Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:
Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.
Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.
Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.
Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.
Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?
"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amukan Api yang Terpenjara
Udara di dalam aula utama kini tidak lagi sekadar pengap, melainkan telah berubah menjadi tungku pembakaran yang siap melelehkan apa saja. Gelombang hawa panas yang berdenyut dari tubuh Kai membuat lantai kayu di bawah kakinya mulai mengeluarkan asap tipis dan aroma hangus. Retakan-retakan kecil berwarna merah menyala perlahan merayap di sepanjang urat-urat lengannya, memancarkan cahaya magis yang mengerikan seiring dengan degup jantungnya yang kian berpacu liar.
Rei melangkah mundur dua langkah, keangkuhannya yang biasa kini sedikit goyah saat merasakan tekanan energi yang begitu masif. "Kai, kendalikan dirimu! Jika kau melepaskan seluruh kekuatan itu sekarang, benteng ini akan runtuh sebelum kita sempat membuka gerbang utama!"
"Kau masih memikirkan gerbang itu, Rei?" suara Kai tidak lagi terdengar seperti manusia biasa; ada gaung berat dan geraman rendah yang menyertai setiap suku kata yang keluar dari bibirnya. Mata merah darahnya mengunci pergerakan Rei. "Benteng ini adalah rumahku, dan jika tempat ini harus menjadi kuburan bagi para pengkhianat seperti kalian, maka jadilah!"
Mai, yang semula selalu menyepelekan situasi dengan seringai liarnya, kini menghentikan putaran belatinya. Ia memasang kuda-kuda rendah, matanya menatap waspada pada riak udara yang bergetar di sekeliling Kai. "Wah, sepertinya singa kecil ini benar-benar bertaring. Yuki! Lakukan sesuatu dengan sihir esmu sebelum kita semua terpanggang di sini!"
Yuki tidak menjawab dengan kata-kata. Mengabaikan penolakan kasar Kai sebelumnya, siluman rubah itu menghentakkan kakinya ke lantai. Seketika itu juga, hawa sedingin es membumbung dari balik jubahnya, membentuk sulur-sulur kabut beku yang merayap cepat di atas lantai, mencoba mengikat pergelangan kaki Kai yang membara.
"Kau milikku, Kai. Aku tidak akan membiarkan esensimu hancur sia-sia sebelum menjadi bagian dari kekuatanku!" pekik Yuki, matanya yang vertikal berkilat keemasan penuh ambisi.
Sssss!
Suara desisan nyaring menggema saat kabut es Yuki menyentuh hawa panas Kai. Alih-alih membekukan, es tersebut langsung menguap menjadi kabut putih tebal yang memenuhi seluruh ruangan dalam hitungan detik. Pandangan semua orang seketika terhalang oleh uap panas yang menyesakkan.
BUM!
Sebuah hentakan gelombang kejut berwarna merah menyala meledak dari pusat tubuh Kai, menghempaskan kabut putih tersebut sekaligus menghancurkan pilar-pilar kayu terdekat hingga berkeping-keping. Serpihan kayu yang terbakar melesat ke segala arah. Mai melompat lincah menghindari reruntuhan, sementara Rei terpaksa menggunakan lengan jubah bersisik naganya untuk menahan hantaman angin yang begitu kuat.
Di tengah kekacauan itu, dari balik tirai asap yang mulai menipis, sesosok bayangan putih melesat masuk dengan kecepatan luar biasa. Bukan untuk menyerang Kai, melainkan untuk berdiri di depannya, membelakangi pemuda yang tengah mengamuk itu seraya menghadap ke arah Rei, Mai, dan Yuki.
"Cukup! Hentikan semua ini!"
Suara jernih mirip lentingan lonceng itu memecah gemuruh amarah. Hana berdiri di sana dengan tusuk konde emasnya yang kini ia genggam sebagai senjata, memancarkan pendar cahaya suci yang lembut namun kokoh, bertindak sebagai perisai yang menahan hawa panas dari belakangnya sekaligus ancaman dari depannya.
Kai terengah-engah, dadanya naik turun dengan hebat saat menatap punggung Hana yang tertutup jubah sutra putih. "Hana... kenapa kau kembali? Apakah kau juga ingin mengambil bagian dalam pembagian darahku bersama klanmu?"
Hana menoleh sedikit tanpa menurunkan kewaspadaannya pada tiga wanita di depan mereka. Matanya yang bening tampak berkaca-kaca, memperlihatkan ketulusan yang selama ini tenggelam di bawah nama besar klannya yang dibenci Kai. "Aku tidak peduli dengan darah naga ataupun gerbang utama, Kai! Aku datang ke sini sendirian, melanggar sumpah seperguruanku dengan Mai hanya untuk memintamu bertahan hidup! Jangan biarkan amarahmu membakar akal sehatmu, karena itulah yang mereka inginkan!"
Mai tertawa keras melihat kemunculan Hana, sebuah tawa yang terdengar sangat kejam di antara puing-puing aula. "Ah, adik seperguruanku yang suci dan bodoh. Akhirnya kau keluar dari lubang persembunyianmu. Kau pikir pemuda yang sudah buta oleh kutukan ini akan memercayaimu? Baginya, kita berempat hanyalah kawanan serigala yang sedang berebut daging!"
Kai menatap Hana, lalu beralih pada ketiga wanita yang kini mulai mengepung mereka berdua. Di dalam kepalanya, bisikan Naga Merah kembali menderu, menuntut kehancuran total. Namun, melihat punggung Hana yang gemetar namun tetap berdiri tegak demi melindunginya, sesuatu di dalam diri Kai mulai goyah. Di antara jaring-jaring kelicikan yang menjeratnya, secercah teka-teki baru kini terhampar di depannya: apakah ia harus membiarkan api ini membakar segalanya termasuk gadis yang mencoba menolongnya, ataukah ia harus mulai memilah siapa yang benar-benar berdiri di pihaknya?