Desi seorang budak korporat yang hidupnya hanya untuk bekerja tanpa sengaja menerima ajakan Dewa ketika dirinya mabuk untuk melakukan Transmigrasi.
Kini Desi harus menjadi seorang Maharani yang memimpin kekaisaran yang hampir jatuh bernama Maharani Da Xie. Sayangnya, menjadi Maharani berarti Desi harus bekerja mengurus kekaisaran.
Desi yang berada ditubuh Da Xie akhirnya muak terus bekerja, ia melakukan hal nekat dengan menjadi pemimpin yang buruk sehingga rakyat-rakyatnya menurunkannya dari takhta.
Desi melakukan investasi bodong, mengadakan peperangan dengan kekaisaran tentangga, dan membuat lahan sawit dimana-mana.
Namun anehnya, rakyat malah bahagia karena apa yang Desi lakukan bukannya merugikan Kekaisaran melainkan malah membuat kekaisaran menjadi semakin berkembang.
"Arghh!!! Aku hanya ingin turun takhta agar tak perlu mengurusi dokumen membosankan ini!!" -Maharani Agung Da Xie.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twinxle_Stars, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16 Hadiah
Di istana kekaisaran, tepatnya dihalaman depan paviliun utama tempat Da Xie tinggal, telah diadakan acara pemberian penghargaan kepada para prajurit gagah berani yang ikut ke medan perang dan berhasil menaklukkan kekaisaran Han. Baik prajurit yang masih hidup, maupun yang sudah meregang nyawa.
Acara ini dilaksanakan tiga hari setelah kejadian di episode 15 terjadi. Banyak prajurit dan orang dalam kekaisaran berdiri dihalaman tersebut siap mengikuti rentetan acara.
Da Xie, yang duduk di singgasana yang telah dipindahkan, mulai mengucapkan pidato yang sudah ia salin ditangannya, "pada pagi yang cerah ini, saya Maharani Agung Zhang Da Xie pertama-tama mengucapkan terimakasih kepada para hadirin sekalian yang terhormat. Lalu juga kepada para dewa serta naga dan leluhur pendiri kekaisaran Zhang yang setia memberikan berkah kepada kekaisaran Zhang kita ini."
"Saya merasa bersyukur karena hari ini kita akan melakukan acara yang sangat penting, yaitu berupa acara pemberian penghargaan kepada para prajurit kekaisaran Zhang kita yang terhormat dan yang gagah berani bertempur di medan perang melawan kekaisaran Han sehingga pada pagi hari ini kekaisaran Zhang kita resmi memperluas wilayah dan telah menjadi salah satu dari lima kekaisaran terbaik menggantikan kekaisaran Han!!"
Prok!! Prok!! Prok!!
Para tamu acara bertepuk tangan sangat meriah. Bahkan sesekali terdengar suara siulan diantara mereka.
Da Xie ikut tersenyum bahagia. Ia bahagia karena kekaisaran Zhang menang perang, jadi dirinya tidak perlu mati dengan cepat.
Setelah tepuk tangan yang meriah itu, halaman paviliun menjadi hening kembali. Mereka menunggu kata-kata lanjutan yang akan keluar dari mulut Da Xie.
"L—Loh..." Da Xie tiba-tiba membeku ditempatnya ketika melihat telapak tangannya.
Sialan, ternyata tulisan di telapak tangannya sebagian telah memudar. Dalam hatinya, Da Xie sudah sangat panik. Ini adalah bagian yang sangat penting, bagian dimana setiap prajurit akan dipanggil maju dan diberikan hadiah. Tapi sekarang, contekan Da Xie menghilang!! Aduh, bagaimana ini?!
"Aha!"
Beruntungnya otak Da Xie yang super jenius ini mempunyai ide untuk memperbaiki masalah tersebut.
"Baiklah. Untuk acara selanjutnya adalah acara pembagian hadiah kepada para prajurit gagah berani kita. Dimohon kepada Adipati Yan untuk maju memanggil nama-nama yang bersangkutan dan mengucapkan apa hadiah atas jasa mereka."
Adipati Yan yang berdiri tidak jauh dari Da Xie melebarkan matanya karena terkejut. Kenapa jadi dirinya yang kena? Padahal dirinya diam saja dan menonton dengan khidmat sedari tadi.
Pria itu lalu menghela nafas, dirinya tahu kalau ia tidak bisa menolak hal tersebut. Apalagi ketika melihat wajah penuh harap Maharani Agung-nya.
Akhirnya Adipati Yan maju, ia mulai menyebutkan satu persatu nama para prajurit.
Untunglah Adipati Yan ingat setiap nama prajurit kekaisaran Zhang. Kalau tidak, bisa-bisa semuanya jadi kacau balau, haha...
"Prajurit Kian, Prajurit Bong, Prajurit Lang, Prajurit Zhou, Prajurit Er, Prajurit Ling, Prajurit Feng, Prajurit Num, Pajurit Qin, Prajurit Sang, Prajurit Bing, Prajurit Chung. Terimakasih atas jasa kalian semua. Untuk membalasnya, pihak kekaisaran akan memberikan koin emas yang banyak untuk menghidupi kalian serta diberikan kenaikan jabatan!"
Para prajurit yang disebut namanya bersorak gembira. Selanjutnya, Adipati Yan menyebutkan nama-nama prajurit yang telah gugur.
"... Jadi itulah prajurit gagah berani yang merenggang nyawa untuk kekaisaran kita. Sebagai bentuk penghormatan, kekaisaran akan memberikan emas berlimpah kepada keluarganya dan nama mereka akan dicatat dalam sejarah kekaisaran Zhang!!"
Sekali lagi para hadirin bertepuk tangan. Setelah semuanya menjadi hening, Adipati Yang melanjutkan.
"Selanjutnya adalah pemberian hadiah kepada orang yang sangat berjasa dalam peperangan kali ini. Panglima Sun! Kepada yang bersangkutan, silahkan maju ke depan."
Panglima Sun maju ke depan. Ia berlutut dihadapan Da Xie.
"Maharani Agung, silahkan berikan penghargaan kepada Panglima Sun atas jasa besarnya."
Da Xie yang sedari tadi menguap ngantuk kini tersentak mendengarnya. Dirinya tidak tahu harus memberikan apa. Jadi, Da Xie hanya mengucapkan kata-kata yang terlintas di kepalanya.
"Eh... Panglima Sun, karena kau telah berjasa besar bagi kekaisaran ini. Maka aku akan memenuhi semua permintaanmu. Jadi, ayo sebutkan apa yang kau mau."
Da Xie menoleh untuk melihat reaksi penonton. Sepertinya ucapannya ini tidak terlalu buruk.
Panglima Sun tiba-tiba tertawa kencang membuat semua orang bingung, "Hahaha!! Saya tidak pantas menerimanya Maharani Agung. Orang yang paling berjasa pada peperangan kali ini adalah pemuda itu."
Panglima Sun menunjuk seseorang diantara kerumunan. Itu adalah pemuda dengan penutup mata mengikat dikepalanya, siapa lagi kalau bukan Ni Xao.
Ni Xao berkata pelan, "tidak perlu terlalu menyanjung. Saya hanya pemuda biasa."
"Hey nak! Jangan merendahkan dirimu. Ayo cepat maju kesini dan ambil hadiah milikmu!"
Panglima Sun terlihat ramah ketika menatap Ni Xao. Selama penaklukan terhadap kekaisaran Han, Panglima Sun jadi mengetahui kekuatan asli Ni Xao. Pria buta itu dapat dengan mudah membunuh pasukan yang berada diranah kultivasi ke-5 dari kekaisaran Han.
Hal ini tentu saja membuat Panglima Sun mengubah pandangannya terhadap Ni Xao. Ia jadi lebih menghormati dan menghargai pria buta itu.
Ni Xao maju seperti apa yang diperintahkan Panglima Sun. Ia lalu ikut berlutut dihadapan Da Xie.
"Nah... pria inilah yang telah berjasa lebih banyak daripada saya. Untuk itulah, saya ingin agar Maharani Agung mengangkatnya sebagai Panglima baru kekaisaran Zhang. Dia lebih pantas menyandang gelar itu daripada saya."
Ni Xao menatap Panglima Sun, ia lalu mendongak kearah Da Xie.
"Saya siap bila harus menjadi Panglima kekaisaran Zhang berikutnya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukannya. Lalu, sebenarnya ada satu hal lagi yang saya inginkan..."
Da Xie menganggukkan kepalanya tanda setuju. Walau sebenarnya dirinya bingung akibat perkembangan ceritanya yang cepat begini. Sungguh kebetulan sekali pria yang ia temukan malah menjadi pahlawan perang.
"Baiklah Ni Xao, mulai sekarang kau akan menjadi Panglima kekaisaran Zhang. Untuk permintaan mu selanjutnya, katakanlah, kami akan melakukannya."
"Itu..." Ni Xao terlihat ragu sejenak.
"... Saya ingin menjadi pengawal pribadi Maharani Agung."
Mata Ni Xao menunjukkan kepercayaan diri yang jelas. Ia sudah membulatkan tekadnya untuk melindungi Da Xie bagaimanapun kondisinya, karena hanya wanita itulah yang mau mengulurkan tangan kepadanya dikala dirinya benar-benar membutuhkan seseorang.
Da Xie diam sejenak sebelum akhirnya tersenyum.
"Tentu saja. Itu adalah hal yang sangat mudah! Mulai sekarang kau juga akan menjadi pengawal pribadiku si Maharani Agung."
Ni Xao berseri-seri mendengarnya. "Terimakasih Maharani Agung!"
Cup!
Ni Xao tiba-tiba mengecup punggung tangan Da Xie. Hal ini membuat semua orang yang melihatnya menjadi heboh.
"Hei nak apa yang kau lakukan!!" Teriak Panglima Sun.
"Berani sekali dirinya." Gumam Adipati Yan.
"Ya ampun!! Maharani Agung diberikan kecupan!" Dua Dayang kembar yang sedang mengintip dari balik tembok Paviliun segera bersorak kegirangan.
"Eh?" Ucap Da Xie bingung dengan kegaduhan yang terjadi.