Up? tergantung situasi dan kondisi
Prolog ada di deskripsi, jadi baca yang disini dulu sebelum masuk ke dalam cerita
Di chapter-chapter awal masih belajar menulis, jadi mohon di maklumi. Alur lambat, santai, dengan sedikit bumbu action. Cerita lebih mengarah ke prinsip hidup sang MC dengan lawakannya yang khas
~
Prolog
Manusia adalah mahluk yang sangat menakutkan...
Orang-orang bilang, jika kau bekerja keras, kau pasti akan dapat mengubah takdir. Jika kau bekerja keras, orang yang tak berbakat pun dapat mengalahkan yang berbakat. Jika kau terus bekerja keras, semua keinginanmu pasti akan terwujud.
Tapi semua itu omong kosong.
Memang benar kerja keras tidak akan mengkhiati hasil, tapi kerja keras dapat mengkhiatimu.
Q. Semisalnya, andai saja. Kau dapat kembali ke masa lalu, apa menurutmu kehidupanmu yang sekarang akan berubah?
A. Tidak.
Q. Kalau begitu, kenapa jawabannya tidak?
A. Karena itu hanya "semisalnya".
Kenyataan itu lebih kejam dari apa yang bisa kau bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon One-di Chainel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebenaran
**Pandangan Fuma menjadi kabur, wajahnya dipenuhi keringat, perlahan aura hitam yang memenuhi ruang singgasana mulai menghilang.
Untuk sesaat, Fuma merasakan kehadiran seseorang di belakangnya, namun tubuhnya tak dapat digerakan, yang Fuma rasakan selanjutnya hanyalah sesuatu membentur leher bagian belakangnya hingga membuatnya tak sadarkan diri**.
...****************...
Duduk di sofa sambil menonton tv, kurasa itulah yang sedang kulakukan.
"Mau aku bantu?"
Di dapur, adikku sedang menyiapkan makan siang, sebagai kakak yang baik, tentu saja aku harus menawarkan bantuan.
"Tidak usah, kak Fu tunggu saja di situ. Lagipula kalau kak Fu membantu, rasa masakannya entah kenapa menjadi tak enak. Kakak kalau memasak juga suka berantakan jadi lebih baik jangan, tidak usah, hanya mengganggu, mati saja sana."
Jawaban yang benar-benar tak manuasiawi, aku sempat berpikir apakah adikku masih seorang manusia? Kenapa dia bisa mengatakan semua kalimat kejam itu?
Namun entah kenapa aku masih tersenyum mendengar ucapan adik menyebalkan itu.
Benar-benar seorang adik yang tak menghargai kakaknya.
Atribut rumah berjatuhan dengan sendirinya, seketika ruangan tempatku terbaring begetar dengan hebat, bangunan rumah mulai jatuh satu persatu.
Merasa khawatir, aku segera berlari menuju dapur tempat adikku berada, tak butuh waktu lama aku pun sampai di depan pintu dapur.
Melihat adikku baik-baik saja, aku segera berlari ke sana, tapi aku tak dapat bergerak.
"Apa ini?"
Menatap ke bawah, yang kutemukan adalah sebuah lingkaran aneh bercahaya berada tepat di bawah kakiku.
Aku tak bisa bergerak!
"Hanaaa!"
Tanpa bisa melakukan apa-apa, aku harus melihat adikku sendiri tertimpa reruntuhan bagunan tepat di depan mataku.
...----------------...
Lagi-lagi, aku tersadar dari tidurku dengan wajah yang kembali dipenuhi dengan keringat.
Mendapati diriku sedang terikat di dalam sebuah penjara besi dengan mulut yang tertutup, aku memeriksa sekitar.
Tak sendiri, aku menemukan seseorang dalam penjara yang tepat berada di depanku.
Memperhatikan lebih jelas, ternyata orang itu adalah pencuri yang kutemui saat pertama kali memasuki kota Geamor.
Meskipun mulut sang pencuri tertutup, aku dapat melihat dengan jelas bahwa saat ini pencuri tersebut sedang tersenyum padaku. Wajahnya seolah mengatakan, "Ternyata kau juga adalah seorang penjahat".
Mengabaikan hal tersebut, aku bersandar di dinding penjara. Hanya berselang singkat, suara langkah kaki yang mendekat terdengar.
"Kau sudah bangun?" tanya putri bermata dan berambut biru muda.
"…"
Apa yang bisa kukatakan, mulutku tertutup saat ini.
"Keluarlah, banyak hal yang ingin kutanyakan padamu," kata sang putri membuka pintu penjara, melepaskan ikatan kaki dan tanganku, kemudian melepas kain yang menutup mulutku.
"Kau yakin mengeluarkanku? Jujur saja aku masih sangat ingin membunuhmu," kataku.
"Jika kau benar-benar ingin membunuhku, mungkin aku sudah mati sekarang ini, tapi kau tak melakukannya," jawab sang putri.
Kurasa aku tak bisa menyangkalnya.
"Ikut aku, kita akan berbicara di tempat lain,"
kata sang putri berjalan menjauhi penjara.
Karena tak memiliki pilihan lain, aku memutuskan untuk mengikuti sang tuan putri.
Kami berdua berjalan menaiki tangga, keluar dari penjara bawah tanah tadi, menghindari beberapa prajurit yang berjaga, lalu sampailah kami di suatu ruangan.
Kami berdua berjalan masuk dengan sang putri yang memimpin.
"Duduk!" perintah sang putri.
Di dekatku terdapat sepasang kursi kayu lengkap dengan mejanya.
Dengan bisu, aku masih menuruti perkataan sang putri. Hampir di saat yang bersamaan, tuan putri duduk ke kursi yang ada di depanku.
"Jangan bilang… kita sedang berada di kamarmu?" tebakku.
"Hebat juga kau bisa tahu," jawab tuan putri.
Bagaimana tidak, kamar ini benar-benar bertema tuan putri.
Kamar tempatku saat ini berada adalah sebuah ruangan yang cukup luas, dilengkapi dengan dinding biru, tempat tidur mewah berkelambu biru dengan sebuah kamar mandi dan juga rentetan pakaian ala tuan putri berserakan di tempat tidur.
Kurasa kau bisa menyebutnya, kamar Instagramabel bertemakan biru.
"Kamar yang benar-benar berantakan."
Wajah tuan putri itu tiba-tiba memerah, "Jangan melihatnya!"
Sang putri menutupi pandanganku dari tempat tidurnya.
Tapi, aku sudah melihatnya.
"Jadi, untuk apa tuan putri ini membebaskanku dari penjara? Kau bukan ingin memperlihatkan kamarmu yang berantakan bukan?" kataku.
"Tentu saja bukan!" ujar sang putri, "Dan juga, berhenti memanggilku sebagai tuan putri, aku juga punya nama."
"Jadi, siapa namamu tuan putri?"
Ya, sebenarnya aku juga tak terlalu ingin tahu.
"Alice Cordelia Geomor, ingat itu baik-baik!" katanya.
"Oh, jadi, sang tuan putri Alice Cordelia Geomor ada perlu apa denganku?"
"Alice, khusus untukmu kau boleh memanggilku begitu," sahut Alice.
"Jadi, Alice ada perlu apa denganku?"
Aku sudah menanyakan pertanyaan yang sama sebanyak 3 kali. Serius? Kalau seperti ini terus, seluruh cahpter akan terisi oleh aku yang bertanya.
Ekspresi Alice berubah menjadi serius, "Aku ingin kau membantu kami dalam mengalahkan Raja Iblis Ragnarok."
Ragnarok katamu!
Aku sedikit terkejut mendengar nama itu, hanya sedikit.
"Kenapa kau sangat ingin mengalahkannya?"
"Bukankah itu sudah jelas? Karena dia akan menyerang kerajaan Geomor dengan pasukan besarnya. Karena kau manusia dari dunia lain, pasti kekuatanmu akan sangat berguna," jelas Alice.
"Kutolak."
"Kenapa?" tanya Alice.
"Tak tertarik."
"Kenapa kau sangat jahat! Padahal banyak nyawa penduduk Kerajaan Geomor yang menjadi taruhannya!"
"Bagaimana mungkin aku membantu Kerajaan yang telah membuat adikku sendri terbuh."
Ah sial, aku mengatakannya tanpa sadar.
"Apa-apaan alasan konyolmu itu? Bagaimana mungkin Kerajaan ini membunuh adikmu, sedangkan kau adalah manusia dari dunia lain!"
Alice semakin kesal.
"Kalau benar-benar ingin tahu, akan kuberitahu. Sebelum berpindah ke dunia ini, terjadi gempa yang sangat besar di duniaku, rumah yang aku tinggali dengan cepat runtuh, dan berkat lingkaran sihir yang di ciptakan oleh ayahmu, aku tak bisa bergerak dari tempatku. Terpaksa aku harus melihat wajah adikku yang tertimpa reruntuhan tanpa bisa melakukan apa-apa."
Aku bertanya-tanya apa Penjelasanku dapat di mengerti oleh Alice, karena dia terlibat bingung sekarang ini.
"Kau mengingat semua masa lalumu?" tanya Alice memastikan.
"Ya, aku ingat semuanya."
"Jadi, semua yang kau katakan itu benar?" tanya Alice yang mulai terlihat sedih.
"Ya, semuanya adalah kebenaran, kau puas sekarang?"
Air mata keluar dengan sendirinya dari mata Alice, "Maaf."
"Kenapa kau meminta maaf, kau tidak salah sama sekali, adikku tertimpa reruntuhan karena sebuah gempa, lingkaran sihir itu hanya mebuatku tak bisa bergerak. Ya, itu semua adalah salahku sendiri yang kurang kuat hingga tak bisa melindunginya."
Jujur saja, tak ada yang salah dalam situasi semacam ini. Terlepas dari salah benarnya sesuatu, semua orang melakukan apa yang mereka anggap benar.
Namun tetap saja, air mata Alice terus saja mengalir, "Apa yang telah aku lakukan… aku membuat seorang kakak tak bisa melindungi adiknya sendiri."
Tu-
"Apa maksud dari perkataanmu barusan?"
"Akulah yang memanggil kalian ke dunia ini, ayahku hanya memintaku untuk melakukannya," jawab Alice.
ngotak
terus semangat
salam dari aku dan mantan kekasih suamiku
aku tunggu feedbacknya
salam sayang
Pahit Manis Mencintaimu😘
salam sayang
Pahit Manis Mencintaimu😘