NovelToon NovelToon
Starfall: The Last Child From The Stars

Starfall: The Last Child From The Stars

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Akademi Sihir
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Dorin

Pada malam ketika sebuah bintang jatuh menghantam bumi, takdir sebuah kerajaan berubah selamanya.

Ditemukan di dalam bola perak misterius dan dibesarkan sebagai pangeran, ia dianggap sebagai kegagalan karena tak memiliki mana di dunia yang menjadikan sihir sebagai segalanya.

Namun, di balik kelemahan itu tersembunyi kekuatan kosmik yang jauh melampaui sihir.

Kini, ia hanya ingin hidup normal sebagai siswa Akademi Sihir. Sayangnya, ketika kegelapan mengancam dunia yang telah menjadi rumahnya, pemuda dari bintang-bintang itu tak punya pilihan selain melepaskan kekuatan sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dorin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Selamat Datang di Nivalis.

Roda-roda kereta berputar konstan melintasi jalanan tanah berkerikil.

Kendaraan itu tampak teramat mewah dengan dominasi warna putih bersih berpendar gradasi emas yang berkilau di bawah paparan sinar matahari. Ukiran rumit yang terpatri pada bodi dan pintu kereta menegaskan secara jelas bahwa kendaraan tersebut bukanlah milik sembarangan orang.

Apalagi dengan hadirnya barisan kesatria berkuda yang senantiasa mengawal ketat di sisi kiri dan kanan, bersiap mengamankan sang penghuni dari segala bentuk ancaman.

Ya, ini adalah iring-iringan megah dari Kerajaan Aureliania.

Mereka tengah menempuh perjalanan jauh menuju wilayah utara untuk memenuhi undangan resmi dari Raja Isenbard dalam gelaran pesta topeng megah, The Grand Masquerade, yang akan dilangsungkan esok hari.

Total ada tiga kereta kuda utama dalam rombongan ini.

Kereta pertama ditempati oleh Raja Nolan, Ratu Tiana, serta Mrs. Emma. Kereta kedua diisi oleh Pangeran Edward dan Bernard. Sementara kereta ketiga yang berada di barisan belakang memuat berbagai logistik, perlengkapan gaun serta topeng pesta, didampingi oleh beberapa pelayan istana yang bertugas melayani seluruh kebutuhan Keluarga Kerajaan setibanya di sana nanti.

Di dalam kereta kedua, suasana terasa teramat senggang.

Edward tampak sama sekali tidak bersemangat. Pemuda itu duduk menopang dagu dengan pandangan sayu yang terlempar lurus ke luar jendela—menatap lesu jajaran pegunungan dan lebatnya pepohonan hutan yang asri.

Bernard menghela napas panjang menyaksikan Pangerannya yang lunglai seperti tanaman layu.

Sebenarnya, inti masalahnya jauh lebih rumit dari sekadar ketakutan berdansa. Edward sendiri terbukti belajar dengan teramat cepat saat menjalani latihan singkat bersama Emma kemarin.

Masalah yang sebenarnya adalah... pemuda itu secara tegas dilarang terbang melayang di atas rombongan kereta kuda.

“Naik kereta bersama atau naik kuda sendiri! Tidak ada terbang-terbang di udara!”

Begitulah titah mutlak dari sang Ratu yang membuat Edward mau tidak mau harus duduk manis di dalam kabin kereta kuda.

Edward menghela napas panjang.

Daripada duduk merenung dalam kebosanan yang memuakkan, ia merasa lebih baik memanfaatkan waktu ini untuk mengumpulkan energinya kembali.

Pemuda itu memosisikan tubuhnya, duduk bersila di atas bangku kereta. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.

Tidak lama kemudian, aura di sekitar tubuh Edward mulai berpendar kuning lembut. Nyalanya tidak terlalu menyilaukan—hanya pendar redup nan samar yang menyejukkan, menyerupai pendaran cahaya kunang-kunang di tengah pekatnya malam.

Sebenarnya, proses pemulihan energi ini tidak terikat oleh jarak. Selama tubuh Edward masih terpapar radiasi sinar mentari, ia sanggup menyerap energi di mana pun ia berada.

Namun, metode penyerapan jarak jauh ini jauh kurang efektif.

Berbeda saat ia memosisikan dirinya tepat di hadapan sang surya secara langsung, kerapatan energi yang sanggup ditangkapnya di atas permukaan planet ini terasa amat kecil—hampir setipis udara.

Jika ia hanya mengandalkan metode ini tanpa mendatangi bintangnya secara langsung, untuk memulihkan kapasitas energi hingga tingkat kuning terang saja akan memakan waktu hingga sepuluh bulan penuh tanpa henti.

Namun baginya, daripada sekadar duduk melamun tanpa melakukan apa pun, lebih baik ia menyibukkan diri dengan cara seperti ini.

Di sisi lain kabin kereta, Bernard memilih untuk tidak mengganggu.

Pelayan tua itu terus mengawasi sang Pangeran dalam diam. Sesekali pandangannya terlempar ke luar jendela, sebelum akhirnya kembali menatap sosok Edward yang sedang bersemadi.

Tuan Muda sudah banyak berubah... batin Bernard penuh haru.

Ingatan pelayan tua itu mendadak terlempar ke masa lalu.

Ia masih mengingatnya dengan sangat jelas—sosok pangeran kecil yang teramat pendiam, dengan tatapan mata kosong tanpa pendar kehidupan. Seolah-olah tak ada sedikit pun gairah atau keinginan untuk hidup di dalam jiwanya.

Kala itu, Bernard sungguh tak mengerti mengapa pangeran kecil itu bisa tampak sedemikian menyedihkan.

Padahal, Raja Nolan dan Ratu Tiana begitu melimpahinya dengan kasih sayang. Bahkan sang Kakak, Pangeran Oswald, walau selalu bersikap acuh tak acuh dan dingin di luar, sejujurnya amat menyayangi adik kecilnya itu.

Bagaimana bisa seorang anak yang diliputi kasih sayang keluarganya memiliki tatapan mata seperti itu...?

Pertanyaan besar itu terus membebani benak Bernard hingga akhirnya, jawaban dari misteri itu terungkap saat pesta dansa istana digelar di masa lalu.

Kala itu, Edward kecil benar-benar terisolasi total dari dunia luar.

Tak ada satu pun tamu undangan yang sudi menyapa atau berbicara padanya. Tatapan mata yang dilayangkan orang-orang pada sang Pangeran kecil dipenuhi rasa jijik, kebencian, dan pandangan merendahkan yang amat menyengat.

Bahkan ketika Edward kecil mencoba memberanikan diri mendekati dan menyapa anak-anak seusianya, mereka serta-merta melangkah mundur dan menjauhinya bagai menghindari wabah penyakit.

Alhasil, sang Pangeran kecil dibiarkan berdiri mematung sendirian di tengah megahnya aula pesta.

Dengan bahu tertekur, ia terpaksa melangkah kembali menuju meja di sudut ruangan yang paling gelap dan sunyi. Duduk terdiam dalam kesendirian, menatap dari jauh orang-orang yang saling melempar senyum dan berdansa dengan bahagia.

Namun, Bernard sendiri tak bisa mengingat secara pasti apa yang sebenarnya telah terjadi.

Perubahan drastis yang membuat sang Pangeran mendadak bangkit dan memilih untuk tak lagi memedulikan semua tatapan benci itu... terasa begitu misterius. Seingat Bernard, tak ada peristiwa besar di masa lalu yang secara mendadak mengubah jalan pikirannya.

Ingatan tua pelayan itu terasa agak samar-samar jika mencoba menggali kenangan masa itu.

Namun, baginya hal itu tak lagi penting.

Melihat Edward yang tak lagi menjadi anak murung dan tidak lagi membiarkan jiwanya terkoyak oleh prasangka orang lain sudah lebih dari cukup bagi Bernard. Mungkin suatu saat nanti, rahasia di balik perubahan itu akan terungkap dengan sendirinya.

Entah kapan momen itu akan tiba, satu hal yang pasti: Bernard bersumpah akan selalu berdiri di samping sang Pangeran, menemaninya setiap saat.

Kecipak... krisik...

Salju.

Hamparan warna putih bersih itulah yang menyambut pandangan Edward begitu rombongan mereka melintasi wilayah perbatasan. Keindahan alam yang tiada duanya terhampar luas di sepanjang jalan menuju jantung Kerajaan Nivalis.

Beruntung, rombongan dari Aureliania telah mengenakan jubah dan pakaian musim dingin tebal sebelum menjejakkan kaki di dataran utara, sehingga terpaan angin dingin yang menusuk tajam tak sampai meresap ke dalam kulit.

Pemandangan menakjubkan makin memanjakan mata tatkala mereka melintasi sebuah danau purba raksasa yang membeku total.

Sinar mentari menembus permukaan es yang jernih, membiaskan spektrum warna-warni yang memukau. Di atas hamparan es, beberapa ekor angsa utara dan berang-berang tanduk bersalju tampak bermain riang tanpa mengusik satu sama lain.

Edward mengembuskan napas panjang yang membentuk uap putih di udara, lalu tersenyum tipis. Rasa bosan akibat tertahan di dalam kereta seketika terbayarkan oleh mahakarya alam di hadapannya.

Namun, kekaguman Edward tidak berhenti sampai di sana.

Saat siluet Kerajaan Nivalis perlahan muncul di balik gumpalan awan dan pegunungan es, bibir Edward seketika menganga takjub. Pemuda itu terpesona oleh kemegahan kerajaan es yang berkilau megah—terlihat berdiri anggun bak istana dari kristal abadi raksasa di tengah belantara salju.

“Selamat datang di Nivalis, rombongan dari Kerajaan Aureliania. Kalian adalah tamu kehormatan pertama yang tiba di sini. Mari, silakan ikuti saya menuju istana utama.”

Seorang lelaki berambut putih pendek menyapa hangat.

1
Dorona
Cerita bagus bgt. aku suka alurnya. sering2 up 👍👍
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😍😍😍. siap laksanakeun 🤣🤭💪💪
total 1 replies
SilentNovels
lumayan ni alurnya
Jangan lupa ke naskah aku juga ya
Dorin: Terima kasih kak sudah mampir 😁😄. semoga enjoy dengan ceritanya 🥰😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!