NovelToon NovelToon
After We Died

After We Died

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Transmigrasi
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nongnong

Lima orang tewas dalam malam yang sama.

Setelah perang berdarah antara dua klan mafia terbesar—Dark Blood dan Darkness—pecah, semuanya berubah menjadi neraka. Dark Blood, klan yang dipimpin Anneta, jatuh ke tangan Joe, pemimpin Darkness yang terkenal kejam dan haus kekuasaan. Di malam kehancuran itu,
Anneta mati tertembak panah.
Sahabat sekaligus inti Dark Blood, Naura dan Viona dibunuh tanpa ampun. Sementara Luna dan Leo, saudara kembar yang koma, tewas terbakar di rumah sakit.

Dunia menganggap kisah mereka telah berakhir. Tapi ternyata… kematian bukanlah akhir.

Kelimanya terbangun di tubuh orang lain—anak-anak SMA yang hidupnya sangat kacau. Mereka hidup kembali dengan wajah baru, nama baru, namun dengan masa lalu yang belum selesai.

Akankah mereka mampu melanjutkan kehidupan di tubuh baru mereka? Yuk baca kisahnya agar tidak penasaran!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nongnong , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EMOSI KEIRA

Kantin

Di salah satu sudut ruangan, terlihat inti Black Demon yang sedang duduk di meja yang sama. Adrian menyandarkan punggungnya ke kursi sambil memperhatikan suasana kantin.

"Hari ini lebih ramai dari biasanya ya," ucap Gavin, menatap Ezra di sampingnya.

"Normal," sahut Gavin singkat.

Tatapan Adrian tiba-tiba berhenti pada tiga gadis yang baru saja memasuki kantin.

"Dia..."

Aleta.

Gadis itu berjalan tenang diapit oleh Aura dan Viana. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi. Wajahnya tetap datar seperti biasanya, namun sikap tenangnya justru membuatnya sulit diabaikan.

Zion yang heran melihat sahabatnya tak berkedip pun ikut menoleh. Matanya justru tertuju pada Aura.

"Bang?" panggil Adriana.

"Lagi ngeliatin apa sih?" tanyanya lagi, menoleh ke arah yang sama.

Ezra dan Gavin pun ikut menoleh ke arah yang sama.

"Owalah... Ngeliatin cewek ternyata," ucap Gavin.

"Loh? Tumben bos liatin cewek sampai segitunya?" tanya Gavin yang akhirnya menyadari keanehan Adrian.

"Zion juga tuh," ucap Ezra.

"Kalian berdua kenapa sih?" tanya Ariana yang sejak tadi penasaran.

Bukannya menjawab, Adrian dan Zion malah saling pandang.

"Dri, itu mereka kan?" tanya Zion, masih menatap Adrian. Adrian mengangguk sebagai jawaban.

"Mereka siapa? Kalian lagi ngomongin apa sih?" tanya Ariana kesal, karena sejak tadi tidak mendapat jawaban yang ia inginkan.

"Mereka yang nolongin Bos sama Zion pas mereka dikeroyok malam itu, Ri," jelas Ezra.

"Mereka yang kalian maksud, yang mana?" tanya Ariana.

"Meja nomor dua belas," jawab Ezra lagi.

"Cewek?"

"Iya, Ri. Cantik-cantik kan?" ucap Gavin sambil menatap kagum ketiganya, terutama Viana yang selalu terlihat ceria.

"Dih. Yakin kalian itu cewek benaran?" sinis Ariana.

"Ya iyalah, masa cewek jadi-jadian," ucap Gavin yang sedikit kesal.

"Masa iya cewek sekuat itu?"

"Ri," peringat Adrian dingin.

"Sorry," ucap Ariana, ia pun lanjut memakan baksonya.

Sementara itu...

Ezra sama sekali tidak memperhatikan ketiga gadis tersebut. Matanya justru berhenti pada seorang siswi lain yang sedang duduk sendirian di dekat jendela kantin.

Keira.

Gadis itu tampak menikmati makan siangnya tanpa memedulikan keramaian di sekitarnya.

Bruk!

Seseorang tiba-tiba menabrak mejanya dari samping.

Praanggg!

"Ck."

Kuah bakso panas tumpah mengenai sepatu Keira. Keira sontak berdiri. Sementara gadis yang menabrak mejanya tanpa sebab, terjatuh di lantai.

"Kalo jalan pake mata dong!" teriak Keira emosi.

"Cinta!" seru dua siswi lain, keduanya membantu gadis itu berdiri.

"Are you okay?" tanya seorang siswi, namanya Cindy. Cinta hanya mengangguk.

Ketika ketiganya hendak pergi begitu saja, Keira menarik rambut salah satu dari ketiganya, namanya Cia.

"Aww..."

"Maksudnya apaan narik-narik?!"

"Gue gak akan biarin kalian pergi begitu aja setelah ganggu makan siang gue," ucap Keira dingin.

kantin menjadi sunyi seketika. Semua orang menoleh ke arah mereka berempat.

"Kita ganggu?"

"Helooo... Gue yang ga jadi makan gara-gara kesandung meja lo," ucap Cinta.

"Bukannya minta maaf malah nyalahin meja!"

Tanpa aba-aba, Keira langsung menjambak rambut Cinta. Cindy dan Cia tidak tinggal diam, keduanya langsung mendorong Keira. Membuat Keira terjatuh ke lantai.

Ketiganya menatapnya dengan tatapan yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Cinta justru menyeringai tipis. Ia melirik sepatu Keira yang basah.

"Cuma gara-gara sepatu basah sampai segitunya," cibir Keira.

"Kalau sepatu lo kotor, ya tinggal dicuci," timpal Cia santai.

Cinta berjongkok, "Tanpa Ravian, ga akan ada yang belain lo."

Tanpa aba-aba, Keira meraih rambut Cinta dan menariknya kuat. Cinta refleks membalas dengan mencengkeram pergelangan tangan lawannya. Suasana kantin langsung ricuh. Beberapa siswa buru-buru menjauh agar tidak terkena imbas.

Hingga akhirnya seseorang berhasil memisahkan keduanya. Perlahan, dia memegang pergelangan tangan Keira.

"Kei," suara lembut itu mengalihkan perhatian Keira.

"Boleh marah... Tapi jangan sampai dia berhasil mengendalikan emosi lo," ucap Viana, sambil mengelus belakang Keira.

Entah mengapa, cara Viana berbicara membuat dadanya berdesir sesaat. Seolah ia pernah mendengar kalimat serupa dari seseorang.

Sret!

Seseorang tiba-tiba menarik pergelangan tangan Keira.

"Ayo," ucap pria itu.

"Eh?!"

Tanpa banyak bicara, Ezra langsung membawanya pergi dari kantin.

"Loh, Kei...?" gumam Viana kebingungan.

Tak jauh dari sana, Gavin yang sejak tadi mengikuti Ezra hanya menggaruk belakang kepalanya.

"Dasar sok jadi pahlawan," ucap Cinta kesal.

Viana mengalihkan pandangannya. Tatapannya tetap tenang.

"Namanya Cinta, tapi orangnya menyebarkan kebencian," sindir Viana.

Senyum Cinta langsung menghilang. Sementara Viana justru tersenyum tipis. Membuat wajah Cinta memerah menahan kesal.

Belum sempat membalas perkataan Viana, Cinta tiba-tiba menangkap sosok Aleta yang berjalan mendekat. Wajahnya langsung berubah saat melihat gadis itu.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Cinta berbalik diikuti Cindy dan Nadine. Mereka memilih pergi daripada berurusan dengan Aleta.

"Kelas," ucap Aleta singkat, lalu berjalan keluar kantin diikuti Aura.

Melihat Viana kini berdiri sendirian, Gavin akhirnya memberanikan diri mendekat.

"Ehm..."

Viana menoleh.

"Hai. Boleh kenalan?" tanya Gavin.

Ini cowok siapa tiba-tiba ngajak kenalan di situasi begini?

"Boleh," ucap Viana.

"Gavin," ucapnya sambil menyodorkan tangan.

"Viana," sahut Viana seraya menyambut uluran tangan Gavin. Keduanya pun berjabat tangan.

...****************...

Disisi lain...

Di ruang UKS, Ezra berjongkok di hadapan Keira sambil mengoleskan salep pada kulit di sekitar pergelangan kakinya yang memerah akibat terkena kuah bakso panas.

"Perih?" tanyanya pelan.

"Sedikit."

Ezra mengangguk kecil.

"Kalau terasa sakit, bilang."

Tangannya bergerak begitu hati-hati. Sesekali ia meniup pelan bagian yang baru saja diolesi salep agar rasa panasnya sedikit berkurang.

Keira hanya diam. Entah sejak kapan, pandangannya justru tertuju pada wajah Ezra. Rahangnya, hidungnya, hingga kedua matanya yang tampak begitu fokus mengobati luka.

'Dia... serius banget.'

Tanpa sadar, Keira terus menatapnya. Menyadari dirinya sedang diperhatikan, Ezra perlahan mengangkat kepala. Tatapan mereka bertemu.

Deg!

Jantung keduanya berdegup cepat. Tak ada satu pun yang berbicara. Waktu seolah berhenti beberapa detik.

"Kenapa?" tanya Ezra sambil tersenyum tipis.

Keira baru tersadar, "E-eh..."

"Nggak... cuma..." gugupnya, ia lalu memalingkan wajahnya. Belum sempat Keira menemukan alasan...

Tok... Tok...

Pintu UKS diketuk pelan. Tak lama kemudian, Viana masuk bersama Gavin.

"Nah, ternyata benar di sini," ucap Gavin.

"Kaki lo gimana Kei?" Viana berjalan mendekat.

"Udah lumayan," jawab Keira sambil tersenyum ke arah Viana.

Gavin melirik Ezra yang masih memegang salep, lalu bergantian menatap Keira. Sudut bibirnya perlahan terangkat.

"Hmm... Kayaknya kita ganggu sesuatu deh."

"Hah?" Viana tampak kebingungan.

Sementara Keira langsung mengambil bantal kecil di sampingnya dan melemparkannya ke arah Gavin.

"Diam!"

Gavin tertawa sambil menangkap bantal itu. "Oke, oke... gue diem."

"Dah," ucap Ezra.

Viana melirik sepatu dan bagian bawah rok Keira yang masih tampak basah.

"Kei."

"Hm?"

"Lo mau pakai sepatu sama kaos kaki yang itu lagi?"

Keira ikut menunduk melihat kondisinya. "Iya."

"Lah, kan masih basah."

Keira mengangkat bahu pelan. "Mau gimana lagi? Gue nggak bawa kaos kaki dan sepatu cadangan. Daripada nyeker keliling sekolah... mending basahan."

"Kenapa ga minta Ravian aja yang anterin?"

"Nggak ah." Keira langsung menggeleng.

"Kenapa?"

"Gak enak. Nanti malah ngerepotin dia."

Viana menatap Keira beberapa detik, lalu terkekeh kecil.

"Yakali dia merasa direpotkan sama tunangannya sendiri."

Deg!

Kalimat itu membuat Ezra yang sejak tadi merapikan salep sontak menghentikan gerakannya.

"Tunangan...?" Ia menoleh ke arah Keira. "Jadi..."

"Belum tunangan, acaranya diundur tiga minggu lagi," ucap Keira.

Ezra tampak sedikit terkejut.

"Oh... Gue kira dia abang lo."

Keira tersenyum tipis. "Emangnya kelihatan kayak abang?"

"Bukan." Ezra menggeleng pelan. "Cuma... Kalian di sekolah nggak kelihatan seperti pasangan... Sorry."

"Iya..." Keira hanya tersenyum hambar.

Sementara Viana, ia diam-diam mengambil ponsel Keira dan membukanya menggunakan sidik jari Keira. Ia lalu mengirimkan pesan pada Ravian, satu-satunya kontak yang Keira sematkan.

Keira: Ravian, Keira kena kuah bakso panas. Sepatu sama kaos kaki nya basah. Bisa tolong bawain yang baru?

Tak sampai satu menit, Ravian membalas pesan itu.

Ravian: Seseorang akan mengantarkannya ke sana. Jaga Keira buat gue.

...****************...

Sementara itu, di kelas XII A...

Pelajaran belum dimulai. Aleta dan Aura duduk berdampingan di bangku paling belakang. Dari luar, keduanya tampak seperti sedang mengobrol biasa.

Padahal, percakapan mereka menggunakan bahasa Italia agar tidak ada yang mengerti. Selain itu, keduanya juga nyaris berbisik membuat siswa-siswi di sekitarnya tidak menyadari bahasa yang sedang keduanya gunakan.

"Apa kita balas dendam dulu ke Joe?" tanya Aura, dan di jawab dengan gelengan Aleta.

"Tanpa Dark Blood, kita bukan apa-apa, Au."

"Tapi Joe sampai sekarang masih mengincar Daddy dan Mommy. Kita harus bertindak secepatnya," ucap Aura setengah emosi, memikirkan kedua orang tua Aleta yang telah ia anggap sebagai orangtuanya sendiri.

"Kita perlu bekingan." Aleta menatap lurus ke depan.

"Klan lain?" tanya Aura.

"Hm. Seperti Red blood dan Black Demon, kalau bisa Blue Moon."

"Lalu?" tanya Aura, tangannya mencatat rencana mereka dengan kode yang hanya diketahui oleh sebagian orang.

"Dan memperbanyak para penghianat Darkness yang berpihak kepada kita."

Hening beberapa saat.

Aura kembali bertanya. "Tapi caranya gimana?"

Sudut bibir Aleta perlahan terangkat, "kita akan membawa nama Queen Moon ke puncaknya."

"Semua klan harus mengenal Queen Moon sebagai pembunuh bayaran terbaik. Dan gue harus mendapatkan gelar itu... Karena hanya dengan begitu kita akan diundang menghadiri pertemuan seluruh klan tahun ini."

"Setelah itu, kita ngapain di sana?" tanya Aura yang sedikit tidak paham akan rencana Aleta, tapi dia tidak meragukannya sama sekali.

"Kita manfaatkan waktu di sana dengan sebaik-baiknya. Kita korek informasi tentang Joe, cari pengkhianat nya, dan cari siapa saja yang tidak menyukainya. Lalu kita tawarkan kerja sama dengan mereka." Aleta mengusap pelan rahangnya. Rasanya sedikit pegal akibat terlalu banyak berbicara daripada biasanya.

1
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
prasaan kemarin masih lo gue deh, kok tiba-tiba udah aku kamu aja 😭😭
mana dipanggil honey lagi /Doge/
Chika
Akhirnya ktm mommy kandung 😍
Chika
Adrian lo jgn kayak Joe ya, lucu² setan /Smug/
Chika
Joe sama Anneta selucu itu kok harus pisah sihhh 😭😭
Yuni
wkwkwkwk waajr sih mak nya Aleta marah/ga terima Aleta ngaku Anneta. secara kan dia ga percaya adanya reinkarnasi. Apalagi pas awal Aletanya kayak plenger bangt, siapa yg ga kesel cba. Anak tunggal udh meninggoy belasan thn trus tb² ada yg ngaku 🤣🤣
Yuni
ih udah honey aja nih 🤭
Peach
loh kok udah lopyu lopyu aja nih? udah jadian apa begimana? apa cuma aku yg ketinggalan berita?
Peach
circle ini isinya manusia lantam smua 💜
Yuni
🥀💔
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
ternyata orang seasik dan setengil joe juga bisa jahat
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
awas jodoh 😂🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
makin deket niehh
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
demen bgt sama cw yg pemikirannya begini 🤣🤭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
kocak umur sndiri pun tak ingat 😂🤣
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
yg ini agak lain ya, malah ngakunya wlw 😭😭
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
perempuan nyembelin
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Viana sendiri aja ributnya minta ampun. Apalagi kalu ditambah Keira sama Ravian trus Gavin Ezra. ga kebayang ribut & berantakannya bakal kayak apa 😂
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Mampus lo Ravian, siapa suruh udah bikin gue nangis tiap baca kisah lo ama Keira
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
Gitu deh manusia, kehilangan dulu baru menyesal
𝕻𝖊𝖓𝖌𝖌𝖚𝖓𝖆 𝕭𝖆𝖗𝖚
LOHHH
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!