Kisah seorang anak perempuan terakhir yang hidupnya selalu di tentukan oleh orang tuanya,dan tidak di beri kesempatan untuk memilih untuk hidupnya.
hingga akhirnya ia pergi dari rumah, dan bertemu dengan seseorang yang mampu untuk ia jadikan rumah dan tempat bersandar
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Kusumaningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RUSB 18
Setelah sholat magrib, Wira dan Chessy berangkat menyusul Nina dan juga Kenzie, di ikuti dengan Raynar yang katanya ingin melihat rumah kedua orang tua Nina terlebih dahulu, agar bisa lihat furniture apa saja yang bisa di kirim besok.
Raynar yang menyetir karena sedari tadi chessy terus merengek, karena di tinggal oleh Sang adik dan anaknya.
"Kan ini udah mau ketemu Nana, kenapa masih nangis?" tanya Wira pada sang ponakan.
" huhuhu Nana jahat om" rengek chessy di sela tangisnya.
" Iya nanti kita jewer yaa " sahut Wira menghibur sang ponakan.
Lima belas menit mereka sampai di desa kedua orang tua Nina, namun bukan desa yang pelosok, karena di sini jalannya sudah bagus, hanya saja gang nya sedikit sempit.
" Kak ini parkiri sini gapapa kak?" tanya Raynar, karena mereka parkir tepat di depan masjid.
" Iya, nanti kalau masuk ke dalam susah putar keluarnya, lumayan sempit, belum lagi kalau ada mobil tetangga yang mau lewat" jawab Wira.
" kita jalan sedikit gapapa kan?" tanya Wira.
" Gapapa kak, santai saja, sini biar Chessy gue yang gendong" ujar Raynar ingin menggendong Chessy, namun Chessy lebih memilih jalan dan berlari meninggalkan Wira dan Raynar.
" eh kak itu Chessy udah duluan" ujar Raynar yang ingin mengeejar Chessy.
" Udah biarin dia tau kok jalannya " sahut Wira.
Wira dan Raynar jalan berdampingan, di sepanjang jalan Wira menyapa tetanggan yang mereka temui, dan tetangga Wira banyak yang bertanya siapa yang di samping Wira.
Wira yang memang suka bercanda menjawab adik iparnya, namun Raynar tidak bisa memahami apa yang di bicarakan Wira karena menggunakan bahasa Jawa.
Setelah Jalan dua menit mereka sampai di depan rumah orang tua Wira, di sini adalah perkampungan dengan lumayan padat penduduk.
" Wir" Sapa seorang pria paruh baya dengan baju koko dan juga sarung kotak- kotak.
" Pakdhe" Sahut Wira kala melihat Pria paruh baya tersebut.
Melihat Wira mencium tangan pria paruh baya tersebut, Raynar juga ikut menyalaminya, dan tersenyum ke arah pria paruh baya tersebut, yang ia tebak adalah Pakdhe dari Nina.
" sopo?" tanya Pakdhe sambil menunjuk ke arah Raynar ( siapa)
" Bos e Nina, meh survei omah, go ganti perabot" jawab Wira ( Bos nya Nina, mau survei rumah buat ganti furniture) .
" Oalah, Nina mau gone bulek, Yen Kenzie Ning omah e etan " sahut Pakdeh ( oalah,Nina di tempatnya bulek, kalau kenzie di rumah Timur )
Raynar hanya menyimak karena ia juga tidak faham apa yang di bicarakan Wira dan juga pakdhenya.
Setelah Pakdhe pamit, Wira dan Raynar memasuki rumah kedua orang tua Nina, yang tidak terlalu besar.
" Ini di ganti semua kak?" tanya Raynar yang melihat rumahnya baru saja di renovasi.
" Iya Ray, biar kelihatan bagi gitu, soalnya ibu sama bapak enggak mau pindah, terus mau di perbesar juga enggak mau, ya udah kasih furniture yang bagusan dikit " sahut Wira.
" Di sini cuma ada dua kamar ya.. kak, di atas ada berapa kamar kak?" tanya Raynar.
"Dua juga di atas tuh cuma kamar ku dan kamar Nina, tapi jarang di pakai soalnya Nina sering tidur di tempat ku " jawab Wira.
" Jadi kemungkinan di atas hanya di pakai sesekali yaa kak?" tanya Raynar kembali.
" Yaa gitu, Nina juga entah kapan dia mau pulang kesini juga kita belum tau, biar dia mengexplor dulu apa yang dia mau" sahut Wira yang mengetahui sang adik memang tidak memiliki pengalaman yang banyak di banding dirinya dan juga Haris.
" Oke- oke, tadi sih Nina udah serahin list barangnya nanti juga Kak Wira sama bang Haris cek dulu, siapa tau ada yang kurang cocok" sahut Raynar.
" Okey, tapi besok kamu sendiri kan yang turun tangan, ngantur semua ini? " tanya Wira.
" Iya kak tenang saja, untuk pelanggan VVIP mah gue siap turun tangan kak" sahut Raynar bercanda.
" Pelanggan VVIP atau mau rebut hati gue sama Bang Haris biar kita restuin sama Nina?" goda Wira.
" Emang boleh kak?"
...****************...
Sedangkan Nina sedang berada di rumah buliknya yang berada di ujung gang, dan masih satu gang dengan rumah orang tua Nina.
Nina dan sepupu yang lainnya sedang berkumpul, mereka sedang menikmati sebuah buatan mereka di teras, rumah bulik Nina, walau sederhana tapi terasa hangat, saat berkumpul dan saling bertukar cerita.
" Nana minta uang " Ujar Chessy yang baru saja datang bersama dengan sepupunya, atau lebih tepatnya anak sepupu Nina yang bernama Amara.
" heh kamu kok bisa di sini? sama siapa kamu?" tanya Nina yang terkejut melihat Chessy
" Cama Om Wila, cama uncle Lay " jawab Chessy.
" Lay sopo Na?" tanya Salah satu sepupu Nina yang bernama Hana.
" Ray,Bos ku mbak, sing ameh delok oman, ganti furniture " jawab Nina ( Rey, Bos aku mbak, yang mau lihat rumah, ganti Furniture)
" Oalah "
" Nih, kembalian tapi... Nana cuka bawa uang itu, kakak Amara juga di suruh beli " sahut Nina.
" Oce macacih" Jawab Chessy yang hendak lari namun di tahan oleh Hana .
" Hey salim dulu dong sama budhe " ujar Hana pada Chessy.
" Ohh iya lupa" Jawab Chessy kemudian menyalami sepupu Nina yang berada di situ sekitar lima orang dan juga bulik Nina.
" Sayang dulu mbah" pinta Bulik Nina pada Chessy.
Chessy pun menuruti kemudian berlari bersama dengan Amara, memang rumah Nina di perkampungan,jadi sedikit aman jika membiarkan ponakaannya pergi sendirian, toh juga banyak rumah saudaranya.
" Hei jangan lari, jatuh aku enggak mau nolong yaa" teriak Nina di depan rumah bulik nya.
Saat Chessy berlari tepat di depan rumah uti nya ia,hampir saja terjatuh untuk dengan cepat Raynar menangkap Chessy sehingga ia tidak jatuh.
" Hati- hati ches, kamu mau kemana?" tanya Raynar pada Chessy.
" Mau jajan uncle" jawab Chessy.
" Om Wiraa" teriak Amara kala melihat Wira dan berlari memeluknya
" Heyyy, mau kemana?" tanya Wira pada keponakannya.
" Mau jajan om " jawab Chessy dan Amara bersamaan.
" Emang kamu bawa uang?" tanya Wira pada ponakannya.
" Bawa nih" jawab Chessy, menunjukkan uang satu lembar seratus ribuan.
" Mau jajan di tempatnya Mbk Sasa kan? kok uangnya besar sekali?"
" Di kacih Nana, katanya Nana cuma bawa uang ini" sahut Chessy.
" Ya sudah sana" ujar Wira menyuruh keponakannya untuk pergi.
Wira dan Raynar berencana untuk menghampiri Nina, karena Wira harus ke toko sedangkan Raynar ingin mencari sesuatu.
" Tapi emang Ninanya mau kak?" tanya Raynar kala berjalan menuju rumah Bulik nya Wira.
" Mau itu mah gampang" sahut Wira.
Saat sudah di depan rumah buliknya, Nina tampak terkejut dan berlari ke dalam, karena dirinya tidak memakai hijab.
" Wahhh siapa om?" tanya Hana pada Wira.
" Calon ipar " sahut Wira.
Dan saat itu juga semua sepupu Nina dan Wira heboh,.mendengar jawaban dari mulut asbunnya Wira.
Saat Nina keluar semua sepupunya mengejek dirinya, yang membuat Nina bingung.
" cie.... cie....Nina" ejek sepupu Nina.
" Cie apa sih?" tanya Nina sedikit bingung.
" Katanya tadi belum mau nikah, belum ada jodohnya,tapi tuhhh... " Ujar Hana sambil menunjuk Raynar yang masih berdiri di samping Wira.
" Hah"