Setelah bertahun-tahun memendam perasaan tanpa kepastian, Kiara akhirnya memilih mundur dan membuka hati hingga menerima lamaran Dimas, pria dewasa yang memberinya komitmen nyata. Namun, tepat sebulan sebelum akad nikah, sebuah rahasia masa lalu terbongkar...
Rahasia apakah itu???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Madelyn_Sa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 : Tangisan Pertama, Senyum Bersama
Jarum menunjukan pukul 01.15 dini Hari. Suara hujan deras mengguyur atap seng Studio Musik Harmony dengan suara gemuruh yang tiada henti. Angin malam berembus kencang, menebarkan aroma tanah basah dan hawa dingin yang menusuk tulang.
Di dalam studio, geng band sedang sibuk menata inventaris alat sound system baru—hasil kerja keras dan keuntungan dari tiga acara besar terakhir yang mereka tangani.
Arga duduk di sudut ruangan di balik meja kayu tua. Kacamata tipis bertengger di hidungnya, sementara tangannya sibuk mencatat nomor seri speaker dan mic nirkabel di buku catatan tebalnya. Sesekali ia mengusap matanya yang lelah, membayangkan kehangatan selimut di rumah bersama Menik dan Nabila.
Tiba-tiba, ponsel Arga yang tergeletak di atas meja berdering nyaring. Suara deringnya bukan nada standar, melainkan nada khusus: rekaman ringtone lagu nina bobo yang biasa dinyanyikan Nabila.
Jantung Arga melompat seketika. Firasat seorang suami dan ayah langsung bergejolak. Tanpa membuang waktu, ia menyambar ponselnya.
"Halo, Dek?! Kenapa?!" suara Arga panik memotong keheningan studio.
"M-Mas Arga..." suara Menik di ujung telepon terdengar sangat pelan, terputus-putus menahan napas yang berat, diiringi dentum petir menyambar di luar.
"Perut Menik mules banget... sakit banget, Mas. K-ketubannya... ketubannya pecah!"
"APA?!"
Arga langsung berdiri begitu cepat sampai-sampai kursi kayu di belakangnya terlempar dan jatuh menghantam lantai. Wajah Arga yang tadinya segar mendadak pucat pasi bagaikan kertas putih. Tangannya gemetaran hebat.
"Ada apa, Ga?!" tanya Daffa kaget, menghentikan aktivitasnya menata kabel gitar.
"Menik mau melahirkan! Ketubannya pecah di rumah!" teriak Arga panik setengah mati. Dalam kepanikannya yang memuncak, tangan Arga yang gemetar gagal memegang kunci mobil pickup inventaris EO. Kunci itu terjatuh dan berdentang di lantai.
"SINI KUNCI MOBILNYA!" Bagas dengan sigap menyambar kunci itu dari lantai sebelum Arga sempat membungkuk.
"Daf, lu sama Dave ikut! Galang, Bintang, kalian jaga studio dan pegang ponsel! AYO GASS!"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, mereka berempat menghambur keluar menuju mobil pickup tua bernuansa biru milik Harmony EO. Dalam hitungan detik, mesin mobil meraung membelah lebatnya hujan malam Kelurahan Damai. Di dalam kabin yang sempit, Arga tak berhenti berdoa. Tangannya bertaut kaku, sementara dadanya bergemuruh hebat melampaui gemuruh petir di luar sana.
Sampai di depan rumah, Arga tidak memedulikan air hujan yang mengguyur tubuhnya. Ia berlari mendobrak pintu depan yang tidak terkunci.
Di dalam ruang tamu, Menik sudah terduduk lemah di atas sofa sambil memegangi perutnya yang kram hebat. Di sampingnya, Nabila yang terbangun dari tidur menangis ketakutan melihat ibunya kesakitan.
"Mas Arga... sakit banget, Mas..." bisik Menik dengan pelipis yang dibasahi keringat dingin.
"Iya, Dek! Mas di sini! Kamu tenang ya!" Arga menyapu air matanya, lalu dengan cekatan menggendong Menik ke dalam pelukannya.
Bagas sudah membukakan pintu belakang mobil pickup yang sebelumnya sudah dilapisi kasur busa tebal milik studio agar Menik bisa berbaring nyaman.
Daffa dengan sigap menggendong Nabila yang masih menangis, membungkus tubuh mungil anak itu dengan selimut tebal.
"Tenang ya, Dek... Tahan sebentar, Bismillah..." bisik Arga sambil memangku kepala Menik di jok belakang pickup. Tangannya tak berhenti mengusap dahi istrinya yang basah.
Perjalanan menuju Rumah Sakit Bersalin Medika malam itu menjadi momen paling menegangkan sekaligus konyol dalam sejarah geng band Harmony.
Bagas yang memegang kemudi membunyikan klakson tanpa henti bagaikan sirine ambulans dadakan.
"AWAS! DARURAT! ISTRINYA BOS MAU BROJOL!" teriak Bagas dari kaca jendela sambil terus membelah genangan air di jalanan yang sepi.
Sementara itu, Dave bertindak sebagai 'navigator' yang sibuk memandu jalan lewat kaca depan sambil berteriak-teriak menghindari lubang jalan.
Dan Daffa di kursi depan sibuk menenangkan Nabila yang masih terisak dengan menyanyikan lagu anak-anak menggunakan nada vokal rock yang kocak.
"Bagas! Jangan ngebut-ngebut banget, banyak lubang! Kasihan Menik!" teriak Arga dari belakang dengan suara serak, memeluk tubuh Menik erat-erat agar tidak terguncang.
"Ini udah pelan tapi pasti, Ga! Kalau kelamaan nanti anak lu lahir di atas drum bekas!" balas Bagas panik setengah mati sambil terus menancap gas membelah kegelapan malam.
Begitu mobil berhenti tepat di depan pintu IGD Rumah Sakit Bersalin Medika, tim medis dan perawat langsung sigap menyambut mereka dengan kursi roda dan ranjang dorong. Menik segera dilarikan menuju ruang bersalin.
Arga, dengan baju dan celana yang basah kuyup oleh air hujan dan keringat dingin, terus menggenggam tangan Menik tanpa melepaskannya sedikit pun. Ia mendampingi di sisi kiri tempat tidur bersalin.
Di dalam ruangan beraroma antiseptik yang kental itu, waktu seakan berjalan sangat lambat. Suara monitor detak jantung berbunyi teratur namun makin cepat.
"Ayo Ibu Menik, tarik napas dalam-dalam... tiup pelan-pelan dari mulut... dorong lagi, Bu!" instruksi dokter kandungan wanita dengan sangat tenang namun tegas.
Menik meremas tangan Arga dengan kekuatan luar biasa—cengkeraman yang begitu kencang hingga membuat buku-buku jari tangan Arga memutih dan terasa kebas.
Namun, Arga sama sekali tidak memedulikan rasa sakit di tangannya. Ia justru menundukkan kepala, menempelkan keningnya ke kening Menik yang dibasahi peluh.
"Mas di sini, Dek... Mas di sini, nggak akan kemana-mana. Kamu wanita paling kuat yang pernah Mas kenal... sedikit lagi, Sayang..." bisik Arga dengan suara bergetar hebat. Air mata Arga menetes jatuh, membasahi pipi Menik.
Menik memejamkan matanya erat-erat, mengumpulkan seluruh sisa tenaga dari dasar jiwanya demi buah hati mereka yang sudah berada di ambang pintu dunia.
"Bismillah... Ya Allah..."
Dan tepat pada pukul 03.24 subuh, tangisan nyaring seorang bayi memecah keheningan malam yang cemas.
Oeeeek Oeeeek Oeeeek
Ruang bersalin seketika dipenuhi oleh gelombang haru yang membuncah hebat. Dokter tersenyum lebar seraya mengangkat tubuh bayi mungil yang bergerak aktif dan kemerahan itu.
"Selamat, Bapak Arga, Ibu Menik! Bayinya laki-laki, sangat sehat, menangis kuat, dan organ fisiknya lengkap!" seru dokter.
Dada Arga rasanya mau meledak oleh kombinasi rasa lega, bahagia, dan haru yang tak terkira. Air mata pria tegap itu tumpah tanpa bisa dibendung lagi. Ia menunduk, mengecup kening Menik bertubi-tubi dengan rasa syukur yang terdalam.
"Makasih, Dek... Makasih banyak... Kamu luar biasa hebat..." bisik Arga terisak di telinga istrinya.
Menik yang terkulai lelah tersenyum sangat manis. Binar matanya memancarkan kedamaian dan cinta yang begitu suci saat menatap wajah Arga.
"Sama-sama, Mas Arga..."
...***...
Cahaya emas matahari terbit perlahan menembus tirai jendela kamar rawat inap kelas satu. Sinar itu membawa kehangatan pagi yang menenangkan setelah badai semalaman.
Di lorong luar kamar rawat inap, pemandangan menggelikan terlihat jelas. Anak-anak band—Daffa, Bagas, dan Dave—tertidur selonjoran di atas kursi tunggu dengan posisi yang sangat konyol. Bagas bahkan tertidur dengan mulut sedikit terbuka akibat kelelahan yang amat sangat.
Tak berapa lama, langkah kaki teratur terdengar di koridor. Kiara, Dimas, dan Rayyan datang melangkah membawa buket bunga segar bernuansa putih dan keranjang buah-buahan tebal.
"Pagi, anak-anak band... bangun, sudah pagi," sapa Dimas terkekeh pelan melihat posisi tidur Bagas yang hampir meluncur ke lantai koridor.
Bagas langsung kaget terbangun, mengucek matanya dengan panik. "Eh! Mas Dimas! Mbak Kiara! Udah lahir bayinya nih! Cowok! Ganteng banget kayak gue!"
Mereka semua tertawa pelan lalu melangkah masuk ke dalam kamar rawat inap yang tenang.
Di dalam ruangan, Menik sedang berbaring anggun di tempat tidur rawat sambil melakukan proses inisiasi menyusui dini (IMD) dengan bayi mungil di dadanya. Di sampingnya, Arga duduk dengan setia seraya memangku Nabila yang sedang mengusap-usap kaki adiknya dengan penuh rasa penasaran.
"Selamat ya, Menik, Arga!" puji Kiara tulus, meletakkan buket bunga di meja samping seraya mendekati tempat tidur untuk melihat sang bayi dari dekat.
"Ganteng dan bersih banget bayinya... hidungnya mancung mirip Arga."
"Makasih banyak ya Mbak Kiara, Mas Dimas... sudah sempat-sempatin datang pagi-pagi begini," balas Menik dengan suara lembut penuh rasa hormat.
Dimas menepuk-nepuk bahu Arga mantap, menyunggingkan senyum bangganya sebagai sesama kepala keluarga. "Gimana rasanya resmi jadi Bapak anak dua, Ga?"
Arga tertawa pelan, menatap wajah bayinya yang tertidur lelap di dada Menik. "Luar biasa, Mas Dimas. Rasanya semua pusing mikirin kontrak kerjaan dan capeknya hidup langsung terbayar lunas pas dengar tangisan pertamanya tadi subuh."
"Jadi... siapa nama jagoan kecil ini, Ga?" tanya Daffa yang menyambar dari balik pintu bersama Bagas dan Dave.
Arga menatap Menik sejenak, lalu jemarinya yang tegap mengelus lembut pipi bayi mungilnya yang halus.
"Namanya Arkan Rasa Bagaskara," tutur Arga dengan vokal yang mantap dan sarat akan makna mendalam.
"Arkan artinya tiang penopang kehidupan. Karena dia dan Menik adalah penopang hidupku. Dan kata 'Rasa'... adalah pengingat abadi bahwa sejauh apa pun kita pernah tersesat atau terluka di masa lalu, rasa cinta, rasa syukur, dan rasa kekeluargaan inilah yang akhirnya membuat hidup kita kembali utuh."
Kiara tersenyum haru mendengar nama itu, lalu menggenggam erat jemari Dimas di sampingnya.
Bagas di pojokan ruangan pura-pura mengusap matanya dengan lengan baju.
"Duh, ada debu masuk mata gue... terharu banget dengar namanya."
Tawa renyah menyelimuti ruangan rawat inap itu. Di antara hembusan angin pagi Kelurahan Damai dan riuhnya kebahagiaan sahabat serta keluarga, Arga menatap Menik dengan pendar cinta yang tak akan pernah padam. Ia tahu pasti bahwa perjalanan hidupnya kini telah menemukan muara sejati yang paling indah.