Zha Yongjin, seorang Pemimpin Bangsa Naga yang terlahir kembali menjadi seorang anak kecil dengan latar belakang yang tidak diketahui. Dengan bantuan seorang kakek asing yang ditemuinya di tempat random, ia pun membesar dan mencaritahu sendiri latar belakang asli dari tubuh yang dirasukinya ini.
~Karya ini terinspirasi dari komik favorit Author~
...______...
Untuk pengetahuan pembaca yang telah membaca novel Season 1 dan Season 2-nya, kini kedua season itu akan digabung dalam novel ini.
Author juga akan menambah beberapa perubahan dari alur, dialog, dan juga mungkin dalam karakter.
Sekian, maaf jika deskripsinya pelit, karena Author lagi malas mengetik.
Selamat menikmati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕱𝖑𝖔𝖜𝖊𝖗𝖅𝖞𝖗𝖊𝖓𝖊, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Pengkhianat
"Yah... Mungkin?" balas Raon-jun ke pertanyaan Seok-jin mengenai pembangunan sekte dan klan.
"Lagian aku memang sudah punya satu sih..." pikirnya, berdiri tegak. "Ada apa?"
"Jangan bilang kau ingin mengkhianati sektemu sendiri?" tanya Raon-jun, dengan nada yang sinis.
"Aku... Tidak mempunyai sekte." jelas Seok-jin, menundukkan kepalanya.
"Tidak heran." perkataan Raon-jun itu membuat Seok-jin bingung, seolah Raon-jun telah mengetahui segalanya.
"Maksudmu...?" tanyanya untuk memastikan, "Aku sudah menyadari kebohonganmu disaat kau mengatakan bahwa Hwan-jae adalah seniormu."
"K-kau sudah menyadarinya? Tapi kenapa?..." dilihat dari responsnya, Seok-jin bingung sekaligus panik.
Ia terdiam kaku, tangannya yang kekar bergetar pelan. "Kau telah mengetahui semuanya..."
"Tapi kenapa kau masih ingin menjadi temanku?" tanya Seok-jin dengan nada gemetaran, matanya berkaca-kaca.
Untuk sejenak, Raon-jun tidak membalasnya. Ia hanya diam, lalu senyuman lebar terbentuk di bibirnya.
"Jadi ceritanya... Kau lagi terharu?" tanyanya sinis. "Apa-?!"
"Pertemanan itu tidak memandang asal-usul maupun latar belakang. Memangnya hanya karena kau tidak mempunyai rumah, kau adalah hewan liar?"
"Kok kedengaran kasar..." batin Seok-jin, namun tetap mendengarnya.
"Kita sama saja, tuh. Kau tidak memiliki sekte, begitu juga denganku. Namun, walaupun suatu hari nanti aku memiliki sekte."
"Kau pikir aku akan menelantarkanmu?"
"Itu terdengar konyol, bukan? Dan juga, aku bisa-bisa saja menyeretmu menyertaiku di sekte itu. Ayolah, gunakan isi kepalamu itu untuk berpikir!"
"Itu... Masuk akal juga." pikir Seok-jin, "Jadi..."
"Kesimpulannya! Mau kau pengemis atau apapun itu, aku tidak peduli. Yang terpenting, aku mengambil siapapun sebagai temanku tanpa memandang bulu!"
"Tapi bulu ketekmu tidak bisa ditoleransi sih." lanjut Raon-jun dengan jijik, "Diam."
Pada akhirnya, obrolan itu terus berlanjut dengan pembahasan klan-sekte.
Semua isi obrolannya tidak ada yang penting, hanya keluhan dan semangat ingin membangunnya saja yang ada.
"Hm..." Seok-jin tampak ngantuk mendengar Raon-jun terus berbicara soal cara-cara dan syarat apalah itu untuk membangun sebuah klan atau sekte.
Ia kedengaran seperti menyanyikan lagu karena nada suaranya yang kadang naik dan turun dengan sendirinya.
Kadang ia juga terkadang seperti menyelipkan rap di tengah obrolan.
Dengan suara hembusan angin dan rerumputan, ia benar-benar terasa seperti seseorang yang sedang bernyanyi.
Perlahan, ia mulai tertidur di samping Raon-jun. Seolah ia sedang berada di dalam rumah.
Tidak ada yang perlu ditakuti, maupun diwaspadai.
Ia bisa menurunkan kewaspadaannya kapan saja, dan memejamkan mata tanpa takut diperlakukan macam-macam.
Raon-jun sudah menyadari hal itu, karena dari awal Seok-jin memang terlihat seperti mengantuk namun tetap mencoba untuk berjaga agar terus bisa menemani Raon-jun ngobrol.
"Hum, bagaimana ya cara mengantarnya kembali ke penginapan? Bisa-bisa aku remuk jika menggendongnya."
...----------------...
Sesampainya di penginapan, Raon-jun menidurkannya di atas kasurnya.
Hwan-jae yang menyaksikan itu kemudian mengejek mereka sambil menahan tawa.
"Hah, apa-apaan itu? Kau menggendongnya? Cih! Seperti anak kecil saja!" ejeknya sambil menutup mulutnya.
"Cuih! Yang penting aku masih bisa dibilang teman setia daripada seseorang yang tampan namun kesepian!" balas Raon-jun kembali meledeknya.
"CK!" dengan kesal, ia berjalan keluar dari kamar itu, sementara Raon-jun hanya menyeringai dari belakangnya.
Di saat ia memutarkan tubuhnya, Raon-jun bisa melihat adanya sesuatu yang seperti tanda di garis leher Hwan-jae.
Namun, sayang sekali karena Raon-jun tidak bisa membaca tulisan itu dengan jelas karena ukurannya yang kecil.
Selang beberapa jam, Seok-jin akhirnya sadar dari tidur matinya. Ia langsung dibawa pergi oleh 4 pendekar itu.
Begitu juga dengan Raon-jun, si wanita dan ketiga pria tua itu.
Mereka berpisah di tengah jalan dan pergi bersama kelompok sendiri.
Raon-jun dan yang lainnya pergi ke tempat di mana ia dan si wanita bertemu ketiga pria tua itu.
Mereka mengobrol sebentar sebelum menyuruh Raon-jun dan si wanita kembali ke sekte.
Setelah berpamitan, Raon-jun mengikuti si wanita dari belakang.
Dirasa cukup jauh dari ketiga pria tua itu, Raon-jun secara tidak sengaja terpeleset dan terjatuh dari pergunungan yang sangat tinggi itu.
"Aaah!" teriaknya, kaget. Si wanita yang menyadari itu dengan cepat terjun ke bawah untuk menyelamatkan Raon-jun.
"Aku akan menyusul, jangan panik!!!" teriaknya, mencoba menenangkan Raon-jun.
"Kaulah yang panik, sialan. Ah, cepatlah!" batin Raon-jun tidak sabaran. Begitu si wanita hampir menyentuh tangan Raon-jun...
Shak!
Raon-jun tanpa pikir panjang malah balik menariknya, hingga si wanita berada di paling bawah.
"T-TIDAK! ULURKAN TANGANMU! AKU BISA JA—" sebelum si wanita sempat melanjutkan aksi heroine-nya.
Raon-jun dengan wajah yang datar, menusuk si wanita menggunakan ranting pohon yang ditemuinya sebelum jatuh.
"Eh?..." wanita itu kelihatan syok, "Ah, ini ya, yang namanya pengkhianatan?" pikir Raon-jun.
Lalu, mereka pun jatuh ke sungai bersama.
BRUURRR!
Kepala si wanita terhempas ke bebatuan yang menyebabkannya pecah.
Untung saja, Raon-jun mendarat dengan sempurna berkat kayu yang dipegangnya masih tertancap di perut si wanita.
Air dari sungai itu perlahan memerah karena darah, begitu juga dengan wajah Raon-jun yang terkena cipratan darah.
Raon-jun kemudian mengambil langkah mundur dari tempat itu, menatap tubuh si wanita yang terlihat menyedihkan.
"...Maaf, tapi aku hanya tidak ingin masalah jadi besar jika ketahuan." gumam Raon-jun, "Walaupun hal ini yang akan memperburukkan keadaan."
Untuk pergi dari tempat itu, Raon-jun kemudian menggunakan teknik 'Langkah Angin' ajaran Kakek Seonwu.
Lalu, ia pergi berjalan melanjutkan perjalanannya dengan santai seolah yang barusan itu bukanlah sesuatu yang harus dipikirkan.
"Jalan pulangnya di mana ya? Haruskah aku terus berjalan dan mengikuti jalur ini?" gumamnya.
Raon-jun kemudian melanjutkan perjalanannya mengikuti jalur jambatan yang disediakan.
Namun, langkahnya terhenti begitu ia melihat bahwa ada 2 jalan yang terpisah.
"Kalau tidak salah... Disaat aku mengikutinya ke sini, wanita itu selalu menghalangiku untuk melihat ke arah kiri." pikirnya.
"Kiri, kanan, kiri... Berarti sekarang jalan pulang adalah jalur kiri sebelahku." pikirnya, menyilangkan kedua lengannya di bawah dada.
"Tapi, kenapa dengan jalan sebelah kanan ini ya?" pikirnya, penasaran dengan apa yang yang sebenarnya terjadi.
Karena diliputi oleh rasa penasaran, Raon-jun kemudian melewati jalur sebelah kanannya.
Begitulah perilaku seorang Main Character, apa boleh buat? Biarkan saja.
Lalu...
"Hm? Bau apa ini?..."
dia beneran aneh
biar dapat kesannya