Diantha dan Althaf saling mengenal dan menjadi sahabat di bangku SMA..
di sekolah, mereka benar benar tidak terpisahkan, bahkan satu sekolah mengira mereka pacaran.
sebenarnya mereka sama sama memiliki perasaan cinta, hanya saja , mereka sepakat untuk selalu menjadi sahabat dan tidak akan pernah pacaran, agar persahabatan mereka langgeng..
Sayangnya Diantha tidak sanggup untuk menahan perasaannya lagi hingga membuat jarak di antara meraka..
bagaimana kisah Diantha dan Althaf dalam cinta yang rumit dan persahabatan yang ingin di jaga..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liana29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Radar yang Sama
Deg..
Jantungku rasanya berhenti berdetak sesaat..
Saat aku menoleh, Diantha ternyata sedang menatap ke arah depan, bukan ke papan tulis, melainkan tepat ke arah bangkuku di dekat jendela..
Begitu menyadari aku menangkap basah tatapannya, mata tajamnya langsung membulat terkejut, dan dengan gerakan super cepat ia langsung membuang muka, pura-pura sibuk mencatat..
Aku menahan senyum yang hampir meledak. Jantungku sekarang malah berdegup dua kali lebih cepat..
Dia... barusan lagi ngeliatin gue, kan?
Awalnya aku mengira itu hanya kebetulan.
Mungkin dia hanya sedang melamun menatap ke arah luar jendela di sampingku..
Namun, setengah jam kemudian, saat Pak Gunawan sedang menulis di papan tulis, aku kembali melirik, menoleh kearahnya dan tebak apa ? Diantha sedang menatapku, tapi kali ini ia tidak lagi kaget dan mengalihkan pandangannya, Diantha justru tersenyum begitu manis kepadaku..
Meskipun sedikit terkejut, aku tetap berusaha bersikap biasa saja dan membalas senyumannya..
Ada semburat merah muda yang samar di pipinya dari kejauhan.
Aku menyandarkan punggung ke kursi, menyembunyikan senyum lebar yang tak bisa kutahan di balik telapak tanganku sambil menatap ke luar jendela..
Mungkin ia juga sadar kalau aku mencuri pandang sejak tadi, karena itu ia malah memberikan senyum indahnya untuk ku tatap..
Rasa kecewa karena tidak bisa duduk sebangku dengannya langsung menguap entah ke mana.
Ternyata, radar ketertarikan ini tidak berjalan satu arah. Di balik sikap tenangnya, Diantha diam-diam juga memperhatikanku.
Dan fakta kecil itu sudah lebih dari cukup untuk membuat sisa jam pelajaran hari ini terasa jauh lebih menyenangkan..
Akhirnya suara yang paling dinanti oleh seluruh penghuni kelas bergema nyaring..
Kringgg!
Bel tanda jam istirahat pertama berbunyi. Suasana kelas yang tadinya hening dan menegangkan langsung berubah riuh dalam hitungan detik.
Pak Gunawan merapikan buku-bukunya, mengucapkan salam, dan melangkah keluar kelas yang disambut helaan napas lega dari para murid..
Ini kesempatan bagus.
Mumpung jam istirahat baru dimulai, aku berniat langsung menghampiri mejanya dan mengajak Diantha ke kantin bersama. Aku bahkan sudah menyusun kalimat ajakan yang terdengar sesantai mungkin di dalam kepala agar tidak kelihatan terlalu agresif.
Namun, baru saja aku hendak beranjak dari kursi dan menegakkan kaki, langkahku langsung tertahan.
"Diantha, ke kantin bareng yuk! Aku laper banget nih, sekalian mau keliling lihat-lihat sekolah," ajak Sari dengan suara melengking yang antusias, sembari langsung menggandeng lengan Diantha penuh akrab..
Diantha tampak sedikit terkejut dengan kehebohan Sari, tapi gadis itu tetap mengangguk ramah.
Sebelum berdiri dan mengikuti langkah Sari yang setengah menariknya keluar kelas, Diantha sempat menoleh ke arahku. Tatapan matanya seolah memberi isyarat pamit, atau mungkin... permintaan maaf karena tidak bisa ke kantin bersamaku..
Aku hanya bisa tersenyum tipis dan memberikan anggukan kecil padanya, memberi tanda bahwa tidak apa-apa.
Menatap punggung Diantha yang mulai menjauh dan menghilang di balik pintu kelas bersama Sari, aku menghela napas panjang.
Ah, keduluan lagi, batinku sambil terkekeh pelan meratapi nasib apesku hari ini.
Karena tujuan utamaku ke kantin sudah gagal total, gairahku untuk mengisi perut mendadak hilang. Aku malas jika harus pergi ke kantin sendirian atau terjebak di tengah kerumunan murid-murid yang mengantre makanan.
Akhirnya, aku memutuskan untuk berjalan menuju area belakang sekolah, tempat sepi di balik laboratorium yang biasa jadi area nongkrong anak-anak cowok saat jam istirahat.
Begitu aku melangkah melewati lorong kecil dekat toilet dan sampai di area terbuka di belakang sekolah, aroma asap tembakau langsung menyengat indra penciumanku. Di sana sudah berkumpul beberapa teman sekelas dan kakak kelas yang kukenal..
Mereka sedang asyik duduk di atas pembatas semen, mengobrol dan tertawa lepas sambil mengepulkan asap rokok ke udara..
Aku sendiri tidak merokok, jadi aku hanya berniat bergabung untuk mengobrol dan membunuh waktu istirahat daripada bengong sendirian di kelas..
"Woy, Althaf! Tumben lo ke sini, kirain mapan di kelas nempel teman baru," teriak salah satu teman sekelasku, menyambut kedatanganku dengan seringai jahil..
Beberapa kakak kelas yang mengenalku juga ikut menoleh dan mengangkat tangan sekilas, menyapa santai.
Aku hanya mendengus geli mendengarkan ledekan temanku, lalu berjalan mendekat untuk ikut bergabung di lingkaran mereka, mencoba mengalihkan pikiran dari senyum manis Diantha yang masih saja membekas di kepala..