Aminah dipaksa Bekerja banting tulang untuk kesejahteraan semua anggota keluarganya tapi tak pernah dianggap sama sekali.
Bahkan lelaki yang dia cintai dan dia bantu mencapai cita-cita nya pun menusuknya dari belakang dengan memanfaatkan dirinya,
Mampukah dia bangkit setelah semua kesakitan yang dia terima
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Aminah kini membereskan barang-barangnya padahal dia baru beberapa hari tinggal disini dan harus pindah lagi, dia seperti seorang buronan yang hobby berpindah tempat karena takut ketahuan.
"Beginilah nasib memiliki keluarga yang hobby membuat keributan dan tidak tahu tempat, cukup membuatku kelabakan untuk mencari tempat dan berpindah-pindah". Ucapnya pelan sambil membereskan beberapa barangnya.
Tok..tok..
Aminah menghela nafas, dia khawatir jika yang datang kerumahnya malam ini adalah keluarganya lagi atau Fadil yang kembali ingin membuat keributan.
Dia berjalan menuju jendela kamar dan melihat siapa yang datang, dia bernafas lega karena sahabatnya yang ada dibalik pintu.
"Assalamualaikum Aminah, maaf yah aku ganggu malam-malam begini". Ucapnya pelan.
Bella melirik kebelakang, disana terlihat Bram dan Adam serta beberapa teman kerja lainnya.
Aminah tertegun sejenak melihat para sahabatnya yang membawa beberapa barang entah apa itu.
"Kalian mau ngapain bawah barang-barang kayak gitu?". Tanyanya penasaran.
Dia membuka lebar pintu kamarnya yang sedikit berantakan karena dia tengah mengemasi barangnya.
"Kami ingin bawah hadiah kenang-kenangan untuk kamu Mina, nanti kita akan ketemu lama jadi kami ingin kamu tetap mengingat kami, apalagi kamu akan tinggal dikota seberang". Jawab Bella dengan sendu.
Yang lain mengangguk pelan seakan mengiyakan apa yang dikatakan Bella pada Aminah barusan.
"Ya Allah terima kasih, kalian tidak perlu repot seperti ini, insya Allah aku akan tetap mengingat kalian walau aku jauh, jangan keluarkan aku dari grup yah agar aku tetap bersilaturahmi dengan kalian walau aku jauh".
Mereka langsung mengangguk bersamaan dan tersenyum lebar.
"Sama-sama Aminah, kami senang bisa mengenal kamu dan menjadi teman mu, kamu perempuan baik, kami beruntung".
Aminah menghambur kepelukan Bella dan semua temannya ikut menepuk pundak Mina untuk memberikan dukungan.
"Tolong jangan beritahu pada keluargamu dimana aku pindah, aku sudah cukup bermasalah dengan mereka jangan sampai mereka membuat keributan ditempat yang baru".
"Ya sudah kita bagusnya berpesta saja agar bisa jadi kenang-kenangan, ayo". Seru Bram dengan semangat.
Mereka semua bahu membahu membuat makanan bersama untuk menikmati malam dan membantu Aminah berkemas dan selesai bahkan mereka membantu Aminah menaikkan barangnya pada mobil yang telah dipesan karena dia akan pindah subuh ini juga.
Aminah memang sudah mendapatkan tempat tinggal karena rekomendasi dari bosnya yang langsung mencarikannya hari ini juga dan langsung menemukannya bahkan dia membayarkan kos Aminah selama setahun sebagai rasa terima kasih.
"Oh iya Aminah aku dengar bos yang menyewakan tempat tinggal mu untuk setahun yah?". Tanya Bram pelan.
"Iya, katanya itu untuk jasaku selama bekerja hampir 10 tahun ini, kalian juga nanti akan dapat kok".
Aminah memandang para sahabatnya dengan tidak enak hati karena mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu dari bos mereka padahal mereka sama-sama bekerja disana.
"Kami hanya bertanya Aminah, jangan tegang seperti itu, kami bersyukur kamu pindah dan mendapatkan tempat yang bagus, kami kasihan padamu yang selalu dimanfaat kan keluargamu bahkan untuk makan siang saja kamu sangat irit dan harus bekerja lembur setiap hari".
Bella menatap sendu sahabatnya ini, mereka semua sudah mengenal sejak mereka masih remaja itu sebabnya mereka sudah seperti saudara satu sama lain
"Benar yang dikatakan oleh Bella, kami senang kamu mendapatkan dukungan baru disana, kami tidak mau kami selalu berhadapan dengan keluargamu yang keterlaluan itu ditambah lagi laki-laki sok kegantengan dan sok kaya seperti Fadil itu".
Aminah tersenyum lebar, merasa sangat senang melihat sahabatnya itu begitu menyayangi dirinya
"makasih yah aku beruntung punya kalian".
Setelah semua barang diangkut, Aminah memeluk mereka satu persatu dan menangis haru.
"Makasih sudah menjadi temanku, aku tidak akan pernah melupakan kalian".
Mereka semua mengangguk dan tersenyum.
"Kamu hati-hati disana dan jaga diri baik-baik".
Keesokan harinya ibu Aminah itu datang ke toko dan menjadi pembeli, sejak tadi kawan-kawannya memang menatap Halimah dengan tatapan menyelidik walau mereka tidak mengatakan apapun.
Mereka berusaha menghormati pembeli walau mereka kembali waspada karena wanita ini pasti akan mencoba membuat keributan kembali
"Kemana Aminah, saya tidak melihatnya sejak tadi?". Tanya Halimah ketika dirinya sudah berbelanja dan mengedarkan pandangannya mencari anak sulungnya itu.
Dia memang sengaja berbelanja ditempat kerja Aminah agar bisa memantau anaknya itu.
"Kami tidak tahu, dia mengundurkan diri kemaren dan tidak bekerja lagi disini mulai tadi malam, jadi kami tidak tahu keberadaannya".
Semalam mereka memang sepakat untuk mengatakan hal itu ketika bertemu dengan keluarga Aminah begitu juga dengan Fadil agar mereka tidak mencari Aminah.
Mata Halimah melebar sempurna, anak sulungnya berhenti bekerja dan tidak tahu dimana keberadaannya, dia harus mencari tahu dan dia yakin anaknya itu pasti mendapatkan pesangon yang besar karena sudah lama bekerja disini, belum lagi bosnya memang terkenal baik.
Dia harus mendapatkan bagian, dia tidak peduli pada Aminah tapi pada gaji dan pesangon yang dia terima.
"Jangan membohongi ku anak muda, Aminah sudah bekerja lama disini, dia memang mau kerja apa kalau tidak disini, jadi jangan mengada-ada dan membohongi orangtuanya, saya bisa menuntut kalian semua".
Dia menatap Bella yang berada dibalik kasir itu dengan geram
"Kami tidak tahu, seharusnya sebagai keluarga terutama ibu Aminah anda tahu keberadaannya, aku hanya baru lihat ada seorang ibu yang begitu keterlaluan dan pilih kasih seperti anda ini".
Halimah mengepalkan tangannya, dia menatap tajam kearah kasir itu.
"Jangan bicara omong kosong, saya tidak pernah melakukan itu, Aminah saja itu yang lebay sampai merasa begitu".
Dia berusaha mengatur suaranya agar tidak bergetar, dalam hati dia terus mengumpat karena anak sulungnya itu membeberkan apa yang Tidka seharusnya orang tahu.
"Belanjaan anda sudah selesai, silahkan menyingkir karena dibelakang anda masih banyak yang mengantri". Jawab Bella dengan dingin tanpa memperdulikan apa yang dikatakan Ibunda Aminah itu.
"Rasakan itu nenek sihir, kamu tidak akan bisa memanfaatkan sahabatku lagi".
"Saya tidak akan pergi sebelum tahu dimana keberadaan putri saya, saya akan melaporkan kalian semua kepolisian karena menyembunyikan anak saya". Bentaknya.
Dia tidak peduli menjadi bahan tontonan, dia harus bisa mendapatkan Aminah bagaimana pun caranya.
"Terserah ibu, jangan berbuat ulah dan mencari keributan, ibu sudah kami laporkan kepolisian duluan karena sudah membuat keributan, jika kami melapor kembali polisi akan menjemput paksa kalian kerumah".
Halimah mundur selangkah menatap anak muda didepannya dengan tidak percaya, dia akan masuk penjara dia Tidka akan mau.
Dia bergegas pergi dari sana untuk kabur sedangkan Bella hanya menyunggingkan senyum sinis melihat kepergian Halimah .
"Rasakan itu".