NovelToon NovelToon
Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Il Mio Sole Nel Buio (Matahariku Di Dalam Gelap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Cintapertama
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

​Di balik parasnya yang secantik lukisan Renaisans, hidup Alessa bagaikan neraka dunia. Sejak kecelakaan tragis merenggut kedua orang tuanya, rumah yang seharusmya menjadi tempat berlindung berubah menjadi tempat penyiksaan. Kakak kandungnya, Rian, menjelma menjadi monster yang digerakkan oleh judi, alkohol, dan dendam tak beralasan. Setiap hari, Alessa kenyang akan cacian, makian, dan sabetan ikat pinggang. Di tengah penderitaan yang menguras air mata dan memantik amarah terdalam, Alessa bertahan dengan humor-humor sarkas yang absurd bersama sahabatnya, menjadikannya perisai agar jiwanya tidak sepenuhnya hancur.
​Hingga malam itu, saat ia melarikan diri dengan tubuh penuh lebam, ia menabrak seorang pria berjas buatan penjahit terbaik Italia. Giovanni Alberto, the undisputed king of global wealth, pria terkaya di dunia yang terkenal dingin dan tak tersentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Selamat Datang di Dunia Il Miliardario

Kesadaran Alessa kembali perlahan-lahan, laksana selembar kain sutra yang ditarik dari dalam lumpur isap yang pekat. Hal pertama yang merayapi sistem sensorik tubuhnya bukanlah rasa sakit yang menghunjam, melainkan sebuah sensasi asing yang belum pernah dia rasakan sepanjang ingatan hidupnya: kehangatan yang lembut dan aroma ruangan yang teramat steril namun mewah. Tidak ada lagi bau apak kasur kapuk yang mencuatkan debu di kamar lamanya, tidak ada juga aroma amis selokan Terminal Pasar Turi yang sempat merenggut sepasang sepatu kanvas tuanya.

​Dia mencoba menggerakkan jemari tangannya. Alessa meraba permukaan di bawah tubuhnya. Kulitnya menyentuh selembar seprai dari serat katun Mesir berkualitas tertinggi, dengan tingkat kerapatan benang yang begitu padat hingga terasa laksana pelukan awan yang hangat. Di atas tubuhnya, sebuah selimut tebal berbahan bulu angsa membungkusnya dengan sempurna, menghalau sisa-sisa trauma hipotermia yang sempat mencengkeram urat sarafnya semalam.

​Namun, kedamaian fisik itu segera terusir ketika Alessa mencoba mengubah posisi tidurnya.

​"Arghhh..." Sebuah desisan parau, kering, dan sarat akan linu lolos dari celah bibirnya yang pecah.

​Gerakan sekecil apa pun langsung memicu alarm bahaya dari sepanjang tulang belikat hingga ke pinggangnya. Meskipun rasa sakitnya tidak lagi sebuas kemarin—katup nyeri di otaknya tampaknya telah diredam oleh silsilah dosis analgetik tingkat tinggi yang disuntikkan secara berkala—sensasi kaku dan tarikan jahitan medis di punggungnya tetap terasa nyata. Punggungnya kini tidak lagi dibalut oleh kain gorden darurat yang kasar, melainkan telah dilapisi oleh perban bedah steril berlapis gel antiseptik khusus yang memberikan sensasi dingin sekaligus kebal.

​Alessa membuka kelopak matanya dengan sangat lambat. Pandangannya bergelombang selama beberapa detik akibat sisa efek sedatif yang masih bersarang di kepalanya. Vertigo tipis sempat berputar di langit-langit matanya, namun perlahan-lahan, visual di sekitarnya mulai terkunci dengan jelas.

​Gadis itu terbelalak kecil. Dia tidak sedang berada di bangsal rumah sakit umum dengan dinding hijau kusam dan bau obat karbol yang menusuk hidung.

​Tempat ini adalah sebuah kamar perawatan privat yang luasnya setara dengan seluruh luas rumah petaknya di Surabaya. Dinding-dindingnya dilapisi oleh panel kayu ek berwarna putih gading dengan ukiran neoklasik yang sangat presisi di setiap sudutnya. Di sisi sebelah kiri, sebuah jendela kaca raksasa setinggi langit-langit membentang luas, menampilkan pemandangan taman labirin hijau dan barisan pohon pinus yang diselimuti kabut tipis siang hari. Cahaya matahari yang masuk telah disaring oleh tirai tipis bermotif brokat emas, menciptakan pendaran interior yang sangat anggun dan menenangkan.

​Di sudut ruangan, terdapat berbagai perangkat medis tercanggih dengan layar monitor digital yang menampilkan grafik detak jantungnya secara konstan tanpa mengeluarkan suara bising. Semuanya berlapis warna krom dan hitam abu-abu, memancarkan kesan bahwa ruangan ini dibangun dengan biaya yang sanggup membeli seluruh aset toko roti Ko Alung dalam sekejap.

​Rasa kehilangan, keterasingan yang masif, dan ketakutan akan hal-hal yang tidak diketahui mendadak membubung tinggi di dalam dada Alessa. Dia merasa seperti sebutir debu yang terlempar ke dalam istana gaib. Jiwanya yang compang-camping akibat siksaan Rian mendadak merasa tidak pantas berada di atas tempat tidur kemewahan ini. “Di mana aku? Apakah aku sudah mati di bus malam kemarin dan ini adalah ruang tunggu akhirat kasta bangsawan?” pikir batinnya, rasa cemas mulai mengetuk dinding jantungnya.

​Namun, tepat ketika pusaran depresi dan kepanikan itu hampir menguasai ruang logikanya, sekring pelindung psikologis anomali di dalam otak Alessa kembali memercikkan api sarkasme radikalnya. Komedi gelap adalah satu-asatu tameng yang paling setia menemaninya berlari tanpa alas kaki, dan siang ini, tameng itu kembali terpasang secara otomatis untuk menjaga kewarasannya.

​Alessa menatap selang infus yang menancap di punggung tangan kanannya, lalu melirik ke arah botol cairan steril yang menggantung di tiang perak. Dia mendengus parau, sebuah senyuman getir nan kaku dipaksakan muncul di sudut bibirnya.

​"Bagus banget..." bisik Alessa pada dirinya sendiri, suaranya terdengar sangat seksi karena serak kehabisan cairan. "Kalau ini beneran akhirat, malaikat bagian pendaftaran dekorasi kamarnya punya selera yang oke punya. Tapi kalau ini rumah sakit... gue rasa tagihan per malamnya bisa bikin Ko Alung terpaksa menjual resep rahasia roti buayanya ke jaringan toko roti internasional."

​Dia mencoba menggerakkan kedua kakinya ke ujung ranjang, membiarkan selimut bulu angsa itu tersingkap sedikit. Alessa menunduk, menatap sepasang telapak kakinya yang kini telah dibungkus rapi oleh perban putih bersih. Tidak ada lagi sisa lumpur hitam terminal atau kerikil aspal yang menancap. Semuanya telah dibersihkan secara total melalui prosedur debridemen bedah yang presisi.

​"Wah, telapak kaki gue sekarang sudah mirip mumi mesir versi minimalis," gumam Alessa, matanya melotot geli menahan linu yang berdenyut tipis di tumitnya. "Gaya fasyun tanpa alas kaki kemarin bener-bener dapet kompensasi penanganan kosmetik kelas atas. Kurang fasilitas manikur-pedikur saja ini, biar paripurna status gue sebagai buronan paling elegan se-Jawa Timur."

​"Koreksi yang menarik. Tapi di sini, kami tidak menyediakan fasilitas pedikur untuk mendandani luka kriminal."

​Sebuah suara berat, rendah, dan sedingin es kutub tiba-tiba memotong gumaman sarkas Alessa dari arah sudut ruangan yang gelap.

​Alessa terkejut hingga refleks menegakkan punggungnya. Tindakan impulsif itu langsung dihadiahi oleh sengatan linu yang luar biasa di sepanjang jahitan punggungnya. "Awhh!" Alessa meringis, memegangi rusuk kirinya sambil menoleh cepat ke arah sumber suara.

​Di sana, di sebuah kursi lengan kulit besar yang terletak di dekat bayangan tirai jendela, duduk seorang pria dengan postur tegap yang luar biasa intimidatif. Giovanni Alberto. Pria itu duduk dengan satu kaki tersilang, melipat jari-jemarinya di atas lutut dengan keanggunan seorang kaisar yang sedang mengawasi daerah taklukannya. Dia telah menukar jas abu-abu gelapnya yang ternoda darah dengan setelan jas baru berwarna hitam pekat yang memancarkan aura kematengan, kekuasaan, dan dominasi yang mutlak.

​Sepasang matanya yang berwarna hitam kelam, tajam laksana mata pisau belati yang baru diasah, menatap lurus ke dalam sepasang manik mata cokelat Alessa. Tatapan itu begitu datar, hampa dari kehangatan emosi manusia biasa, namun sanggup mengunci seluruh pergerakan Alessa dalam satu detik linear. Aura dingin di sekitar tubuh Giovanni seolah menurunkan suhu pendingin ruangan di kamar itu hingga ke titik beku.

​Selamat datang di dunia Il Miliardario—sebuah dimensi di mana kekayaan bukan lagi sekadar angka, melainkan sebuah instrumen kekuasaan absolut yang sanggup membelokkan arah hukum publik demi kepentingan pribadi. Dan siang ini, Alessa resmi menjadi pusat perhatian dari sang pemilik dunia tersebut.

​Alessa menatap pria di depannya dengan sisa keberanian yang dia kumpulkan dari dasar jiwanya. Memori terakhirnya di atas kap mesin mobil mewah hitam sebelum pingsan tadi pagi mulai berputar kembali di otaknya. Pria ini adalah pemilik "kereta kencana modern" yang dia kotori dengan noda darah dan lumpur.

​Meskipun intimidasi fisik dari Giovanni begitu masif hingga sanggup membuat preman pelabuhan berlutut gemetar, Alessa menolak untuk terlihat lemah. Sarkasme radikalnya kembali mengambil alih kemudi kesadaran secara frontal.

​"Oh... Mas Kanebo Kering yang punya mobil anget," kata Alessa, nadanya mendadak berubah datar penuh ironi, mengabaikan fakta bahwa pria di depannya memiliki aura yang sanggup memerintahkan eksekusi mati kapan saja. "Maaf ya, Mas, penampilan gue pas bangun tidur agak kurang representatif buat menyambut pemilik jas mahal. Lagipula, lu hobi banget ya duduk di kegelapan pojok kamar kayak pajangan patung museum properti horor. Hampir saja jantung gue yang sisa separuh ini copot ke lantai."

​Dahi Giovanni berkerut sangat tipis mendengar kalimat pembuka Alessa. Di dalam dunianya, semua orang—mulai dari politisi korup, pengusaha papan atas, hingga kepala mafia sektor barat—akan menyusun kosakata mereka dengan sangat hati-hati dan penuh ketakutan sebelum berbicara dengannya. Namun, gadis yang baru saja dia selamatkan dari kematian ini justru menggunakan istilah "Kanebo Kering" untuk mendeskripsikan otoritas mutlaknya.

​Sebuah ketertarikan yang dingin dan pekat kembali bergolak di balik tatapan mata hitam Giovanni. Sifat pemberontak Alessa yang dibalut komedi tragis terbukti bukan sekadar efek delusi saat pingsan tadi pagi, melainkan sebuah karakteristik permanen dari jiwanya yang merdeka.

​Giovanni bangkit berdiri dari kursi lengannya. Gerakannya sangat tenang, berwibawa, dan tanpa suara. Dia melangkah mendekati sisi tempat tidur Alessa, menghentikan langkah kakinya tepat di samping tiang infus. Postur tubuhnya yang tinggi tegap membuat Alessa terpaksa mendongakkan kepalanya, memicu kembali linu di lehernya.

​"Nama saya Giovanni Alberto," kata pria itu, suaranya terdengar berat dan bergetar dengan tekanan psikologis yang sangat kuat. "Dan kamu saat ini berada di kediaman pribadi saya. Tempat di mana tidak ada satu pun hukum di luar sana yang bisa menyentuhmu... termasuk kakak kandungmu yang tidak berguna itu."

​Alessa terdiam sesaat mendengar nama tersebut. Nama asing yang terdengar sangat berbobot mewah, seperti nama-nama tokoh penguasa finansial dalam novel drama kriminal Eropa.

​"Giovanni Alberto..." Alessa mengulang nama itu dengan pelan, membiarkan lidahnya menyesuaikan diri dengan aksen yang familier dari silsilah ibunya. Sebuah tawa pendek nan getir lolos dari tenggorokannya. "Nama yang keren, Mas Bos. Terdengar seperti nama pemilik klub sepak bola liga utama Itali yang punya hobi mengoleksi mobil sport dan hobi memecat pelatih setiap bulan. Jadi... kenapa pemilik nama semewah ini mau repot-repot memungut buronan tanpa alas kaki kayak gue dari atas kap mobilnya? Apa noda darah gue di mobil lu itu ada nilai investasinya ya?"

​Giovanni menundukkan wajahnya sedikit, mendekatkan sepasang mata kelamnya ke arah wajah Alessa yang masih dihiasi memar. Aroma parfum mahal oud miliknya kembali menyerbak, menguasai sisa indra penciuman Alessa, menyingkirkan memori bau darah yang sempat bercampur di dalam kabin mobil tadi pagi.

​"Darahmu tidak memiliki nilai investasi apa pun, Alessa," desis Giovanni dingin, menyebut nama depan Alessa dengan artikulasi yang sangat presisi hingga membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Namun, sarkasmemu di ambang kematian memiliki harga hiburan yang cukup tinggi untukku pagi ini. Di duniaku, segala sesuatu harus memiliki fungsi dan konsekuensi. Kamu telah mengotori simbol kekuasaanku, maka konsekuensinya... kamu harus tetap hidup di bawah pengawasanku sampai aku memutuskan apa yang akan aku lakukan dengan sisa hidupmu."

​Alessa menatap balik mata dingin Giovanni dengan ketegasan yang tidak mau kalah. Amarah yang pekat terhadap kekejaman takdirnya berpadu dengan insting sarkasnya, menciptakan sebuah garis pertahanan mental yang unik.

​"Waduh, jadi sekarang status gue naik level dari korban kekerasan dalam rumah tangga menjadi komoditas hiburan pribadi seorang miliarder kaku?" balas Alessa, senyum ironisnya semakin melebar meskipun hatinya bergetar melihat kedalaman mata hitam pria itu. "Kontrak kerja yang sangat tidak konvensional, Mas Bos Giovanni. Tapi setidaknya, bos baru gue yang sekarang punya selera parfum yang jauh lebih ramah di hidung daripada aroma alkohol murahan milik Kak Rian. Jadi, kapan jam kerja gue sebagai badut sarkas pribadi lu resmi dimulai?"

​Giovanni tidak menjawab dengan kata-kata. Dia kembali menegakkan tubuhnya, menatap Alessa dengan silsilah tatapan sedingin es yang tidak lagi memiliki riak emosi. Namun, di dalam pusat kalkulasi pikirannya, sang penguasa dunia malam tahu bahwa lembaran takdir baru telah resmi dibuka. Gadis tanpa alas kaki di depannya ini baru saja melangkah masuk ke dalam sangkar emas Il Miliardario, dan di dalam sangkar ini, semua luka lama Alessa akan dirawat dengan kemewahan tertinggi, sementara sebuah pembalasan dendam yang dingin siap disusun menggunakan kekuatan absolut milik aliansi Alberto.

1
falea sezi
lanjut donk q ksih hadiah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!