"Hei Betina! Dia Jantan ku! Apa kau berani, menyentuh Milikku?" lembut, namun tajam.
Qingling, gadis dengan sejuta pesona yang selalu menampilkan wajah datar tanpa ekspresi setelah kematian kakeknya.
Tanpa disadari ia telah melakukan perjalanan waktu karena ulah seniornya, hingga sampai zaman dimana, para Orc atau Beastman berkuasa.
"Jantan Tampan, Manis, Arogan, Penurut dan suka Mengintimidasi aku memiliki semuanya."
"Mereka memaksaku untuk kawin dengan mereka semua? yang benar saja!"
Penasaran dengan kisah Qingling dan Jantan Tampan disekelilingnya? Bukan hanya Percintaan, tapi juga tentang Hubungan, Keberanian, Kejujuran, dan Balas Dendam.
Yuk! Simak kehidupan Qingling di Dunia Binatang.
No Plagiat. Karya murni dari isi pikiran Author. Jika ada Kesamaan Nama atau Tokoh, Mohon di maafkan..
Selamat Membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hua chia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Qingling Kecewa
Udara pagi sangat sejuk hingga menusuk tulang. Qingling berdiri di pintu gua menatap pohon dan bunga-bunga yang berguguran, ia merapatkan pakaiannya dan menggosok kedua tangannya saat angin dingin melewati tubuhnya.
Melihat Qingling kedinginan, Yuze segera mengambilkan baju tebal, dengan bulu berlapis dan segera menyalakan api unggun di dalam gua. "Hangatkan tubuhmu disini, aku akan segera kembali, Ling" Yuze berubah menjadi Singa dan pergi kearah hutan, meninggalkan Qingling di dekat api unggun. Tanpa sepatah kata Qingling mengangguk, menatap kepergian Yuze.
Mendengar suasana sepi di dalam gua, membuat tabib Su khawatir, ia keluar dari balik ruangan yang dibuat Yuze dengan pembatas kayu, dan melihat Qingling dengan tangan gemetar kedinginan sedang mengaduk cairan di gelas bambu. "Nak Qing, apa yang kau lakukan. Biar kakek membantu mu."
Qingling terdiam. Mendengar tabib Su mengatakan kalimat tersebut, ia mendongak menatap tabib Su yang mengambil gelas ditangannya, tanpa menatapnya. Kalimat terakhir yang diucapkan tabib Su seperti, melodi yang membangkitkan kenangan lama Qingling kepada mending kakeknya.
"A-apa yang kau katakan, tabib Su?" ucapnya menatap harap tabib Su, untuk mengulangi ucapannya yang juga, menatapnya dengan tatapan hangat.
"Bisakah kau memanggilku Kakek seperti yang dilakukan Yuze, nak Qing?" tanya tabib Su dengan penuh harap menatap Qingling.
Keheningan terjadi, suara angin dan kayu yang terbakar mengisi kekosongan. Raut kecewa tergambar di wajah tua tabib Su, ia menghela nafas menyadari Qingling enggan, untuk mengabulkan keinginannya.
"Jang..."
"Baiklah, Kakek"
Wajah tabib Su yang semula sendu, berubah menjadi bahagia. Ia tak menyangka Qingling menerimanya menjadi kakeknya.
Percakapan mereka menjadi semakin hangat, yang mulanya hanya membicarakan ilmu pengobatan, sekarang membicarakan konflik internal di Suku Serigala, entah mengapa tabib Su percaya, bahwa Qingling bisa menyelesaikan masalah yang terjadi di Sukunya.
'Nak Qing, sangat pintar aku yakin dia mampu membantu Ketua Suku, mencari solusi" batin tabib Su menerawang kedepan, memikirkan Sukunya yang sedang tidak baik-baik saja.
Melihat tabib Su yang suka memijat kepala sepertinya, ada yang menggangu pikirannya, membuat Qingling iba. Ia ingin bertanya tapi ia memilih mengurungkan niatnya, dua kali Qingling memergoki tabib Su yang katanya ingin istirahat, tapi malah duduk diatas ranjang dengan wajah lesu dan sesekali menghembuskan nafas.
"Ini cukup untuk Ling dan Kakek tua" Yuze segera mengumpulkan Kentang yang di galinya dan beberapa buah, yang di dapatkannya.
Saat sedang sibuk mengumpulkan buah. Pendengarannya menangkap rintihan dan langkah kaki, yang mengarah ke tempatnya. Yuze mengambil sikap waspada dan segera memanjat pohon disampingnya. 'Apa yang terjadi' batin Yuze tak percaya melihat pemandangan dibawahnya.
Ia tak mengerti, apa yang sedang terjadi. Mengapa Suku kalajengking bersama Kelompok Kuil, pandangannya jatuh ke Kurungan kayu yang diangkat beberapa Beastman, di dalamnya, terdapat tiga betina yang sepertinya dari Suku Rubah, mereka terlihat mengenaskan dengan luka goresan di seluruh tubuh.
"Ha-ha-ha... Betina dari Suku Rubah memang yang terbaik. Lihatlah Kulitnya sangat halus" tawa salah satu Suku Kalajengking dengan mencolek salah satu betina, yang memiliki rambut panjang berwarna hijau.
"Kondisikan anggotamu, sangat berisik" ucap Orc paling depan yang memakai pakaian hitam agak tertutup, dengan tanda pola tiga lingkaran kecil di dahinya.
"Sesuai kesepakatan, kami akan menikmatinya dulu, sebelum dibawa kalian"
"Kenapa tidak menikmatinya bersama-sama? Kami juga ingin mencicipi, Suku Rubah yang terkenal kecantikannya"
Setelah mengatakan kalimat keji dengan bangga, mereka tertawa bersama, tanpa menyadari kematian telah mengintai mereka.
Yuze memulai dengan menusuk Orc paling belakang dengan satu tusukan, mereka tak menyadari bahwa satu persatu anggotanya, telah mati tanpa suara. Yuze melakukannya dengan cepat dan tepat sasaran.
Beberapa Orc yang merupakan Kelompok Kuil, menyadari tidak ada ada pergerakan dibelakangnya. Salah satu dari mereka menoleh kebelakang dan mendapati semua Suku Kalajengking yang berjalan dibelakangnya, mati dengan mata terbuka lebar.
"Si-siapa, yang melakukan perbuatan tercela ini? Keluar kalian! aku akan membunuh kalian dengan tanganku sendiri" Ucap salah satu Kelompok Kuil yang memimpin jalannya rencana, dengan marah hingga gemetar menahan kekesalan.
Seketika, mereka membuat formasi penyerangan dan membuat pola lingkaran melingkari mereka yang berjumlah 5 Beastman. Tiba-tiba dari dalam lingkaran keluar beribu anak panah, yang menembak segala arah.
Yuze menyeringai lebar dari atas pohon. Ia merasa Kelompok Kuil yang suci sangat konyol. Tanpa mengulur waktu, Yuze segera mengeluarkan auranya dan membunuh mereka, tanpa perlawanan dari Kelompok Kuil.
Setelah menyelesaikan pertarungan, Yuze segera membuka kunci kurungan dan mengeluarkan Betina dari Suku Rubah.
Betina Suku Rubah saat melihat Yuze, langsung mengenali sosoknya dalam sekali kedipan. Jolyn, betina berambut hijau tak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Yuze. Ia berdiri mendekati Yuze yang sedang membelakanginya dan memeluknya dari belakang.
"Yuze, kau menyelamatkan ku. Maukah kau kawin dengan ku" ucapnya manja dan sengaja menempelkan gunungnya di punggung Yuze.
Yuze menegang, tubuhnya kaku. Bukannya ia terpengaruh dengan rayuan Jolyn. Tapi, karena ia mencium bau khas yang dikeluarkan, betina Suku Rubah yang bisa menghipnotis Jantan untuk memenuhi keinginannya.
"Ke-ke-ke, Yuze... Apa menurutmu mereka indah, sentuh lah ini sangat lembut" Jolyn membalikkan tubuh Yuze agar menghadapnya, dan membuka baju memperlihatkan gunungnya.
"lyn, mendahului kita lagi" ucap betina berambut ungu marah menggigit kuku jarinya.
"Saudari lyn, aku ingin Jantan seperti Yuze. Maukah kau berbagi?" ucap satunya dengan mata penuh damba menatap wajah dan tubuh Yuze.
Mendengar ucapan dari temannya, Jolyn hanya melirik dan tersenyum remeh menatap mereka. 'Berbagi Yuze? bermimpi lah.'
Yuze mengangguk, tatapannya kosong menatap lurus kedepan. Tangannya terulur untuk menyentuh gunung di depannya. Jolyn tersenyum menang melihat Yuze tanpa perlawanan menuruti perintahnya.
"DASAR SERIGALA RAKUS!!!"
Qingling melompat dari atas pohon dan menendang dada Yuze, hingga terjungkal kebelakang. Dadanya sangat sesak. Ia melihat Qingling berdiri di depannya, dengan wajah dingin dan tangan mengepal erat. Yuze tak sadar dengan apa yang telah dilakukannya. 'mengapa Qingling terlihat sangat marah' batin Yuze memegang dadanya yang sangat nyeri.
Qingling tak habis pikir dengan tindakan Yuze. Ia sangat kecewa. Qingling membalikkan tubuhnya menatap ketiga betina di depannya, yang menatapnya dengan tajam.
'Sial, dia sangat cantik. Tubuhnya kecil tapi...' batinnya kesal melirik gunung Qingling yang menyembul keluar.
'Dia pasti betina dari Suku Phoenix'
'Betina kecil ini seperti Dewi, sangat cantik'
Lidah mereka terasa kelu, matanya tak bisa lepas dari kecantikan Qingling. Cukup lama mereka terdiam hingga suara dingin namun halus Qingling terdengar.
"Siapa kalian? Apa kalian menginginkan Jantanku? Ambillah..." ucap Qingling malas menatap mereka yang seperti Orc bodoh dengan mulut menganga menatapnya.
"Li..."
"Jangan menyentuhku!" Qingling menepis tangan Yuze yang mencoba meraihnya.
"Kau... Aku sangat kecewa Yuze." sambungnya pergi meninggalkan Yuze yang terdiam dibelakangnya.
Hati Yuze bak disambar petir siang hari, mendengar ucapan Qingling kecewa padanya. Ia mematung. Menatap kepergian Qingling tanpa menoleh menatapnya, tanpa senyuman, hanya suara dingin tanpa kelembutan yang keluar dari mulutnya.
'Apa yang telah ku lakukan...'
Enaknya mereka damai apa pisah aja ya🤔...
semangat tor.. /Determined//Determined/
ditunggu ya kelanjutannya author 🤭
jangan lama2 soalnya penasaran nungguin yaa author
jangan lama2 thor
jangan lama-lama😊😊😊😊