NovelToon NovelToon
Promise: Menafsir Kamu

Promise: Menafsir Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Kisah cinta masa kecil / Cinta Terlarang / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Cinta Murni
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Iyikadin

Rayna tak pernah benar-benar memilih. Di antara dua hati yang mencintainya, hanya satu yang selalu diam-diam ia doakan.
Ketika waktu dan takdir mengguncang segalanya, sebuah tragedi membawa Rayna pada luka yang tak pernah ia bayangkan: kehilangan, penyesalan, dan janji-janji yang tak sempat diucapkan.
Lewat kenangan yang tertinggal dan sepucuk catatan terakhir, Rayna mencoba memahami-apa arti mencintai seseorang tanpa pernah tahu apakah ia akan kembali.
"Katanya, kalau cinta itu tulus... waktu takkan memisahkan. Hanya menguji."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iyikadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17 - Gema Nama Ken

"Terkadang, luka dari masa lalu menciptakan labirin yang menyesakkan. Mencari jalan keluar bukan hanya tentang menemukan diri sendiri, tapi juga tentang keberanian untuk tidak melukai orang lain dalam prosesnya."

...***...

Lampu ruang tengah menyala redup, menyambut Ben pulang. Aroma teh melati yang biasanya selalu bikin tenang, malah terasa menyesakkan. Sehabis menjenguk Rayna yang singkat dan hambar, meski dia senyum manis, Ben cuma pengen rebahan. Tapi langkahnya berhenti di depan ruang tengah.

Isak lirih membelah sunyi malam. Ben mengernyit, mendekat pelan-pelan. Pemandangan di ruang tengah bikin dia membeku.

Mama duduk di sofa, meluk erat bingkai foto. Cahaya lampu menyorot wajahnya yang basah. Foto itu... foto yang selalu ada di sana, foto Ken. Kembarannya. Kebanggaan keluarga. Orang yang selalu dibanding-bandingkan dengannya.

"...Ken, Nak," bisik Mama, suaranya getar. "Coba aja kamu masih ada di sini. Pasti Rayna udah bahagia sama kamu. Kamu nggak bakal bikin Mama kecewa... Mama kangen kamu, Nak. Kenapa kamu ninggalin Mama secepat ini?"

Ben mendengus, tangannya terkepal di sisi tubuhnya. "Jadi, gitu ya, Ma? Di mata Mama, Ben masih tetap nggak ada apa-apanya? Cuma Ken yang terbaik?"

Mama tersentak, buru-buru ngusap air matanya. "Ben? Ya ampun, kamu bikin Mama kaget! Mama nggak denger kamu pulang."

"Nggak penting!" tukas Ben, suaranya meninggi. "Yang penting, selama ini Mama selalu mandang sebelah mata kan ke Ben? Mikir Ben nggak bakal bisa bahagiain Rayna? Cuma Ken yang sempurna?! Cuma Ken yang bisa jadi kebanggaan Mama?"

Mama menghela napas panjang, berusaha meredakan emosinya. "Ben, jangan ngomong gitu. Mama cuma... Mama kangen sama Ken. Dia anak yang baik."

"Cuma apa? Nyesel karena yang meninggal itu Ken, bukan Ben?!" Nada suara Ben naik satu oktaf, bergetar karena amarah yang membuncah. "Pengennya Mama, Ken yang nikah sama Rayna, biar Mama bisa pamer ke semua orang?! Biar Mama bisa bilang 'Lihat, anakku sempurna!' gitu?! Ben nggak ada apa-apanya dibanding Ken?!"

Air mata Mama tumpah, menggelengkan kepalanya putus asa. "Ben, Mama nggak pernah mikir kayak gitu. Kamu salah paham. Mama sayang sama kamu, Nak. Kamu anak Mama. Kalian berdua sama-sama Mama sayang."

"Sayang? Bullshit!" Ben tertawa sinis, getir. "Kalau Mama sayang, kenapa Mama selalu ngebanding-bandingin Ben sama Ken? Kenapa Mama selalu maksa Ben buat jadi orang yang bukan Ben? Ben bukan Ken, Ma! Ben punya hidup sendiri yang pengen Ben jalanin! Ken udah nggak ada, dan Ben ada di sini! Kenapa Mama nggak bisa ngeliat itu?!"

"Mama cuma pengen yang terbaik buat kamu, Ben," jawab Mama lirih, air mata mengalir deras membasahi pipinya. "Mama pengen kamu bahagia, Nak. Mama nggak mau kamu salah pilih."

"Bahagia?" Ben menatap Mama dengan tatapan terluka. "Bahagia itu kalau Mama berhenti ngekang Ben! Kalau Mama berhenti nyuruh Ben jadi Ken! Kalau Mama beneran pengen Ben bahagia, lepasin Ben! Biarin Ben milih jalan hidup Ben sendiri! Biarin Ben jadi diri sendiri! Apa Mama pernah mikirin apa yang Ben mau? Apa yang Ben rasain?"

Mama terdiam, tak mampu membantah. Ia tahu, jauh di lubuk hatinya, Ben benar. Selama ini ia terlalu terpaku pada sosok Ken, terlalu memaksakan kehendaknya pada Ben, hingga lupa bahwa Ben adalah individu yang berbeda dengan impian dan cita-citanya sendiri.

"Mama udah janji sama Mama Rayna!" seru Mama akhirnya, dengan nada putus asa yang terdengar menyedihkan. "Mama nggak bisa narik kata-kata Mama gitu aja."

"Janji?! Persetan dengan janji itu!" bentak Ben, matanya berkilat marah. "Jadi janji itu lebih penting daripada kebahagiaan Ben sendiri?!"

Ben membuang muka, tak sanggup lagi menatap Mama. Ia merasa muak, marah, dan kecewa. Ia merasa tak pernah benar-benar dicintai dan diterima apa adanya oleh Mama.

"Ben capek, Ma!" teriak Ben, suaranya pecah oleh emosi yang meluap-luap. "Capek berpura-pura jadi orang lain! Capek hidup di bawah bayang-bayang Ken! Capek denger Mama nyebut nama Ken terus! Ben pengen pergi dari sini! Ben pengen bebas! Ben pengen Mama ngertiin Ben!"

Dengan langkah lebar dan kasar, Ben berbalik dan berjalan cepat menuju kamarnya. Ia membanting pintu kamarnya hingga menimbulkan suara keras yang menggema di seluruh rumah.

Di dalam kamar yang remang-remang, Ben berdiri mematung. Napasnya memburu, dadanya naik turun dengan cepat. Amarah dan kekecewaan bercampur aduk menjadi satu.

Pandangannya tertuju pada meja belajarnya yang berantakan. Di atas meja itu, berdiri sebuah pigura foto. Foto dirinya dan Ken saat mereka masih kecil. Ken, dengan senyum ceria dan mata berbinar. Ben, dengan senyum canggung dan tatapan yang sedikit iri.

Foto itu... foto yang selalu dipajang di kamarnya, sebagai pengingat akan sosok Ken yang sempurna. Pengingat bahwa ia tidak akan pernah bisa seperti Ken. Pengingat bahwa ia selalu nomor dua.

Tanpa berpikir panjang, Ben meraih pigura foto itu. Tangannya gemetar, air mata mulai mengalir deras di pipinya. Ia menggenggam pigura itu erat-erat, seolah ingin meremukkannya menjadi serpihan kecil.

"Gue benci sama lo, Ken!" bisik Ben lirih, suaranya bergetar. "Gue benci karena gue nggak bisa jadi kayak lo! Gue benci karena Mama selalu ngebandingin gue sama lo!"

Dengan sekuat tenaga, Ben melemparkan pigura itu ke tembok.

PRANG!

Suara pecahan kaca membelah keheningan kamar. Pigura itu hancur berkeping-keping, fotonya robek dan tergeletak di lantai bersama serpihan kaca.

Ben terengah-engah, menatap nanar ke arah pecahan pigura itu. Ia merasa sedikit lega, seolah telah melepaskan sebagian dari amarah dan kekecewaannya. Namun, di saat yang sama, ia juga merasa semakin kosong dan hancur.

Ia terduduk lemas di lantai, memeluk lututnya erat-erat. Air matanya terus mengalir, membasahi wajahnya.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi ia tahu satu hal: ia tidak bisa lagi berpura-pura.

Ia harus menghadapi kenyataan, seberat apa pun itu. Ia harus menemukan jalannya sendiri, meskipun itu berarti menyakiti orang-orang yang ia sayangi.

Ben memejamkan mata, sia-sia mencari ketenangan.

Tiba-tiba, layar ponsel menyala. Terpampang foto dirinya dan Rayna saat mereka bertunangan.

Melihat foto itu, Ben dilanda badai emosi. Amarah pada keadaan, kekecewaan pada diri sendiri, dan rasa bersalah karena tak ingin menyakiti Rayna bercampur aduk. Ia tak ingin menyeret Rayna ke dalam masalah keluarganya yang rumit.

Ben menghela napas berat. Ia menatap foto itu lekat-lekat. Rayna tak pantas menerima ini.

Ben memejamkan mata lagi. Ia merasa terperangkap dalam situasi yang semakin menyesakkan.

Pecahan foto Ken di lantai menjadi saksi bisu pergulatan batinnya. Masalahnya bukan hanya tentang Ken, tapi juga tentang kebahagiaan Rayna, kebahagiaan dirinya, dan janji yang terlanjur terucap.

Ben berbaring memunggungi ponselnya. Malam itu, ia tidur dengan hati yang berkecamuk.

Bersambung...

1
Nuri_cha
aiishhh... mimpi! kirain beneran!
Nuri_cha
iih .. kamu yg ke mana. kok malah marah sama Rayna? Bukannya kalian pernah berhubungan saat pertama kali Rayna pindah ke jakarta
Nuri_cha
Ya ampuuuun, Vandooo kamu ke manaaaaa ajaaa?
kim elly
horang kaya dia
kim elly
terus kalo jadian kenapa masalah buat lo
TokoFebri
nggak apa pak. manusia bisa luput dari kesalahan.
TokoFebri
haduh .. buruan ke rumah sakit...😢
TokoFebri
rayna kamu aquarius?
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Dengan terbukanya ben ke Ray hubungan mereka akan lebih baik. Dan Ray walaupun masih kepikiran masa lalu mungkin lama-kelamaan akan ada hati ke Ben
⛧⃝ 𓂃Luo Yi⧗⃟
Pasti sakit sih jadi ben.. secara selalu di banding-bandingkan
mama Al
ah elo mah mumet Mulu ben
mama Al
tinggal bilang kalau kalian di jodohkan.
nanti kalau ada yang dekati kamu ga kaget
🦋RosseRoo🦋
mulai salting kan kau, di panggil cintaku/Slight/
🦋RosseRoo🦋
nglunjak si Ben😌
🦋RosseRoo🦋
oh ya, mau ujian ya. kalo gt fokus sekolah aja deh Ben. Takut jadi gak bsa belajar karena kecapean.
kim elly
kalo gitu lupain vando 🙄
kim elly
🤣cuci muka gosok gigi dah gitu aja
🦋RosseRoo🦋
Ben udah nyaman curhat ke Rayna.
🦋RosseRoo🦋
boleh, buat hilangin ovt dr rumah. kerja capek dapet duit, drpd maen.
🦋RosseRoo🦋
julid amat jadi temen, tp terlalu kepo juga bikin kesel tau. 😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!