NovelToon NovelToon
Istri Tak Tergapai

Istri Tak Tergapai

Status: tamat
Genre:Menantu Pria/matrilokal / Angst / Romansa / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.7
Nama Author: Kirana Pramudya

“Cinta tidak memberikan apa pun kecuali dirinya sendiri dan tidak meminta apa pun selain cinta itu sendiri. Terluka dalam pemahaman tentang cinta. Berdarah dengan penuh ikhlas dengan penuh sukacita.”

Bagaimana memulai rumah tangga jika sama sekali tidak ada cinta? Hanya mendasarkan hubungan pada kompromi dan rasa hormat. Itu yang dijalani Ravendra Jaya Wardhana dan Medhina Kartika. Menjalani rumah tangga hanya sekadar formalitas, tidak ada rona dalam rumah tangganya. Kenyataan makin pelik karena Medhina masih begitu mencintai mantan kekasihnya, Andreas Saputra. Dalam upaya menggapai rumah tangga yang bahagia, Ravendra justru akan merelakan istrinya itu untuk kembali bersama dengan mantan kekasihnya lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perasaan Emosional

Ravendra tersenyum menatap wajah Medhina yang bersemu merah, kendati demikian Ravendra tidak akan menghampiri Medhina saat ini. Sekali pun dia begitu berhasrat, tetapi setidaknya hubungan suami istri itu terjalin karena kesepakatan bersama bukan karena hasrat semata.

Kedua bola mata pria itu turun dan melihat tanda merah yang dia buat di leher Medhina. Pria itu sontak tersenyum dan ibu jarinya bergerak untuk mengusap tanda merah di leher Medhina itu, “Sudah sah, kalau kamu adalah milikku,” ucapnya dengan menekankan ibu jarinya di bagian merah di leher Medhina itu.

Sontak saja, Medhina menepis ibu jari Ravendra yang masih bergerak di lehernya, “Gila,” umpatnya kali ini kepada Ravendra.

Usai itu, Medhina memilih untuk menuju tempat tidur dan menyelimuti dirinya. Berlama-lama dengan Ravendra, justru membuat darahnya semakin naik. Untuk itu, sekali pun hari belum terlalu malam, tetapi Medhina memilih untuk tidur.

Akan tetapi, saat Medhina menaiki tempat tidur dan menarik selimut putih yang tebal itu, Ravendra pun turut mengikuti Medhina. Tanpa permisi pria itu memeluk Medhina dari belakang, mendekapnya dengan begitu erat.

Pria itu menyibak untaian rambut Medhina dan berbisik lirih di sisi telinga Medhina, “Haruskah kita teruskan malam ini? Sekali pun hanya sebentar, tetapi aku tidak masalah,” ucapnya kali ini.

Akan tetapi, Medhina segera menggelengkan kepalanya, “Tidak! Lagipula, siapa yang mau. Main sendiri saja,” sahutnya.

Ravendra justru tertawa, “Hahahha, kamu tega banget sih, Dhin … aku sudah punya kamu, tetapi kamu justru menyuruhku bermain Solo. Bermain sendiri, kamu enggak asyik ah,” ucapnya dengan mengacak lembut puncak kepala Medhina.

Bak emosinya sudah di ubun-ubun, Medhina pun membalikkan badannya, hingga kini dia bisa berhadapan dengan Ravendra. Wanita itu menatap Ravendra dengan sorot matanya yang tajam, “Jadi, kamu menikahiku hanya untuk ini? Aku menyesal,” ucap Medhina pada Ravendra.

Rasanya rasa sakit di dalam dada menyeruak begitu saja, seolah bagi Medhina saat ini Ravendra menikahinya hanya untuk mendapatkan tubuhnya. Medhina berpikir semua pria sama saja dan hanya menginginkan kepuasan semata.

“Jika, kamu memang menikahiku hanya untuk itu, lakukanlah sesukamu terhadap tubuhku ini.” Kali ini Medhina berbicara dengan mata yang berkaca-kaca.

Tanpa diprediksi Medhina membuka sendiri kancing piyamanya hingga menunjukkan bagian atasnya yang putih mulus, dengan sebuah braa berwarna pink yang terlihat begitu manis di sana. Sembulan buah persik yang terlihat manis, terkesan menggiurkan.

“Kamu menikahiku hanya untuk ini kan?” tanya Medhina dengan memincingkan matanya melihat Ravendra.

Sementara Ravendra sendiri, tidak mengira bahwa Medhina akan seemosional ini. Mungkin wanita di hadapannya memiliki sifat yang keras dan meledak-ledak seperti ini.

Ravendra pun kemudian duduk, tangannya juga bergerak untuk membawa Medhina untuk duduk, pria itu lantas mengancingkan kembali setiap kancing dan memasukkan pada sarang kancing piyama itu. Ravendra kemudian menatap Medhina dengan sorot matanya yang tajam, “Sayangnya, aku menikahimu bukan untuk mencicipi tubuhmu. Aku bukan pria berengsek yang hanya mengedepanku nafsuku. Sekali pun aku menginginkanmu, tetapi aku adalah pria baik-baik, aku yakin bahwa aku menikahimu bukan karena tubuhmu. Lebih dari yang kau tahu, aku berusaha untuk mencintaimu, berusaha memberikan hatiku sepenuhnya untukmu. Membina rumah tangga yang di dalamnya hanya ada kamu dan aku,” ucap Ravendra dengan tegas.

Mendengar ucapan Ravendra yang tegas, dan sorot matanya yang dalam, serta raut wajah yang menunjukkan keseriusan, Medhina pun mulai terisak. Dia memegangi puncak piyama yang berada di depan dadanya, meremasnya sekuat mungkin.

Ravendra kemudian membawa kedua tangannya untuk menyentuh kedua bahu Medhina.

“Lihat aku, Dhina … malam ini aku berjanji. Aku tidak akan menyentuhmu, hingga kamu yakin bahwa aku pria yang tepat untukmu. Biarlah dunia mengatakan bahwa aku bodoh, tetapi aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Seorang Ravendra Wardhana tidak akan pernah ingkar janji, kamu bisa memegang ucapanku ini,” usai mengatakan itu, Ravendra berdiri begitu saja dari tempat tidurnya, dan pria itu memilih pergi meninggalkan Medhina seorang diri.

Ravendra memilih menenangkan dirinya. Pria itu mengusap kasar wajahnya, hatinya terasa sakit saat Medhina membuka piyamanya dan menuduhnya bahwa dirinya menikah hanya untuk mencicipi tubuhnya. Sungguh, tuduhan yang melukai harga diri Ravendra.

“Suatu saat kamu akan datang padaku, Dhina … akan aku perlihatkan cintaku yang tulus untukmu,” ucap Ravendra sembari berjalan-jalan dan mencari angin segar di luar hotel malam itu.

Sementara di dalam kamarnya, Medhina pun menangis. Wanita itu meringkuk di atas tempat tidur, merasa dirinya memang bukan istri yang tunduk kepada suami. Bahkan malam pertama usai pernikahan harus dia jalani dengan air mata. Sungguh, Medhina hanya bisa meratap perih.

Wanita itu kemudian mengingat setiap perkataan Ravendra, hingga Medhina pun memilih memejamkan matanya. Benarkah ada pria yang tidak akan menyentuh istrinya tanpa seizin dari sang istri? Mungkinkah Ravendra benar-benar serius dengan ucapannya barusan?

***

Nyaris tengah malam, Ravendra kembali memasuki kamar hotelnya. Pria itu melihat Medhina yang meringkuk di atas tempat tidur. Kemudian Ravendra menarik selimut guna menyelimuti tubuh Medhina. Setelahnya, Ravendra pun membaringkan dirinya di sisi Medhina, pria itu memilih memunggungi Medhina.

“Tidurlah Dhina … maaf tadi aku menggodamu, hingga membuatmu menangis. Tidurlah, hari esok sudah menyambut kita,” gumam pria itu dan kemudian memilih memejamkan matanya.

Berharap malam akan membuainya dalam tidur yang lelap, dan berharap esok pagi keduanya bisa menyambut pagi dengan semangat yang lebih baik lagi. Lebih daripada itu, di dalam hatinya, Ravendra juga berharap bahwa Medhina bisa melembutkan hatinya. Dengan hati yang lembutlah, Medhina bisa merasakan tulusnya rasa yang sekarang Ravendra miliki untuknya.

1
Gina Savitri
Makanya papa darren jangan suka bohong, giliran sakit bnrn dan meninggal nggak ada vendra yg nemenin di sampingnya 😏
Gina Savitri
Lagian vendra kaya hidup jaman batu, jagain papa darren apa gak bisa telpon atau video call anak2 dan istri di rumah
Biar nggak putus komunikasi juga dan medina serta anak2nya bisa di perhatikan juga tiap harinya..
Eny Rinansih
Luar biasa
Anonim
membaca hepi ending cerita ini rasanya plong bgt. gak perlu harta segudang, punya keluarga kecil rav serasa punya harta karun /Smile/
mifta churohmah
Akhirnya..hapy emding. bagus banget ceritanya, saya suka novel novelmu thor, selalu ada sisi positifnya yg bisa saya ambil. makasih banyak thor, sehat selalu.
Shifa Burhan
saat raven begitu tulus mencintai dhina dan begitu ikhlas menerima dhina dengan semua masa lalunya dan selalu mempercayai dhina

tapi dhina segampang itu lebih mempercayai orang lain, ragu dengan masa lalu suaminya, dhina cinta mu memang tulus tapi hati mu tidak ikhlas pada suamimu
Oma Umi
tak dukung terus..
Opa Sujimim
akhirnya bahagia ,lanjut ke anak²mereka ya kk
vi
aq cek di NT GA ada??
Kirana Pramudya: Ada Kak.
Judulnya Duda Terpaksa Turun Ranjang
total 1 replies
DwiFitriani
siap meluncur thor😍
A R
wahh mksh kakakkk sdh tulis karya baruuu. semangattt kakak 💪
Aini Tri
karya. .baru...lagi ..ya. kakak
.
Sumar Sutinah
tank y thor ceritanya bagus aq suka, suami yg penuh kesabaran, d tunggu karya" mu say. /Heart//Heart//Heart/
mama Al: mampir kak ke karyaku after wedding Panji dan Echa
total 1 replies
indah riesmi
semangat kak Kirana, selalu cinta karya karyamu...😍
Esther
siap menunggu cerita Rangga & Irene.
utk Indi & Satria tdk dilanjut thor
Esther
akhirnya tamat dengan kebahagiaan keluarga Vendra🥰.
terima kasih thor utk cerita indahnya.
A R
ditunggu apdetan rangga n irene nya kakak... nahyab smp ktm thn depan ya. semangatt kakakk
sella surya amanda
lanjut
Ainajla
siap menunggu klnjutan kisah air langga kak... sehat dan sukses selalu kak😘
Dian Isnawati
ditunggu kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!