Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AWAL PERANG MELAWAN TAKDIR
Hari itu bukan hari yang baik bagi keluarga Gu.
Langit ibu kota tampak mendung sejak pagi. Angin dingin berembus pelan melewati halaman kediaman Jenderal Gu, membuat suasana terasa semakin berat.
Di aula utama kediaman itu, Gu Zhengyuan berdiri diam sambil menatap putrinya.
Tatapannya penuh kekhawatiran yang sulit disembunyikan.
Sementara di hadapannya, Gu Yanran sudah mengenakan baju perang berwarna perak gelap yang biasa ia gunakan di medan tempur. Rambut panjangnya diikat rapi. Pedang panjang tergantung di pinggangnya.
Wanita itu terlihat tenang seperti biasa.
Terlalu tenang.
Justru itulah yang membuat hati Gu Zhengyuan semakin tidak nyaman.
“Yanran...” suara Gu Zhengyuan terdengar berat.
“Kau yakin ingin pergi?”
Yanran terdiam sesaat sebelum tersenyum tipis.
Senyum yang sangat kecil, namun cukup untuk membuat hati ayahnya semakin sakit.
“Kalau aku menjawab tidak,” katanya pelan, “apakah Kaisar akan mendengarkan kita?”
Gu Zhengyuan langsung terdiam.
Yanran kembali melanjutkan,
“Kalau aku menolak... bagaimana dengan rakyat di desa-desa perbatasan?”
“Mereka tidak bersalah.”
“Jika bandit Pegunungan Utara benar-benar menyerang, banyak orang akan mati.”
Gu Zhengyuan mengepalkan tangannya kuat-kuat.
“Tapi membawa seratus prajurit menghadapi lima ribu bandit sama saja mencari kematian!”
Nada suaranya mulai meninggi.
Sebagai seorang ayah, ia tidak peduli lagi pada politik istana atau permainan kekuasaan.
Yang ia pikirkan sekarang hanyalah keselamatan putrinya.
Namun Yanran justru berjalan mendekat perlahan.
“Ayah,” ucapnya lembut.
“Tenang saja.”
“Aku adalah anakmu.”
Gu Zhengyuan terdiam.
Tatapannya perlahan berubah rumit.
Kalimat itu sederhana, namun cukup untuk mengingatkannya siapa Gu Yanran sebenarnya.
Putri yang ia latih sejak kecil.
Putri yang tumbuh di medan perang.
Putri yang berkali-kali menciptakan kemenangan mustahil bagi kekaisaran.
Namun entah kenapa...
Kali ini perasaannya sangat buruk.
Yanran sendiri memahami semuanya.
Ia tahu cerita sudah jauh keluar dari alur novel asli yang dulu ditulis Mo Chen di dunia nyata.
Banyak hal berubah.
Hubungan mereka berubah.
Takdir beberapa tokoh mulai berubah.
Namun tujuan akhirnya masih sama.
Kaisar tetap ingin menghancurkan keluarga Gu.
Dan kematian Gu Yanran tetap menjadi bagian penting dari akhir tragis keluarga itu.
Karena itulah...
Ia harus mengubah semuanya sebelum terlambat.
Sayangnya waktu terlalu sempit.
Ia bahkan tidak sempat menemui Mo Chen untuk berpamitan.
Memikirkan hal itu membuat tatapan Yanran sedikit meredup sesaat.
Namun hanya sesaat.
Ia segera menyembunyikan emosinya kembali.
Di luar kediaman, seratus prajurit pilihan sudah berkumpul rapi.
Mereka semua adalah prajurit terbaik yang selama ini dilatih langsung oleh Gu Yanran sendiri.
Tatapan mereka penuh semangat.
Tak ada rasa takut sedikit pun.
Yanran berjalan keluar dari aula menuju halaman utama kediaman.
Langkahnya tenang dan tegas.
Begitu melihatnya datang, seluruh prajurit langsung berdiri tegak.
Yanran menatap mereka satu per satu.
“Kalian siapa?” tanyanya lantang.
“PASUKAN NONA GU!”
Jawaban seratus prajurit itu menggema bersamaan.
Yanran kembali bertanya,
“Siapa yang akan melindungi rakyat kekaisaran?!”
“KAMI!”
“Siapa yang akan kembali hidup-hidup?!”
“KAMI!”
Suara mereka terdengar penuh keyakinan.
Gu Zhengyuan yang melihat pemandangan itu hanya bisa menghela napas panjang.
Ia bangga.
Namun sekaligus takut.
Yanran lalu menaiki kudanya dengan gerakan ringan.
Tatapannya mengarah ke gerbang utama ibu kota yang terlihat di kejauhan.
“Berangkat!”
HYAAAT!
Seratus kuda langsung bergerak bersamaan meninggalkan kediaman keluarga Gu.
Debu beterbangan di sepanjang jalan utama ibu kota.
Banyak rakyat berhenti berjalan hanya untuk melihat iring-iringan pasukan itu lewat.
Beberapa dari mereka langsung mengenali Gu Yanran.
“Nona Gu pergi berperang lagi?”
“Kenapa hanya sedikit pasukan?”
“Apa terjadi sesuatu?”
Bisik-bisik mulai terdengar di mana-mana.
Namun Yanran tetap fokus ke depan.
Waktu mereka tidak banyak.
---
Di sisi lain istana kekaisaran...
Mo Chen baru saja menyelesaikan tugas yang diberikan Kaisar.
Hari itu ia diutus menyambut tamu penting dari kerajaan lain bersama Pangeran Pertama dan Murong Meiying.
Kaisar sengaja melakukan itu.
Ia tahu betul Mo Chen yang sekarang sudah berbeda.
Pangeran Ketiga tidak lagi tertarik pada Murong Meiying seperti sebelumnya.
Karena itulah Kaisar terus mencoba mendekatkan mereka.
Jika suatu hari Gu Yanran benar-benar kembali, setidaknya hubungan Mo Chen dan Murong Meiying sudah cukup dekat.
Dan Ia bisa mengikat keluarga Gu dengan titah pernikahan dengan pangeran pertama yang sebelumnya di gantikan oleh pangeran ketiga, Karena pangeran pertama menolak.
Namun sayangnya...
Semua rencana itu tidak berjalan sesuai harapan.
Setelah urusan selesai, Mo Chen berniat langsung pergi menuju kediaman keluarga Gu.
Sudah beberapa hari ia tidak bertemu Yanran.
Dan tanpa sadar, ia mulai merindukan wanita itu.
Saat mengingat kejadian di desa kecil beberapa hari lalu, sudut bibirnya perlahan terangkat.
Ia masih bisa mengingat jelas wajah merah Yanran ketika salah paham karena Murong Meiying.
Ekspresi malu itu benar-benar langka.
Dan entah kenapa...
Semakin dipikirkan, semakin lucu baginya.
Namun tepat ketika Mo Chen hendak naik ke keretanya—
“Mo Chen!”
Suara lembut seorang wanita menghentikannya.
Murong Meiying berjalan mendekat sambil tersenyum tipis. Di belakangnya, Pangeran Pertama ikut berjalan santai.
Mo Chen langsung memasang ekspresi datar.
“Ada apa?”
Pangeran Pertama tertawa kecil.
“Adik Ketiga... kenapa kau sedingin ini?”
Tatapannya kemudian beralih ke Murong Meiying.
“Bukankah dulu kau sangat mengagumi Nona Murong?”
Mo Chen tersenyum sinis.
“Saya rasa Kakak Pertama salah mengingat.”
“Bukankah Kakak dan Nona Murong yang memiliki hubungan dekat?”
Mendengar itu, langkah Murong Meiying sedikit terhenti.
Pangeran Pertama juga langsung kehilangan senyumnya sesaat.
Keduanya saling menatap cepat sebelum kembali melihat Mo Chen.
“Adik Ketiga salah paham,” ucap Pangeran Pertama sambil tertawa kecil.
“Aku dan Nona Murong hanya berteman.”
“Hubungan kami sama seperti hubunganmu dengan Nona Murong.”
Mo Chen menatap mereka beberapa detik sebelum tersenyum tipis lagi.
“Kakak Pertama juga salah paham.”
“Aku dan Nona Murong hanya teman masa kecil.”
“Tidak sedekat yang kalian pikirkan.”
Murong Meiying langsung menggigit bibirnya pelan.
Entah kenapa, mendengar kalimat itu membuat hatinya terasa sedikit tidak nyaman.
Sementara Pangeran Pertama hanya tersenyum kaku.
Mo Chen sama sekali tidak memberi kesempatan mereka bicara lagi.
“Kalau tidak ada urusan lain, aku pergi dulu.”
“Ada hal penting yang harus kulakukan.”
Setelah mengatakan itu, ia langsung berjalan pergi tanpa menoleh sedikit pun.
Tatapan Murong Meiying mengikuti punggung pria itu cukup lama.
Namun Mo Chen bahkan tidak mempedulikannya.
Tujuannya hanya satu.
Menemui Gu Yanran.
---
Beberapa waktu kemudian...
Kereta Mo Chen akhirnya tiba di depan kediaman Jenderal Gu.
Namun suasananya terasa aneh.
Terlalu sunyi.
Biasanya kediaman itu cukup ramai oleh suara latihan prajurit.
Tetapi hari ini tidak.
Mo Chen perlahan turun dari keretanya sambil mengerutkan dahi.
Perasaannya mulai tidak enak.
Ia segera berjalan mendekati para penjaga di depan gerbang.
“Nona Gu Yanran ada di dalam?”
Kedua penjaga saling menatap bingung.
“Anda belum tahu?” tanya salah satu dari mereka hati-hati.
Mo Chen langsung merasa jantungnya berdegup lebih cepat.
“Tahu apa?”
“Nona Gu sudah berangkat pagi tadi.”
“Berangkat?”
“Yang Mulia Kaisar mengutus beliau memberantas lima ribu bandit Pegunungan Utara.”
Mo Chen langsung terdiam.
Namun yang membuat wajahnya perlahan berubah dingin adalah kalimat berikutnya.
“Kaisar hanya mengizinkan Nona Gu membawa seratus prajurit.”
Mata Mo Chen langsung menyipit.
Aura dingin perlahan keluar dari tubuhnya.
Para penjaga bahkan tanpa sadar merinding.
“Seratus?” ulang Mo Chen pelan.
“Iya...” jawab penjaga itu lirih.
“Jenderal Gu juga sangat marah tadi.”
“Semua orang tahu ini terlalu berbahaya.”
Penjaga lain segera menyikut temannya pelan.
“Hati-hati bicara!”
“Kalau Kaisar mendengar ucapanmu, kepalamu bisa dipenggal!”
Penjaga itu langsung pucat dan menunduk cepat.
Namun Mo Chen masih diam.
Tatapannya perlahan berubah gelap.
Ia sangat memahami situasi ini.
Alur cerita memang sudah berubah.
Tetapi tujuan akhirnya ternyata tetap sama.
Kaisar masih ingin menyingkirkan Gu Yanran.
Dan kali ini...
Ia bahkan melakukannya secara terang-terangan.
Tangan Mo Chen perlahan mengepal kuat.
Untuk pertama kalinya setelah datang ke dunia ini, niat membunuh mulai muncul di matanya.
Namun ia segera menenangkan dirinya.
Sekarang bukan waktunya kehilangan kendali.
“Apa Jenderal Gu ada di dalam?” tanyanya akhirnya.
“Ada, Yang Mulia.”
“Tapi...” penjaga itu ragu sesaat.
“Suasana hati Jenderal Gu sedang tidak baik.”
Mo Chen tersenyum tipis.
“Aku tahu.”
Setelah itu, ia langsung berjalan masuk ke dalam kediaman keluarga Gu.
Langkahnya tenang.
Namun tekanan dingin yang keluar dari tubuhnya membuat para penjaga saling menatap gugup.
Mereka tidak tahu kenapa.
Tetapi untuk pertama kalinya...
Mereka merasa Pangeran Ketiga yang selama ini dikenal santai dan malas mulai berubah menjadi seseorang yang sangat berbahaya.