NovelToon NovelToon
Sopirku Seorang Mafia

Sopirku Seorang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: irma rofiah

evelyn mengakhiri hidupnya dimalam ketika supir pribadinya yang ternyata seorang Mafia, memaksa untuk menikahinya. namun setelah matanya terpejam, Tiba-tiba ia kembali ke masa lalu dimana semua kehancuran belum terjadi. Apakah langkah yang akan evelyn ambil agar tidak berakhir dengan kematian yang sia-sia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon irma rofiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penasaran dengan Evelyn

Cristian mempercepat laju mobilnya, entah dorongan dari mana, kakinya seolah menekan pedal gas secara refleks. Jalanan siang yang cukup ramai tetap bisa ia lewati dengan mulus, membelah arus kendaraan dengan hati-hati namun cepat. Sinar matahari menembus kaca depan, menyinari wajahnya yang terlihat fokus.

Sesekali matanya melirik ke kaca spion, memperhatikan sosok gadis di kursi belakang.

Evelyn.

Baru beberapa jam ia mengenal nona muda itu. Baru hari ini ia resmi menjadi sopir pribadinya. Namun ada sesuatu yang aneh—perasaan familiar yang tak bisa ia jelaskan. Seolah mereka pernah bertemu, pernah terikat dalam sebuah kisah yang bahkan tak mampu ia ingat.

Cristian menghela napas pelan, mencoba menepis pikiran ganjil itu.

Mungkin hanya perasaannya saja.

Tak lama, mobil hitam mewah itu memasuki kawasan elit tempat kediaman keluarga Alberto berdiri megah. Saat sampai di depan gerbang besi tinggi, sinar matahari memantul pada permukaannya yang kokoh. Dua penjaga berseragam segera mendekat, namun mereka tidak langsung membuka gerbang. Salah satu dari mereka mengetuk kaca mobil Cristian.

Cristian menurunkan kaca perlahan.

"Saya sopir baru Nona Evelyn," ucapnya singkat.

Tatapan penjaga itu tajam, penuh selidik. Ia mengulurkan tangan meminta bukti.

Tanpa banyak bicara, Cristian mengeluarkan kartu tanda pengenal yang diberikan langsung oleh Alberto. Kartu hitam berlapis emas itu tampak mencolok di bawah cahaya siang.

Begitu melihatnya, sikap kedua penjaga langsung berubah.

"Maaf, Tuan."

Gerbang besi terbuka perlahan.

Cristian kembali melajukan mobilnya masuk ke halaman luas yang terlihat semakin megah di bawah terang siang hari. Taman yang terawat rapi dan air mancur di tengah halaman tampak berkilau terkena cahaya matahari.

Mobil berhenti tepat di depan tangga utama.

Cristian segera turun, berjalan cepat ke pintu belakang, lalu membukanya.

"Nona, kita sudah sampai."

Suaranya rendah namun jelas.

Di dalam mobil, Evelyn yang sejak tadi memejamkan mata perlahan membuka matanya. Cahaya siang terasa menyilaukan baginya. Pandangannya sedikit buram, dan denyutan di kepalanya justru semakin terasa.

Ia menatap Cristian sesaat. Lalu tersenyum tipis. Dengan gerakan pelan, Evelyn keluar dari mobil. Namun begitu kakinya menyentuh lantai marmer, tubuhnya sedikit goyah.

"Nona?" Cristian refleks mengulurkan tangan.

Evelyn berpegangan pada lengannya. Jemarinya terasa dingin, kontras dengan hangatnya udara siang.

"Kepalaku..." bisiknya pelan.

Cristian langsung waspada. Wajah Evelyn tampak pucat meski diterpa cahaya matahari. "Nona Evelyn, Anda tidak apa-apa?"

Evelyn mencoba tersenyum, tetapi dunia di sekelilingnya terasa berputar. Cahaya terang di halaman justru membuat pandangannya semakin berkunang-kunang.

Dan tepat saat tubuhnya kehilangan keseimbangan—

Cristian menangkapnya dengan sigap. Tubuh Evelyn jatuh ke dalam pelukannya.

Untuk sesaat, suara siang hari—burung, angin, dan langkah penjaga—seolah menghilang. Yang tersisa hanya detak jantung Cristian yang berdentum tak wajar.

Perasaan aneh itu kembali muncul, lebih kuat dari sebelumnya. Seolah ia pernah memeluk gadis ini. Dalam keadaan yang jauh lebih menyakitkan.

"Cristian..." Suara Evelyn lirih.

Namun saat namanya terucap dari bibir gadis itu, Cristian membeku. Karena cara Evelyn menyebut namanya… terdengar begitu akrab. Seperti seseorang yang telah mengenalnya sejak lama.Evelyn benar-benar kehilangan kesadaran. Tubuhnya melemah sepenuhnya di pelukan Cristian.

Tanpa ragu, pria itu segera membopongnya—ringan, terlalu ringan bahkan untuk ukuran seorang gadis seusianya. Alis Cristian sedikit berkerut, entah karena khawatir atau perasaan aneh yang kembali menyusup.

Langkahnya cepat menuju pintu utama.

Namun belum sempat ia menekan bel, pintu besar itu terbuka lebih dulu.

Seorang wanita dengan pakaian serba hitam berdiri di sana—tatapannya tajam, namun kini dipenuhi kekhawatiran.

Kelly, Pelayan pribadi Evelyn.

"Nona!" serunya panik saat melihat kondisi Evelyn dalam gendongan Cristian.

Tanpa banyak tanya, Kelly segera mengambil alih situasi.

"Bawa nona ke kamarnya," ucapnya tegas, suaranya kembali terkendali meski jelas terselip kecemasan.

Ia berbalik cepat, memberi isyarat agar Cristian mengikutinya.

Cristian langsung melangkah masuk, mengikuti Kelly menaiki tangga menuju lantai dua. Rumah itu begitu luas—lorong panjang, langit-langit tinggi, dan deretan pintu yang tampak seragam membuat langkah mereka terasa memakan waktu lebih lama.

Namun Cristian tidak memperlambat langkahnya sedikit pun.

Fokusnya hanya satu—Evelyn di pelukannya.

Sesampainya di depan sebuah pintu berwarna putih dengan ukiran halus, Kelly langsung membukanya.

"Kemari."

Cristian masuk ke dalam kamar itu.

Ruangan yang tidak terlalu luas dengan nuansa lembut langsung menyambut. Tirai tipis bergoyang pelan tertiup angin dari jendela besar, sementara aroma harum samar memenuhi udara.

Dengan hati-hati, Cristian membaringkan tubuh Evelyn di atas ranjang.

Tubuh gadis itu tampak begitu kecil di tengah kasur luas.

Kelly segera mendekat. Tangannya terangkat, menyentuh kening Evelyn.

"…Panas," gumamnya pelan.

Wajahnya menegang.

"Dia demam."

Cristian hanya berdiri di samping ranjang, memperhatikan tanpa bicara. Tatapannya tertuju pada wajah Evelyn.

Kulitnya putih pucat. Bibirnya sedikit kehilangan warna. Bahkan dalam keadaan diam, gadis itu terlihat rapuh—seolah bisa hancur jika disentuh terlalu keras.

Ada sesuatu dalam pemandangan itu yang membuat dada Cristian terasa berat.

Selama ini… yang ia tahu tentang keluarga Alberto hanya tiga nama.

Rachel, Charlie dan Lauren.

Mereka yang selalu muncul di publik. Wajah-wajah yang cukup dikenal banyak orang.

Namun Evelyn…

Nama itu bahkan belum pernah ia dengar sebelumnya. Seolah gadis ini… sengaja disembunyikan dari dunia.

Tatapan Cristian semakin dalam. Siapa sebenarnya Evelyn?

“Tuan, tolong jaga Nona Evelyn. Saya akan menyiapkan kompres.”

Suara Kelly menyadarkan Cristian.

Kelly bangkit dari sisi ranjang setelah memastikan selimut Evelyn menutupi tubuh gadis itu dengan baik. Tanpa menunggu jawaban, ia segera keluar kamar untuk mengambil baskom, handuk kecil, dan air es.

Kini hanya tersisa Cristian dan Evelyn di dalam kamar sederhana itu.

Suasana mendadak terasa hening.

Cristian berdiri beberapa langkah dari ranjang, menatap wajah pucat gadis yang tertidur lemah di hadapannya. Nafas Evelyn terdengar pelan, sesekali keningnya berkerut seperti menahan sakit di kepalanya.

Tatapan Cristian perlahan berubah rumit.

“Apa yang sedang kulakukan…?” gumamnya lirih. Tangannya mengepal pelan.

“Seharusnya aku menjalankan rencana. Kenapa malah sibuk mengkhawatirkan gadis ini?”

Nada suaranya terdengar kesal pada dirinya sendiri. Ia datang ke rumah ini bukan tanpa tujuan. Ada alasan mengapa ia bersusah-payah menjadi sopir pribadi keluarga itu. Namun sejak bertemu Evelyn, pikirannya justru mulai kacau. Perasaan asing yang terus muncul itu mengganggunya.

Cristian menghembuskan napas kasar lalu mengalihkan pandangan, seolah mencoba menjaga jarak dari gadis di atas ranjang itu.

Tak lama kemudian, pintu kamar kembali terbuka.

Kelly masuk membawa baskom kecil berisi air dingin dan handuk lipat. Ia berjalan cepat menuju ranjang lalu duduk di sisi Evelyn.

Handuk kecil itu dicelupkan ke air, diperas pelan, lalu diletakkan di atas kening Evelyn dengan gerakan hati-hati.

Cristian memperhatikan beberapa saat sebelum akhirnya bertanya, “Apa dia punya penyakit serius?”

Kelly diam sesaat sambil mengganti posisi kompres.

“Tidak juga,” jawabnya pelan. “Nona hanya memiliki sistem imun yang lemah, jadi dia gampang sakit.”

Tatapan Kelly turun pada wajah Evelyn yang pucat.

“Mungkin itu juga akibat kurang asupan sejak bayi.”

Cristian mengernyit samar. “Kurang asupan?”

Kelly tersadar ia hampir terlalu banyak bicara. Tangannya berhenti sesaat sebelum kembali mengompres Evelyn.

“Tubuh Nona memang lemah sejak kecil,” ucapnya lebih hati-hati. “Karena itu Tuan Alberto sangat menjaga beliau.”

Namun entah kenapa, jawaban itu justru membuat Cristian merasa ada sesuatu yang janggal.

Kalau benar begitu…

Kenapa nama Evelyn tidak pernah muncul ke publik? Kenapa keberadaannya seperti disembunyikan?

Dan kenapa gadis itu terlihat seperti seseorang yang tumbuh tanpa benar-benar merasakan hidup yang hangat?

1
Gricelda Pereira
💪💪💪💪 semangat truuuuus yaaa ka update nya
Gricelda Pereira
tolongg lanjuuut updateee yaaa kaa sangat baguuus
Gricelda Pereira
sangat bagus tolong dilanjutkan yaaa
Gricelda Pereira
kaaaak tolong updeat lagiiiii yaaa biaaar rameee
irma rofiah: ditunggu ya 🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!