NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tentang Evelyn

“...Sebenarnya ada apa denganku?”

Cristian memalingkan wajahnya dari ranjang Evelyn, rahangnya mengeras menahan rasa kesal pada dirinya sendiri.

“Hal seperti ini tidak seharusnya kupedulikan.”

Ia datang dengan tujuan yang jelas. Perasaan iba atau rasa khawatir bukan bagian dari rencananya. Namun semakin lama berada di dekat Evelyn, semakin sulit ia bersikap biasa saja.

Suasana kamar kembali hening beberapa detik sebelum Cristian akhirnya membuka suara. “Namamu siapa?”

Kelly yang sedang mengganti kompres mengangkat pandangan.

“Saya Kelly, Tuan.”

“Anda?”

“Aku Cristian.”

Kelly mengangguk kecil.

Cristian melirik sekilas ke arah Evelyn yang masih belum sadar sebelum kembali berkata,

“Kalau begitu, Kelly, aku akan keluar mencari makan. Kalau ada yang Nona Evelyn perintahkan atau butuhkan, beri tahu aku.”

Kelly mengangguk paham. “Baik.”

“Mana nomor ponselmu?”

Tanpa banyak bicara, Kelly mengeluarkan ponsel dari saku seragam hitamnya. Ia membuka barcode kontak lalu mengarahkannya pada Cristian.

Cristian segera mengeluarkan ponselnya dan melakukan scanning.

Tak lama, kontak Kelly tersimpan. Setelah itu Cristian memasukkan kembali ponselnya ke saku celana.

“Aku pergi dulu.”

“Ya.”

Cristian berjalan keluar dari kamar Evelyn. Pintu putih itu tertutup pelan di belakangnya. Namun sebenarnya… ia sama sekali tidak berniat mencari makan. Tatapan matanya justru bergerak memperhatikan lorong panjang rumah keluarga Alberto itu.

Rumah ini terlalu besar. Dan terlalu mencurigakan.

Langkah Cristian berjalan santai menyusuri lantai dua. Matanya mengamati setiap sudut—lukisan mahal di dinding, kamera pengawas di beberapa titik, hingga penjaga yang berjaga diam di ujung lorong.

Rumah ini lebih mirip benteng daripada tempat tinggal biasa. Ia menuruni tangga perlahan menuju lantai bawah. Area mansion itu begitu luas dengan interior mewah bergaya klasik Eropa. Cahaya matahari masuk dari jendela-jendela besar, menerangi lantai marmer yang mengilap. Namun di balik kemegahan itu…

Cristian merasakan sesuatu yang dingin. Sepi. Rumah sebesar ini terasa tidak memiliki kehangatan sama sekali.

Saat melewati ruang tengah, langkahnya melambat ketika melihat sebuah foto keluarga besar terpajang di dinding.

Alberto berdiri di tengah bersama Rachel, Charlie, dan Lauren.

Tidak ada Evelyn.

Alis Cristian langsung berkerut. Ia mendekat sedikit, memperhatikan bingkai besar itu lebih teliti. Tetap tidak ada.

Nama Evelyn seperti benar-benar dihapus dari keluarga ini. Dan itu membuat rasa penasarannya semakin besar.

Cristian melangkah keluar menuju halaman belakang mansion Alberto yang luas. Hamparan rumput hijau terawat membentang rapi, dipenuhi taman bunga dan beberapa pohon besar yang membuat suasana terasa teduh meski matahari siang cukup terik.

Beberapa penjaga berseragam hitam berdiri di titik tertentu. Tatapan mereka awas, sesekali memperhatikan sekitar tanpa banyak bergerak.

Cristian menyapu area itu dengan tenang. Lalu pandangannya berhenti pada seorang pria tua yang sedang mencangkuli tanah di dekat taman bunga.

Tukang kebun.

Usianya mungkin sudah lewat enam puluh tahun. Punggungnya sedikit membungkuk, kulitnya gelap terbakar matahari, dan topi lusuh menutupi sebagian rambut putihnya.

Cristian berjalan mendekat.

“Pagi, Pak.”

Pria tua itu menghentikan gerakan mencangkulnya lalu menoleh.

“Pagi, Nak,” jawabnya ramah.

Cristian memasukkan satu tangan ke saku celana.

“Saya baru di sini,” ucapnya santai. “Belum punya teman. Bisa ngobrol sebentar?”

Pria tua itu terkekeh pelan. “Boleh aja.”

Cristian mengeluarkan sebungkus rokok lalu menyerahkan satu batang padanya.

Wajah tukang kebun itu langsung tampak senang.

“Wah, tau aja mulutku daritadi pahit.”

Tak lama, mereka berdua duduk di bawah pohon apel yang rindang. Angin siang berembus pelan, menggoyangkan daun-daun di atas kepala mereka.

Tukang kebun itu menyalakan rokoknya lalu menghisapnya dalam-dalam dengan wajah puas.

Cristian ikut duduk santai di sampingnya, meski sebenarnya pikirannya tetap bekerja.

“Aku Cristian, Pak.”

“Saya Mario.”

“Hm.”

Beberapa detik mereka diam menikmati suasana halaman.

Cristian melirik mansion besar di depan mereka. “Rumah ini besar sekali ya, Pak.”

Pak Mario tertawa kecil.

“Ya jelas. Rumah keluarga Alberto memang terkenal paling megah di kawasan ini.”

Cristian mengangguk pelan, lalu mulai mengarahkan pembicaraan dengan hati-hati.

“Saya kira anak Tuan Alberto cuma tiga.”

Pak Mario menoleh.

“Maksudnya?”

“Rachel, Charlie, sama Lauren,” jawab Cristian santai. “Baru hari ini saya tahu ternyata masih ada Nona Evelyn.”

Mendengar nama itu, ekspresi Pak Mario berubah sedikit. Pria tua itu terdiam sesaat sebelum menghembuskan asap rokok perlahan.

“Nona Evelyn…” gumamnya pelan.

Tatapan Cristian langsung tajam meski wajahnya tetap terlihat santai. “Kenapa memangnya, Pak?”

Pak Mario menggaruk pelipisnya sebentar, seperti ragu ingin bicara.

“Nona Evelyn itu beda,” katanya akhirnya.

“Beda bagaimana?”

Pria tua itu melirik sekitar lebih dulu memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. “Sebaiknya jangan terlalu banyak tanya soal Nona kecil itu,” ucapnya pelan. “Di rumah ini… banyak hal yang tidak boleh dibicarakan sembarangan.”

Jawaban itu justru membuat rasa penasaran Cristian semakin besar.

“Saya janji tidak akan membocorkannya pada siapa pun,” ucap Cristian pelan namun meyakinkan. “Tolong ceritakan sedikit saja Pak.”

Pak Mario terdiam cukup lama. Tatapannya menerawang ke halaman luas di depan mereka, seolah sedang memikirkan apakah ia harus membuka masa lalu yang selama ini terkubur rapat.

Angin siang berembus pelan di bawah pohon apel.

Akhirnya pria tua itu menghela napas berat.

“Saya sudah kerja di rumah ini bahkan sebelum Nona Rachel lahir,” katanya pelan. “Jadi saya tahu banyak hal.”

Cristian diam mendengarkan.

“Dulu… istri Tuan Alberto bernama Valencia,” lanjut Pak Mario. “Beliau wanita yang baik sekali.”

Tatapan pria tua itu melembut saat menyebut nama tersebut.

“Waktu mengandung tiga anak pertamanya, semuanya berjalan normal. Tuan Alberto juga masih sering di rumah, beliau sangat perhatian pada nyonya Valencia”

“Tapi saat hamil Nona Evelyn…”

Pak Mario berhenti sejenak.

“Keadaannya berbeda.”

Cristian mulai fokus penuh.

“Waktu itu Tuan Alberto sedang sibuk menjadi tim sukses calon wali kota,” lanjutnya. “Hampir setiap hari pergi. Kadang pulang tengah malam, kadang tidak pulang sama sekali.”

“Nyonya Valencia sering sendirian di rumah sebesar ini.”

Nada suara Pak Mario terdengar prihatin.

“Yang selalu menemani beliau cuma seorang pelayan laki-laki bernama Mathias.”

Cristian mengernyit samar.

“Mathias?”

Pak Mario mengangguk.

“Dia pelayan paling dipercaya Nyonya Valencia. Orangnya baik, pendiam, dan sangat perhatian. Karena kondisi kehamilan Nyonya waktu itu cukup berat, Mathias sering membantu.”

“Membantu bagaimana?”

“Mengantar obat, menemani kontrol, bahkan kadang hanya duduk mendengarkan Nyonya bercerita,” jawab Pak Mario. “Tidak ada yang aneh sebenarnya.”

“Tapi…” pria tua itu menatap tanah, “mungkin ada orang yang iri atau sengaja mengadu domba.”

Cristian langsung bisa menebak arah ceritanya.

“Mereka bilang hubungan Nyonya Valencia dan Mathias terlalu dekat,” gumamnya.

Pak Mario mengangguk pelan.

“Dan saat rumor itu sampai ke telinga Tuan Alberto… semuanya berubah.”

Tatapan pria tua itu tampak sedih.

“Tuan Alberto marah besar.”

“Dan Mathias disiksa habis-habisan.”

Rahang Cristian langsung mengeras.

“Nyonya Valencia sempat mencoba menghentikan beliau,” lanjut Pak Mario lirih. “Tapi justru itu membuat Tuan Alberto semakin curiga.”

“Bahkan bayi dalam kandungan Nyonya…”

Suara Pak Mario mengecil.

“…dicurigai anak Mathias.”

Cristian membeku sesaat.

Angin siang terasa mendadak dingin.

“Karena fitnah dan tekanan itu, Nyonya Valencia jadi sangat stres,” lanjut Pak Mario. “Beliau sering menangis diam-diam. Kondisi tubuhnya makin lemah dari hari ke hari.”

“Lalu saat melahirkan Nona Evelyn…”

Pak Mario menunduk.

“Beliau meninggal.”

Suasana mendadak sunyi.

Cristian tak langsung bicara. Dadanya terasa berat entah kenapa.

“Sejak itu,” lanjut Pak Mario pelan, “Nona Evelyn tidak pernah benar-benar dianggap bagian dari keluarga ini.”

“Meskipun Tuan Alberto tetap membesarkannya… hubungan mereka tidak pernah hangat.”

“Dan karena rumor lama itu,” pria tua tersebut menghela napas, “keberadaan Nona Evelyn tidak pernah diperlihatkan ke publik.”

Cristian terdiam lama.

Bayangan wajah pucat Evelyn tiba-tiba muncul di kepalanya.

Tubuh rapuh itu…Tatapan matanya yang sepi…Dan senyum kecil yang terasa menyimpan terlalu banyak luka.

Entah kenapa, untuk pertama kalinya sejak datang ke rumah ini, Cristian merasa marah.

1
sasip
penggambaran adegannya begitu detail, jadi berasa lagi nonton neh thor.. mantab.. 👍🏻😍
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!