Pernikahan yang didasari cinta belum tentu selamanya akan abadi. Akan ada badai yang akan menghampiri, apakah sang nahkoda bisa mengatasinya atau tidak tergantung kesiapan diri.
Begitu juga dengan rumah tangga Ima, kebahagian yang ia nikmati hancur lebur saat suaminya punya Wanita lain dan lebih menyakitkan mertuanya ikut andil atas pengkhianatan putranya.
Ima yang sakit hati bertekad dalam hati akan membalas semua pengkhianatan suami dan mertuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nab 16
Pagi telah datang tapi cahaya matahari tak kunjung bersinar karna tertutup awan. Padahal sudah jam tujuh tapi masih seperti subuh. Langit seakan runtuh saking pekatnya awan hitam menyelimuti. Perlahan bulir - bulir air hujan muali turun satu persatu dan lama - lama menjadi deras.
Pepohonan bergoyang kesana kemari, rantang dan daun ikut melambai - lambai layaknya penari. Kilat dan petir sahut bersahutan menambah suasan makin mencekam.
Ima sudah bnagun dari tali ia malas turun, kepalanya terasa pusing saat melihat mertua dan pelakor yang mulutnya sangat tajam.
Tetes air hujan saat mengenai genteng laksana irama musik yang merdu sahut bersahutan. Ima sengaja membuka jendela dan duduk di sana sambil memperhatikan hujan. Wajahnya nampak basah, iya Ima menangis. Hidupnya terasa kosong, tempat yang di harap jadi sandaran sudah tak ada lagi. Apakah ia sanggup menghadapi babak baru dalam hidupnya.
"Ya Allah, kenapa ujian ini begitu berat? Hamba tak sanggup ya Allah. Di saat hamba kehilangan cinta sejati juga harus menerima kenyataan pahit di khianati suami dan keluarganya." Teriak Ima melepas sesak yang menghimpit dada.
Tak ada yang tau kesedihan Ima, suaminya juga sudah mulai lupa bahwa ada istri yang juga butuh dirinya. Suaminya hanya peduli pada istri mudanya.
Pintu kamat terbuka membuat lamunan Ima buyar. Ima buru - buru menghapus air matanya, ia tak boleh terlihat lemah.
"Ima." sapa.Aldi.
"Hmm....." Ima hanya berdehem dan kembali memutar kepalanya melihat tetes hujan yang tak ada tanda - tanda akan berhenti.
"Kamu kenapa, sayang?" panggilan sayang suaminya membaut Ima mual dan jijik.
"Ga kenapa - kenapa?"
"Lait sini dong." Aldi memutar tubuh Ima agar melihat dirinya.
"Maafin mas ya tapi mas janji akan adil."
"Adil dalam hal apa? Di awal aja udah bohong, bagaimana kamu akan adil." ucap Ima ketus.
"Bukan gitu, ma. Aduh susah mas jelaskan. Mas memang salah, tapi ini permintaan mama. Mas ga tega menolaknya."
"Ga suka apa juga kepengen, cinta lama bersemi kembali." Ima tertawa ringan bermaksud meledek suaminya.
"Mas memang masih mencintai Tina tapi mas juga mencintai kamu. Kalian berdua itu sama - sama istimewa di hati mas." rayu Aldi.
Ima tertawa kencang saat mendegar perkataan suaminya." Tapi sayangnya aku ga suka di duain, aku mau mas memilih salah satu. Aku atau dia?"Ucapan Ima sukses membuat Aldi bungkam. Ia tidak mau memilih karna ia ingin dua - duanya.
"Mas ga bisa. Maafin mas, mas mau kalian akur. Bersama kita jalani hidup ini." Rayu Aldi sambil memeluk Ima, Ima berontak berusaha melepaskan pelukan Aldi.
"Kalau mas ga bisa memutuskan, mohon maaf mungkin berpisah jauh lebuh baik. Aku capek, lelah, dengar omelan mama dan jalang kamu. Aku ini manusia mas, aku itu juga punya batas kesabaran. Kamu kira menyatukan du kepala itu gampang ah." Ima merasa emosinya tersulut memilih masuk kekamar mandi untuk mendinginkan kepalanya yang panas.
Sementara itu Aldi termenung duduk ditepi ranjang sambil menutup wajahnya dengan kedua tanganya. Ia tak menyangka bahwa Ima akan terluka sedalam ini.
Aldi beranjak keluar dari kamar kembali ke kamar Tina yang ada di lantai bawah. Jika saja ia tidak mesti ke resto sudah tentu ia akan terus menungu Ima.
****************
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya 🙏🙏😘