NovelToon NovelToon
Fisherman'S Book

Fisherman'S Book

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:93.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Skyligh

[Minggu,Selasa, Jumat libur].
Novel ini mengisahkan perjalanan seorang pemuda yang, di usia sepuluh tahun, mengalami tragedi pahit—didorong oleh ibu tirinya hingga terjatuh dari tebing ke laut. Dalam perjuangannya bertahan hidup, ia tanpa sengaja menemukan sebuah buku misterius yang tersembunyi di dasar laut. Saat kesadarannya mulai memudar, buku itu menyatu secara ajaib ke dalam pikirannya, menjadi awal dari takdir luar biasa yang akan mengubah hidupnya selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyligh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Ketiga: Kebijaksanaan Lautan

Sore itu, sekitar pukul lima, langit mulai beranjak jingga. Cahaya matahari menari di permukaan laut yang tenang. Di atas dermaga kecil yang terbuat dari balok dan papan kayu, Alvarez berdiri sambil memandang ke arah laut luas. Suaranya pecah memanggil—seperti panggilan yang menembus cakrawala, penuh harap dan cemas.

"Marshu... Marshu! Kau di mana? Teman-temanku sudah pulang... kamu bisa muncul sekarang!" teriaknya, serak oleh angin dan waktu.

Sejak siang, ia terus mencari Marshu—dolphin kecil kesayangannya yang telah menjadi sahabat jiwa. Berkali-kali ia memanggil, berharap suara itu menggugah samudera agar memunculkan makhluk yang sangat ia rindukan. Namun yang datang hanyalah keheningan dan desir ombak.

Tiba-tiba, di batas pandangannya, muncullah segerombolan ikan berenang mendekat. Alvarez menahan napas. Lalu ia melihat—Marshu. Bersama keluarga besarnya, sekelompok lumba-lumba yang berenang anggun seperti parade kebebasan.

"Akhirnya... dia datang juga," gumam Alvarez dengan senyum kecil yang meredakan keresahan hatinya.

Matanya membelalak saat melihat satu lumba-lumba lain, lebih besar, berenang di samping Marshu. "Itu... ibu Marshu..." bisiknya.

Tanpa ragu, Alvarez melepas bajunya dan melompat ke laut. Air menyambut tubuhnya dengan dingin yang lembut. Ia berenang cepat menghampiri mereka. Marshu berputar gembira, menyambut pelukan tuannya. Mereka bermain seperti biasa, bercanda, saling mengejar, dan mencari kerang yang nantinya akan disimpan Alvarez di tambak.

Namun tak ada yang tahu bahwa di balik kegembiraan itu, langit diam-diam merangkai awan untuk sebuah perpisahan.

Menjelang malam, Alvarez naik ke darat. "Marshu... aku masih punya umpan sisa kemarin, tunggulah di sini ya."

Ia berjalan ke gubuk dan kembali membawa segenggam umpan. "Ini, Marshu..." katanya lembut, menuangkannya ke mulut Marshu yang menanti di tepi dermaga.

Lumba-lumba lain tampak ikut mendekat, mengelilingi Marshu dengan mata yang penuh ingin. Alvarez tertawa kecil dan membagi umpan kepada semuanya. Suasana hangat, sejenak seperti keluarga.

Namun ketika Alvarez hendak kembali masuk ke gubuk, Marshu mengeluarkan suara... suara yang berbeda.

Alvarez berhenti. Jantungnya berdetak pelan, seolah tahu ada sesuatu yang tak biasa.

"Apa kau bilang...? Kau akan pergi?" tanyanya pelan.

Marshu mengangguk. Suaranya yang lirih namun penuh makna menembus ke dalam sanubari Alvarez, seolah berbicara dalam bahasa hati yang hanya mereka berdua pahami.

"Jadi... orang tuamu datang untuk menjemputmu... mengajakmu mengarungi lautan..." suara Alvarez bergetar. Matanya berkaca-kaca. "Kau sudah dewasa..."

Hening, sebelum akhirnya ia memeluk Marshu erat-erat. "Pergilah, Marshu... lautan luas menunggumu. Kalau kau tetap di sini, kau takkan pernah tahu betapa megahnya dunia di luar sana. Tapi... kalau suatu hari kau ingin pulang, pulanglah. Aku akan selalu menunggumu... selalu..."

Tangisnya pecah. Bukan hanya karena kehilangan, tapi karena cinta yang begitu dalam.

Induk Marshu berenang mendekat, menyentuh bahu Alvarez dengan moncongnya—sebuah isyarat perpisahan. Lalu satu per satu, kawanan lumba-lumba itu mulai berenang menjauh. Marshu sempat menoleh beberapa kali, memandangi pulau kecil itu, memandangi Alvarez—hingga akhirnya, ia pun lenyap di balik riak laut dan senja yang tenggelam.

Langit gelap. Bulan perlahan menggantikan matahari. Alvarez duduk sendiri di atas batang kayu. Wajahnya basah, bukan hanya oleh air laut... tapi oleh kesedihan yang tak mampu dibendung lagi.

"Bu..." suaranya nyaris tak terdengar. "Alvarez kangen Ibu..."

Ia menatap langit. Air mata menetes tanpa henti. "Kenapa orang-orang yang aku cintai selalu pergi? Ibu... apa Ibu bisa mendengar aku?"

Dalam benaknya, seolah ada suara lembut menjawab. "Nak, kamu masih punya Ayahmu..."

Alvarez menggertakkan gigi. Suaranya pecah, lirih dan penuh luka. "Ayah? Dia sudah bahagia dengan istri barunya. Dia tidak pernah mencariku... selama sepuluh tahun ini..."

Tangisnya semakin dalam. Ia tenggelam dalam kepedihan yang menyesakkan dada.

"Ibu... apakah aku harus menyusulmu...? Di sini aku sendirian..."

Dalam keheningan malam, suara dari dalam jiwanya membalas, suara yang terasa seperti suara ibunya.

"Anakku, kamu harus tetap kuat. Dunia ini keras, tapi kamu lebih kuat. Kau masih punya yang berharga dalam hidupmu."

Seakan dibangkitkan oleh kata-kata itu, Alvarez perlahan mengingat—paman Jao, paman Sam, Max dan Toni. Wajah-wajah yang tak pernah meninggalkannya.

"Ya, Ibu... aku masih punya mereka. Mereka mencintaiku... aku harus bertahan. Aku harus kuat."

Dengan tubuh lelah dan hati yang retak, Alvarez melangkah masuk ke gubuk. Ia berbaring, dan saat kelopak matanya menutup, ia merasa seolah seseorang memeluknya dari belakang. Pelukan hangat, seperti milik ibunya.

Malam berlanjut hingga larut. Di luar, debur ombak berubah menjadi alunan sunyi. Angin laut yang biasanya menusuk dingin kini seperti selimut hangat. Dan dalam tidurnya, Alvarez kembali bermimpi...

Dalam tidurnya yang tenang, di bawah pelukan malam dan nyanyian lembut ombak, Alvarez kembali bermimpi.

Ia berdiri di ujung sebuah dermaga tua yang rapuh, menghadap lautan yang tak bergelombang—tenang seperti cermin raksasa yang memantulkan langit malam penuh bintang. Udara begitu sunyi, bahkan detak jantungnya sendiri terdengar seperti denting waktu yang menggema di antara semesta.

Lalu, dari kejauhan, muncul sosok seorang kakek tua. Janggutnya panjang dan putih seperti kapas, mengenakan jubah lusuh yang tertiup angin—angin yang seolah datang dari dunia lain. Di tangannya tergenggam sebuah buku tua berkulit coklat yang tampak lapuk, namun memancarkan cahaya lembut seperti cahaya hati yang tak pernah padam.

"Nak..." ucap sang kakek dengan suara berat namun hangat, seperti ombak yang membelai pantai. "Seorang nelayan sejati bukan hanya penakluk laut... tetapi juga penakluk dirinya sendiri. Ia harus memiliki kebijaksanaan yang lahir dari luka dan cinta."

Alvarez terdiam. Kakinya terpaku di ujung dermaga, namun hatinya bergerak menuju suara itu.

"Siapa Anda...?" tanyanya lirih, suaranya seolah hanyut terbawa angin.

Sang kakek membuka bukunya. Dua bab telah tertulis, penuh jejak kehidupan yang telah dilalui. Di hadapan Alvarez, ia mulai menulis bab ketiga. Tinta tidak mengalir dari pena, melainkan dari ujung jarinya. Huruf-huruf melayang di udara sebelum jatuh ke halaman kosong, menciptakan kisah baru.

"Bab Ketiga: Kebijaksanaan Sang Lautan," gumamnya.

Tiba-tiba langit di atas mereka menyala. Bintang-bintang jatuh satu per satu, seperti hujan cahaya. Kilau itu tidak membakar, tapi menyatu dengan tubuh Alvarez—mengalir masuk ke dalam dirinya, menerangi setiap ruang kosong dalam hatinya.

Ia melihat kilas balik hidupnya: tangis ibunya yang memeluknya di tengah badai, bagaimana ia didorong ibu tirinya keluar dari rumah, senyum Max dan Toni saat mereka pertama kali bertemu, hadiah perahu kecil dari Paman Sam, dan kenakalan masa kecilnya saat mencuri ikan dari Paman Jao. Semuanya seperti kepingan mozaik yang perlahan membentuk gambaran utuh tentang siapa dirinya.

"Engkau telah memetik hasil dari lautan, kini waktunya engkau memetik makna dari hidup," ujar sang kakek sambil menutup bukunya. "Jangan hanya menjadi pencari rezeki, jadilah penjaga hikmah samudera. Sebab laut... tak hanya memberi makan. Ia mengajarkan diam. Ia menyimpan rahasia. Ia mencerminkan hati."

Air mata mengalir dari mata Alvarez dalam dunia mimpi itu. Tapi tak seperti sebelumnya, air mata itu bukan karena kehilangan... melainkan karena pengertian.

Ketika ia mengangkat wajahnya kembali, sang kakek telah tiada. Dermaga memudar. Laut menghilang. Ia melayang dalam kehampaan, hingga akhirnya...

Alvarez terbangun.

Napasnya memburu. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Gubuknya masih gelap, tapi dari celah-celah dinding, cahaya fajar mulai mengintip.

Di luar, suara ombak kembali terdengar. Namun kali ini, bukan hanya debur air yang menyapa... melainkan bisikan baru, seperti pesan yang hanya bisa dipahami oleh hati yang pernah disentuh oleh kehilangan, harapan, dan cinta.

Note:"Kalau kamu suka ceritanya, jangan lupa tekan like ya! Komentar kalian juga sangat berarti buat saya—ceritakan bagian favoritmu atau tebak apa yang akan terjadi selanjutnya!"

1
sakura
...
Ita Xiaomi
Alhamdulillah ceritanya dilanjutkan. Semangat berkarya Kk. Berkah&Sukses selalu. 👍👍👍
Urang sunda
luar biasa
Hary
perempuan usia 40tahun lagi enak2nya jangan coba2 bangun gairah birahinya, pasti sangat luar biasa, legit menggigit
Laizajiloh
Hai.. kapan d lanjut ceritanya kak..
Dhewa Shaied
apakah hiatus?
Kinashi Minata
he opo iki?
Kinashi Minata
🤣
Kinashi Minata
🤭
Kinashi Minata
🤭 endi
Kinashi Minata
🤭 opo iki?
Swikong
Mantul👍
Swikong
Lanjutkan........
Swikong
Ayo semuanya semangat💪💪
Swikong
👍👍👍
Swikong
👍
Swikong
Alvarez 👍👍
Swikong
Bos Alvarez👍
Swikong
Ho oh
Swikong
Mengharukan/Cry/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!