut.

Bagi Violet, ia sebenarnya tidak benar-benar memahami maksud tulisan itu. Saintess memiliki kedudukan yang setara dengan Raja dan Paus, dan kehendaknya akan dilindungi oleh keduanya?

Benarkah demikian?

Meski sudah mengulang-ulang kalimat itu sampai hafal, Violet tetap tidak dapat memahaminya dengan baik. Bahkan, ia merasa bagian tersebut jauh lebih sulit dipahami daripada larangan yang ditulis dengan tinta merah—bahwa tidak seorang pun boleh mencampuri pertarungan suci antara Saintess dan Abyss.

Meirra akan kembali dua hari lagi.

Sejauh ini, ia merasa sudah cukup baik menjalani semuanya sendirian. Tanpa disadarinya, badai salju yang lebat telah menerpa di luar.

Violet memandang ke luar jendela.

Apa yang sedang dilakukan orang-orang lain di tengah cuaca sedingin ini?

Angin menderu di luar. Entah mengapa, suaranya membuat Violet merasa tidak nyaman.

Saat itu terdengar ketukan dari pintu.

Violet terkejut dan segera bangkit dari tempat duduknya.

“Siapa?”

Ia bertanya, tetapi tidak ada jawaban dari balik pintu.

Entah mengapa, Violet merasa terdorong untuk mendekatinya. Jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas.

Ketika ia membuka pintu perlahan, seorang anak laki-laki dengan pakaian yang basah kuyup tampak berdiri di balik celah pintu.

Violet seketika terkejut.

“Dilan?”

Wajah Dilan memerah karena menangis. Baru kemudian Violet menyadari bahwa salah satu pipinya juga tampak membengkak.

Menyadari bahwa sesuatu yang serius telah terjadi, Violet hendak bertanya, tetapi Dilan lebih dahulu meraih bahunya dan berkata dengan putus asa,

“Tolong, Violet. Selamatkan Nenekku.”

“.....”

“Gunakan kekuatanmu untuk menyelamatkan Nenekku.”

Violet kebingungan menghadapi situasi yang sama sekali tidak diduganya. Ia tidak memiliki kekuatan untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Bahkan ia tidak tahu bagaimana cara melakukannya. Kalaupun ia tahu, ia tidak mungkin pergi dari kastel tanpa izin Baron Calestine yang bertanggung jawab atas segala urusan di dalam kastel.

“Aku tidak memiliki kekuatan seperti itu, Dilan.”

“Tidak. Aku tahu. Kau punya kekuatan untuk melakukannya. Itu sebabnya kau disebut Saintess...”

“Dilan! Jangan seperti ini! Nanti orang-orang akan datang dan mereka semua akan menghukummu.”

Mendengar perkataan Violet, Dilan malah menarik tangannya dengan paksa. Seolah-olah ia sudah tidak memedulikan apa pun di sekitarnya.

“Dilan, jangan! Aku tidak mau!”

Violet berteriak dengan suara tertahan.

“Tolong. Kalau begitu, setidaknya datanglah melihat Nenekku. Kalau Nenek melihatmu sebagai Saintess, beliau pasti akan pergi dengan tenang. Aku mohon, Violet.”

“.....”

“Kau sendiri selama ini tidak pernah membantuku. Tolong.”

Mendengar perkataan itu, hati Violet goyah.

Dilan benar. Meskipun mereka berteman, selama ini Violet tidak pernah bisa melakukan apa pun untuk membantunya.

“Tolong. Kau tidak perlu melakukan apa pun untuknya. Aku hanya memohon kepadamu.”

“Tapi para penjaga akan menangkap kita.”

“Aku tahu jalan kecil yang bisa kita lewati. Kita pergi diam-diam, lalu kembali tanpa diketahui siapa pun.”

Apa yang harus ia lakukan?

Violet terdiam.

Dilan benar-benar terlihat putus asa. Air matanya terus mengalir. Bagaimanapun juga, bukankah Dilan adalah satu-satunya teman yang ia miliki?

Akhirnya, Violet mengangguk.

Bukankah ia bisa pergi sebentar, lalu segera kembali?

Kedatangan Dilan yang tiba-tiba membuat Violet tidak bisa berpikir dengan jernih. Ia memasukkan rambut peraknya ke dalam topi bulu berwarna hitam, lalu dengan ragu meraih tangan Dilan.

Dilan sangat mengetahui jadwal pergantian para penjaga. Ia membawa Violet melewati tempat-tempat terpencil hingga mereka keluar melalui sebuah jalan kecil yang tersembunyi.

Setelah sekian lama, akhirnya Violet kembali menginjakkan kaki di wilayah tempat rakyat jelata tinggal. Sambil menggandeng tangannya, Dilan berlari menyusuri jalan.

Violet tahu mereka harus segera kembali sebelum fajar tiba. Meski napasnya sudah terengah-engah, ia tetap memaksa kakinya untuk terus melangkah cepat.

Tempat tinggal Dilan, seperti yang diduga Violet, berada di sebuah permukiman kumuh yang hanya dihuni oleh orang-orang miskin.

Mereka masuk ke sebuah rumah kecil yang nyaris roboh. Violet sempat mengira udara hangat akan menyambut mereka begitu masuk, tetapi dinding rumah itu bahkan nyaris tidak mampu menahan angin dingin yang menerobos dari luar.

“Nenek, aku sudah datang.”

Mendengar suara Dilan, Violet mendekati tempat tidur.

Mungkinkah ini karena kekuatan sucinya?

Violet bisa melihat tatapan kosong khas seseorang yang berada di ambang kematian. Nenek Dilan menatapnya dengan terkejut sambil terengah-engah.

Tercium pula aroma kematian yang khas dari tubuh orang sakit.

Violet ingin menutup hidung karena bau yang menyengat itu, tetapi ia tetap mendekati wanita tua tersebut.

Jantungnya berdebar.

Entah mengapa, Violet merasa bahwa kali ini ia mungkin bisa melakukan sesuatu.

Ia mengulurkan tangan dan menggenggam tangan wanita tua yang kurus kering itu.

Saat merasakan genggaman wanita tua itu menguat di tangannya, Violet tiba-tiba dikejutkan oleh suara orang di belakangnya. Ia segera menoleh.

“Maaf, Violet.”

Dilan menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Sebelum Violet sempat mengatakan bahwa ia tidak apa-apa, beberapa pria tiba-tiba menyerbu masuk dari belakangnya.

Seorang wanita berjalan tertatih-tatih di belakang mereka, lalu berkata, “Bagus, Dilan!”

Wajah wanita itu dipenuhi memar, tetapi ia tersenyum lebar.

Violet merasa wajahnya tidak asing.

Wanita itu adalah ibu Dilan.

“Dilan?”

Violet memanggil nama anak laki-laki itu dengan cemas.

Dilan menghindari tatapannya.

Seseorang meraih tangan Violet yang masih menggenggam tangan wanita tua itu. Ketika Violet berusaha melepaskan diri, topi bulunya terjatuh dan rambut peraknya pun terurai.

“Wah, ternyata benar. Bos pasti akan senang.”

Mendengar kata 'bos', jantung Violet berdegup kencang. Ia langsung menyadari bahaya yang mengancamnya.

Bos.

Begitulah sebutan untuk kepala kelompok perampok.

Dilanda ketakutan, Violet memanggil satu-satunya orang yang ia yakini akan membantunya.

“Dilan!”

“Maafkan aku, Violet!”

Dengan mata terpejam dan suara bergetar menahan tangis, Dilan berteriak, “Aku terpaksa melakukan ini demi biaya pengobatan Nenek. Aku benar-benar minta maaf, Violet!”

Mendengar itu, para pria dewasa di sana tertawa mengejek.

“Jangan menipu Saintess dengan mengatakan kau melakukan semua ini demi biaya pengobatan Nenekmu, Bocah. Kau sebenarnya melakukannya untuk membayar minuman keras ibumu, bukan?”

Violet tersentak dan menoleh ke arah mereka.

Biaya minuman keras? Apa maksudnya?

Ibu Dilan menerima koin emas dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya bergerak ke sana kemari, gelisah dan tidak mampu menatap satu tempat.

“Padahal penghasilanmu dari kediaman Marquis seharusnya tidak sedikit. Bahkan ketika Nenekmu jatuh sakit, kau tidak pernah memanggil tabib dan membiarkannya sampai sekarat. Semua itu demi menyisihkan uang untuk minuman keras ibumu. Bukankah sejak awal kau memang ingin wanita tua itu mati, Bocah?”

“Sudah cukup!”

Dilan berteriak dengan mata terpejam rapat. Tubuhnya gemetar.

Violet bahkan tidak sanggup memanggil namanya.

Apakah Dilan benar-benar telah mengkhianatinya?

Padahal dia adalah satu-satunya teman dari kampung halamannya yang masih tersisa.

“Bagaimanapun juga, utangnya sudah dianggap lunas. Aku akan bicara baik-baik kepada Bos. Kalau nanti ada bagian yang bisa kalian dapatkan, ambil saja. Hei, Bocah, kau juga sudah bekerja keras.”

Para pria itu menepuk-nepuk bahu Dilan dan ibunya.

Ibu Dilan sama sekali tidak memedulikan Violet. Ia justru tampak begitu gembira sambil menatap koin-koin emas di tangannya.

Violet melihat Dilan hanya menundukkan kepalanya.

Ia berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari cengkeraman mereka. Namun, saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh lehernya, tubuhnya seketika berhenti meronta.

Sebaliknya, ia justru menggenggam pisau yang menempel di lehernya dengan tangan kosong.

Darah pun mengalir dari telapak tangannya yang kecil.

“Ah, sial. Jangan sampai ada satu goresan pun. Bagaimana bisa kau langsung memegang pisaunya hanya karena terkejut, Saintess?”

Salah seorang pria menggerutu.

Rambut perak Violet kembali disembunyikan ke dalam topi bulu hitam agar tidak terlihat.

Setelah Violet berhenti melawan, matanya ditutup dengan kain dan mulutnya disumpal.

Sebelum pandangannya benar-benar tertutup, ia menatap Dilan untuk terakhir kalinya.

Ia masih tidak dapat mempercayai pengkhianatan yang baru saja dilakukan terhadapnya.

Telapak tangannya terasa perih seperti terbakar.

Violet mengepalkan tangannya erat-erat. Meski lukanya terasa menyakitkan, ia menekan luka itu kuat-kuat dengan kepalan tangannya hingga rasa sakitnya semakin menusuk.

Ia memang sengaja meraih pisau itu dalam sekejap, tetapi ia sendiri tidak tahu apakah tindakannya tadi justru membawa keberuntungan atau tidak.

“Bahkan setetes darah dan setetes air mata dari seorang Saintess dapat menjadi mukjizat Tuhan. Nah, lihatlah, Saintess.”

Violet teringat perkataan pendeta berambut merah itu.

Jika dirinya benar-benar seorang Saintess yang memiliki mukjizat Tuhan, dan perkataan pendeta bernama Heiden itu memang benar, maka setetes darahnya seharusnya dapat menjadi mukjizat Tuhan dan menumbuhkan tunas di tengah musim dingin.

Dalam keadaan tubuhnya disampirkan di bahu seseorang, Violet dapat merasakan darah yang mengalir dari ujung jarinya yang terkulai.

Rasanya sangat sakit.

Namun, rasa sakit di hatinya jauh lebih menyakitkan.

Ketika akhirnya tersadar, Violet mendapati dirinya berada di sebuah tempat terpencil yang menyerupai gudang di dalam sebuah bangunan.

Ia teringat saat dahulu ditangkap para perampok. Saat itu pun ia pernah berada di tempat yang hampir serupa, menggigil ketakutan bersama orang-orang lainnya.

Setelah penutup mata dan sumbatan di mulutnya dilepas, Violet merasa ketakutan. Namun, ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak meneteskan air mata.

Ia takut jika mereka mengetahui kekuatan yang terkandung dalam air matanya, ia tidak tahu apa yang akan mereka lakukan kepadanya.

Dari luar terdengar suara beberapa pria yang sedang berbisik-bisik tentang dirinya. Mereka memandang Violet seolah-olah ia adalah hewan langka yang baru saja mereka tangkap hari ini.

“Benarkah kita boleh melakukan ini?”

“Kita telah menculik Saintess.”

“Tidak apa-apa. Bagaimanapun juga, kita akan menyerahkannya kepada Paus.”

Menyerahkannya kepada Paus?

Tubuh Violet mulai gemetar hebat.

Apakah mereka akan menjualnya kepada para pendeta?

Apa yang akan terjadi jika ia benar-benar dijual?

Saat itu, pintu terbuka dan terdengar suara seseorang.

“Bukan pendeta yang bertransaksi dengan kita. Memangnya kita sudah gila? Kalau pihak kuil sampai tahu bahwa kita menculik Saintess demi mendapatkan uang, kita semua akan berakhir di ruang bawah tanah Kediaman Paus atau Kardinal Merah. Di sana, kita akan menangis tersedu-sedu seperti perempuan sambil melihat kuku-kuku kita dicabut satu per satu.”

Seorang pria berwajah garang memandang Violet sambil menyeringai licik.

Wajahnya mengingatkan Violet pada kepala kelompok perampok yang pernah dilihatnya beberapa tahun lalu. Seketika, ia kembali diliputi ketakutan.

“Pihak yang bertransaksi dengan kita bukan Paus ataupun Marquis.”

“Kalau begitu, kita akan membawa Saintess ke...?”

“Kaum Vaelith.”

“Kepada kaum barbar itu?!”

Para pria itu berseru kaget.

Namun, pria tersebut tidak mengalihkan pandangannya dari Violet.

“Kaum barbar itu ketakutan setelah mendengar bahwa seorang Saintess telah muncul. Jika kita menyerahkan Saintess kepada mereka, mereka akan membayar kita dengan emas dalam jumlah besar. Apa yang akan mereka lakukan terhadap gadis itu setelahnya, itu urusan mereka.”

Kaum Vaelith.

Apakah ia akan dijual kepada kaum sesat yang selama ini ia dengar dari cerita orang?

Countess pernah menjelaskan tentang mereka kepadanya. Mereka adalah kaum barbar yang menolak ajaran “Dewa Mutlak”, agama yang dianut Asteria, dan menyembah dewa lain yang mereka sebut “Roh Agung”.

Mereka dikenal sebagai kaum yang kasar dan kejam. Karena mengincar wilayah Asteria, mereka pernah mengumpulkan pasukan dan menginvasi negeri itu. Namun, perang tersebut akhirnya berakhir berkat jasa Amelisse.

Setelah itu, mereka membangun sebuah negeri besar bernama “Guzar”, yang membentang dari barat daya hingga timur Asteria. Pemimpin yang menggantikan kedudukan raja mereka disebut Kakan.

“Kakan dari Vaelith pasti akan membayar mahal untuk Saintess.”

Violet bahkan tidak sanggup membayangkan seberapa besar masalah yang sedang menjeratnya.

Apa yang akan terjadi jika ia benar-benar dijual kepada kaum barbar itu?

Violet memejamkan mata.

Menyadari bahwa sesuatu yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya mungkin akan terjadi, air matanya pun mengalir.

“Wah, wah. Saintess, jangan khawatir. Kami tidak akan menyakitimu. Tapi aku tidak bisa menjamin kaum barbar itu akan memperlakukanmu sebaik kami. Mereka tidak tahu apa-apa tentangmu.”

Pria itu mendekat sambil terkekeh, lalu mengusap air mata yang mengalir di pipi Violet.

Tangannya mengeluarkan bau yang tidak sedap.

Ia menatap wajah Violet yang gemetar ketakutan dengan ekspresi puas.

“Benar-benar gadis kecil dengan kulit seputih salju. Pantas saja orang-orang memujamu sebagai utusan Tuhan. Bahkan kalau kau dijual sebagai budak, hargamu pasti sangat mahal.”

“Bos, itu agak keterlaluan...”

Salah seorang pria lain mengernyit dan menegurnya.

Namun, sang kepala perampok malah tertawa terbahak-bahak.

“Dasar bodoh. Memangnya kau benar-benar percaya Tuhan itu ada? Saintess, Abyss, semua itu benar-benar ada menurutmu?”

Ia terkekeh sinis, lalu mengetuk dahi Violet dengan jarinya.

“Para bangsawan sekarang juga mulai mempelajari agama dengan dalih menjadi teolog dan semacamnya. Kalian tidak sadar? Kalau agama saja mereka sebut sebagai ilmu pengetahuan, apa kau masih berpikir mereka benar-benar percaya kepada Tuhan?”

Ia menyeringai.

“Mereka bukan percaya kepada Tuhan. Mereka percaya kepada Paus. Mereka hanya tidak berani mengatakannya karena takut kepada Kardinal Merah itu.”

Ia terkekeh sambil menarik rambut panjang Violet.

“Kalau Tuhan memang benar-benar ada, menurutmu gadis ini akan tertangkap oleh kami dan dijual kepada kaum barbar? Tidak. Kalau Tuhan benar-benar ada, apa kaum Vaelith bisa menjadi sebesar itu?

Kalau aku yang menjadi Tuhan, orang pertama yang akan kuhukum justru para pendeta yang menjual nama-Nya, bersenang-senang dengan perempuan, lalu mengeruk uang sebanyak-banyaknya.

Gadis itu hanya mutan.”

Mendengar perkataannya, para pria lainnya memandang Violet dengan raut wajah yang sedikit lebih lega.

Sebaliknya, wajah Violet semakin pucat.

Hanya membayangkan dirinya dijual kepada kaum barbar itu saja sudah membuatnya ketakutan.

“Aku sudah menghubungi pedagang dari sana. Tiga hari lagi, kapal dari pihak Vaelith akan datang.”

Pria itu berhenti menarik rambut Violet dan mulai mengusapnya seolah-olah ia sedang memperlakukan barang dagangan yang sangat berharga.

Bulu kuduk Violet meremang.

Para perampok dahulu juga sering menilai dirinya seperti ini. Mereka pernah mengatakan bahwa meskipun wajahnya tidak buruk, ia pasti akan terjual dengan harga tinggi.

“Untuk Saintess kita, aku bahkan sudah menyiapkan kamar yang istimewa. Lihat, hangat, bukan? Setidaknya kau tidak perlu khawatir akan terkena angin dingin. Aku selalu baik kepada gadis-gadis muda.”

Sambil berkata demikian, ia melepaskan tali yang mengikat Violet, lalu mengusap rambutnya dengan lembut.

Violet ingin menolak sentuhan itu.

Namun, ia tahu jika perlawanan sekecil apa pun membuat pria itu tersinggung, ia mungkin akan diperlakukan dengan lebih buruk.

Karena itu, ia hanya gemetar sambil membiarkan pria tersebut menyentuhnya.

Melihat sikap Violet yang patuh, sang kepala perampok tampak puas. Ia terkekeh, memperlihatkan gigi-giginya yang kekuningan.

“Kalau kau menyakiti dirimu sendiri, kau tahu akibatnya, bukan?”

Ia menyeringai.

“Kau akan melihat kepala si bodoh yang mengenakan topi itu dipenggal. Saintess yang penuh kasih tentu tidak menginginkan hal seperti itu, bukan?”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada mengejek, “Atau jangan-jangan kau justru akan melakukannya hanya karena keras kepala?”

Pria itu mengatakannya dengan nada mengejek, lalu meninggalkan ruangan setelah menyiapkan makanan seadanya untuk Violet.

Setelah para pria itu berbondong-bondong keluar, Violet baru menyadari bahwa ruangan tersebut ternyata cukup luas.

Ia memejamkan mata rapat-rapat dan menahan isak tangisnya.

Dilan telah menjualnya.

Dilan telah mengkhianatinya.

Sampai saat ini pun Violet masih sulit mempercayai keadaan yang sedang dihadapinya. Ia berada di suatu tempat yang bahkan tidak ia ketahui namanya.

Dilan mengatakan bahwa Neneknya akan meninggal...

Seandainya Dilan menjualnya demi menyelamatkan Neneknya, mungkin Violet masih bisa berusaha memahaminya sedikit.

Namun, apakah benar ia menjual Violet hanya demi minuman keras ibunya?

Violet merasa begitu bodoh karena telah mempercayai kebohongan itu.

Ia terisak lama karena rasa dikhianati yang begitu dalam.

Ia membenci Dilan.

Begitu membencinya hingga rasanya tidak tertahankan.

Violet dapat mengetahui pergantian hari melalui sebuah jendela kecil.

Beberapa pria tampaknya merasa tidak nyaman mengurungnya. Mereka sesekali menanyakan apakah Violet baik-baik saja, sering mengantarnya ke kamar kecil, dan bahkan memberinya makanan dalam jumlah yang cukup banyak.

Violet tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menahan air matanya.

Gadis seusianya mungkin akan menangis dan memohon agar dilepaskan. Namun, Violet tidak melakukannya.

Itulah cara menyedihkan yang ia pelajari untuk bertahan hidup.

Dari pengalaman sebelumnya, ia tahu bahwa meronta tidak akan ada gunanya. Justru, perlawanan hanya akan memicu mereka untuk menggunakan kekerasan.

Sekitar tiga hari kemudian, Violet kembali diseret keluar dengan mulut yang disumpal.

Sambil memikirkan apa yang harus dilakukannya, ia menekan kembali luka di telapak tangannya yang mulai mengering.

Ia merasakan luka itu seperti terbuka kembali. Rasa sakit segera menjalar hingga membuat wajahnya berkerut.

Violet mengepalkan tangannya begitu erat hingga kuku-kuku jarinya memutih.

Darah kembali menetes dari telapak tangannya.

Ketika Violet mulai menggigil kedinginan, salah seorang pria yang tidak tega melihatnya akhirnya menyelimutkan mantel bulu ke tubuhnya.

Dengan susah payah, Violet terus berjalan.

Tak lama kemudian, ia melihat bayangan beberapa orang.

Saat mengangkat kepala, ia melihat sekelompok pria berkulit cokelat.

Kaum Vaelith.

Kaum yang selama ini hanya pernah ia dengar dari cerita.

Para kaum Vaelith itu mengenakan pakaian lebar dengan corak yang begitu mencolok. Di antara mereka, seorang anak laki-laki ditemani dua pria dewasa berjalan mendekati Violet.

Anak laki-laki itu mengenakan pakaian dengan motif yang begitu indah hingga menyilaukan mata. Matanya berwarna hijau, sementara rambutnya berwarna cokelat muda.

Tanpa sedikit pun rasa takut, anak itu mendekati Violet dan mengangkat dagunya dengan tangan.

Violet ingin melepaskan diri dari genggamannya, tetapi kedua tangannya terikat sehingga ia tidak mampu menepisnya.

Dengan mulut masih tersumpal dan wajah basah oleh air mata, Violet menatap wajah anak laki-laki itu.

Tatapannya tajam, dan sorot mata hijaunya begitu kuat.

Merasa tidak nyaman ditatap seperti itu, Violet memejamkan mata rapat-rapat dan hanya berharap rasa ingin tahu anak itu segera hilang.

Seorang pria di sampingnya mengatakan sesuatu, tetapi Violet sama sekali tidak memahaminya.

“Beliau menyuruhmu melepaskan sumbat di mulutnya.”

Atas perintah tersebut, pria di sampingnya segera melepaskan sumbatan itu.

Udara dingin tiba-tiba masuk ke dalam mulutnya. Violet membuka mata dan mengembuskan napas panjang.

Seolah puas melihat reaksinya, anak laki-laki itu terkekeh pelan, lalu mengamati wajah Violet dari berbagai sisi.

Kemudian, ia menyadari bahwa kedua lengan Violet yang kurus masih terikat. Ia pun memerintahkan mereka untuk melepaskannya.

Anak itu tersenyum sambil menatap wajah Violet.

Seolah-olah tatapannya berkata, “Aku sudah berbuat baik, bukan?”

Namun, Violet tahu bahwa itu hanyalah sikap santai seseorang yang berada di posisi lebih kuat.

Karena itu, ia memilih menghindari tatapannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!