“Satu benua? Jangankan satu benua… seluruh isi bumi akan kuhadapi jika adikku tersakiti.”
Di dunia murim yang terbelah antara ortodoks dan unorthodoks, kekuatan menentukan segalanya—dan belas kasihan hampir tidak pernah ada.
Fang Yi dan Fang Yu hanyalah dua saudara yatim piatu yang lahir tanpa nama besar, tanpa perlindungan, dan tanpa tempat untuk pulang. Dunia sejak awal sudah menolak keberadaan mereka. Bahkan sebelum mereka memahami arti benar dan salah, keduanya telah dicap sebagai benih kejahatan karena bayang-bayang masa lalu keluarga mereka yang misterius.
Bagi dunia murim, mereka adalah ancaman yang harus dimusnahkan.
Namun bagi Fang Yi, hanya ada satu hal yang penting—melindungi adiknya.
Selama mereka bersama, hinaan, pengkhianatan, dan bahaya hanyalah rintangan yang harus dilewati. Tetapi ketika sekte-sekte besar mulai memburu mereka, rahasia lama keluarga mereka perlahan bangkit dari kegelapan.
Rahasia yang cukup untuk mengguncang seluruh benua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman Kedua
“Fang Yu mungkin sudah tidur sekarang… jadi aku bisa langsung belajar nanti.”
Fang Yi bergumam pelan sambil berlari kecil menyusuri jalan setapak yang dikelilingi rimbunnya pepohonan. Angin malam bertiup lembut yang membuat dedaunan bergesekan dan menimbulkan suara berdesir yang samar. Cahaya bulan yang menembus sela-sela cabang pohon menjadi satu-satunya penerang di jalan sempit itu.
Ia mempercepat langkahnya. Napasnya sedikit terengah-engah, tetapi matanya justru tampak bersemangat.
Di dalam pikirannya hanya ada satu hal—halaman kedua dari buku latihan yang baru saja ia pelajari.
Sejak mendapatkan buku itu, pikirannya selalu dipenuhi rasa penasaran. Setiap kali ia mengingat tulisan dan metode latihan di halaman pertama, dadanya terasa berdebar. Ia tidak sabar mengetahui apa yang tersembunyi di halaman berikutnya.
“Kalau aku bisa memahami halaman kedua… mungkin aku akan jadi lebih kuat,” gumamnya sambil mengepalkan tangan.
Langkahnya semakin cepat.
Tak lama kemudian, atap rumah kecilnya mulai terlihat di balik pepohonan.
Rumah itu sederhana, berdinding kayu dengan halaman kecil di depannya. Lampu minyak yang redup masih menyala di beranda, seakan menunggu kepulangannya.
Fang Yi berhenti sejenak di depan pintu. Ia menatap rumah itu dengan mata yang sedikit melembut.
Senyum tipis muncul di wajahnya.
“Aku pulang… rumahku,” ucapnya pelan.
Tangannya mendorong pintu kayu yang sedikit berderit ketika dibuka.
Begitu masuk, Fang Yi langsung melangkah cepat menuju kamar adiknya, wajahnya tampak sedikit khawatir.
Ia berhenti di depan pintu kamar, lalu menghela napas perlahan sebelum membukanya.
Creeeak…
Pintu terbuka perlahan.
Di dalam kamar yang remang-remang itu, Fang Yu terlihat terbaring di tempat tidur kecilnya. Selimut tipis menutupi tubuh mungilnya, sementara satu tangannya menggenggam ujung selimut dan ibu jarinya masih berada di dalam mulut.
Fang Yi menghela napas lega.
“Syukurlah… dia sudah tidur.”
Ia melangkah masuk dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Bahkan langkah kakinya dibuat seringan mungkin agar Fang Yu tidak terbangun.
Fang Yi duduk di sisi tempat tidur.
Wajah Fang Yu terlihat damai. Napasnya naik turun dengan tenang dan sesekali tubuh kecilnya bergerak sedikit seperti sedang bermimpi.
Fang Yi tersenyum lembut.
Tangannya terangkat perlahan, lalu ia mengelus dahi adiknya dengan penuh kasih sayang.
“Maaf ya… kakak pulang terlambat lagi,” bisiknya lirih.
Tatapannya dipenuhi rasa bersalah.
Sejak kedua orang tua mereka tiada, Fang Yi-lah yang harus bekerja keras untuk menghidupi mereka berdua. Ia tahu Fang Yu sering menunggu kepulangannya, meski akhirnya selalu tertidur lebih dulu.
Fang Yi menarik selimut Fang Yu sedikit lebih tinggi agar adiknya tidak kedinginan.
“Tidurlah yang nyenyak,” gumamnya.
Ia berdiri perlahan dan menatap adiknya sekali lagi sebelum berjalan keluar dari kamar.
Setelah menutup pintu dengan hati-hati, Fang Yi langsung menuju ruang tamu.
Ruangan itu tidak besar. Hanya ada sebuah meja kayu tua, beberapa kursi sederhana, dan lampu minyak kecil yang menerangi ruangan dengan cahaya kekuningan.
Fang Yi langsung duduk di kursi.
Ia mengeluarkan buku latihan dari balik pakaiannya dan meletakkannya di atas meja.
Tangannya menyentuh sampul buku itu dengan hati-hati, seolah-olah benda itu adalah sesuatu yang sangat berharga.
Matanya menyipit sedikit.
“Baiklah… sekarang saatnya melihat halaman kedua,” gumamnya penuh tekad.
Ia menarik napas dalam-dalam sebelum membuka buku itu perlahan.
Sementara itu…
Di tempat yang sangat jauh dari desa kecil itu.
Di ujung sebuah goa yang sangat dalam, suasana terasa gelap dan sunyi.
Hanya suara tetesan air dari langit-langit goa yang terdengar sesekali.
Di dalam kegelapan itu, seorang pria duduk bersila dengan mata tertutup, memakai topi jerami, dan jubah yang penuh darah.
Pria itu adalah Shang Lun.
Tubuhnya yang sebelumnya penuh luka kini terlihat jauh lebih baik. Meski beberapa bekas luka masih terlihat, aura yang memancar dari tubuhnya terasa jauh lebih stabil dibanding sebelumnya.
Perlahan, ia matanya mulai terbuka.
Tatapannya tajam seperti pisau.
“Hmph…”
Ia menghembuskan napas panjang, lalu menggerakkan lehernya sedikit hingga terdengar bunyi retakan kecil dari sendi-sendinya.
“Lukaku sudah pulih.”
Shang Lun berdiri dengan tenang.
Di sampingnya tergeletak sebuah pedang panjang dengan sarung hitam pekat.
Ia mengambil pedang itu dan menariknya keluar dari sarungnya perlahan.
Sreeet…
Cahaya dingin dari bilah pedang itu memantul di dinding goa.
Shang Lun duduk di atas batu besar, lalu mulai mengasah pedangnya dengan batu asah.
Krek… krek…
Suara gesekan logam menggema pelan di dalam goa.
Matanya mulai menyipit.
Bayangan kejadian sebelumnya terlintas di pikirannya—desa yang terbakar, para pendekar yang mengepungnya, dan wajah ketua aliansi murim yang ia amati dari kejauhan menggunakan Qi sensenya.
“Aliansi Murim…” gumamnya pelan dengan nada dingin.
Sementara itu, di luar goa.
Dua prajurit dari Aliansi Murim sedang berjalan menyusuri lereng gunung. Mereka membawa obor dan pedang di pinggang mereka.
Angin gunung bertiup cukup kencang, membuat nyala api obor mereka bergoyang.
Salah satu prajurit mengusap lengannya yang merinding.
“Tempat ini benar-benar menyeramkan,” keluhnya sambil menoleh ke kiri dan kanan.
Prajurit di sampingnya hanya mendengus.
“Kita diperintahkan untuk menyisir seluruh area gunung. Jadi berhentilah mengeluh.”
Mereka berhenti ketika sampai di depan sebuah mulut goa besar yang gelap gulita.
Udara dingin keluar dari dalam goa itu seperti napas makhluk raksasa.
Prajurit pertama menelan ludahnya.
Ia mengangkat obornya sedikit lebih tinggi, mencoba untuk melihat ke dalam.
Namun yang terlihat hanyalah kegelapan.
Ia mengernyitkan dahinya.
“Hei…” katanya pelan sambil menoleh ke rekannya. “Menurutmu… kita harus masuk ke dalam goa itu atau tidak?”
Rekannya menyilangkan tangan di dada sambil menatap goa tersebut dengan serius.
Beberapa detik ia terdiam.
Lalu ia menghela napas berat.
“Mau tidak mau kita harus masuk,” jawabnya akhirnya.
Prajurit pertama langsung menoleh cepat.
“Apa? Kau serius?” tanyanya sambil mengangkat alis.
Rekannya menatapnya tajam.
“Kau lupa perintah ketua aliansi?” katanya sambil menunjuk ke arah goa dengan dagunya. “Setiap tempat yang mencurigakan harus diperiksa.”
Prajurit pertama menggaruk kepalanya dengan canggung.
“Iya sih… tapi…”
Ia menelan ludah lagi dan menatap kegelapan goa itu dengan ragu.
“Bagaimana kalau Shang Lun benar-benar bersembunyi di dalam?”
Rekannya terdiam sejenak.
Kemudian ia mengencangkan genggaman pada gagang pedangnya.
“Kalau memang dia ada di dalam…” katanya dengan suara pelan namun tegang.
Ia melirik rekannya dengan tatapan serius.
“...maka kita tidak punya pilihan selain melaporkannya.”
Prajurit pertama menghela napas panjang.
“Baiklah… kalau begitu kita masuk bersama.”
Ia menggenggam pedangnya dan mengangkat obornya lebih tinggi.
Perlahan…
Kedua prajurit itu mulai melangkah memasuki goa yang gelap.
Tanpa mereka sadari—
Di dalam goa itu, Shang Lun masih mengasah pedangnya dengan tenang.
Dan suara langkah kaki mereka…
perlahan mulai terdengar di telinganya.
“Hm… sepertinya aku kedatangan tamu,” gumam Shang Lun sambil menggesek bilah pedangnya pada batu asah. Suara logam yang bergesekan terdengar tajam, menambah aura dingin di dalam goa gelap itu. Matanya menyipit, menatap arah langkah kaki yang terdengar samar di kejauhan.
Di ujung dalam goa, dua prajurit berhenti sejenak, menatap ujung goa yang tertutup rapat oleh sebuah batu besar.
“Hei… goa ini tertutupi oleh batu,” kata prajurit yang di depan sambil mengernyit, menyinari batu besar itu dengan obornya.
Rekannya mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap batu besar yang menutupi jalan. “Kau benar… ini buntu,” jawabnya sambil mengangkat bahu, nada suaranya campur cemas dan lega.
Mereka saling menatap sejenak, kemudian mengangguk pelan. Dengan langkah hati-hati, mereka membalik badan dan mulai berjalan mundur, lalu meninggalkan ujung goa yang gelap dan sangat dalam itu.
Namun, udara di sekeliling mereka tiba-tiba berubah. Angin dingin menderu dari dalam goa, membawa suara desah yang nyaris tak terdengar—seperti bisikan halus namun mengancam.
Pria di belakang berhenti, mengangkat obornya lebih tinggi, dan mulai menoleh ke rekannya dengan mata membulat. “Apa kau… mendengar itu?”
“Dengar apa?” sahut yang di depan sambil menatap gelap di depan mereka, jantungnya berdegup lebih kencang.