NovelToon NovelToon
Rhaella : Kuat Dalam Sakit

Rhaella : Kuat Dalam Sakit

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Mafia / CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Rhaella Delyth adalah seorang gadis cantik dengan kepribadian dingin dan ekspresi wajah yang selalu datar. Meskipun berasal dari keluarga terpandang, kehidupan yang ia jalani jauh dari kata bahagia. Kehadirannya di dunia tidak pernah diharapkan, membuatnya tumbuh dengan hati yang keras dan kesulitan untuk mempercayai orang lain.

Sementara itu, Gabriel adalah seorang pemuda tampan dan berkarisma yang lahir di lingkungan keluarga kaya dan berpengaruh. Di balik pesonanya, ia memiliki sifat dingin, tak mudah didekati, serta sisi kejam yang tidak banyak diketahui orang.

Bagaimana kisah pertemuan mereka bermula? Ikuti perjalanan mereka dalam cerita ini, yang penuh dengan intrik dan adegan penuh ketegangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Gabriel kini sudah sampai di rumah sakit, saat sampai dia bisa melihat ternyata di sana ada ayah dan bundanya serta Griffin yang datang, dia tidak terkejut karena memang bundanya semalam bilang bahwa ingin menjenguk orang tua dari sahabatnya, dan mereka semua sudah sangat akrab satu sama lain begitu pula dengan orang tua dari Calix, Hans dan Merrit.

"Lo dari mana bang?" Tanya Griffin melihat kakaknya yang baru sampai.

"Kenapa?" Tanya Gabriel dengan suara datarnya.

"Ya nggak cuma nanya aja" jawab Griffin dengan cengengesan.

"Kata Merrit tadi kamu di apartemen bang sama cewe?" Tanya bundanya tiba-tiba dan seketika mereka semua yang ada di sana menoleh ke arah Gabriel, Gabriel sendiri sudah menatap tajam ke arah Merrit dan yang di tatap hanya tersenyum miring tidak takut sama sekali dengan ketuanya.

"Sama cewe yang kamu bonceng waktu itu son?" Tanya sang ayah yang terlihat biasa-biasa saja.

"Hmm" jawab datar Gabriel pada ayahnya dan Warren sendiri hanya menganggukkan kepalanya, sudah biasa dengan sifat anaknya yang satu ini.

"Lo bawa siapa ke apartemen lo El? Lo bahkan belum jadian anjir sama Rhaella, Lo malah mau selingkuhin dia aja" Tanya Hans beruntun pada Gabriel. Gabriel sendiri sedang menggaruk alisnya yang tiba-tiba terasa gatal setelah mendengar berbagai pertanyaan kemudian dia menghela nafas lelahnya, dan menatap tajam Hans.

"Lo masih butuh gigi lo?" Tanya Gabriel dengan suara datarnya, Juna bahkan sudah melotot dan langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, Kemudian mengangguk cepat sebagai jawaban iya. Sedangkan Calix sudah menahan tawa melihat wajah takut Hans. Yang lain hanya terkekeh kecil melihat itu.

"Kalian masuk gih, kamu juga" titah bundanya pada Gabriel "bunda mau pulang dulu sama ayah istirahat, soalnya tadi bunda abis dari makam sahabat bunda sama Tante Ashley langsung kesini jengukin maminya Rufus, kita udah dari tadi juga di sini, kalau orang tuanya Merrit, Calix dan Hans mereka udah balik sepuluh menit yang lalu, bunda tunggu kamu datang dulu baru pulang " lanjut Shaera menjelaskan pada anaknya dan sahabat-sahabat anaknya. Gabriel pun mengangguk dan menyalimi kedua orang tuanya.

"Iya Bunda sama ayah hati-hati" ucap Gabriel, Shaera dan Warren pun mengangguk setelah itu Gabriel menyalimi tangan orang tuanya.

"Ayo sayang kita pulang?" Ajak Shaera pada Griffin.

"Griffin balik sama bang El aja Bun" jawab Griffin pada orang tuanya.

"Ya udah kalian hati-hati pulangnya nanti" Mendengar itu Warren pun menoleh ke arah Gabriel dan di angguki oleh anaknya. Setelahnya mereka pergi.

"Iya ayah"

Rhaella sedang memasak makanan untuk makan malamnya, jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam dan Rhaella sudah kembali lapar.

"Gue lupa terus ngembaliin Hoodie Gabriel" gumamnya sendiri tanpa sadari mengingat nama Gabriel, kemudian dia pun tersadar nama siapa yang baru saja dia sebut.

"Anjir kenapa gue tiba-tiba keinget kejadian tadi sih, Gabriel sialan" ucapnya pada diri sendiri yang sedang mamaki Gabriel.

Beginilah Rhaella jika sedang sendiri dia lebih bisa mengekspresikan wajah dan nada bicaranya. Bahkan dia bisa jadi cerewet jika sedang sendiri.

Drrt... Ting...

Suara notifikasi masuk di handphonenya, elsa pun segera mengambil handphonenya dan mengeceknya. Yang kebetulan masakannya juga sudah selesai dia buat.

"Gue harus hati-hati ada yang udah berusaha mau retas data pribadi gue" gumamnya pelan setelah melihat ada username yang tak dikenalinya baru saja mencoba untuk meretas data pribadinya.

"Dia pake username sekali pakai agar tidak di kenali, pinter juga dia, tapi gue lebih pintar, gue bakal tambah kunci dan kirim virus ke user Lo" ucap Rhaella dengan tersenyum devil. Dia sedang berkutat dengan laptopnya dan mulai mengotak-atiknya.

Tak

"Finish" ucapnya setelah menekan tombol enter dan kembali tersenyum miring.

"Gue makan dulu lah, laper banget" katanya langsung berjalan mengambil makanannya di dapur.

"Shitt, dia tahu El datanya di retas" ucap Rufus pada Gabriel.

Yah, yang mencoba meretas data pribadi Rhaella adalah Rufus, mereka saat ini sedang berada di markas Desmond. Rufus memang sengaja menggunakan username anonim agar tidak di kenali dan itu memang berhasil, tapi yang jadi masalah Rhaella sudah membuat kunci tambahan dan saat akan buka virus otomatis terkirim dan membuat laptop mati total.

"Kayaknya gue harus pake username gue sendiri buat retas informasi Rufus El" ucapnya menatap Gabriel di sampingnya.

"Lakuin besok, Lo balik aja ke rumah sakit" ucap Gabriel pada sahabatnya.

"Data diri Rhaella ko di kunci kuat banget, apa yang dia sembunyiin sebenarnya" kali ini Hans yang bersuara karena begitu penasaran.

"Dia bahkan udah tambah lagi kuncinya" celetuk Rufus kembali.

"kemungkinan Dia memang sedang menyembunyikan sesuatu di data dirinya dari orang-orang yang ingin mencari tahu tentang dirinya, dia juga sepertinya ahli banget dalam bidang IT" sambung Calix yang ikut dalam pembahasan Rhaella.

Gabriel saat ini sedang berfikir apa yang lo sembunyikan sebenarnya, semakin gue mencari tahu semakin banyak pertanyaan gue akan diri Lo Rha' gumanya sendiri dalam hati. 1

"Bang Al?" Panggil Aska tiba-tiba membuyarkan lamunannya.

"Hm"

"Ayo balik, Griffin mau ngerjain pr besok hari Senin" kata Griffin pada Gabriel mengajaknya untuk pulang. Gabriel pun mengangguk.

"Kalian juga pulang aja" titahnya pada sahabat-sahabatnya dan di angguki oleh mereka, kemudian Gabriel pun berjalan keluar lebih dulu.

"Bang gue balik dulu yah" pamit Griffin pada sahabat abangnya.

"oke hati-hati Lo berdua" jawab Calix dengan mengangkat jempolnya.

"Gue juga balik" ucap Merrit pada sahabatnya.

"Iya Lo hati-hati" jawab Hans.

"Hm" kemudian Merrit juga keluar dan pergi dari markasnya.

...

Malam ini Rhaella sedang mengendarai motornya untuk pergi ke sebuah supermarket yang dekat dengan apartemennya, namun saat akan sampai di lorong dekat supermarket itu Rhaella melihat ada beberapa orang sedang mengeroyok seseorang, satu orang di keroyok dua belas orang bukankah itu tidak adil, dan elsa pun bisa melihat bahwa seseorang itu sepertinya sudah kewalahan karena melawan orang-orang itu.

Rhaella sebenarnya tidak berniat untuk membantu, hanya saja dia tidak ingin ada pembunuhan terjadi di depan matanya, karena dia melihat ada sebagian dari mereka yang ingin menusuk seseorang itu dari belakang, Rhaella pun kemudian turun dari motornya dan membantu orang itu.

Bugh

Ttaass

Bunyi pisau yang terjatuh setelah di tendang oleh Rhaella.

"Pengecut" desis elsa pada orang yang ingin menusuk itu.

"Ngga usah ikut campur lo" sentak preman itu.

Kemudian seseorang yang dia bantu itu pun menoleh dia bisa melihat Rhaella sedang berkelahi membantu melawan preman-preman itu, kemudian orang itu kembali melawan preman-preman itu dia harus menuntaskan para preman ini setelah itu berterima kasih pada Rhaella.

Bug

Bug

Bug

Bruk

"Anjing cewek sialan" umpat salah satu preman itu karena mendapatkan tendangan beruntun yang tak main-main dari Rhaella, bahkan preman itu sudah mengeluarkan darah dari mulutnya. Tidak sampai di situ Rhaella kembali menendang wajah dan bahu preman lainnya yang berniat untuk menyerangnya.

Bugh

Bugh

Krek

"Aarggh"

Bunyi suara patahan tangan dari salah satu preman itu membuat para temannya melihat dan bergidik ngeri akan keganasan Rhaella.

Bug

Bugh

Bug

"aarrrgh bangsat" umpat kembali preman itu yang kali ini mendapatkan tendangan yang cukup keras dari seseorang itu.

"Beraninya keroyokan, Pergi lo anjing" umpat seseorang itu dengan menendang perut lawannya yang sudah ambruk.

Bug

"Awas aja lo" ucap dari ketua preman itu "cabut" titahnya pada anggotanya, kemudian pergi dari tempat itu dengan keadaan wajah dan tubuh yang tidak baik-baik saja.

Rhaella baru saja ingin pergi dari tempat itu, tapi suara seseorang menghentikan langkahnya.

"Heii, eemm thanks udah bantuin gue, Isabell" ucap seseorang itu dan mengulurkan tangannya kepada Rhaella, Rhaella yang melihat orang itu mengulurkan tangannya pun langsung membalas uluran tangannya "Rhaella" jawab datar dan singkat Rhaella. "Sekali lagi thanks Rhaella" ucap kembali seseorang itu yang bernama Isabella, Rhaella pun menganggukkan kepalanya saja.

Rhaella kemudian kembali berjalan untuk kembali ke motornya yang dia simpan dan melanjutkan tujuan untuk pergi ke supermarket, tapi sesaat Rhaella pun berbalik melihat bahwa Isabell masih berdiri di tempat tadi, Rhaella pun mengkerutkan keningnya, tapi dia tidak peduli biarkan itu menjadi urusannya.

"Eeemm sorry gue boleh minta tolong sekali aja sama lo?" Ucap Keysa pada Rhaella.

"Apa?"

"Emm sorry sebelumnya kalau gue lancang, tapi uang gue udah di ambil sama preman-preman tadi, gue pengen pinjem uang lo buat beli obat untuk luka gue, gue takut kalau gue pulang dengan keadaan kaya gini ibu gue marah" ucap Isabell.

Isabell sebenarnya merasa tidak enak harus meminta bantuan apalagi meminjam uang kepada orang yang membantunya dan lebih lebih orang yang baru dia kenali, tapi dia tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan pada Rhaella apalagi sekarang sudah malam. Meskipun jago bela diri, tapi kalau sudah lelah seperti ini, dia bisa saja ka'o karena sudah kehabisan banyak tenaga, Apalagi jarak untuk ke rumahnya sangat jauh jika harus berjalan kaki.

"Eemm tapi kalau lo ngga bisa bantu juga nggak papa kok" ucap kembali Isabell yang merasa malu karena tidak mendapatkan jawaban dari Elsa.

"Ayo naik" jawab singkat Rhaella pada Isabell. Isabell pun tersenyum senang mendapatkan jawaban. Ia langsung naik ke atas motor Rhaella, dan Rhaella pun kemudian pergi mengendarai motornya.

Mereka pun kini sampai Rhaella memilih supermarket yang memang juga menjual obat-obatan, Isabell hanya mengikuti kemana Rhaella berjalan. Isabell bisa melihat elsa sedang mengambil kebutuhan mandinya, setelah itu Elsa berjalan menuju tempat obat-obatan tersusun rapi.

"Lo pilih aja apa yang lo butuhin?" ucap datar Rhaella pada keysa dan keysa pun mengangguk pelan merasa tidak enak. Kemudian Isabell pun mengambil beberapa apa yang dia butuhkan untuk mengobati lukanya.

"Eemm gue cuma butuh ini " jawab Isabell memperlihatkan apa yang dia ambil.

"Lo ngga butuh yang lain lagi selain ini?" Tanya Rhaella kembali dengan menunjuk apa yang Isabell ambil.

"Nggak, udah ini aja" jawab Isabell dengan gelengan Rhaella pun hanya mengangguk kemudian berjalan menuju kasih.

"Totalnya enam puluh ribu kak" ucap kasir itu.

Rhaella kemudian memberikan uang pas pada kasih itu lalu berjalan keluar menuju tempat parkir.

"Lo tinggal dimana biar sekalian gue anter" ucap Rhaella yang sudah tiba di parkiran.

"Eemm gue tinggal di perumahan graha indah tapi gue nggak bisa pulang dengan keadaan kaya gini, gue harus bersihin dulu luka-luka gue, gue takut ibu gue marah liat ini" jawab Isabell apa adanya. Elsa yang mendengar itu menganggukan kepalanya mengerti.

"Ayo naik, lo ke apartemen gue dulu, ntar gue anterin lo balik" ajak Rhaella pada Isabell.

"Maaf udah ngerepotin lo banyak malam ini, gue janji bakal bakal budi kebaikan lo" ucap tulus Isabell pada Rhaella.

"Hmm ayo naik" Isabell pun kemudian kembali naik ke atas motor Rhaella.

...

Setelah beberapa menit berkendara Elsa yang membonceng Isabell pun sampai di apartemen Rhaella, kemudian mereka berdua berjalan menuju lift dengan Isabell yang berjalan di belakang mengekori Rhaella. Beberapa menit kemudian mereka sampai di depan kamar apartemen milik Rhaella, Rhaella pun memencet password apartemennya, membuka pintu dan mempersilahkan Isabell untuk masuk.

"Ayo masuk" ajak Rhaella dengan nada datarnya. Isabell pun mengangguk dengan senyuman.

Isabell yang melihat keadaan kamar apartemen Rhaella yang begitu luas pun hanya mengaguminya saja tidak banyak bicara, dia masih memiliki etika bertamu apalagi pada orang yang baru dia kenal. Dia berfikir bahwa kehidupan Rhaella sangat sempurna, Isabell tidak tahu saja bahwa kehidupan elsa yang dia anggap sempurna sangat berbanding terbalik dengan pikirannya.

"Lo duduk di situ aja" Rhaella mengarahkan keysa untuk duduk di sofa ruang tamunya, dan Isabell pun mengangguk pelan.

"Lo bisa obatin sendiri luka Lo kan?"

"Iya gue bisa, gue sering ko kaya begini" jawab Isabell dan Rhaella pun mengangguk kemudian berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman. Rhaella hanya melihat datar Isabell yang sedang mengobati lukanya, dia tidak terpengaruh dengan luka yang Isabell dapatkan, bahkan luka itu sangat kecil bagi Rhaella yang sudah sering mendapatkan luka di sekujur tubuhnya. Rhaella pun menatap wajah Isabell jika dilihat dari wajahnya sepertinya Isabell seumuran dengannya.

"Lo udah makan?" Tanya Rhaella yang baru kembali dari dapur membawa dua minuman kaleng dan memberikan satu untuk Isabell.

"Udah" jawab Keysa, Rhaella pun mengangguk.

"Elsa Lo sekolah dimana?" tanya Isabell

"Duchess's Internasional High school" jawab Rhaella "kenapa?" Lanjutnya lagi dengan meminum minumannya.

"Gue ke sekolah lo ya besok, gue mau ganti uang buat beli obat ini" jawab Isabell.

"Nggak perlu, gue ikhlas bantu"

"Tapi gue nggak enak, gue ngerasa kaya punya hutang"

"Ya udah terserah" jawab Rhaella dengan mengangkat bahunya.

"Oke" jawab Isabell dengan tersenyum, berbeda dengan elsa yang masih menampilkan wajah datarnya. Namun dalam pikirannya dia merasa akrab dan nyaman berbicara dengan Isabell.

"Kenapa lo bisa berurusan dengan preman-preman tadi?" Tanya Rhaella yang sedikit keро.

"Tadi sore waktu gue berangkat kerja, gue nggak sengaja liat salah satu dari preman tadi lagi palakkin anak-anak, gue merasa kasihan sama anak-anak itu karena di pukuli sama preman ya gue hajar lah si preman sialan itu, enak aja main palak-palak, tapi ternyata setelah gue hajar tuh preman dia ngikutin gue ke tempat kerja gue dan nungguin gue pulang kerja buat balas dendam dan berakhir lah kaya yang lo liat tadi preman itu manggil temen-temennya buat ngeroyok gue" jawab Isabell menjelaskan kronologinya dan Rhaella yang mendengar itu pun mengganggukkan kepalanya pelan.

"Eemm rRhaella... boleh anterin gue pulang sekarang nggak ini udah jam 10" tanya Isabell pada elsa sebenarnya dia sungkan bebicara seperti itu tapi karena memang dia sudah tidak punya uang lagi untuk bisa memesan taxi untuk pulang.

"Ayo" Isabell pun mengangguk tersenyum dan bangun mengikuti langkah kaki Rhaella.

"Biar gue aja yang bawa sa lo ngga tau kan tempat tinggal gue?" Ucap Isabell pada Rhaella.

"Lo bisa bawa motor ini?" Tanya Rhaella dengan mengkerutkan keningnya.

"Bisa ko, sering banget malah"

"Oke"

Kemudian Isabell pun naik lebih dulu dan di ikuti oleh Rhaella yang naik di jok belakang, kemudian Isabell melajukan motor Rhaella, hingga mereka sampai kurang lebih lima belas menit karena Isabell mengendarainya sedikit kencang dan Rhaella tidak masalah dengan itu, malah dia terlihat biasa biasa saja. mereka pun kini sudah sampai di Sebuah rumah yang cukup besar bercatkan warna cream. Rhaella dan keysa pun turun dari motor kemudian Keysa langsung berpamitan pada Rhaella.

"Rhaella makasih banyak buat bantuan lo hari ini, gue pamit masuk dulu" ucap Isabell dan Rhaella pun hanya berdehem dan menganggukkan kepalanya.

"Ya udah kalau gitu gue masuk dulu" Rhaella hanya mengangguk kembali dan kemudian Rhaella melajukan motornya menuju apartemennya. Saat sudah sampai di apartemennya, Rhaella langsung masuk menuju kamar mandi untuk membersihkan diri terlihat dahulu lalu kemudian menuju kasur empuknya untuk segera tidur, karena dia merasa hari ini cukup melelahkan untuknya.

Saat ini Isabell sudah berada di depan pintu masuk rumah, dia menghela nafas panjangnya terlebih dahulu sebelum mengetuk pintu.

Tok

Tok

Tok

Beberapa detik kemudian pintu pun terbuka dan muncullah seorang wanita paruh baya yang melihat Isabell dengan wajah judesnya.

"Baru pulang kamu Jam segini? Ngapain aja baru pulang ha?" Sentak wanita itu langsung bertanya yang tidak-tidak pada Isabell.

"Aku kan kerja Bu, Bu Thu sendiri kan, aku juga terlambat pulang karena ada sedikit insiden tadi" jawab Isabell dengan nada sopannya.

"Aalaaah pasti bohong dia Bu, paling juga ngegodain om-om dulu baru pulang" jawab seseorang lagi yang baru saja turun dari tangga.

"Gue ngga kaya gitu ya na" bantah Isabell membela diri dari tuduhan seseorang itu.

"Alasan lo, ini udah mau jam 11 malam dan lo baru pulang dari tempat kerja lo yang biasanya lo pulang kerja jam 9" kata seseorang itu terus menjelekkan Isabell.

"Dasar anak nggak tahu di untung ya kamu" sentak wanita paruh baya itu pada Isabell.

"Luna lo jangan nuduh gue sembarangan, gue emang ada insiden tadi makanya terlambat pulang, emangnya lo liat gue ngegoda om-om?" jawab Isabell.

"Berani kamu meninggikan Suara kamu pada anak saya ha? Jangan macam-macam kamu Isabell, saya bisa usir kamu sekarang juga dari rumah saya, ngerti" Ucap wanita paruh baya itu dengan mata yang sudah melotot ke arah Isabell.

"Maafin Isabell Bu" ucap Isabell yang sudah menunduk.

"Udah sana Lo masuk ngga usah bikin drama di sini, cucian piring udah numpuk, lo cuci sana" sentak Luna kemudian pergi bersama dengan ibunya ke lantai dua.

Yah gadis yang baru saja menyuruh Isabell untuk mencuci piring adalah Luna, LunaJohnson teman dari Daena geng Mira.

Luna adalah anak kandung dari keluarga Johnson, sedangkan Isabell adalah anak adopsi yang tujuh belas tahun lalu sengaja mereka ambil dari panti asuhan untuk memancing ibu dari Luna untuk hamil, dan yah setelah dua bulan mereka mengasuh Isabell, ibu Luna pun hamil dan lahirlah Luna.

Isabell pun tahu bahwa dirinya adalah anak panti asuhan yang di ambil oleh ibu Luna hanya untuk memancing agar segera hamil. Dari mana isabell tahu bahwa dia adalah anak panti asuhan karena ibu Luna sendiri yang memberi tahu padanya, Isabell sebenarnya tidak heran jika dia memang bukan anak kandung dari keluarga Johnson, karena dari segi perawakan wajah saja mereka sangat jauh berbeda, jika Isabell yang tinggi dengan kulit putihnya, maka Luna itu pendek dan kulitnya sawo matang, Jika Isabell itu hidungnya mancung maka Luna adalah kebalikannya, Isabell bersekolah di sekolah negeri dan Luna bersekolah di sekolah swasta dengan biaya sekolah yang tinggi.

Awal mulanya mereka hidup rukun, ayah Luna pun sangat menyayangi Isabell, dia tidak pernah membeda bedakan akan kasih sayangnya pada Isabell maupun Luna, tapi karna Isabell yang jauh lebih cerdas dan pintar, banyak juga yang menyukainya Luna pun merasa iri akan hal itu dan Luna merasa bahwa ayahnya juga lebih menyayangi Isabell di bandingkan dengan dirinya. Hingga pada suatu ketika kabar duka menyelimuti keluarga Johnson, sang kepala keluarga ayah Luna atau ayah angkat Isabell meninggal dunia dalam kecelakaan pesawat saat akan pulang dari perjalanan bisnisnya. Sejak saat itulah ibu angkatnya dan Luna berubah sikap kepada Isabell, bahkan mereka menganggap Isabell adalah pelayan di rumah mereka, Tapi Isabell masih bersabar hati menerima perlakuan semena-mena mereka, dia menganggap bahwa itu adalah bentuk baktinya kepada ayah dan ibu angkatnya yang sudah membesarkan dan merawatnya.

Saat ini Isabell sedang mencuci piring di dapur kemudian membersihkan meja makan bekas mereka makan malam.

"Ayah apa boleh Isabell menyerah, Isabell merasa tidak sanggup jika harus selalu seperti ini" ucapnya lirih pada diri sendiri mengadu pada sang ayah angkatnya yang telah tiada.

"Apa gue keluar aja dari rumah ini yah, terus gue bisa cari kosan yang murah buat gue tinggali, gue bisa bayar dari gaji gue di cafe, gue bisa jual juga motor sport gue, terus gue beli motor yang bekas tapi lengkap sisa uangnya buat pegangan kedepannya" gumamnya memikirkan keputusannya untuk pergi dari kediaman Johnson. Isabell memang memiliki motor sportnya yang di belikan oleh ayah angkatnya, tapi dia menyimpannya di bengkel dekat rumahnya. Dia akan mengambil motonya saat akan pergi ke sekolah atau urusan lainnya, sedangkan untuk kerja dia tidak memakai motornya.

"Besok gue cari dulu kosannya yang ngga Deket sama sekolah dan tempat kerja gue, biar mereka ngga nyari-nyari gue lagi, setelah gue dapet gue bisa langsung kabur malemnya" sambungnya lagi kemudian tersenyum.

Jika kalian berfikir Isabell adalah gadis yang pasrah akan keadaan kalian salah, Isabell adalah gadis yang pintar, sedikit bar-bar dan lumayan jago dalam bela diri meski tidak mahir dan pro seperti Rhaella, tapi cukup untuk bisa melindungi dirinya sendiri.

Setelah menyelesaikan cucian piringnya, Isabell pun berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan diri kemudian istirahat karena besok sudah akan masuk sekolah.

1
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Lnjtkn, De, dtunggu Up Slnjtx ❤️🤗😘
⚔️⃠🧸🍁𝐘𝐖❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Siap, De, Dtunggu 🙏👍🥳
Varia Irene Patola: ditunggu yah Up nya
total 2 replies
Nda_Zlnt
luar biasa
Nda_Zlnt
lanjut thor
Varia Irene Patola: Siap dehhhh aku lanjut yah ini...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!