Aku bukan siapa-siapa. Nggak punya prestasi, nggak punya bakat khusus.
Yang aku punya cuma kenangan.
Kenangan jadi remaja perempuan yang dulu mikir dunia selebar halaman sekolah.
Tentang tawa di jam kosong, surat cinta yang nggak pernah dikasih, persahabatan yang pecah karena sepele, dan guru yang tanpa sadar ngubah hidupku.
"Cuma Modal Cerita" adalah kumpulan kisahku.
Loncat dari sekarang ke dulu. Dari dewasa ke anak kecil yang masih percaya permen bisa nyelesaiin semua masalah.
(Gak Semuanya Real Dari Hidup Ku ,Ada Beberapa Karangan)
Ini bukan novel tentang orang hebat.
Ini novel tentang kita. Tentang kamu, aku, dan semua orang yang pernah duduk di kursi paling belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jiejie_IYAYA'S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Boneka Pertama dan Pelajaran Tentang Menjauh
Pagi itu, aroma embun segar masih menempel di dedaunan luar rumah. Namun, ingatanku justru melayang jauh ke masa-masa SD—sebuah masa di mana hal-hal kecil bisa menjadi hal paling besar dan berharga dalam dunia anak-anak.
Semuanya bermula pada suatu hari Sabtu di sekolah. Hari itu sebenarnya bukan jadwal ujian akhir atau ulangan besar, melainkan hanya latihan harian Bahasa Inggris yang dirancang cukup seru oleh guru kami. Metode pembelajarannya unik: kami diminta mendengarkan sebuah lagu berbahasa Inggris, lalu mengisi bagian-bagian lirik yang sengaja dikosongkan pada lembar kertas kerja.
Suasana kelas saat itu cukup riuh dengan suara anak-anak yang berusaha mencerna lirik lagu. Beruntung, aku bisa menyerap liriknya dengan baik. Ketika hasil latihan dibagikan, angka 100 tertulis dengan tinta merah di pojok atas kertasku. Alhamdulillah, rasa senang dan lega langsung membuncah. Angka sempurna itu menjadi penutup hari Sabtu yang sangat manis.
Kebahagiaan dari nilai sempurna itu membawa energi positif hingga hari Minggu tiba. Pagi-pagi sekali, aku ikut Mamak pergi jalan-jalan ke Sumbersari. Tujuan utama Mamak tentu saja untuk membeli sayur-mayur dan kebutuhan dapur mingguan. Namun, perjalanan ke Sumbersari hari itu menjadi sangat membekas bagiku karena sebuah alasan yang tak disangka-sangka.
Jujur saja, sejak dulu aku bukan tipe anak perempuan yang menggemari boneka. Walaupun aku seorang perempuan, aku hampir tidak pernah meminta dibelikan mainan semacam itu. Alasannya cukup sederhana tapi menakutkan bagi anak seusia SD: aku pernah menonton beberapa film horor yang menampilkan sosok mainan tersumpah, seperti Chucky, Annabelle, hingga The Doll. Bayangan boneka-boneka horor itu kerap muncul di benakku, membuatku memandang boneka sebagai objek yang agak mengerikan dan patut dihindari.
Akan tetapi, ada sesuatu yang berbeda saat aku menyusuri lapak dagangan di Sumbersari hari itu. Mataku tertuju pada sebuah boneka. Bentuknya menyerupai Barbie, meski bukan merk Barbie asli. Penampilannya manis dan menarik hati, membuat rasa takut yang selama ini membayangi pikiran perlahan luluh. Hari itu, aku akhirnya memberanikan diri meminta Mamak membelikannya. Itulah first time—momen pertama kalinya aku memiliki sebuah boneka sepanjang hidupku.
Namun, ada satu keunikan (atau kekurangan) dari boneka murah tersebut. Bahannya terbuat dari plastik yang agak tipis dan fleksibel. Jika bagian badannya ditekan terlalu keras, permukaannya akan langsung penyok melesat ke dalam dan sangat sulit untuk dikembalikan ke bentuk semula. Meski begitu, bagiku yang baru pertama kali punya boneka, benda itu adalah harta karun yang sangat berharga.
Setelah selesai berbelanja sayur dan mainan, aku dan Mamak pun pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, pikiranku sudah dipenuhi rencana seru. Aku ingin segera sampai di kamar, membuka kemasan boneka baru itu, dan memainkannya sendiri. Karena keinginan itulah, aku sengaja tidak mengajak teman-teman yang rumahnya berdekatan denganku untuk main bareng hari itu. Aku hanya ingin menikmati waktu pribadi bersama mainan baruku.
Namun, rencanaku tidak berjalan mulus. Tanpa disadari, ada dua atau tiga orang teman sebayaku yang melihat aku membawa kantong belanjaan. Mereka malah membuntutiku dari belakang sampai ke depan pintu rumah.
Di dalam hati, aku merasa agak terganggu. Aku ingin menyuruh mereka pulang atau melarang mereka masuk, tapi sifat sungkan dan kebaikanku mendominasi. “Ah, ya sudahlah,” batinku pasrah. Aku membiarkan mereka ikut masuk ke dalam rumah.
Sesuai dugaanku, masalah dimulai ketika aku mengeluarkan boneka baru itu. Begitu melihatnya, mata teman-temanku langsung tertuju pada benda tersebut. Bukannya menonton atau bermain bersama secara bergantian, mereka malah mulai memperebutkan boneka itu dariku.
Aku berusaha bersabar. Aku meminta bonekaku kembali dengan cara yang sangat baik-baik. “Boleh minta balik tak? Ini kan boneka baru aku,” kira-kira begitu maksudku.
Tapi bukannya mengembalikan, mereka justru menuduhku dengan kata-kata yang menyakitkan: “Dasar pelit!”
Mendengar ucapan itu, aku membatin dengan sangat kesal. Hey, itu kan bonekaku sendiri! Kenapa justru aku yang dibilang pelit hanya karena ingin memegang mainan yang baru saja dibeli dengan uang ibuku? Sungguh aneh dan tak masuk akal.
Kejadian menyebalkan itu berlanjut saat jam makan siang. Aku memutuskan untuk keluar sebentar ke area ruang makan untuk menyantap makananku. Harapanku, teman-temanku tahu diri dan ikut keluar atau setidaknya menunggu di teras. Namun nyatanya, mereka sama sekali tidak tahu diri.
Mereka tetap bertahan di dalam kamar tanpa pengawasanku, terus memegang dan memainkan boneka baruku itu.
Dan dugaan terburukku benar-benar terjadi.
Ketika aku kembali ke dalam kamar, dadaku rasanya menghujat dan sesak. Boneka baruku sudah dalam kondisi rusak. Bagian plastiknya yang rentan itu telah ditekan hingga penyok parah di beberapa sisi. Walaupun kemudian berusaha dikembalikan atau dibetulkan sedemikian rupa, bekas penyoknya tetap berbekas dan tidak bisa mulus kembali seperti semula.
Di posisi itu, aku tahu betul dari raut wajah mereka: mereka sengaja merusaknya.
Bukannya merasa bersalah, meminta maaf, atau menunjukkan penyesalan, mereka justru langsung beranjak pergi meninggalkan rumahku begitu saja. Aku masih ingat jelas suara gelak tawa mereka saat berjalan keluar pintu. Mereka tertawa puas karena berhasil merusak boneka kesayanganku—sebuah mainan yang bahkan aku sendiri belum sempat mencobanya dengan tenang.
Sejak detik itulah, perasaanku terhadap mereka berubah total. Aku tidak lantas membenci mereka sampai mendendam, tapi ada rasa kecewa yang luar biasa dalam yang tancap mendalam di hatiku. Rasa percaya itu hilang seketika.
Setelah hari itu, aku memilih untuk tidak pernah lagi bermain bersama mereka. Walaupun terkadang aku berada di lingkungan yang sama atau ikut dalam lingkaran permainan kelompok, kehadiran diriku sama sekali tidak dianggap oleh mereka. Aku merasa seperti sosok yang tak terlihat.
Melihat kenyataan itu, pikiranku mulai terbuka: Ngapain juga bertahan di lingkungan seperti ini? Ujung-ujungnya cuma bikin sakit hati. Mendingan aku menjauh. Dan keputusan menjauh itu menjadi salah satu langkah pendewasaan pertamaku sebagai seorang anak kecil.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Pesan Khusus Untuk Kalian:
Masih ingat tidak dengan mainan kesayanganku yang rusak gara-gara kita rebutan dulu?
Jujur, dulu aku sedih banget. Itu adalah mainan yang paling aku jaga dan sangat berarti buat aku. Tapi sekarang, kalau diingat-ingat lagi, kejadian itu malah terasa lucu. Itu menjadi salah satu kenangan masa kecil yang paling aku ingat tentang kita.
Makasih ya sudah jadi bagian dari masa kecilku—bahkan untuk kalian yang pernah merusakkan mainanku sekalipun.