NovelToon NovelToon
RICH MAN

RICH MAN

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Nikahkontrak / Tamat
Popularitas:10.2M
Nilai: 4.9
Nama Author: Mira Indriani

Hidup ini terlalu berat bagi mereka yang selalu mengeluh. Rumit karena sebagian orang lebih mementingkan ego sendiri dibandingkan memikirkan hati orang lain. Tak sedikit yang berakhir dengan penyesalan. Barangkali setiap duka yang terasa adalah sebuah ujian yang sedang menguji perasaan dan kesabaran. Banyak yang memilih mengakhiri dibandingkan memperbaiki, kemudian menyesal dihari kemudian. Berharap sesuatu yang hancur akan kembali lagi. Tidak semua yang hancur semua yang hancur bisa diperbaiki lagi. Akan tetapi sesuatu yang rusak, barangkali bisa diperbaiki meski tidak utuh. Begitupun dengan rumah tangga, banyak lika-liku kehidupan yang akan dilewati.

Ikuti kisahnya di RICH MAN.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira Indriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAYANG?

Pukul sembilan pagi,

ponsel Azka terus berbunyi. Nagita di sana mulai kebingungan antara

menjawab telepon itu atau membiarkannya, tak berapa lama kemudian, Azka

keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya.

"Hp kamu bunyi dari tadi, Mas." Nagita menyerahkan ponsel itu kepada Azka.

Ia pun tak menghindar justru merangkul Nagita ketika menjawab telepon.

"Kamu ditelepon dari

tadi nggak pernah jawab, Azka. Kamu udah nggak sayang lagi sama mama?

Mau dipecat jadi anak mama? Sudah berapa lama kamu nggak ngabarin dan

nggak pulang ke rumah?" suara ocehan dari seberang telepon.

"Hari ini aku pulang, Ma. Sebentar lagi akan ke sana,"

"Mama tunggu!"

"Iya, Ma. Aku ganti baju dulu, terus ke sana,"

Telepon pun ditutup, ia menghela napas panjang dan menatap Nagita intens. "Mau ikut?"

"Nggak, kamu aja,"

"Tapi kamu sendirian di rumah,"

"Nggak apa-apa. Pergi aja, aku nggak apa-apa,"

"Ya sudah, saya siap-siap dulu," ia mengecup ujung kepala Nagita sekilas.

Azka mengenakan pakaian

santai untuk mengunjungi rumah orang tuanya. Ia juga lupa, selama

tinggal di rumah Nagita, ia tak lagi pulang ke rumahnya walau sekadar

mampir. Waktunya lebih ia luangkan menemani keseharian istrinya, entah

itu mencuci pakaiannya, atau membaca. Atau pun menemani Nagita ke dokter

untuk memeriksakan kandungannya. Semua itu ia lakukan dengan senang

hati.

"Saya pulangnya siang,

kamu nggak mau dibelikan makanan?" Azka selalu mengingatkan Nagita

perihal makanan, selain senang melihat pipi istrinya yang sekarang lebih

berisi, ia juga senang melihat istrinya makan banyak. Itu berarti

istrinya tak ada beban pikiran hingga nafsu makannya meningkat.

"Puding susu,"

"Itu aja?" Azka menaikkan alisnya sebelah.

"Iya, Mas."

"Ya sudah, saya berangkat. Kamu baik-baik di rumah, kalau ada apa-apa telepon saya!"

"Hati-hati, Mas!"

Azka melambaikan

tangannya tanda berpamitan kepada sang istri untuk pergi ke rumah sang

mama. Setelah keluar dari halaman rumah Nagita, ia merasa sedikit

khawatir jika meninggalkan Nagita sendirian di rumah. Tetapi karena

istrinya memang tidak mau, ia tidak ingin memaksakan diri untuk memaksa

Nagita ikut.

Beberapa saat setelah

mengemudi, ia pun membelokkan mobilnya ke perumahan elite Jakarta. Ia

keluar dari mobilnya dan langsung di sambut sang mama yang tengah

berdiri di teras depan. Azka mempercepat langkahnya dan memeluk mamanya

penuh kerinduan.

"Kamu sedikit berisi, Azka."

"Ya dong, kan anak mama selalu bahagia, adek ke mana, Ma? Rumah kok sepi banget?"

"Adik kamu liburan ke

luar negeri sama suaminya. Papa kamu pergi reunian sama teman-temannya,

kamu sih nggak pernah pulang jadi nggak tahu keadaan rumah sendiri,"

Azka menggaruk kepalanya, "Maaf ma,"

Mereka berjalan menuju

ruang tamu. Ia duduk di samping mamanya dan ingin sekali berkata jujur

perihal dirinya yang sudah menikah. Tetapi baru saja ingin bercerita,

mama lebih dulu membuka suara, "Kemarin Deana ke rumah, ketemu mama dan

papa, sama adik kamu juga,"

"Ngapain?"

"Dia bilang kamu sama

dia akan segera menikah? Itu benar? Kalau itu benar, mama sama papa

bahagia banget dengarnya, karena selama ini papa sama mama selalu

berusaha untuk nyari perempuan yang siap menikah sama kamu, tapi justru

Deana datang. Mama maunya segera, Azka. Pengin gendong cucu dari kamu.

Deana itu cantik, pintar. Mama yakin dia akan menjadi istri yang baik

buat kamu,"

Azka tersenyum kecut, "Azka nggak bakal nikah sama dia, Ma."

"Kenapa bisa? Kalian saling mencintai bukan?"

"Aku nggak bisa, Ma."

"Alasannya apa? Kurang

apa Deana sama kamu, jangan kasih harapan ke orang, Azka! Kalau kamu

memang nggak bisa nikah sama dia, seenggaknya jangan buat dia berharap

sama kamu,"

"Sebentar lagi, Azka akan jadi ayah, Ma. Itu alasannya,"

"Ayah? Maksud kamu apa?"

"Azka sudah menikah, Ma. Alasan aku nggak pulang selama ini karena rawat dia, Ma."

"Kenapa bisa seperti itu Azka, jelasin ke Mama!"

"Azka perkosa salah satu perempuan, dan dari perbuatan itu, dia hamil,"

Mama menggeleng tak percaya. "Kamu yakin itu anak kamu? Bisa jadi itu bukan punya kamu Azka."

"Anak itu milik, Azka.

Bukan milik siapa pun selain aku, istri Azka itu baik, Ma. Azka menikahi

dia untuk menggugurkan kandungan itu, tapi Azka bermimpi buruk dan

ingat kejadian yang menimpa adik soal keguguran. Aku putuskan untuk

membiarkannya, Ma. Sudah cukup Azka buat dia sedih, buat dia tersiksa

dari segala kelakuan aku selama ini, Mama ingat waktu aku larang mama ke

apartemen aku? Mama ingat waktu aku pulang tengah malam? Itu semua

karena dia Ma. Aku larang Mama ke apartemen, karena dia ada di sana.

Tapi bodohnya selama dia ada di sana, Azka selalu bawa perempuan lain

dan tidur di sana sama perempuan itu, dia cuman diam tanpa berkata

apa-apa. Azka brengsek banget, Ma. Kedua, waktu Azka pulang tengah malam

dan banting pintu, Azka ribut sama dia. Mental dia terganggu karena

Azka, Ma."

Air mata mamanya sudah tak bisa dibendung lagi. Kedua tangan Azka diusap lembut oleh mamanya, "Kamu buat dia gila?"

"Nggak, Ma. Dia hanya

takut bersentuhan sampai saat ini. Waktu bertengkar, Azka hampir perkosa

dia lagi karena emosi, Ma. Tapi di situ aku tersadar, dia ketakutan.

Sekarang Azka sedang rawat dia untuk segera pulih, Azka nggak mau anak

dan istri aku tersiksa karena perbuatan itu,"

"Azka, kamu keterlaluan,"

"Aku tahu itu, Ma."

"Sekarang apa yang mau kamu lakukan?"

"Azka akan belajar buat

cintai dia, Ma. Nggak akan ada perempuan lain lagi, dia harus sembuh

dari trauma yang diakibatkan oleh aku sendiri, dia harus tetap di

sisiku. Dia jadi istri pertama dan satu-satunya, Azka akan bahagiain

dia. Bangun rumah tangga, walaupun berawal dari keterpaksaan. Tapi

lama-lama perasaan itu tumbuh, Ma."

"Bagaimana kamu menjelaskan kepada orang tuanya saat bertanggung jawab?"

"Mereka sudah nggak ada.

Dia tinggal bersama dengan kakaknya, Azka minta baik-baik meski niat

jelek waktu itu, Ma. Tapi seiring berjalannya waktu, Azka sayang sama

dia, Ma."

"Sekarang kamu tinggal di mana sama dia?"

"Di rumahnya, Azka tinggal bertiga sama kakaknya. Kalau dia kumat, kakaknya selalu nenangin,"

"Umur dia berapa?"

"Sembilan belas, Ma. Azka yang ngerusak dia, Azka yang hancurin masa depannya. Nggak ada alasan buat aku ninggalin kan?"

"Lalu tentang pernikahan kamu sama Deana?"

"Sebelum mencintai

Nagita, aku memang punya perjanjian sama Deana. Setelah anak itu lahir,

kami akan menikah dan merawat anak Azka bersama. Tetapi Azka tarik

ucapan itu, karena Azka sayang banget sama dia, dan bayi yang ada di

dalam kandungannya,"

"Azka kamu sudah sejauh itu berpikiran licik. Nama istri kamu, Nagita?"

"Iya, Ma. Perempuan yang

sangat Azka sayang, entah itu berawal dari mana perasaan itu membuncah,

Ma. Azka bohong sama Deana mau ke Jerman. Tapi aku rawat istri aku dan

nggak pernah lagi datang ke kantor. Pekerjaan aku selesaikan di rumah.

Nemenin dia sepanjang hari, dia mulai nerima kehadiran aku di sisinya,"

"Bawa dia pulang, sayang. Biar dia sama Mama!"

Azka menggeleng, "Biar

itu jadi tugas Azka, Ma. Itu kesalahan Azka, jadi harus tanggung jawab

aku. Terima kasih atas tawannya, dia juga nggak mau ketemu sama siapa

pun, Ma. Aku sudah ajak, tapi dia nggak mau katanya malu sama perutnya,"

"Kenapa harus malu?"

"Dia malu sama Mama karena keadaan perutnya,"

"Walaupun sulit Mama terima. Tapi karena itu perbuatan kamu, Mama akan terima dia, kapan Mama bisa ketemu sama dia?"

"Nanti setelah

melahirkan, Azka bawa dia pulang. Mungkin nanti sore kami akan

mengajaknya pulang. Hidup bersama lagi, Azka nggak mau buat dia

ketakutan. Mulai semuanya dari nol, aku akan tetap sayang sama dia.

Mungkin aku belum bisa bawa dia kemari, dan lagi jangan cerita ke adik

atau pun Papa. Azka percayakan ini sama Mama,"

"Az. Mama bersyukur, kamu bertanggung jawab atas perbuatan kamu,"

Azka memegang kedua

tangan mamanya dan langsung memeluknya, "Azka tetap sayang dia, sampai

kapan pun juga. Azka akan bahagiain istri Azka, Ma. Bahagiain anak

Azka,"

"Iya sayang, itu harus.

Jangan pernah tinggalin dia, kalau bisa segera tinggalin Deana! Mama

akan rahasiakan ini dari Papa dan adik kamu."

Azka memeluk mamanya

penuh terima kasih, meski tak terucap. Perasaannya begitu lega saat

mengatakan kenyataan itu kepada mamanya.

"Ma antarin Azka cari puding, yuk. Istri aku pengin makan itu."

"Puding apa?"

"Katanya puding susu, Ma."

"Puding susu banyak di kulkas sayang, mama baru aja buat tadi pagi. Kalau mau kamu bawa pulang semuanya untuk dia,"

"Azka nggak bisa lama-lama di sini, Ma. Harus segera pulang, dia sendirian di rumah, aku nggak mau dia kenapa-kenapa,"

"Tunggu di sini. Mama

siapin makan siang untuk kalian berdua. Jangan buru-buru, banyak makanan

juga di kulkas. Semuanya mama yang masak, kamu jangan sungkan bawain

istri kamu,"

Azka terenyuh mendengar ucapan mamanya dan melepaskan pelukannya. Ia tersenyum melihat mamanya yang menerima kehadiran istrinya.

Beberapa saat kemudian, mama selesai mengemasi makanan untuk Azka dan istrinya.

"Ma, sebanyak ini?" Azka terkejut melihat kantong plastik yang begitu banyak disediakan di atas meja oleh mamanya.

"Buat mantu mama, jaga

dia baik-baik. Meskipun mama belum lihat dia, mama percaya dia berhasil

buat kamu menjadi orang yang bertanggung jawab,"

"Terima kasih, Ma."

"Ayo mama bantu masukin ke mobil kamu,"

Azka membawa semua

makanan tersebut ke mobilnya dan bersiap untuk pulang. Meski hanya

sebentar, setidaknya ia berhasil mengungkapkan rahasia yang selama ini

disembunyikannya.

"Aku pulang dulu, Ma."

"Azka hati-hati, salam untuk dia!"

Azka mengangguk dan langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman rumahnya.

Jarak rumah mamanya dan

Nagita memang terbilang jauh, tetapi ia tak pernah mengeluhkan itu. Dan

hari ini ia berencana membawa Nagita pulang ke rumahnya, bukan ke

apartemen itu lagi. Rumah yang ia beli khusus untuk istrinya, ia tidak

ingin mengingat banyak kenangan buruk di apartemen itu, ia meminta

bantuan Dimas dengan diam-diam untuk menyiapkan semua itu. Dimas bahkan

dengan senang hati membantunya dan menemukan rumah untuk mereka berdua.

Azka hanya mengikuti, bahkan ia menyuruh orang-orangnya untuk mendekor

rumah itu semenarik mungkin. Sebagai hadiah pernikahannya dengan Nagita.

Selama ini ia tidak pernah memberikan hadiah untuk Nagita, namun kali

ini ia harus memberikan semua itu untuk istrinya.

Tiba di rumah, ia

langsung keluar dan membawa semua makanan itu dan ditaruhnya di atas

meja. Beberapa kali memanggil Nagita akhirnya perempuan itu keluar dari

kamarnya dengan keadaan baru bangun.

"Mas, kamu borong makanan banyak banget?"

"Ini dari mama sayang. Bahkan mama yang ngasih puding keinginan kamu,"

"Mana?"

Azka mencari plastik

yang berisikan puding tersebut dan langsung menyerahkannya pada Nagita.

perlahan perempuan itu memasukan potongan puding itu ke mulutnya.

"Enak?"

"Enak, Mas. Tante suka masak?"

"Kok tante sih? Mama juga dong, dia kan mama kamu juga, mertua kamu, lho,"

"Iya, masakan mama maksudnya. Aku suka, Mas."

"Makan gih! Hati-hati makannya nanti tersedak,"

"Iya, Mas."

"Sayang, nanti sore kita pulang ya!"

Nagita berhenti menyantap pudingnya, "Nggak mau,"

"Sayang, bagaimanapun

juga kamu itu istri aku. Kita harus menjalani rumah tangga kita seperti

yang orang lain lakukan, jangan terus di sini. Dimas punya banyak

pekerjaan, nggak mungkin kita akan terus tinggal bareng,"

"Kamu ajak yang pulang, aku tetap di sini."

"Kamu istri saya, nggak

mungkin saya tinggalin di sini. Walaupun kita pulang, saya akan tetap

nemenin kamu di rumah. Kamu nggak akan kesepian,"

"Tapi—"

"Nggak ada tapi sayang, kita harus beres-beres dan pulang nanti sore,"

"Tapi mendadak,"

"Nggak apa-apa. Saya juga pengin makan masakan kamu di rumah, kangen di masakin,"

"Kamu nggak pernah izinin saya masak di sini,"

"Karena saya nggak mau

kamu capek. Cukup saya lihat kamu istirahat, di samping saya. Nonton TV,

itu sudah buat saya senang. Tanpa harus beraktivitas banyak,"

"Katanya kangen dimasakin?"

"Karena bahannya sudah siap. Kalau di sini kamu belum lagi belanja, belum lagi menyediakan semuanya, kamu pasti capek sayang,"

"Mas bisa kan nggak usah panggil sayang, aku malu,"

"Kenapa malu?"

"Malu aja,"

"Mau dicium lagi?"

"Ayo kalau berani? Mas tidur di luar!"

"Hahaha, nanti kamu kecanduan sama ciuman saya,"

Nagita meletakkan pudingnya dan menutup telinganya, "Nggak, nggak aku nggak dengar,"

"Yakin nggak mau nyoba lagi?"

"Nggak, Mas. Nggak mau."

"Saya bercanda." Ia

mengusap kepala istrinya lembut, saat itu juga Nagita yang tengah

menutup mata dan menutup telinganya langsung mengangkat wajahnya.

"Aku kesal sama kamu, Mas."

 

 

1
Nuri Maulidia
kepraaaaat
Nuri Maulidia
pst krj dtmpt bos ny dulu
elly tedy
ceritanya bagus Thor.....ada pelajaran distiap perbuatan dan ada waktu yg harus kamu lewati krna kesalahannya
Mayora
ih, Azka ga asik banget,,pandai ya dia bersandiwara dengan sangat rapi...rupanya si Azka yang masih labil
Sinar aurora
sumpah aku jadi korban novelmu thor.. aku uda 3 kali baca tapi knap masih mewek aja sihhh.. emnag sekejam itu ya si azkaaa
Tini Patini
Thor c Azka nya di bikin lmpoten ajah.biar kapok deh biar gak bangun lagi walau c deana cantik burungnya lemes gak mau bangun biar tau rasa!
Zuraida Zuraida
durjana banget tu laki, semoga gita cepat tahu akal bulus tu kamprer
Zuraida Zuraida
laki laknat kabur na
pak rt
👍
Tutik Yunia
Reynand yang lebay
Yuniar
ibu & kakak tiri Bintang kemana ya..?
Tutik Yunia
tidur pakai masker apa nggak sesak nafas
Tutik Yunia
mungkin waktu mau ketemu Reynand kecelakaan terus hilang ingatan
Tutik Yunia
ceritanya paling sama dgn Azka. setelah nikah datanglah bintang & Rey selingkuh dengan bintang cinta pertamanya. seperti Azka dgn ibunya shakila.
Yuniar
Ceritanya bagus untuk pendidikan orang tua dan anak-anak
Yuniar
Azka kan pawang cinta
Tutik Yunia
bagaimana keadaan Teddy dgn selingkuhannya. Semoga tidak harmonis
Tutik Yunia
ceritanya bener-bener seperti kehidupan nyata
Tutik Yunia
Tahu kalau cinta Nagita buat Azka, dia jadi besar kepala & mempermainkan Nagita.
Tutik Yunia
ini memang terbaik, cerai saja daripada makan hati. ceritanya bagus Thor sesuai kehidupan dalam rumah tangga. Nggak mungkin laki2 kaya hidup dgn satu wanita saja. Pasti banyak selingkuhannya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!