Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.
“Kenapa…?”
“Karena kau menghalangi jalanku.”
Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.
Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…
Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.
Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.
Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EKSPEDISI DAN PENANTIAN YANG BERAKHIR
“Satu nyawa yang diselamatkan, satu kebenaran yang ditegakkan—harapan selalu menemukan jalannya.”
Happy reading>.<...........
.
Kabut pagi menipis di Kota Selatan, menyisakan cahaya hangat yang menembus jendela penginapan. Aroma tanah lembap dan daun basah masih tersisa, namun kini bukan lagi menakutkan—melainkan menenangkan.
Xiao Mei berbaring di ranjang. Mata yang semula tertutup kabut kini perlahan menangkap cahaya pagi. Napasnya masih tersengal, tapi denyut nadi yang hampir padam kemarin kini stabil. Kehangatan yang ia rasakan bukan hanya dari selimut tipis, tapi dari Duke Wang yang setia berada di sisinya.
“Mei’er… kau mendengar aku?” suara Duke lembut, namun tegas. Tangan yang menggenggam tangannya kemarin tetap di sana, menenangkan setiap rasa sakit yang tersisa.
Xiao Mei mengangguk perlahan. “Obat itu… berhasil?” gumamnya pelan.
Duke menatapnya, mata penuh berat. “Ya… gulma darah sudah bersih. Tapi ini hanya sebagian dari perang. Masih ada rahasia yang harus kita ungkap.”
Xiao Mei menarik napas, tubuhnya yang lemah bergetar. “Rahasia? Maksudmu… Ling Yan?”
Duke menghela napas panjang, duduk di samping ranjang. “Ling Yan… hanyalah pion. Dia tidak lebih dari alat yang digunakan seseorang yang jauh lebih berbahaya.”
Xiao Mei menatapnya dengan mata penuh rasa ingin tahu, namun juga takut. “Jadi selama ini… semua ancaman dan rasa sakitku… semuanya direncanakan orang lain?”
Duke mengangguk. “Ya. Dari apa yang kulihat, setiap langkah Ling Yan diatur. Dalang sebenarnya bergerak dari bayang-bayang, membuat kita percaya semua ini ulah Ling Yan sendiri.”
Mata Xiao Mei berkaca-kaca. Semua serbuan, racun, dan rasa kehilangan kini mendapat jawaban. Tapi jawaban itu bukan penutup sepenuhnya; misteri yang lebih besar masih menunggu.
Duke menepuk lembut tangan Xiao Mei. “Istirahatlah sekarang. Tubuhmu masih lemah. Aku akan mengurus sisanya. Ancaman terbesar biasanya tak terlihat, dan kita harus selalu siap menghadapinya.”
Xiao Mei menutup mata, kali ini bukan karena sakit, tapi untuk memusatkan pikirannya. “Aku mengerti… aku harus kuat… untuk keluargaku, untukmu.”
Di luar jendela, kabut perlahan menghilang. Cahaya matahari menyoroti tetesan embun, menebarkan rasa lega dan damai. Duke tetap duduk di sisi ranjang, sadar bahwa pengorbanan, keteguhan, dan keberanian—meski sekecil apa pun—telah membawa mereka sampai titik ini.
“Ling Yan hanyalah pion,” bisik Duke pada dirinya sendiri. “Aku harus menemukan dalang sebenarnya.”
Xiao Mei membuka mata perlahan. Pandangannya masih kabur, tapi ia bisa melihat Duke. Senyumnya lemah. “Kau… kembali…”
Duke tersenyum tipis, matanya tetap waspada. “Selalu, Mei’er. Selalu.”
Keesokan harinya: Kota Selatan
Kabut tipis menyelimuti kota ketika Duke Wang dan Xiao Mei keluar dari penginapan. Tubuh Xiao Mei mulai pulih, energi yang terkuras perlahan kembali. Warga kota yang sebelumnya panik kini tersenyum lega. Pasar dibuka kembali, rumah dibersihkan, dan anak-anak bermain di jalan-jalan yang basah karena embun.
Di aula pengadilan kota, provokator utama yang menebar kepanikan ditahan. Wajahnya pucat, matanya masih menyimpan kesombongan, tapi tipu muslihatnya kini terbongkar.
Flashback Provokator:
Provokator itu awalnya menyebarkan rumor kecil tentang “wabah misterius” yang tidak nyata. Ia mengunjungi rumah-rumah, bersikap khawatir sambil menebar kabar bahwa obat
dari tabib lambat atau berbahaya.
“Jangan percaya mereka! Kalau kalian minum obat itu, nyawamu bisa terancam! Tunggu perintahku!” serunya di depan sekelompok warga yang panik.
Warga saling menatap, takut. Seorang ibu memeluk anaknya, suaranya gemetar:
“Tapi… aku dengar Duke Wang membantu orang sakit…”
Provokator tertawa dingin.
“Duke? Hanya membuat lebih parah! Jangan tertipu, semua ini jebakan!”
Ia menunda bantuan tabib, menyembunyikan stok obat, dan menyebar berita palsu, membuat kepanikan warga semakin besar. Pasar sepi, banyak yang takut keluar rumah, dan beberapa keluarga menolak perawatan yang nyata karena ketakutan. Setiap malam, rumor itu menyebar semakin cepat—provokator berhasil memanipulasi emosi rakyat, menciptakan kekacauan.
Kini, setelah obat Xiao Mei terbukti ampuh, Duke mengungkap semua tipu muslihat provokator. Rakyat yang sebelumnya takut menatapnya dengan amarah dan kebencian. Hakim kota menatap tegas:
“Kau telah menyebarkan ketakutan, mengancam nyawa, dan merugikan rakyat. Hukum akan menegakkan keadilan.”
Provokator digiring keluar, hukuman dijatuhkan tegas, dan kota perlahan menemukan ketenangan kembali.
Xiao Mei menarik napas panjang. “Kau… kita benar-benar menang.”
Duke menepuk bahu Xiao Mei. “Hari ini kita menutup bab gelap ini. Kota aman, rakyat selamat, dan kita… masih hidup.”
Mereka berjalan di jalan utama kota, membantu warga membersihkan rumah yang terdampak kepanikan, membagikan obat yang tersisa, dan menenangkan anak-anak yang ketakutan.
Seorang pedagang tua menghampiri Xiao Mei, membungkuk hormat:
“Terima kasih, Nona. Keberanianmu dan obat ini menyelamatkan banyak nyawa.”
Xiao Mei tersenyum lemah: “Ini bukan hanya aku… tapi semua yang berani berdiri melawan kegelapan.”
Seorang ibu muda menggendong anaknya, berkata pada Duke:
“Yang Mulia, nyali dan keberanianmu menginspirasi kami. Kota ini aman berkatmu.”
Setelah semua rumah dibersihkan, beberapa warga datang membawa hadiah simbolik sebagai tanda terima kasih:
Seorang gadis kecil menyerahkan boneka kayu yang ia ukir sendiri.
“Ini untukmu, Nona Xiao Mei. Agar kau ingat kami.”
Seorang petani memberikan keranjang berisi buah-buahan segar dari ladangnya.
“Untuk Yang Mulia Duke, agar tetap kuat menjaga rakyat.”
Sekelompok anak-anak menyanyikan lagu sederhana, tersenyum sambil menyalami Duke dan Xiao Mei.
Xiao Mei menatap semua hadiah, matanya berkaca-kaca. “Aku… tak tahu harus berkata apa… terima kasih.”
Duke tersenyum tipis, menunduk hormat kepada rakyat. “Kami hanya melakukan yang benar. Kalian semua berani, dan itulah yang membuat kita menang.”
Rasa hangat dan bahagia menyelimuti kota. Setiap senyum warga, setiap sapaan hangat, mengukir kenangan indah bagi Duke dan Xiao Mei.
Beberapa hari kemudian, Duke dan Xiao Mei berangkat pulang ke desa mereka. Rakyat menyambut mereka dengan sorak-sorai, senyum, dan air mata haru. Anak-anak mengikuti dari kejauhan, meniru langkah Duke dan Xiao Mei, seolah melihat mereka sebagai simbol harapan.
Xiao Mei menoleh ke Duke. “Aku senang semuanya berakhir baik… dan obat itu… ampuh sekali.”
Duke tersenyum. “Benar. Hari ini kita merayakan kemenangan, besok melanjutkan hidup dengan lebih bijaksana.”
Matahari menembus kabut tipis, memantul di genteng desa. Bayangan warga berjalan ke rumah mereka, suara kehidupan kembali bergema. Setiap langkah Duke dan Xiao Mei menjadi simbol bahwa ancaman telah dikalahkan, keadilan ditegakkan, dan harapan pulih.
Di kejauhan, senja hangat menutup hari. Duke dan Xiao Mei menatap jalan desa mereka, menyadari bahwa setiap perjuangan dan pengorbanan memiliki arti—satu nyawa yang diselamatkan dan satu kebenaran yang ditegakkan dapat membawa cahaya bagi banyak orang.
Bersambung…
_________________________________________
Haii gak kerasa nanti malam tarawih pertama dibulan puasa 2026 ini