Di dunia kultivasi yang mengandalkan kekuatan jiwa bawaan sebagai penguat teknik beladiri, Vincent sering diremehkan karena hanya memiliki soul tumbuhan, hal itu membuatnya dipandang sebelah mata dan sering dianiaya oleh sesama murid sekte tempatnya tinggal.
Dan potensi kekuatannya mulai terlihat setelah dilatih oleh ratu Lily, seorang ras elf yang tidak sengaja ia temui ketika dalam keadaan terluka parah. Beliau adalah seorang kultivator domain celestial yang terlempar ke domain fana setelah dikeroyok oleh empat kaisar penguasa dunia tersebut.
Ratu Lily yang nota benenya memiliki soul yang sama dengan Vincent dan sudah ahli dalam penguasaannya, tertarik untuk mengajari Vincent mengembangkan potensi soul tumbuhan tipe langka yaitu soul pohon adam yang merupakan rajanya tumbuhan.
Akankah dengan kekuatan Jiwa kayu yang dilatih dibawah bimbingan ratu Lily ia dapat berdiri di puncak dunia kultivasi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vheindie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak Belur
Semua orang yang sedang melakukan pertemuan langsung berlari keluar. Mereka kaget melihat sosok elang setinggi sepuluh meter berdiri tegap dengan kaki kokoh menghancurkan tanah dibawah pijakannya. Beberapa prajurit penjaga tewas seketika akibat lontaran batu yang menimpa ke arah mereka, sementara tim pemburu langsung pingsan dengan mulut berbusa hanya dengan kedatangan saja.
"Astaga... Yang benar saja, Monster macam apa dia?" Wu Lie serta Lin Dan bergidik ngeri tak mampu menatap langsung sang elang. Aura hitam yang terpancar dari tubuhnya begitu menakutkan.
"Tamat sudah riwayat kita." Kesatria Frederick tampak putus asa.
"Aura membunuh yang sangat menyeramkan." Lee Ming menatap penuh waspada.
"Kau benar. Auranya hampir sama dengan Tetua Agung saat beliau marah" Kepalan tangan Li Jiang mengeras, berhitung peluang menang melawan monster mengerikan tersebut.
"Senior Lee. Apa kita bisa mengalahkan monster seperti ini?" Ah Jun melirik khawatir ke arah Lee Ming dan Li Jiang.
"Mungkin kita harus menggabungkan kekuatan untuk menyerangnya." Yu'er melihat penuh waspada. Keempat murid sekte kabut dan kesatria Sergei masih bisa menjaga ketenangan mereka, walau tekanan luarbiasa juga mereka rasakan.
"Jadi ledakan energi monster ini yang menghancurkan segel pelindung dan memporakporandakan hutan serta rumah penduduk. Sial bagaimana kami harus melawan monster seperti ini?" Kesatria Sergei menatap khawatir.
"Cih... Dimana badjingan itu!" Suara menggema sang elang membuat semua orang yang berada disekitarnya semakin terkejut. Ia menyapu pandangan ke setiap sudut perumahan warga, tanpa mempedulikan orang-orang tersebut.
"Dia bisa bicara bahasa manusia?" kesatria Frederick menatap tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
"Jadi pertarungan hebat yang terjadi sebelumnya adalah ulah mereka. Dan orang yang melawan Monster ini telah kalah lalu kabur," gumam kesatria Sergei.
BRAKK
"Vedevah!! Dasar makhluk rendahan!! Berani sekali mempermainkan turunan binatang suci sepertiku!! Aku bersumpah atas nama leluhur ICARUS. Aku tidak akan melepaskan ataupun melupakan perbuatanmu hari ini.!!"
Sang elang sangat marah setelah tidak mampu menemukan orang yang dicari, meski menggunakan penglihat tajam yang bisa mendeteksi musuh dalam jarak satu kilometer dan dalam kemarahan memancarkan aura hitamnya semakin membesar. Hawa membunuh sedingin es merasuk ke dalam pikiran semua orang, melenyapkan keberanian yang tersisa dalam ketiadaan.
Baik murid terbaik sekte kabut ataupun kesatria terkuat karesidenan Zolford, semuanya bagai kelinci pesakitan yang tidak berdaya untuk tidak menolak kematian yang ada di depan mata. Mereka seperti melihat monster iblis dari neraka, seluruh anggota tubuh mereka menggigil bagai diterpa angin kutub dengan suhu dibawah minus derajat. Sang elang bisa membunuh hanya dengan tekad, dan itu adalah keahlian absolut seorang yang telah mencapai tingkat emperor.
Kesatria Fred, Lin Dan, Wu Lie dan dua pengikut setia Ah Jun membentur tanah dengan bunyi gedebuk. Kelima orang itu tidak bisa berhenti bergetar dan keringatan bercucuran semakin deras. Terbesit rasa sesal dibenak mereka karena datang ke tempat ini.
"Aku tidak ingin mati sia-sia," ujar Ah Jun. Ia pun mengumpulkan keberanian dan memaksakan bergerak dibawah tekanan niat membunuh yang begitu besar. Ah Jun mengeluarkan semua aura dalam diri dan memfokuskan pada titik jiwa, kemudian meledak.
DESTROYING BULL
Teriak Ah Jun melompat mengarahkan tinjunya pada Sang Elang.
'Dia memang paling lemah dan bodoh diantara kami berempat, tapi karena kebodohannya ini lah dia tidak akan berpikir dua kali ketika dalam keadaan terdesak walaupun nyawa taruhannya.' Li Jiang menatap penuh respect.
"Baiklah semuanya!!! Yang dikatakan Junior Jun cukup masuk akal. Kita adalah seorang kultivator yang tidak mungkin mati tanpa perlawanan. Jadi! Ayo kita serang bersama!"
Teknik Scorpion: SOUL STAB
Li Jiang mengikuti jejak juniornya melakukan pukulan yang membentuk soul power manifest diserangannya yang melesat ke arah binatang spiritual tingkat atas tersebut.
SPLITTING LIZARD TAIL
Teknik pedang kaisar: EARTH DRAGON SURGE
EARTH-RIPPING CLAWS
Lee Ming, Yu'er dan kesatria Sergei akhirnya tersadar lalu melakukan hal yang sama.
Lima pukulan soul power siap menghantam sang elang yang nampak masih memandang sebelah mata pada serangan gabungan yang dilakukan oleh kelima orang terkuat saat ini yang berada di tempat tersebut.
"Kita juga harus membantu bos Ah Jun dan ketiga senior lainnya." Lin Dan berusaha berdiri. Membutuhkan waktu lima belas menit untuk ia dan Wu Lie berdiri mengumpulkan keberanian, namun kedua kami mereka tampak bergetar hebat seolah tidak mampu menopang berat badannya sendiri. Dan baru lima detik berdiri dengan benar, keduanya kembali ambruk setelah melihat kekuatan serangan sang pemimpin goa lumut tersebut.
"Dasar makhluk rendahan! Berani mencoba menyerangku dengan pukulan lemah. Kalian masih tidak pantas melawanku."
"Tapi aku akan menghargai usaha kecil kalian. Jadi, aku akan berbaik hati menyambutnya dengan kibasan santai saja." Sang elang bersayap emas menyambut kelima serangan dengan kepakan sayap berenergi petir berpadu element angin. Kepakan sayapnya menciptakan petir hitam berselimut tornado.
"Kibasan kecil gundulmu. Tornado macam ini bisa-bisa menghancurkan seluruh bangunan yang dilewatinya," gumam kesatria Sergei.
Bagai tombak kecil yang dilempar ke tengah-tengah badai, kelima serangan gabungan yang Sergei lakukan bersama keempat murid terbaik sekte kabut terlihat tertelan oleh badai tornado.
"Menghindar!!!" teriak Li Jiang memberi peringatan bahaya. Ah Jun mengikuti intruksi Li Jiang dengan tanggap. Disusul Lee Ming yang terbang ke sebelah kiri, diikuti Yu'er serta kesatria Sergei.
Untung tak bisa dipungkir, malang tak dapat ditolak. Mungkin kelima orang itu untuk saat ini berhasil selamat dari kematian. Berbeda dengan para prajurit kerajaan serta Wu Lie serta tiga abdi setia cucu kedelapan sekte kabut yang harus merelakan nasib naas tersapu oleh badai petir sang keturunan binatang suci ICARUS tersebut.
"Sial... Sia-sia belaka, perbedaan kekuatannya terlalu jauh." Ah Jun tampak frustasi.
"Aku tidak ingin mati muda. Banyak hal yang masih ingin kulakukan!" Ah Jun mencoba melarikan diri tanpa mempedulikan rekannya.
WHUSS
BRAAKK
"Arrgh..."
Namun kecepatannya tidak sebanding dengan lawannya. Ah Jun dengan mudah berhasil ditangkap oleh cengkraman kuat sang elang. Bahkan apesnya, tubuh Ah Jun dibanting ke tanah dan ditekan dengan kuat. Ia memuntahkan banyak darah segar dari mulutnya.
Meski tiga murid ini sering berselisih paham dan tidak menyukai tingkah laku cucu dari tetua kedelapan tersebut. Namun mereka masih tetap peduli padanya, Jadi. Li Jiang, Lee Ming berusaha menolong Ah Jun dengan melompat menyerang dari arah samping kiri-kanan sang elang. Sementara Yu'er melakukan serangan dari belakang melalui titik buta yang paling berpeluang besar.
Namun sang elang dengan mudah mematahkan pukulan mereka bak menampar seekor nyamuk. Ketiganya terlempar jauh dan menabrak puing-puing bangunan. Luka berat dan darah segar pun tak terelakan mereka dapatkan.
"Tolong aku..." Dengan suara pelan Ah Jun berusaha meminta bantuan entah pada siapa, sebab ketiga murid sekte kabut lainnya pun saat ini terluka parah dan jarak darinya sangat jauh. Hanya ada kesatria Sergei sedikit lebih dekat dengannya, namun ia juga ragu untuk menolong. Sebab tindakan tersebut sia-sia belaka, jika melihat apa yang terjadi pada ketiga murid sekte kabut barusan.
Lolong keras dari arah goa bukit lumut menolong Ah Jun dari kematian. Sebab sang elang mulai teralihkan dan melonggarkan cengkraman, sedetik kemudian ia melesat meninggalkan mereka.