Memiliki ibu yang selalu sinis terhadap hidup membuat masa kecil Kikan tidak bahagia. Banyak orang memandang hina dirinya. Namun ketika Rey Stinson yang populer dan tampan menjadi pacarnya, Kikan akhirnya punya sesuatu untuk dibanggakan.
Ia pun berusaha keras agar tidak kehilangan Rey, apalagi begitu sadar dirinya hamil. Ketika Rey mencampakkannya, Kikan bersifat agresif. Meski begitu, bukan ia yang menabrak pacar baru Rey. Sayang Kikan tidak bisa membuktikannya.
Belasan tahun mendekam di penjara, Kikan akhir ya dibebaskan. Ia pun kembali ke Kota kecilnya untuk mengenal lebih dekat anaknya yang dibesarkan Rey.
Sebenarnya Rey tidak memercayai Kikan, tapi tekad dan ketegaran hati Kikan perlahan meruntuhkan tembok Rey.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sartikai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Siapapun itu, yang telah membawakan kikan barang-barang ini. telah menghabiskan begitu banyak uang untuk membeli ini semua.
Jelas orang itu bukan Logan.
Kalau begitu, Apakah ini hadiah? semuanya dalam ukuran Kikan, atau mendekati ukurannya. semua ini dijatuhkan di depan pintu rumahnya berarti jelas memang diperuntukkan untuk dirinya. namun Kikan takut mempercayai Apa yang dia lihat. Ia tidak ingat kapan terakhir kali seseorang memberinya sesuatu.
" lihat barang-barang ini" gumamnya seraya mulai memeriksa satu persatu dengan cermat. Ini lebih baik daripada hadiah manapun yang pernah ia terima.
Kikan mengangkat sebuah celana, dan menarik keluar sepotong gaun tipis, dengan hati-hati. ukurannya gaun ini pas, dan sungguh gaun yang cantik...
******
Rey memutuskan untuk menunggu sampai Kikan sudah di dalam, lalu menyelinap keluar halaman. dia memandang Kikan, yang begitu mudah curiga, begitu siap melawan penyerang yang tak dikenal, dan menangis ketika akhirnya menyadari tidak ada yang perlu ditakutkan.
momen itu membuat dada Rey sesak sampai-sampai ia hampir tak bisa bernafas, Ia dapat membayangkan seperti apa rasanya berada dalam posisi Kikan, yang nyaris tak punya apa-apa namun merasa seakan harus menghadapi seluruh dunia.
~Tak seorangpun di kota ini yang menyukaimu.~
Tetapi Kikan tetap saja kembali.
Rey mengepalkan tangan dan bersandar pada dinding trailer yang sudah berkarat, yang membantu menyembunyikan badannya. Ia melawan emosi yang bergolak di dadanya. Brengsek! Ia sudah tahu semestinya tak melibatkan diri dalam masalah ini.
Tetapi rasa empati yang membuat dadanya sakit itulah yang menimbulkan kemarahan. sekaligus tak pernah merasa sebahagia ini memberikan hadiah kepada seseorang.
setelah pintu trailer menutup dan menunggu cukup lama, akhirnya Rey keluar dari tempat persembunyiannya menuju jalan raya, sebelum melangkah jauh, Rey melihat sepeda rongsok yang disandarkan di trailer. Kikan pasti merencanakan sesuatu dengan sepeda itu dia mungkin berniat memperbaiki sepeda itu agar memiliki sarana transportasi.
Rey memutuskan membawa sepeda itu untuk diperbaiki dengan cepat karena ia mempunyai seorang kenalan yang bisa melakukannya.
Salah satu anjing menyalak lagi, membuat Rey sedikit cemas tapi ia tak mampu menahan diri. disambarnya sepeda itu sebelum pergi, kemudian ditentengnya sampai bertemu Devan di jalan.
" apa-apaan itu?" tanya Devan.
"Kelihatannya apa?" sahutnya.
"Itukah yang kau lakukan tadi? mencoba mencuri sepedanya? Kupikir dia memergokimu."
"Bukan sepeda ini yang menahanku"
"lalu apa?"
Rey tidak menjawab malah berjalan mendahului Devan.
Begitu mereka sampai dimobil, Rey berkata "dia menyukai semuanya"
"Benarkah?" Devan tampak senang. Bagaimana kau tahu?"
Dengan tersenyum lebar ke arah Devan, Rey menjawab "Percayalah padaku aku tahu"
"Dia terlalu berhati-hati agar tidak menunjukkan emosi. Tapi kau bisa tahu, hah?"
Kikan tidak berhati-hati ketika Rey melihatnya, karena dia mengira dirinya sendirian. Seluruh dinding yang menutupi dirinya. runtuh.
Dan Rey akan menyimpan sendiri memori itu untuknya.
" Kuharap aku bisa melihatnya memakai sesuatu yang kita belikan" kata Devan.
"Pasti luar biasa," Rey mengaku selagi mulai menyalakan pikap. "Terima kasih sudah mengajakku"
Devan tampak terkejut "sungguh? Aku tahu sulit bagimu melihatnya pulang"
Rey memang memiliki kesulitan sendiri, tapi tak satupun kesulitan yang dialaminya mendekati apa yang dialami Kikan. Dan barangkali mungkin itu bukan kesalahannya.
" Sungguh." Jawab Rey.
Kini Rey merasa seperti pecundang, karena tidak pernah menunjukkan sikap yang lebih pengertian. Orang tua Rey, yang sangat banyak membantu ketika Jason masih kecil, telah meyakinkannya bahwa membiarkan Kikan melakukan kontak apapun dengan anaknya merupakan kesalahan besar. Begitu banyak orang disekitar Rey yang bersatu dalam mengungkapkan pendapat yang sama.
ininakan membebaskan trauma kamu
kan kuat banget elu
tidak ada waktu untuk bersedih
semua harus dikuat kuatin yaass