Moona dan Shiren merupakan kakak adik yang saling menjaga dan menyayangi.
Namun entah mengapa Shiren dengan teganya menjebak adiknya yang bernama Moona melakukan hubungan one night stand dengan calon suaminya sendiri di hari menjelang pernikahan antara Shiren dan Ryan tersebut.
Hingga pernikahan pun berganti mempelai yakni Moona lah yang menggantikan sang kakak untuk bersanding di pelaminan bersama dengan Ryan.
Bagaimana kisah ketiga nya selanjutnya?
Yukk ikuti terus setiap episodenya.
Jangan lupa untuk like, komen dan subscribenya yaa🤗
Terimakasih ❤
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devi chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jebakan
"Aku berangkat kerja dulu sayang. Makanan sudah tersedia di meja makan tinggal di hangat kan saja. Ingat ya cctv ada di setiap sudut ruangan, termasuk di kamar tidur kita. Aku pun masih menyimpan video-video kita dari awal hingga yang masih hangat semalam. Jadi jangan coba-coba untuk lari dari ku lagi. Jaga apartemen kita ini dengan baik-baik ya sayang," ucap Angga dengan memberikan nada pengancaman kepada Shiren.
Angga yang telah meminta dan memaksa Shiren untuk mengambil cuti dari kantor nya selama 1 minggu tersebut dengan maksut untuk memuluskan rencana Angga untuk menghancurkan perasaan dan merebut posisinya Ryan dari segi percintaan maupun pewaris perusahaan.
Shiren pun hanya diam tanpa memandang wajah Angga. Dengan cepat Angga pun keluar dan segera mengganti pin apartemen nya tersebut dengan menggunakan sidik jari nya.
Setelah kepergian Angga, kemudian Shiren pun segera berlari menuju ke pintu keluar apartemen itu dengan segera menekan tombol sandi pin yang biasa digunakan oleh Angga.
Namun sayang nya Shiren tekan berkali-kali pun pintu apartemen tersebut nampak sama sekali tidak terbuka.
"Angga brengsek!" pekik Shiren sambil setengah menangis meratapi kepiluan di hatinya tersebut.
Tak kehilangan akal Shiren pun segera mencari letak telepon wireless yang tersedia di dalam apartemen tersebut. Dengan segera Shiren pun memencet nomor telepon milik Ryan.
Namun keberuntungan belum juga berada di pihaknya lagi. Telepon tersebut nampaknya telah terputus sambungan nya dan tidak bisa di gunakan sama sekali.
"Arrghh! Kenapa jadi seperti ini ... mama, papa, Moona ... maafkan Shiren," tutur Shiren dengan lirih dengan terus menangis sesenggukan.
Sedangkan Angga yang telah sampai di kantor pun nampak melihat Shiren dari rekaman cctv dari ponsel pintar nya tersebut dan masih melihat Shiren yang nampak menangis tersedu-sedu hingga saat ini.
Hufh ...
Terdengar tarikan nafas panjang dari mulut Angga. Sebenarnya Angga pun tidak tega untuk mengurung dan memberlakukan Shiren seperti itu.
Hanya saja Angga takut jika Shiren benar-benar pergi dari kehidupan nya dan tidak takut lagi dengan ancaman yang selalu ia lakukan itu.
Satu-satunya cara adalah mengurung Shiren hingga pesta di Perusahaan nya tersebut berlangsung dan melancarkan aksi rencana yang telah di milikinya tersebut hingga Ryan jatuh dalam perangkap nya dan Shiren pun akan bisa ia miliki dengan seutuhnya.
Selama beberapa hari Shiren dikurung di dalam apartemen dan selama itu pula Shiren sama sekali tidak mau membuka mulut sama sekali walaupun hanya untuk sekedar berbicara ataupun untuk makan sesuap nasi.
Hingga tubuhnya pun nampak lebih kurus dengan wajah nya yang tampak lebih pucat serta bibirnya yang pecah-pecah dan nampak kering membuat hati Angga sangat sedih melihat pujaan hatinya tersebut bersikap seperti itu dengan menyiksa dirinya sendiri.
"Ayo sarapan lebih dulu sayang, kamu jangan seperti ini. Kamu membuatku tidak nyaman jika kamu terus menerus menutup mulutmu!" ucap Angga dengan setengah emosi melihat Shiren yang seperti itu.
Shiren pun hanya berbaring di atas kasurnya tersebut dengan berlinang air mata tanpa henti yang membuat Angga semakin bingung bagaimana caranya membujuk Shiren agar mau untuk makan dan sekedar berbicara dengan nya.
Setiap malam ketika Angga menginginkan Shiren untuk memuaskan has rat nya tersebut bahkan Shiren pun hanya nampak diam dengan terlentang dengan sesekali air mata menetes di sudut mata nya.
"Baiklah, malam ini jika kamu berhasil membuat Moona dan Ryan menenggak minuman yang telah aku berikan maka aku akan membebaskan mu dari apartemen ini. Namun jika kamu tidak mau memberikan minuman tersebut kepada kedua orang tersayang kamu tersebut maka dirimulah yang akan aku permalukan dengan mempertontonkan video kamu itu!" ucap Angga dengan membanting sendok dan meletakkan piring makanan untuk Shiren tersebut di meja kamar Shiren.
Angga pun nampak pergi meninggalkan Shiren yang masih nampak menangis. Di dalam hatinya selalu yang dia ucapkan adalah meminta maaf kepada semua keluarga nya yang pastinya akan sangat kecewa dengan Shiren tersebut.
Tak berapa lama Angga pun nampak kembali memasuki kamar Shiren dengan membawa gaun pesta dan seluruh perlengkapan nya.
"Nanti siang akan ada orang yang datang untuk memandikan dan merias wajahmu. Ingatlah untuk menurut dengan apa yang aku minta. Jika rencana kali ini gagal maka bukan hanya kamu yang akan menanggung malu! Namun akan aku buat perusahaan papa kamu tersebut pailit dan bangkrut!" ucap Angga dengan mencengkeram dagu Shiren.
Air mata Shiren pun turun menjadi semakin deras karena kesalahannya dalam tersebut yang membawa keluarga nya menuju kehancuran.
Shiren pun nampak mengangguk ketakutan jika mengingat bukan hanya dirinya yang di ancam melain kan perusahaan orang tua nya ikut terkena dampak dari peran yang sedang di mainkan oleh Angga.
"Bagus jika kamu mengerti. Segera habiskan makanan kamu atau aku buat perusahaan keluarga mu pailit lebih cepat dari yang kamu duga jika kamu terus menerus membangkang!" gertak Angga yang kemudian dengan cepat Shiren pun menghabiskan makanan nya tersebut.
Angga pun nampak bernafas dengan lega melihat Shiren yang telah menghabiskan makanan nya tersebut hingga tak tersisa.
"Hufh, masak harus aku ancam terus setiap hari agar mau memakan makanan yang aku beri," gumam Angga dengan pelan sembari keluar dari kamar Shiren dengan langkah perlahan.
Malam pun tiba, nampak Shiren yang telah cantik dengan balutan gaun yang ia kenakan. Sedangkan Angga yang melihat kecantikan Shiren yang terlihat itu semakin membuatnya terpana dan menjadi tersenyum sangat senang.
Dengan cepat Angga pun mengecup bibir Shiren dengan sekilas dan memeluk Shiren dengan sangat posesif untuk segera berangkat ke acara pesta perusahaan tersebut yang di adakan di sebuah hotel mewah di ibukota.
Mobil pun melaju membelah jalanan ibukota dengan sangat cepat. Keduanya pun nampak telah sampai di depan lobby hotel tersebut yang nampak sangat ramai.
"Ingat untuk melancarkan aksi mu itu jangan sampai rencanaku berantakan karenamu," ucap Angga dengan nada dengan memberikan penekanan.
Shiren pun hanya nampak menganggukkan kepalanya. Hingga keduanya memasuki hotel dengan beriringan dan segera duduk melingkar di meja yang sama dengan Ryan dan Moona.
"Kakk, Moona kangen. Kakak kenapa sih cutinya lama sekali. Kakak pergi kemana sampai aku telepon tidak ada jawaban," ucap Moona dengan segera bergelayut manja di lengan kakaknya.
Mendengar penuturan adiknya tersebut membuat hatinya terasa sangat sedih sekali mengingat dirinya yang sangat hina dengan tega menumbalkan adiknya sendiri atas kesalahannya.
"Iya, maafkan kakak ya Moona. Ayo makan lah yang banyak. Jangan hiraukan kakak lagi," ucap Shiren dengan menyodorkan cupcake kesukaan adiknya tersebut.
Sedangkan Ryan pun nampak melihat Shiren dengan seksama.
"Kenapa kamu menjadi lebih kurusan sih sayang? Gaun pernikahan kita sudah aku pilihkan sesuai dengan ukuran kamu. Namun jika kamu menjadi agak kurusan begini apa nanti gaun nya enggak sedikit menjadi lebih longgar ya?" tutu Ryan kepada Shiren.
Angga yang mendengar Ryan yang nampak sangat perhatian dan sangat menyayangi Shiren pun nampak mengepalkan tangannya.
"Lebih longgar sedikit tidak menjadi masalah sayang," jawab Shiren dengan tersenyum hangat ke arah Ryan.
Ryan pun nampak menggenggam tangan Shiren dengan penuh kelembutan. Acara pun segera di mulai. Nampak para tamu perusahaan pun berdatangan dari berbagai kalangan.
Setelah Ryan selesai memberikan sambutan pun dirinya kembali duduk berdampingan dengan Shiren. Hingga malam pun semakin larut.
Angga pun memberikan kedipan pertanda bahwa dirinya harus segera memberikan minuman beralkohol ringan yang telah dicampur dengan obat laknat.
"Mari kita bersulang untuk perusahan kalian," ucap Shiren mengambil gelas yang belum tercampur oleh apa pun.
Sedangkan Ryan, Moona dan Angga pun mengikuti apa yang telah Shiren lakukan dengan meminum minuman yang telah tersedia.
"Sayang, dan Moona. Ayo antarkan aku mengambil sesuatu milik ku yang nampak tertinggal di dalam kamar hotel yang aku tempati semalam," ucap Shiren menggandeng tangan Ryan dan Moona menuju ke sebuah kamar hotel yang telah Angga persiapkan.
Hingga ketiga nya pun sampai di dalam kamar hotel tersebut. Kalian tunggu dulu disini sebentar.
"Sepertinya tas kakak ketinggalan di meja tadi. Takutnya hilang dan di curi orang jika kakak tidak segera kembali," ucap Shiren dengan cepat sembari menutup pintu tersebut dan menguncinya dari depan.
Sedangkan Moona dan Ryan yang tidak menaruh curiga apa pun tetap berada di dalam kamar tersebut dengan tubuh mereka yang nampak telah nampak kelimpungan.
Kesadaran nya pun mulai melemah karena kedua nya nampak setengah mabuk. Moona dan Ryan pun saling berpandangan menahan gejolak yang sama-sama ia rasakan tersebut.
Didalam bayangan Ryan pun nampak wajah Moona tersebut berubah menjadi wajah Shiren yang nampak tersenyum seolah-olah seperti menggoda dirinya.
Padahal yang terjadi sebenarnya Ryan yang tengah berhalusinasi mengira yang ada di depan nya tersebut adalah wajah milik Shiren.
Dengan cepat Ryan pun meraut dan memagut bibir indah milik Moona yang memang memiliki wajah dan bentuk muka yang hampir mirip.
"Kak, apa yang kakak lakukan??" tanya Moona dengan beringsut ketakutan melihat Ryan yang tengah melucuti baju nya tersebut.
Moona sendiri pun nampak mempertahankan kesadaran nya agar tidak terpancing oleh bentuk tubuh Ryan yang membuatnya pun menjadi belingsatan dengan gelisah.
Dengan cepat kedua nya pun saling menyambar bibir dan me lu mat dengan penuh ga i rah. Keduanya yang tengah di kuasai oleh obat laknat tersebut pun menjadi tidak mengingat dengan siapa dan dimana keduanya tersebut.
Ryan pun dengan sangat cepat berusaha melucuti tubuh Moona yang ia kira tubuh tersebut adalah milik Shiren.
"Shiren ... aku sangat mencintaimu," ucap Ryan dengan wajah terengah-engah.
Dengan segera Ryan pun melakukan percintaan panas dengan tubuh Moona yang ia anggap sebagai Shiren tersebut. Hingga di saat miliknya nampak mengeluarkan cairan hangat di dalam milik Moona tersebut, nampak suara gedoran pintu hotel tersebut dengan sangat nyata.
Tak berapa lama, petugas hotel dan kedua orang tua masing-masing serta Shiren pun berhasil membuka pintu kamar tersebut.
Alangkah terkejutnya nya semua orang yang melihat hal yang memalukan tersebut antara Moona dan Ryan.
Ryan pun nampak di tarik paksa oleh papa nya dan diberikan pukulan yang bertubi-tubi. Sedangkan mama Moona pun segera menutupi tubuh Moona yang telah ternoda tersebut menggunakan selimut.
Kesadaran Ryan pun nampak samar telah kembali. Dengan wajah terkejut ia pun nampak bingung dengan apa yang telah ia lakukan dengan calon adik iparnya tersebut.
Ryan pun nampak mencari keberadaan Shiren. Nampak Shiren yang tengah menangis tergugu dan kemudian meninggalkan kamar hotel tersebut.
"Shiren! tunggu Aku!" teriak Ryan yang masih dengan tubuh te lan jang berusaha mengejar Shiren.