NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16

***

Dua bulan telah berlalu sejak malam di mana Arthur mengucapkan sumpah setianya yang mengerikan sebuah janji untuk memenjarakan Lilianne dalam siklus persalinan tanpa akhir jika ia gagal memberikan seorang pangeran. Kini, usia kehamilan Lilianne telah menginjak angka tujuh bulan. Perutnya sudah membuncit besar, memberikan beban nyata pada tulang belakang dan langkah kakinya yang kian melambat.

Pagi itu, suasana Sayap Timur terasa berbeda. Tidak ada suara langkah sepatu bot yang berat dan dominan di koridor. Sebagai gantinya, terdengar tiupan terompet dari kejauhan dan deru ribuan tapak kuda di luar gerbang istana. Kekaisaran sedang dalam masa genting pemberontakan di perbatasan Selatan memaksa sang Panglima Perang, Arthur, untuk turun tangan langsung.

Lilianne berdiri di balik jeruji besi balkonnya, menyaksikan awan debu yang ditinggalkan oleh pasukan kavaleri. Arthur pergi tanpa pamit secara langsung pagi ini. Ia hanya masuk saat subuh, mencium kening Lilianne yang masih berpura-pura tidur dengan ciuman yang terasa seperti klaim kepemilikan, lalu membisikkan ancaman terakhirnya:

"Jangan pernah mencoba menyentuh pintu itu, Lili. Jika aku kembali dan menemukan kau mencoba melarikan diri, maka pelayanmu, ayahmu, dan seluruh harapanmu akan kubakar di depan matamu. Tetaplah di sini, dan jadilah wadah yang baik untuk putraku."

Setelah itu, suara kunci yang diputar tiga kali menjadi tanda bahwa sang sipir telah pergi, namun penjara itu tetap terkunci rapat.

Ritual Kesunyian

Kini, hari-hari Lilianne berubah menjadi rutinitas kesunyian yang mencekam. Arthur tidak mempercayai siapapun. Ia menempatkan seorang pelayan wanita tua bernama Martha, yang lidahnya telah dipotong seorang pelayan bisu yang tidak akan bisa membocorkan rahasia atau diajak bicara oleh Lilianne.

Setiap pagi dan sore, sebuah nampan makanan didorong masuk melalui celah kecil di bawah pintu kayu jati yang tebal. Martha tidak pernah masuk. Ia hanya memastikan Lilianne tetap hidup untuk menjaga janin di dalamnya tetap tumbuh.

Lilianne duduk di kursi beludru yang kini terasa terlalu besar untuk tubuhnya yang kian tirus, meski perutnya membesar. Tanpa kehadiran Arthur yang menindas, tanpa aroma keringat dan darah yang selalu dibawa pria itu, Lilianne merasakan sesuatu yang asing: kejernihan pikiran.

Ia mulai mengamati debu yang menari di bawah sinar matahari yang menembus jeruji. Ia menghitung setiap retakan di dinding marmer. Dan yang paling penting, ia kembali berbicara pada janinnya satu-satunya teman bicara yang ia miliki.

"Dia sudah pergi, Kecil," bisik Lilianne, suaranya parau dan tipis karena jarang digunakan. "Ayahmu sedang pergi berburu nyawa di Selatan. Untuk beberapa minggu ke depan, kamar ini hanya milik kita. Tidak ada tuntutan, tidak ada paksaan, tidak ada tatapan gila itu."

Ia merasakan tendangan kuat dari dalam. Lilianne meringis sedikit, memegang pinggangnya, namun ia tersenyum.

"Kau setuju, bukan? Kau juga merasa lebih tenang tanpa bayangannya yang menindih kita."

**

Malam tiba, dan keheningan di Sayap Timur menjadi lebih absolut. Tanpa suara napas Arthur yang berat di sampingnya, Lilianne seringkali terjaga, menatap langit-langit ranjang yang dihiasi ukiran naga Valerieth.

Suatu malam, saat badai salju tipis mulai turun di luar, Lilianne merasa perutnya sangat kencang. Ia mencoba bangkit untuk mengambil segelas air di atas meja rias, namun rasa nyeri di punggungnya membuatnya jatuh terduduk kembali.

"Ugh... pelan-pelan, Sayang," gumamnya, tangannya mengusap perut dengan gerakan melingkar yang menenangkan.

Ia mulai membayangkan sebuah skenario yang mustahil. Ia mulai berbicara seolah-olah janinnya bisa menjawab, menciptakan sebuah dialog imajiner untuk menjaga kewarasannya.

"Jika kau lahir nanti, dan kau benar-benar seorang putri... apa yang harus Ibu lakukan?" tanyanya pada kegelapan. "Ayahmu bilang kau hanya bidak. Dia bilang kau hanya alasan bagiku untuk kembali disiksa di ranjang ini sampai seorang pangeran lahir."

Lilianne terdiam sejenak, matanya berkilat di bawah temaram lampu minyak yang hampir habis.

"Tapi Ibu tidak akan membiarkannya. Kau dengar? Ibu tidak akan membiarkan tangan kasarnya menyentuhmu. Jika kau seorang putri, kau harus menjadi salju yang membekukan api gilanya. Kau harus menjadi pedang, bukan mawar."

Ia tertawa kecil, suara tawa yang terdengar getir di ruangan kosong itu.

"Bagaimana aku bisa mengajarimu menjadi pedang, sementara aku sendiri hanyalah tawanan yang bahkan tidak bisa membuka pintunya sendiri? Aku adalah Putri Mahkota yang agung, namun aku tidak lebih dari sekadar pajangan yang mulai berdebu."

**

Minggu kedua kepergian Arthur, Lilianne mulai menunjukkan tanda-tanda kepasrahan yang ekstrem. Saat Martha mendorong nampan makanan, Lilianne seringkali sudah duduk di depan pintu, menunggu dengan tenang. Ia menghabiskan makanannya tanpa sisa, menyadari bahwa kekuatan fisik adalah modal utamanya untuk bertahan hidup.

Namun, di balik kepatuhan itu, Lilianne sedang mengamati. Ia mendengarkan langkah kaki para penjaga di koridor. Ia mencatat jam berapa mereka berganti shift. Ia memperhatikan bahwa Martha selalu datang tepat saat lonceng istana berbunyi tujuh kali.

Suatu hari, Lilianne memberanikan diri untuk mendekat ke celah pintu saat nampan didorong masuk.

"Martha," bisiknya, suaranya tertahan di kerongkongan.

Tidak ada jawaban. Hanya suara gesekan logam nampan di lantai batu.

"Aku tahu kau tidak bisa bicara. Tapi aku tahu kau manusia. Kau melihat apa yang dia lakukan padaku setiap malam sebelum dia pergi. Kau melihat memar di lenganku. Tolong... apakah ada kabar dari ayahku? Apakah Duke Kaelric masih mencariku?"

Hening. Lilianne bisa merasakan kehadiran Martha di balik pintu. Ada jeda panjang seolah pelayan tua itu ragu-ragu. Namun kemudian, terdengar derap langkah kaki penjaga yang mendekat, dan Martha segera pergi tanpa suara.

Lilianne menyandarkan keningnya pada pintu kayu yang dingin. Air mata jatuh tanpa isak.

"Aku benar-benar dilupakan," bisiknya. "Dunia luar menganggapku sudah mati, atau mereka terlalu takut pada Arthur untuk bertanya."

**

Memasuki minggu ketiga, Lilianne mulai melakukan persiapan kecil. Ia mengumpulkan sisa-sisa kain sprei yang ia sobek secara diam-diam setiap malam. Dengan jemari yang terampil, ia memilin kain-kain itu menjadi tali-tali kecil yang kuat, menyembunyikannya di dalam lipatan kasur yang luas.

Ia juga mulai melatih fisiknya. Meski perutnya besar dan langkahnya berat, ia memaksa dirinya untuk berjalan berkeliling kamar sebanyak lima puluh putaran setiap pagi. Ia harus siap. Jika saat persalinan tiba Arthur belum kembali, atau jika Arthur kembali dan ia harus melarikan diri, ia tidak boleh lumpuh karena kelelahan.

"Kau harus kuat, bintang Kecil," ucapnya setiap kali ia merasa hendak pingsan karena pusing. "Ibu tidak bisa menyelamatkanmu jika Ibu sendiri menyerah."

Setiap malam, ia berdiri di balkon, menatap jeruji besi yang memenjarakannya. Ia melihat ke arah Utara, ke arah pegunungan salju Eisenhardt yang jauh. Ia teringat ayahnya, Duke Kaelric. Ia teringat kaisar tua yang memberinya kunci emas yang kini ia kalungkan di lehernya, tersembunyi di balik gaun tidurnya.

"Takhta adalah pinjaman," gumamnya, mengingat tulisan sandi pada kain sutra dari ayahnya. "Dan Arthur adalah bayangan yang meminjam cahaya orang mati."

Lilianne menyadari bahwa kesunyian ini adalah berkah sekaligus kutukan. Berkah karena ia bebas dari siksaan ranjang Arthur untuk sementara, namun kutukan karena ia menyadari betapa sendirinya ia di dunia ini.

"Arthur akan segera kembali," batinnya dengan ngeri saat menghitung hari melalui goresan di balik lemari. "Dia akan kembali dengan aroma darah yang lebih tajam, dan dia akan menuntut hasil dari rahimku."

Lilianne memejamkan mata, memeluk perutnya erat-erat. Di dalam penjara tanpa tuan ini, sang mawar yang layu tidak lagi menunggu untuk diselamatkan. Ia sedang mengasah durinya sendiri di dalam gelap, menunggu saat yang tepat untuk menusuk jantung sang bayangan yang telah mencuri hidupnya.

"Datanglah, Arthur," bisik Lilianne pada angin malam yang menusuk. "Datanglah dan lihat bagaimana tawananmu ini telah belajar untuk mencintai kegelapan yang kau berikan."

***

Bersambung...

1
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!