Kunjungi ig Author Meylani_ Lindak untuk melihat karya author lainya.Di jodohkan dengan gadis bercadar yang dia sendiri tahu tak tahu wajah dari gadis itu. Selain itu Reyfan Sanjaya juga merasa di beri barang bekas oleh ayahnya karena menikahi wanita yang sudah dua kali menjanda.
Siksaan batin terus di terima oleh Anisa, atas perlakuan Reyfan yang tak pernah menghargainya.
Anisa mencoba bertahan atas permintaan pak Wisman ayah mertuanya yang memintanya untuk merubah tabiat Reyfan.
Beberapa bulan mencoba bertahan atas rasa sakit yang di berikan oleh Reyfan, Anisa pun menyerah. Sebuah kejadian membuat Nisa tersadar betapa tidak berarti dia di hadapan Reyfan.
Saat Anisa mulai bisa mengobati rasa sakit pada hatinya, Reyfan baru tersadar, Anisa adalah bidadari surga yang sudah dia sia-siakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meylani Putri Putti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Bersalah
Keesokan Harinya
Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi.
Reyfan membuka matanya dan ternyata sudah memasuki waktu shalat subuh.
"Kenapa Nisa tak membangunkan ku?" Reyfan bergumam seraya bangkit dari tempat tidurnya.
Biasanya setiap subuh, Nisa selalu mengetuk pintu dan membangunkannya untuk sholat subuh. Namun hari ini ternyata sepi.
"Nisa, kanapa dia tak bangunkan ku, apa dia masih marah padaku?"
Reyfan menuju kamar mandi untuk berwudhu setelah itu dia keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar.
"Tok tok Nisa! Nisa!"
"Sebentar!" terdengar sahutan dari luar pintu.
Beberapa saat kemudian Nisa membukakan pintu masih dengan pakaian syar'i dan cadar yang menutupi wajahnya
"Nisa kamu gak bangunin aku sholat subuh?"
"Ngak, nyatanya sekarang sudah bisa bangun sendirian kan?" jawab Nisa sedikit ketus.
"Iya, kamu gak sholat subuh?"
"Gak, saya lagi PMS. Mulai sekarang biasakan sholat subuh di masjid, karena seorang laki diwajibkan untuk sholat fardhu di masjid."
Reyfan menatap mata Nisa yang tampak sendu dan sembab mungkin wanita itu habis menangis.
Beberapa saat bergeming, karena Reyfan tak tahu harus bicara apa lagi.
'Saya tutup dulu pintu kamarnya."
Setelah pintu tertutup barulah Reyfan tersadar.
Reyfan turun dari lantai atas menuju mobil, mumpung belum masuk sholat subuh.
Meski berujar memaafkan Reyfan, nyatanya masih ada luka yang membekas di hati Annisa.
Sudah berkali-kali Nisa coba untuk melupakan ucapan Reyfan, namun kata-kata hinaan tersebut terus saja terngiang-ngiang di telinganya, membuat Anisa semakin insecure.
***
Reyfan turun untuk sarapan. Seperti biasanya, dia hanya sarapan seorang diri. Tapi tak biasanya Reyfan merasa kesepian ketika harus sarapan sendiri di pagi hari.
Biasanya Anisa akan menyiapkan sarapan untuknya, meskipun mereka tak pernah sarapan atau makan bersama.
Reyfan memoles roti, dia mulai merasakan ada perbedaan sikap Anisa terhadapnya.
Setelah sarapan, Reyfan ke kantor. Hari-hari berlalu seperti biasanya, seperti sebelum Anisa hadir di rumah itu.
Sepanjang perjalanan menuju kantor, Reyfan masih merasa bersalah terhadap Anisa, dia pernah mengatakan hal yang lebih menghina Anisa, tapi sebelumnya Anisa tak marah, bahkan Nisa bersedia menuntunnya untuk kembali ke jalan yang baik. Nisa juga bersedia membantunya mencarikan jodoh seorang wanita yang sholehah dan cantik. Namun setelah melihat wanita yang dinikahinya tanpa cinta tersebut menangis, Reyfan justru tak tenang. Apalagi dia merasa jika Anisa kini mulai menghindarinya.
Tiba di kantor, Reyfan berusaha menyibukkan dirinya agar tak terlalu memikirkan perubahan yang terjadi pada Anisa.
Tok tok pintu digedor dari arah luar.
"Masuk saja!"
"Selamat pagi pak Rey!"sapa salah seorang lelaki.
"Eh loh bro . Ada apa nih pagi-pagi nyamperin gue?" tanya Reyfan tanpa menoleh ke arah Arya yang baru tiba.
Reino duduk di hadapan Reyfan, meski tak dipersilahkan untuk duduk.
"Rey, gua butuh bantuan loh."
"Bantuan apa?"
"Gue ketahuan selingkuh, Bro."
Reyfan mendelik ke arah Reino.
"Loh masih selingkuh bro, punya istri cantik, seksi dan femes?" tanya Reyfan. Istri Reino adalah seorang selebriti yang cukup terkenal.
"Yah gitu deh, habisnya gue sering di tinggal kerja sama bini gue. Sibukkan dia, daripada gue."
"Loh yang selingkuh kenapa bawa-bawa gue."
"Loh kan gak ada bini bro. Gua ketahuan, bill belanjaan selingkuhan gue kedapatan istri gue, tapi gue masih ngeles, gue bilang kalau itu loh yang belanja, gak sengaja terbawa ke gue."
"Kata siapa gue gak punya bini? Gue kan sudah nikah."
"Iya tapi loh kan mau cerain bini loh."
" Kata siapa?"
"Ayolah Rey, tolongin gue dong. Bisa di gugat cerai gue kalau bini gue tahu gue selingkuh, beritanya pasti bakalan viral banget."
"Gak lah,gue juga harus jaga perasaan istri gue dong."
"Yah Rey, istri loh gak bakalan tahu lah. Kali ini saja loh bantuin gue ya. Lo bilang kalau loh dan Danisha itu pacaran, loh takut ketahuan bini loh, makanya loh pinjam kartu kredit gua."
'Ah loh gila ya Rein, nanti gue yang justru kena masalah."
"Please dong Rey, kali ini saja ya, gue janji sekalian ini saja loh bantuin gue."
Kring…telepon Reino berbunyi.
Reino merogoh saku celananya.
"Dari bini gue Bro. Please ya Bro, lu bantuin gue."
"Halo Sayang," sapa Reino .
"Halo Reino kamu dimana?"
'Aku lagi di kantornya Reyfan, minta tanggung jawab dari Reyfan, karena dia pinjam kartu kredit gua, kita jadi bertengkar."
Reyfan membelalakkan bola matanya.
"Mana Reyfan nya, aku mau ngomong!"
Reino langsung memberikan handphone tersebut kepada Reyfan.
"Please tolongin gua," ucap Reino sambil memohon.
Mau tak mau Reyfan menyetujuinya. Reyfan meraih handphone yang di sodorkan oleh Reino..
"Halo,"sapa wanita di seberang telepon.
"Iya Karina."
"Fan, loh benar pinjam kartu kredit punya Reino untuk belanjain pacar kamu?" tanya Karina.
"Iya, biar gak ketahuan bini gue. Udah dulu ya," ucap Reyfan sambil menutup teleponnya. Reyfan sengaja tak mau banyak bicara, masalah istri Reino percaya tak percaya masa bodo' yang penting dia sudah membatu Reino.
"Dah beres. Nih sekarang loh pulang gih, gue banyak kerjaan." Reyfan menyodokan handphone milik Reino.
"Thanks ya bro, nanti kalau gue ketahuan lagi, gue minta bantu loh lagi ya Rey."
"Hah, jadi loh masih mau lanjut sama selingkuhan loh itu?"
"Masih dong, mubazir kalau di buang. Gue cabut dulu ya."
Reyfan menoleh ke arah Reino yang perlahan menjauh darinya.
"Katanya dulu Karin wanita yang paling sempurna baginya, masih saja selingkuhi," gumam Reyfan.
"Manusia memang tak ada puasnya, karena tak ada yang sempurna di dunia ini." Reyfan bermonolog.
Tiba-tiba dia tersadar dengan kata-katanya sendiri.
"Iya manusia memang tak ada yang sempurna, karena itulah rasanya sulit mencari pendamping hidup yang benar-benar sesuai dengan yang kita inginkan," gumamnya lagi.
Reyfan jadi teringat kembali dengan Anisa, istri yang selama ini ia tuntut kesempurnaannya.
***
Nisa menyendiri di dalam kamarnya. Sejak kejadian itu Anisa lebih senang berada di dalam kamar sendiri.
Hanya sesekali dia keluar dan itupun hanya untuk makan saja.
Nisa menunggu jatuhnya talak yang dijanjikan oleh Reyfan padanya dan itu masih beberapa hari lagi.
Satu sisi Anisa ingin segera mengakhiri hubungan ini secepatnya. Namun disisi lainnya dia takut membuat orang tuanya bersedih, padahal kedua orang tuanya tentu berharap, jika ini adalah pernikahan terakhirnya.
"Ya Allah, bagaimana cara memberi tahu ayah dan ibu hamba, mereka pasti sedih dengan kabar perpisahan ini. Hamba juga pasti akan dicap sebagai wanita doyan kawin cerai di lingkungan masyarakat disana, Astaghfirullah.'
Nisa kembali meneteskan air matanya seraya berdoa.
"Tapi mau bagaimana lagi ya Allah. Rasanya sakit bagi hamba untuk bertahan,selain suami hamba yang memang tidak menginginkan hamba, dia juga suka mengungkit status hamba sebagai seorang janda, padahal ketika ijab kabul diucapkan, status janda hamba sudah gugur, tapi kenapa dia selalu mengungkitnya."
Annisa terus berkeluh kesah kepada Rabb nya, apa saja dibicarakan, karena menurutnya Allah adalah sebaik-baik tempat mengadu. Setelah puas berkeluh kesah, Annisa sedikit tenang, dia pun berdoa dengan hati yang khusyuk dan lapang.
"Ya Allah hamba yakin takdir mu akan selalu lebih baik daripada apa yang hamba inginkan dan harapan. Hamba serahkan kepadamu semua jalan hidup ini biarlah semua mengalir seperti air yang mengalir."
***
Sore harinya Reyfan pulang dari kerja dan langsung menuju rumahnya. Matanya menatap ke arah kamar Anisa.
Biasanya setiap dia datang, Anisa akan selalu bertanya padanya.
Apa sudah sholat Ashar? Apa sudah sholat Dzuhur, tapi kini tak ada lagi pertanyaan itu. Anisa masih mengunci dirinya di kamar.
Beberapa hari berlalu dan Reyfan masih belum pernah bertemu dan mendengar suara Anisa sekalipun.
Bahkan tak ada lagi suara gedoran pintu di subuh hari untuk membangunkannya . Nisa seperti lenyap di telan bumi.
***
Pagi ini Reyfan membuka pintu kamarnya dia sudah tak tahan, rasanya dia ingin sekali bertemu dan bicara dengan Anisa meski sepatah dua patah kata.
"Apa dia masih marah karena perkataan yang kemarin ya? Bagaimana cara aku minta maaf agar Anisa tak lagi menghindari ku?
Reyfan menghampiri pintu kamar Anisa, hendak menggedornya. Namun dia mendengar suara air mengalir di kamar mandi.
"Ehm nanti sore sajalah aku temui dia. Sepertinya merayu seorang wanita butuh kejutan khusus," gumam Reyfan sambil tersenyum.
Reyfan terpaksa menunda pertemuan dengan Annisa lagi.
kalo² Anisa hilang di marah'n pa wisman.