NovelToon NovelToon
Mari Kita Bercerai,. Tuan Stone!

Mari Kita Bercerai,. Tuan Stone!

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Dijodohkan Orang Tua / Penyesalan Suami
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Minaaida

Setelah lima tahun menikah, miliarder Axel Stone yakin bahwa istrinya, Olivia Stone, tidak mencintainya. Olivia juga yakin bahwa suaminya masih mencintai mantannya dan pernikahan mereka hanyalah pernikahan demi kepentingan semata. Axel menyerahkan surat gugatan cerai kepadanya, tetapi segera menyesali keputusan impulsifnya itu. Dalam upaya putus asa untuk memenangkan hatinya kembali, Axel menunda proses perceraian tersebut. Olivia, yang sudah muak dengan pertemuan-pertemuan suaminya dengan mantannya, memutuskan untuk tetap melanjutkan proses perceraian.

Apa yang akan dilakukan Axel ketika ia menyadari bahwa ia telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupnya? Akankah Olivia membuatnya membayar atas pengkhianatannya atau justru jatuh cinta padanya lagi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Minaaida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 16 Sebuah Foto

Di benakku, dipenuhi oleh pemikiran yang mendalam mengenai pernikahanku. Apakah aku ingin memperbaiki pernikahan kami atau bercerai dengan Alex?

Sebelum mengakhiri panggilan, Sarah mengajakku keluar bareng sama dia dan Dennis. Dia ingin agar aku bisa rileks sejenak dan melupakan semua masalah ini.

Awalnya aku ragu apakah ini akan berhasil membuat aku melupakan semua masalahku atau justru sebaliknya. Namun, kemudian akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran Sarah karena setelah kupikir aku memang membutuhkan semua itu. Lagi pula, hari ini aku tidak memiliki kegiatan apapun, jadi tak ada salahnya jika aku sedikit bersantai.

Aku menghabiskan waktu beberapa menit menonton televisi sambil tiduran di kamar tidur. Aku ingin Alex segera pergi bekerja agar aku bisa segera sarapan.

Setelah hampir satu jam, aku pun beranjak dari tempat tidur dan berjalan ke bawah. Aku pikir Alex pasti sudah pergi ke kantor. Perutku sudah lapar sekali karena sejak semalam tidak ada sepotong makanan pun yang masuk ke dalam perutku. Aku harus makan agar aku tidak mati kelaparan.

Aku mencium bau masakan Nani yang lezat. Aku mempercepat langkahku dan melihat Nani masih berada di dapur tapi meja makan sudah siap.

Aku yakin Alex pasti sudah makan sesuatu, karena aku melihat ada beberapa makanan yang seperti habis di gigit atau di potong. Jadi, Alex sarapan di rumah? Wah, ini hal yang langka. Dia pasti sarapan dengan terburu-buru. Maksudku, dia menghabiskan banyak waktu setelah berdebat pagi ini denganku jadi pasti tidak banyak waktu yang tersisa untuknya sebelum berangkat ke kantor.

Tanpa membuang waktu aku segera menghabiskan sarapanku. Sekarang sudah hampir siang, maka aku pun segera bersiap untuk pergi keluar bersama saudara-saudaraku.

Aku membenamkan diri di dalam bathtub dan menikmati mandi busa yang sangat aku sukai. Bau bunga lavender semerbak memenuhi kamar mandi, bau yang sangat ku suka, begitu menenangkan. Itu yang ku butuhkan saat ini. Hal yang membuat pikiranku sedikit rileks, jauh dari stres yang membebani pikiranku.

Selesai mandi, aku segera berpakaian. Dari lemari pakaian aku memilih baju yang akan kupakai hari ini. Sarah tidak bilang kapan dia mau menjemput ku, dia hanya mengatakan bahwa siang ini saja. Jadi, aku bisa sedikit santai sambil berdandan.

Aku sungguh tidak punya ide mau memakai apa, maka aku pun hanya mengambil stelan celana jeans dan dan kaos hitam. Lalu aku menambahkan jaket hitam sebagai outfit. Jaga - jaga, siapa tahu, cuaca dingin atau hujan. Aku hanya menata rambutku seadanya, hanya di cepol dan di beri penjepit. Untuk makeup, aku hanya berdandan minimalis sekedar menutupi lingkaran hitam di bawah mata dan sedikit lipstik merah.

Hari sudah mulai siang, aku sudah selesai berdandan, siap untuk berangkat. Sarah juga sudah menelpon. Kedua saudaraku itu sedang dalam perjalanan menjemput ku.

Aku menyambar tasku dan bergegas turun ke bawah saat mendengar suara klakson mobil. Aku melihat mobil Dennis sudah berada di depan rumah.

Aku bergegas masuk ke mobil. "Olivia, tumben banget kamu tepat waktu," ledek Dennis saat aku sudah duduk di dalam mobilnya.

Aku memutar bola mata dan menyahut. "Hei, sebenarnya aku itu orangnya disiplin, tergantung situasi." Dennis tertawa mendengar jawabanku, dan dia menyalakan mobil dan kemudian meluncur membelah jalanan.

Sarah berbalik menatapku, memberiku senyum manis yang hangat. "Aku senang kamu bisa menghadapi semua ini. Percayalah, aku akan mengajakmu bersenang - senang sepanjang hari ini." ucapnya.

Alisku terangkat naik, penuh dengan rasa ingin tahu. "Apa yang kalian berdua rencanakan?" Mendengar pertanyaanku, keduanya tersenyum.

"Kamu akan segera mengetahuinya, sekarang ini masih rahasia." jawab Dennis. Aku hanya mengangguk. Aku tahu, saat ini tak ada gunanya bertanya karena mereka tak akan memberi tahuku.

Aku hanya duduk tenang dan memilih diam sepanjang perjalanan, menerka - nerka kemana mereka akan membawaku pergi.

Tak berapa lama kemudian, kami tiba di tempat tujuan. Mataku terbelalak tak percaya. Ternyata mereka membawaku ke sebuah taman hiburan.

"Astaga,.... Apa yang terjadi?" aku bertanya sambil terkekeh dengan wajah tak percaya.

"Kami hanya ingin menghiburmu," jawab Sarah, suaranya terdengar cemas.

Aku terpaku. "Apa aku terlihat seperti ABG?"

Dulu, aku dan saudara-saudaraku selalu mengunjungi taman bermain. Itu selalu tertanam di kepala kami, jika kamu sedih, pergilah ke taman bermain, dan kau akan merasa terhibur. Sebagian dari diriku tidak terkejut ketika mereka akhirnya membawaku ke tempat ini. Aku sadari tadi sudah curiga bahwa mereka sebenarnya akan membawaku ke taman bermain.

Dennis memarkirkan mobilnya dan kami semua turun. Saat memasuki taman bermain itu, tempat itu dipenuhi oleh anak-anak kecil yang berlarian ke sana kemari. Sebenarnya itu akan lebih masuk akal jika saja kami ke sana bersama anak kecil.

"Hmm, kalian akan membayar mahal untuk ini." ucapku, tertawa terbahak-bahak.

Kami membeli tiket masingmasing sebelum memasuki arena bermain.

Saat memasuki arena bermain, aku seperti bernostalgia dengan masa kecil kami. Suara dari mesin permainan membawaku terbang ke kenangan masa kecilku.

Aku ingat kala itu kecemasan dan ketakutanku saat itu adalah tidak mendapatkan tiket untuk semua permainan itu.

Sarah dan Dennis sejak tadi sudah terjun ke arena permainan. Mereka sudah sibuk mencoba berbagai macam jenis permainan. Aku juga tidak ingin ketinggalan. Maka akupun langsung terhanyut dalam permainan itu. Untuk sesaat aku seperti lupa akan masalah yang sedang ku hadapi. Pikiranku seperti terbebas dari drama yang terjadi dalam pernikahanku beberapa waktu belakangan ini.

Kami menghabiskan beberapa jam di tempat itu. Tertawa dan bercanda, dan menikmati hidup untuk sesaat. Kami seperti tidak peduli, jika kami bahkan sudah bukan bocah lagi.

Tanpa terasa, hari sudah menjelang sore. Aku tidak memungkiri, bahwa bersama saudara-saudaraku, aku bahagia. Itu adalah sesuatu yang aku butuhkan sebagai penawar saat ini. Sekarang, saatnya bagi kami untuk pulang karena kami sudah terlalu lama menghabiskan waktu di tempat ini.

"Tadi itu menyenangkan sekali." seruku, tersenyum lebar pada kedua saudaraku. "Terima kasih karena telah mengajakku kemari." ucapku lagi saat kami berjalan ke arah mobil.

"Apakah kita masih akan bersenang-senang lagi?" tanya Dennis sambil terkekeh. Semuanya tertawa dan kami bertiga masuk ke mobil.

"Ayo kita makan malam di restoran dekat sini!" saranku saat mobil kami meninggalkan parkiran. Tadi saat di taman bermain, kami tidak makan apapun karena asyik bermain.

Sarah dan Dennis setuju, kami pun segera meluncur mencari restoran terdekat. Awalnya ku ingin bertanya pada kedua saudaraku tentang orang tuaku karena sejak pertengkaran itu aku tak pernah lagi menapakkan kakiku di sana. Namun, niat itu aku urungkan karena aku tidak ingin menghancurkan mood bahagia Sarah dan Dennis.

Aku memutuskan untuk menunda dan membicarakan hal itu lain kali saja, maka aku pun memilih untuk masuk ke dalam mobil dan memerintahkan Dennis untuk terus mengemudi.

Setelah makan, aku minta Dennis langsung mengantarku pulang karena kepalaku tiba-tiba saja sakit. Aku memilih duduk di belakang dan menyandarkan kepalaku di kursi belakang ketika tiba-tiba ponselku berbunyi. Itu sebuah notice pesan masuk.

Aku mengeluarkan ponselku dari saku tasku. Alisku mengerut sejenak. Itu adalah pesan dari Sonya. Aku pikir aku belum mempersiapkan diri untuk melihat tayangan berita tentang Alex dan Claudia lagi saat mataku menangkap sebuah foto yang baru dikirim Sonya. Itu adalah foto Alex dan Claudia; mereka sedang berciuman.

1
Mariani Ajja
ini lakinya yg goblok nih
Mariani Ajja
lanjut Thor...
olyv
lanjut
Nessa
lanjut thor 💪🏻💪🏻💪🏻💪🏻
Nessa
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!