Kisah Jerry, Eza dan Nilo seorang wanita 21 tahun yang sangat suka sekali berdiam diri di Rumah dan memiliki ilusi yang sangat kuat.
Bahkan Nilo bisa menceritakan bagaimana rupa suaminya itu, bagaimana mereka menikah, bagaimana mereka melewati malam pertama dengan begitu detail. Namun itu semua hanyalah khayalan Nilo.
Nilo tersesat antara kehidupan nyata dan imajinasinya.
Akankah Nilo tersadar dan bagaimana Nilo menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marimar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps. 17
Sesampainya di Rumah Sakit, Dokter melakukan foto Rontgen pada kaki Nilo untungnya tidak ada bagian yang retak, namun tetap saja terlihat ada ligamen yang robek dan membengkak hingga mengharuskan Dokter memberi perban elastis di sepanjang area pergelangan kaki Nilo, dan juga membuka perban kecil yang di berikan oleh Gizz pagi tadi memberikan obat dan menutup luka dengan kasa dan 2 plester untuk merekatkannya.
Dokter pun berpesan agar Nilo terus memakai perban pada pergelangan kakinya selama 2 sampai 3 hari, mengurangi aktivitas berjalan, melepas perban saat hendak tidur di malam hari.
Nilo dan Jerry pun kembali, seorang suster mengantar Nilo dengan kursi roda, sementara Jerry memegang tangan Nilo di sepanjang jalan menuju mobilnya.
“Jika sesuatu terjadi, ingat untuk menelpon ku!” tukas Jerry setelah siap untuk mengemudikan mobilnya.
Nilo hanya tersenyum pahit mendengar ucapan Jerry.
“Aku akan tidur di rumah mu, untuk menjaga mu.” tutur Jerry lagi yang tidak mendapatkan jawaban apa pun dari kalimat pertamanya.
“Hanya selama kau sakit maksud ku.” tambah Jerry wajahnya memerah karena merasa ada sesuatu pada ucapan sebelumnya.
“Apa tidak bisa selamanya?” timpal Nilo seraya menyandarkan kepalanya di pundak Jerry.
Jangan, jangan terlalu dekat. Batin Jerry, takut Nilo mendengar suara degup jantungnya yang begitu keras.
“Ah ya, duduklah yang benar.” titah Jerry, dan mengiyakan agar Nilo kembali duduk dengan benar sesuai titah Jerry.
“Tapi sayang, apa kamu sungguh tidak tau?” tanya Nilo, ia mulai berpikir pagi tadi mungkin ia benar-benar hanya berhalusinasi.
“Tidak tau apa?”
“Kaki ku terkilir, maksud ku kamu baru tau siang ini?” penasaran Nilo hingga memajukan wajahnya lebih dekat hanya untuk melihat ekspresi Jerry dengan jelas.
“Iya, apa kau pikir aku cenayang?” timpal Jerry maksudnya adalah apa dia bisa tau tanpa di beritahu.
Nilo kembali bersandar di kursinya setelah melihat wajah Jerry yang sangat jelas sedang tidak berbohong.
Mereka pun sampai di rumah kembali, Jerry menggendong Nilo membawanya masuk ke dalam kamar Nilo, merebahkan Nilo di ranjang dan menyelimuti kaki Nilo.
“Tunggu sebentar, jangan kemana-mana?” tukas Nilo sebelum meninggalkan Nilo sendiri di dalam kamar.
Jerry pergi ke dapur mencari bibi Nata.
“Bi, di mana makan siang tadi?” cakap Jerry pada Bibi Nata.
“Ini Le,” jawab Bibi Nata dengan menunjukkan rantang di tangannya.
“Hehe maaf bi, aku pikir Nilo akan di rawat di rumah sakit.” timpal Jerry dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Ya, Apa Nilo baik-baik saja?” tanya Bibi Nata seraya mengikuti Jerry yang berjalan ke arah kamar Nilo.
“Perlu perawatan Bi, karena itu aku akan tinggal disini.” ucap Jerry.
“Hanya beberapa hari Bi Nata.” tambah Jerry menyadari perubahan ekspresi pada Bibi Nata yang terlihat kaget dan tidak setuju dengan ucapannya.
Bibi Nata pun masuk ke dalam kamar Nilo mengikuti Jerry.
Bibi Nata,Nilo dan Jerry berbincang-bincang sembari Jerry menyuapkan makan siang pada Nilo dan juga dirinya dengan 1 sendok yang sama. Nilo dan Jerry terlihat santai di depan Bibi Nata makan dengan 1 sendok bergantian dari mulut Nilo ke mulut Jerry begitu seterusnya tanpa merasa beban sedikit pun.
Tanpa sadar mereka telah menghabiskan makan siang mereka dan sepertinya Bibi Nata sudah sangat hapal seberapa banyak makanan untuk 2 orang, makan siang mereka habis bertepatan dengan rasa kenyang pada Nilo dan Jerry.
Jerry pun memberikan segelas air minum pada Nilo dan lagi Jerry minum setelah Nilo selesai memakai gelasnya dan minum dengan gelas yang sama tepat di bekas bibir Nilo.
Bibi Nata yang melihat Jerry hanya menggelengkan kepalanya, Bibi Nata pun mengambil rantang dan juga gelas yang sudah di pakai itu dan pamit meninggalkan Nilo dan Jerry.
Namun Jerry ikut bersama Bibi Nata membawa teko yang sudah hampir habis untuk mengisi ulang air minum dan mengambil gelas bersih untuk Nilo.
Beberapa menit kemudian.
“Apa itu?” tanya Nilo melihat Jerry yang kembali tidak hanya membawa teko berisi air minum.
“Ini peralatan untuk merawat mu.” Jerry mengangkat nampan yang ia bawa berisi teko air minum, gelas, wadah es blok dan handuk.
Wajah Nilo bingung. Jerry pun meletakkan teko dan gelas di meja, lalu menyingkap selimut yang menutupi kaki Nilo.
Jerry membuka perban coklat pada pergelangan kaki Nilo, dan membungkus es blok ke dalam handuk, lalu mengompres pelan pergelangan kaki Nilo yang tampak membiru dan bengkak.
“Sebaiknya kau rebahan saja.” tukas Jerry.
“Apa kau ingin membuat ku gendut, sehabis makan langsung rebahan.” protes Nilo, ternyata Nilo mengetahui kebiasaan buruk yang bisa menyebabkan ia menjadi gendut, karena itu walau Nilo hanya di bermalas-malasn di rumah tubuhnya tetap terjaga.
Jerry pun mengompres luka lebam nan bengkak di kaki Nilo dengan lembut. Setelah beberapa lama tidak terdengar lagi ocehan Nilo.
Jerry memajukan bibir bawahnya melihat ke arah Nilo yang ternyata sudah tertidur dengan posisi duduk bersandar di tempat tidurnya. Katanya bikin gendut. Jerry mengejek Nilo yang tertidur setelah makan.
Jerry pun memasangkan kembali perban coklat yang tadi ia lepas dan memperbaiki posisi tidur Nilo lalu menutupi seluruh tubuh Nilo hingga lehernya dengan selimut, ia mengendap jalan keluar dengan membawa peralatan tempurnya.
Jerry pun pamit pada Bibi Nata untuk kembali bekerja, dia telah terlambat 1 jam.
Sejak saat itu Jerry berlaku menjadi dirinya sendiri. Jika ia tidak tahu, ia akan bertanya dan berhenti untuk pura-pura tahu agar Nilo tidak mencurigainya.
Singkat cerita hubungan Nilo dan Jerry sangat baik layaknya pasangan sesungguhnya, tapi kini Jerry telah mengetahui bahwa Nilo telah di jodohkan dengan alasan bisnis, Jerry pun berupaya membantu Nilo agar itu tidak terjadi, namun pria yang di jodohkan dengan Nilo tidak ingin membatalkan perjodohan mereka bahkan mengancam jika perjodohan batal, perusahaan ayah Nilo yang telah di bangun sejak Nilo berusia 1 tahun bukan hanya akan kritis namun seketika akan jatuh bangkrut.
Pernikahan pun berjalan sesuai keinginan pria yang di jodohkan dengan Nilo.
Sehari setelah pernikahan Nilo, Jerry sangat terpuruk, ia datang untuk bekerja namun jiwanya tidak berada di sana, rapat di hari itu menjadi rapat terburuk sepanjang karirnya di Andava.
“Ada apa dengan Jerry?” bisik Gara pada Ben setelah keluar dari ruangan rapat, untungnya Jerry tidak menghadiri rapat sendiri, hingga Ben dan Gara dapat menanganinya.
“Entah, dia tidak pernah cerita kehidupan pribadinya.” jawab Ben karena sungguh ia tidak mengetahui kehidupan Jerry terlebih setelah mengenal Nilo, waktu kebersamaan Jerry dengan Ben menjadi sangat langka.
“Ini kali pertama aku melihatnya sekacau ini.” tutur. Gara pelan.
“Kau tanya pada istrimu, dia adalah sahabatnya.” cakap Ben meminta Gara untuk bertanya pada Divine.
Ben dan Gara mengintip Jerry di ruangannya.
Sedangkan Jerry sedang duduk di kursi memegang kepalanya yang sudah ingin pecah.
kangen banget aku Ama Nilo
penasaran aku gak ilang² lho Thor Ama novelmu ini
setiap up adaaaa aja misterinya😁
Jan lama² ya Thor up nya aku setia nunggu lho😚
kelakuan Evan... jadi suka akunya sama doi🤭
Jerry kemana Thor? kangen juga ama cerita si Deddy satu ini😁