Kisah anak sulung Casey (Transmigrasi Belvia) yang jiwa nya mengalami perpindahan ke tubuh orang lain… bagaimana Ganethaa akan menghadapi kehidupan barunya setelah dia tahu kalau sekarang dia berada di tubuh orang lain…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erika Ponpon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Panitia mengangkat bendera setinggi mungkin.
“Siap!”
Suara mesin motor meraung memenuhi arena.
Brummm…
Brummm…
“Tiga…”
“Dua…”
“Satu!”
“GO!”
Bendera diayunkan.
Brraaaammmm!!
Seluruh motor melesat bersamaan meninggalkan garis start.
Angkasa langsung memimpin rombongan di tikungan pertama.
Di belakangnya, Lintang terus menempel ketat.
Sedangkan Nebula…
Masih berada di posisi tengah.
“Hah.”
Lintang menyeringai di balik helmnya.
“Kirain hebat.”
Namun…
Memasuki tikungan kedua.
Nebula sedikit memiringkan motornya, lalu membuka gas dengan timing yang sangat pas.
Brraaaam!
Motor hitam itu melesat keluar tikungan dengan mulus.
“Woi!”
“Dia nyalip!”
Satu…
Dua…
Tiga pembalap langsung berhasil dilewatinya.
Sorakan penonton menggema.
“Gila!”
“Itu cewek jago banget!”
“Racing line-nya bersih!”
Semesta yang melihat dari pinggir lintasan membelalakkan mata.
“Itu…”
“Dia beneran Nebula?”
Elang sampai lupa mengunyah permen.
“Gue merinding.”
Samudra membuka mulut lebar.
“Kayaknya bidadari gue bukan manusia.”
Tok!
Semesta langsung menepuk belakang kepala Samudra.
“Lo mau di tonjok sama Angkasa hm.”
Samudra nyengir.
“Iya, iya.”
Sementara itu…
Angkasa mulai menyadari ada motor yang terus mendekatinya dari belakang.
Ia melirik kaca spion.
Motor hitam.
“Nebula?”
Belum sempat ia berpikir lebih jauh…
Wussh!
Nebula menyalipnya dengan sangat rapi di sisi luar tikungan.
Gerakannya halus.
Cepat.
Tanpa sedikit pun menyenggol motor Angkasa.
Angkasa membelalakkan mata.
“…”
Untuk pertama kalinya sejak lama…
Ada seseorang yang berhasil melewatinya sebersih itu.
Di depan.
Nebula terus mempertahankan ritmenya.
Tatapannya fokus ke lintasan.
Seolah suara sorakan penonton tak berarti apa pun.
Lintang mencoba mengejar.
Namun setiap kali ia memperkecil jarak…
Nebula selalu berhasil menjaga keunggulannya.
“Sial!”
Lintang mengepalkan rahang.
“Jangan sampai gue kalah sama cewek!”
Ia memutar gas lebih dalam.
Namun tetap saja…
Motor hitam itu semakin menjauh.
Memasuki putaran terakhir.
Seluruh penonton berdiri.
“Ayo!”
“Sedikit lagi!”
“Nebula!”
“Gas terus!”
Garis finis semakin dekat.
Bruuuummmmm!!
Nebula melintasi garis finis paling pertama.
Disusul Angkasa beberapa detik kemudian.
Lalu Lintang.
“FINISH!!”
Arena langsung dipenuhi sorak-sorai.
“WOOOOO!!”
“Gila!”
“Dia menang!”
“Cewek itu juara!”
“Baru pertama ikut langsung ngalahin Angkasa sama Lintang?!”
Samudra melompat kegirangan.
“ANJIRRR!”
“Bidadari gue menang!”
Tok!
Angkasa langsung menjitak helmnya saat baru turun dari motor.
“Aduh!”
“Pak Ketua!”
Angkasa bahkan tidak menanggapi protes Samudra.
Tatapannya masih tertuju pada Nebula yang baru melepas helmnya.
Rambut Nebula sedikit berantakan tertiup angin malam.
Wajahnya tetap datar.
Tak ada selebrasi.
Tak ada senyum bangga.
Seolah kemenangan itu adalah hal yang biasa.
Angkasa tanpa sadar tersenyum tipis.
“Ini… bukan Nebula yang dulu.”
“Yang dulu selalu menunduk.”
“Yang ini…”
“Tatapannya berbeda.”
“Cara berpikirnya berbeda.”
“Bahkan cara dia mengendalikan motor…”
“Seperti orang yang sudah bertahun-tahun hidup di lintasan.”
Di sisi lain.
Lintang melepas helmnya dengan kasar.
Brak!
Ia menatap Nebula dengan rahang mengeras.
“Sial…”
“Gue kalah.”
Salah satu anggota Dargoz mendekat.
“Bos…”
“Dia hebat.”
Lintang mendengus.
“Hebat?”
Tatapannya tak lepas dari Nebula.
“Dan gue nggak suka ada orang yang tiba-tiba muncul… lalu ngalahin gue.”
Sudut bibir Lintang tertarik tipis.
“Tapi tenang, Nebula.”
“Ini baru permulaan.”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sorakan penonton masih menggema memenuhi arena.
“Nebula!”
“Keren!”
“Baru kali ini cewek yang menang!”
Nebula mematikan mesin motornya.
Brumm…
Ia mengangkat kedua tangannya ke belakang kepala, lalu perlahan melepas helm full face yang sedari tadi menutupi wajahnya.
Rambutnya yang sedikit berantakan terurai tertiup angin malam.
Tatapannya tetap tenang.
Tak ada senyum kemenangan.
Tak ada ekspresi bangga.
Justru ketenangan itulah yang membuat banyak orang terpaku.
“Buset…”
“Itu cewek yang tadi balapan?”
“Cantik banget…”
“Pantes semua pada melongo.”
Di tribun penonton…
Galaksi yang sejak tadi memperhatikan jalannya balapan ikut terdiam.
Matanya tak lepas dari sosok Nebula.
“…Nebula?”
Ia hampir tidak percaya.
Gadis yang selama ini dikenalnya pendiam dan selalu menghindari perhatian…
Kini berdiri di tengah arena dengan aura yang sama sekali berbeda.
Galaksi segera meraih ponselnya.
Ia membuka ruang obrolan dengan Bintang.
Galaksi: Bintang, Nebula ada di arena balap liar dekat bukit timur. Cepat ke sini.
Pesan itu terkirim.
Tak sampai beberapa menit…
Terdengar suara beberapa mobil berhenti di luar arena.
Langit.
Bintang.
Dan Senjanu.
Ketiganya berjalan cepat memasuki arena dengan wajah dipenuhi amarah.
“Mana Nebula?!”
Ucapan Langit membuat suasana yang tadinya riuh perlahan menjadi sunyi.
Tatapan semua orang mengikuti langkah mereka.
Nebula menoleh pelan.
“Hm…”
Belum sempat ia berkata apa pun—
Plak!!
Tamparan keras mendarat di pipinya.
Kepala Nebula sampai menoleh ke samping akibat benturan itu.
Suara tamparan menggema di arena.
Hening.
Semua orang membeku.
Beberapa penonton refleks menutup mulut.
“Anjir…”
“Ditampar?”
“Di depan banyak orang…”
Galaksi membelalakkan mata.
“Langit!”
Bahkan Lintang yang berdiri tak jauh dari sana ikut mengernyit.
Sementara anggota Dargoz saling berpandangan.
“Itu mereka siapa??”
Di sisi Levitoz…
Samudra yang sedari tadi banyak bercanda kini benar-benar terdiam.
“Woi…”
“Itu kelewatan.”
Elang mengepalkan tangan.
“Di depan orang sebanyak ini…”
Semesta menatap Langit dengan rahang mengeras.
“Parah.”
Sedangkan Angkasa…
Tatapannya berubah dingin.
Tanpa ragu ia melangkah mendekati Nebula.
Tap.
Tap.
Tap.
Ia berhenti tepat di samping Nebula.
Secara naluriah, Angkasa berdiri sedikit di depannya, seolah menjadi penghalang jika situasi kembali memanas.
“Lo apain dia?”
Nada suaranya rendah.
Namun cukup membuat beberapa orang di sekitar ikut menoleh.
Langit menatap Angkasa tajam.
“Gue lagi ada urusan keluarga.”
“Jangan ikut campur.”
Angkasa tak bergeming.
“Urusan keluarga bukan berarti lo bisa seenaknya mempermalukan orang di depan umum.”
Nebula yang sejak tadi diam perlahan mengangkat wajahnya.
Bekas tamparan mulai terlihat di pipinya.
Namun anehnya…
Ia tidak menunjukkan ekspresi marah.
Justru…
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan.
Tatapannya beralih dari Langit…
Lalu ke Bintang…
Kemudian Senjanu.
“Hm…”
“Jadi…”
“Kalian datang jauh-jauh cuma buat nampar gue?”
Suasana arena kembali sunyi.
Semua orang menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nebula perlahan mengusap sudut bibirnya yang memerah akibat tamparan itu.
Ia lalu menoleh menatap Langit, Bintang, dan Senjanu satu per satu.
Senyum miring terukir di wajahnya.
Tatapannya begitu tenang hingga justru membuat suasana semakin mencekam.
“Apalagi si tukang caper itu bilang, hm?”
Tatapannya bergeser ke arah Bintang.
“Ah…”
“Gue tebak.”
“Dia lagi ngarang cerita tentang gue, ya?”
Tak ada yang menjawab.
Nebula terkekeh pelan.
“Lucu.”
“Setiap ada masalah…”
“…yang salah selalu gue.”
Ia menggeleng kecil.
“Gue udah muak.”
“Dari kemarin pipi gue kena tamparan terus.”
Tatapannya kembali mengunci Langit.
“Gimana kalo gue tampar kalian satu persatu pakai belati …”
“…hm.”
Langit masih menatapnya dengan amarah yang belum surut.
“Elara sekarang masuk rumah sakit gara-gara lo!”
Nebula mengangkat sebelah alis.
“Oh ya?”
“Terus lo lihat sendiri kejadiannya?”
Langit terdiam sesaat.
Nebula melanjutkan dengan nada datar.
“Atau…”
“…lo cuma percaya cerita satu pihak?”
Kalimat itu membuat beberapa penonton mulai saling berbisik.
“Iya juga…”
“Dari tadi mereka langsung nuduh.”
“Belum tentu tahu kejadian sebenarnya.”
Bintang langsung menyela.
“Lo masih bisa ngeles?”
Nebula menghela napas panjang.
“Gue capek.”
“Bukan capek dituduh.”
“Tapi capek…”
“…ngelihat kalian masih aja percaya sama omongan dia,, emang dia siapa hm?cuman anak pungut kan? Dan gue itu adik kandung kalian bertiga!!!!”.
Suasana kembali hening.
Angkasa yang berdiri di samping Nebula memperhatikan gadis itu tanpa mengalihkan pandangan.
Ia bisa melihat bekas tamparan yang masih jelas di pipi Nebula.
Namun yang lebih mengusiknya adalah…
Nebula sama sekali tidak membalas.
Ia hanya berdiri, menahan emosinya.
Samudra berbisik pelan kepada Semesta.
“Beneran Nebula tadi Ta?
“Hm” jawab Semesta singkat.
“Nebula yang sekarang…”
“…beda banget.”
Semesta mengangguk pelan.
“Iya.”
“Kalau yang dulu…”
“…mungkin udah nangis.”
Sementara itu, Galaksi mengepalkan tangannya dari tribun.
Untuk pertama kalinya, ia mulai meragukan semua cerita yang selama ini didengarnya tentang Nebula.
Tatapannya bergantian antara Langit dan Nebula.
“Apa… selama ini kami memang tidak pernah mencoba mendengar penjelasan Nebula?”
author jgn lama2 lah uploadnya soalnya nggak sabar sama kelanjutannya niii
ditunggu ya kelanjutannya author
makini seru nii
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author
enak banget yaa pindah jiwa orang yaa, dasar pengkhianat
ditunggu ya kelanjutannya author
wah nebula keren bantai mereka yang suka cari masalah
ditunggu ya kelanjutannya author
ditunggu ya kelanjutannya author 🥰